
Tim pendamping lapangan Program Kemitraan Penanaman Pepaya Callina (California) Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (Faperta UGM) bersama PT Indomarco Prismatama (Indomaret) melakukan evaluasi akhir tahun pada 24 Desember 2025 untuk meninjau perkembangan budidaya sekaligus menilai capaian program yang telah berjalan selama kurang lebih satu tahun.
Kunjungan yang dipimpin oleh Dody Kastono, S.P., M.P. (Dosen Budidaya Pertanian) menunjukkan bahwa tanaman Pepaya Callina tersebut telah berusia enam bulan dan memasuki fase panen dengan kebutuhan input produksi yang terpenuhi secara optimal.

Lebih lanjut, Dody memaparkan potensi ekonomi Pepaya Callina, yaitu dalam satu siklus panen sekitar 19 bulan, dengan frekuensi panen mingguan dan bobot rata-rata 1 kg per buah, petani berpeluang memperoleh pendapatan hingga Rp3 juta per minggu. Ia menegaskan bahwa keberhasilan kemitraan tidak dapat diukur hanya dalam satu tahun, melainkan membutuhkan proses, pendampingan berkelanjutan, dan komitmen semua pihak.
Menurut Nurhayadi, petani mitra dari Sleman, pengeluaran usaha taninya kini telah tertutup sekitar 80 persen. Budidaya Pepaya Callina menjadi pengalaman baru baginya setelah dua kali gagal menanam cabai. Ia menekankan penggunaan pupuk organik sebagai input utama.

Hal tersebut sejalan dengan penjelasan Prof. Dr. Ir. Sri Nuryani Hidayah Utami, M.P., M.Sc. (Dosen Departemen Tanah) yang menegaskan bahwa nutrisi dari pupuk organik mampu mendukung fase generatif tanaman. Selain itu, Andi Syahid Muttaqin, S.Si., M.Si., Ph.D. (Dosen Departemen Tanah) menambahkan bahwa kondisi agroklimat lokasi sangat sesuai, terutama dari aspek curah hujan, suhu, dan ketersediaan air.
Dari sisi perlindungan tanaman, Dr. Tri Harjaka, S.P., M.P. (Dosen Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan) menjelaskan bahwa tingkat serangan hama relatif rendah pada lahan mitra yang menerapkan sanitasi, pemantauan rutin, dan pengendalian terpadu. Meski demikian, kepatuhan terhadap standar budidaya masih perlu ditingkatkan.
Sugeng, mitra sekaligus pengurus Petani Milenial Sleman, mengungkapkan pengalaman dalam pembinaan petani dan koordinasi program. Ia menambahkan, pada usia 6 bulan 2 minggu, Pepaya Callina telah menghasilkan empat kali panen dengan total 2,6 kuintal berkat penggunaan pupuk organik yang tinggi.
Menyikapi hal tersebut, Dr. Dyah Woro Untari, S.P., M.P. (Dosen Departemen Sosial Ekonomi Pertanian) menekankan peluang kemitraan masih terbuka melalui dukungan akses pasar kolektif Petani Milenial Sleman dan Indomaret dengan pendampingan dan komunikasi yang seimbang.
Melalui kegiatan ini, Fakultas Pertanian UGM menegaskan komitmennya dalam mendorong pertanian berkelanjutan berbasis kemitraan serta memperkuat pendampingan akademik kepada masyarakat sebagai bagian dari pelaksanaan tridharma perguruan tinggi.
Wujud kemitraan ini selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), yaitu SDG 1: Tanpa Kemiskinan, SDG 2: Tanpa Kelaparan, SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim, dan SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.
Penulis: Beny Nabila Happy Fauziah
Editor: Desi Utami
Dokumentasi: Dyah Woro Untari
Tim peneliti dari Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (Faperta UGM) melaksanakan penelitian bertajuk “Peningkatan Nilai Tambah Hasil Samping Industri Perikanan melalui Pengolahan Produk Pangan dan Nonpangan Komersial dalam Mendukung Program Smart Eco-Bioproduction”. Penelitian ini dipimpin oleh Dr. Ir. Latif Sahubawa, M.Si., dan melibatkan empat mahasiswa sebagai anggota tim peneliti. Kegiatan penelitian berlangsung selama delapan bulan, mulai April hingga November 2025.
Penelitian dilaksanakan di Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian UGM, dengan analisis laboratorium yang dilakukan di Laboratorium Basah Teknologi Hasil Perikanan, Laboratorium Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan, serta Laboratorium Balai Besar Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu (BBKKP) D.I. Yogyakarta. Penelitian ini berfokus pada pemanfaatan limbah jeroan ikan lele sebagai bahan baku pupuk organik cair (POC) melalui proses hidrolisis dan fermentasi, sebagai upaya meningkatkan nilai tambah hasil samping industri perikanan secara berkelanjutan.
Tujuan utama penelitian ini adalah mengkaji pengaruh waktu fermentasi terhadap mutu pupuk organik cair jeroan ikan lele yang dihidrolisis menggunakan kombinasi enzim bromelin dan papain, menentukan waktu fermentasi optimal yang menghasilkan kualitas POC terbaik, serta mengevaluasi potensi pemanfaatannya dalam mendukung pertumbuhan populasi fitoplankton. Parameter mutu yang dianalisis meliputi derajat hidrolisis, rendemen, kadar protein, kadar air, kadar lemak, kadar karbohidrat, kadar abu, pH, serta kandungan unsur hara makro nitrogen (N), fosfor (P), dan kalium (K).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi enzim bromelin dan papain mampu menghasilkan derajat hidrolisis sebesar 88,68% dengan rendemen mencapai 97,71%. Hidrolisat yang dihasilkan memiliki kadar protein 13,74%, kadar abu 4,46%, kadar lemak 1,21%, kadar karbohidrat 2,05%, kadar air 75%, dan pH netral sebesar 7,43. Proses fermentasi selama 15 hari menunjukkan bahwa waktu fermentasi optimal diperoleh pada hari ke-9, yang menghasilkan kandungan unsur hara makro tertinggi dan kualitas POC yang paling stabil.
Lebih lanjut, hasil analisis menunjukkan bahwa pupuk organik cair yang dihasilkan memenuhi standar persyaratan teknis minimal pupuk organik, pupuk hayati, dan pembenah tanah sesuai dengan Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 261/KPTS/SR.310/M/4/2019, khususnya untuk kandungan unsur hara makro (N + P₂O₅ + K₂O) sebesar 2–6%. Selain itu, aplikasi POC dengan dosis 1,0 mL/L berpotensi meningkatkan populasi fitoplankton hingga 7.233,33 × 10³ sel/mL, yang menunjukkan prospek pemanfaatan produk ini dalam mendukung produktivitas ekosistem perairan.
Melalui penelitian ini, Faperta UGM berupaya mendorong pengembangan teknologi pengolahan hasil samping industri perikanan yang bernilai ekonomi, ramah lingkungan, dan berkelanjutan, sejalan dengan konsep Smart Eco-Bioproduction. Inovasi ini diharapkan mampu mendukung pengelolaan limbah perikanan yang lebih efisien sekaligus membuka peluang pengembangan produk komersial berbasis sumber daya lokal.
Penelitian ini turut mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 2: Tanpa Kelaparan, SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, serta SDG 14: Ekosistem Laut, melalui penguatan inovasi pengelolaan hasil samping perikanan secara berkelanjutan.
Penulis: Ghorizatu Shofra
Editor: Desi Utami
Tim peneliti Departemen Sosial dan Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (Faperta UGM), bersama dosen ahli dan mahasiswa program Sarjana (S1), melaksanakan penelitian berjudul “Kinerja Ekspor Komoditas Perkebunan Indonesia di Pasar Internasional”. Penelitian ini dilaksanakan di Indonesia selama 10 bulan, terhitung sejak 28 Februari hingga 10 Desember 2025, dengan tujuan mengkaji secara komprehensif perkembangan, daya saing, serta tantangan ekspor komoditas perkebunan Indonesia di pasar global. Penelitian ini dipimpin oleh Arif Wahyu Widada, S.P., M.Sc. selaku Ketua Tim Peneliti, dengan melibatkan tujuh mahasiswi program Sarjana (S1) sebagai anggota tim peneliti.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tren ekspor komoditas perkebunan Indonesia, mengukur tingkat daya saing di pasar internasional, serta mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja ekspor komoditas perkebunan nasional. Kajian ini diharapkan dapat memberikan gambaran empiris mengenai posisi dan prospek sektor perkebunan Indonesia dalam dinamika perdagangan internasional.
Penelitian dilaksanakan menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan pendekatan analisis data sekunder. Data penelitian diperoleh dari berbagai sumber terpercaya, antara lain UN Comtrade, Badan Pusat Statistik (BPS), TradeMap, dan FAOSTAT. Untuk mengukur tingkat daya saing komoditas, tim peneliti menggunakan metode Revealed Comparative Advantage (RCA) dan Indeks Spesialisasi Perdagangan (ISP). Analisis dilakukan terhadap data perdagangan komoditas perkebunan Indonesia selama lima tahun terakhir.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelapa sawit masih menjadi penyumbang devisa terbesar sektor perkebunan Indonesia dan memiliki permintaan global yang tinggi, khususnya dari India, China, dan Uni Eropa. Namun demikian, daya saing kelapa sawit Indonesia menghadapi sejumlah tantangan, seperti regulasi keberlanjutan, hambatan non-tarif, serta fluktuasi harga global, yang berpengaruh terhadap kinerja ekspor di pasar internasional.
Sementara itu, komoditas perkebunan lainnya, seperti kopi, teh, kakao, vanili, dan karet, menunjukkan kecenderungan penurunan volume ekspor serta menghadapi persaingan harga yang semakin ketat di pasar global. Kondisi ini mengindikasikan perlunya strategi penguatan daya saing yang lebih terarah agar komoditas perkebunan non-sawit tetap mampu bertahan dan berkembang di tengah persaingan global.
Lebih lanjut, hasil analisis menegaskan bahwa diversifikasi pasar ekspor, peningkatan kualitas produk, serta penguatan hilirisasi komoditas perkebunan menjadi langkah strategis yang sangat dibutuhkan untuk mempertahankan sekaligus meningkatkan kinerja ekspor perkebunan Indonesia. Upaya tersebut dinilai penting untuk meningkatkan nilai tambah produk, mengurangi ketergantungan pada pasar tertentu, serta menjawab tuntutan keberlanjutan global.
Melalui penelitian ini, Faperta UGM diharapkan dapat memberikan kontribusi akademik sekaligus rekomendasi kebijakan bagi para pemangku kepentingan dalam merumuskan strategi pengembangan ekspor perkebunan Indonesia yang berdaya saing, berkelanjutan, dan adaptif terhadap dinamika pasar global. Penelitian ini sekaligus menjadi wujud komitmen Faperta UGM dalam mendukung penguatan sektor perkebunan sebagai salah satu pilar penting perekonomian nasional.
Penelitian ini turut mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 2: Tanpa Kelaparan, SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.
Penulis: Ghorizatu Shofra
Editor: Desi Utami
Tim peneliti dari Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (Faperta UGM) melaksanakan penelitian berjudul “Analisis Keberlanjutan Budidaya Lele (Clarias sp.) Padat Tebar Tinggi dengan Sistem Kocor di Kabupaten Bantul”. Penelitian ini dipimpin oleh Dr. Susilo Budi Priyono, S.Pi., M.Si. selaku Ketua Tim Peneliti, dengan melibatkan 11 mahasiswa program Sarjana (S1) dan Magister (S2) sebagai anggota tim. Kegiatan penelitian berlangsung selama 10 bulan, terhitung sejak 28 Februari hingga 10 Desember 2025, dan berlokasi di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Penelitian ini dilaksanakan di Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Patil Berkah Jaya yang berlokasi di Dusun Gunturgeni, Kalurahan Poncosari, Kapanewon Srandakan. Pokdakan tersebut dipilih sebagai lokasi penelitian karena menjadi pelopor sekaligus center of excellence dalam pengembangan budidaya lele padat tebar tinggi dengan sistem kocor di Kabupaten Bantul.
Budidaya lele padat tebar tinggi dengan sistem kocor merupakan inovasi yang berkembang pesat di wilayah Bantul. Seiring dengan peningkatan adopsi teknologi ini oleh pembudidaya, diperlukan kajian mendalam mengenai keberlanjutan sistem budidaya, baik dari sisi teknis, ekonomi, maupun lingkungan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji keberlanjutan sistem budidaya lele tersebut melalui aspek teknis dan kinerja produksi, aspek ekonomi, serta aspek lingkungan.
Penelitian dilakukan menggunakan metode deskriptif melalui observasi langsung dan wawancara dengan pembudidaya di Pokdakan Patil Berkah Jaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem budidaya lele padat tebar tinggi dengan sistem kocor dilakukan menggunakan bak terpal bulat berdiameter 3 meter. Benih lele berukuran 5–7 cm ditebar dengan kepadatan mencapai 696 ekor/m³. Satu siklus pemeliharaan berlangsung selama 90 hari dan mampu menghasilkan produksi sebesar 527 kg per bak, dengan produktivitas 75,28 kg/m³ serta rasio konversi pakan (Feed Conversion Ratio/FCR) sebesar 1,06.
Dari aspek ekonomi, sistem budidaya ini mampu menghasilkan pendapatan sebesar Rp1.053.363 per bak per siklus, atau setara dengan Rp351.121 per bulan per bak. Nilai R/C rasio sebesar 1,12 menunjukkan bahwa usaha budidaya lele padat tebar tinggi dengan sistem kocor menguntungkan dan layak untuk dikembangkan secara ekonomi.
Namun demikian, dari aspek lingkungan, penelitian mencatat bahwa kebutuhan air tanah dalam satu siklus pemeliharaan tergolong sangat tinggi, yaitu mencapai 2.144,89 m³, atau setara dengan 23,83 m³ per hari, dengan tingkat pergantian air mencapai 338 persen per hari. Meskipun demikian, efisiensi penggunaan air dalam sistem budidaya ini tergolong sangat tinggi, yaitu 4,07 m³ per kilogram ikan yang dihasilkan, sehingga masih memiliki potensi untuk dikembangkan dengan pengelolaan sumber daya air yang lebih bijaksana.
Melalui penelitian ini, Faperta UGM diharapkan dapat memberikan kontribusi ilmiah dan rekomendasi kebijakan bagi pembudidaya, pemerintah daerah, serta pemangku kepentingan lainnya dalam pengembangan budidaya lele yang produktif, menguntungkan, dan berkelanjutan, khususnya di wilayah perdesaan.
Penelitian ini turut mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), antara lain SDG 2: Tanpa Kelaparan, SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, serta SDG 14: Ekosistem Laut dan Perairan.
Penulis: Ghorizatu Shofra
Editor: Desi Utami
Tim peneliti dari Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (Faperta UGM) melaksanakan penelitian berjudul “Nanoalginat untuk Pengembangan Pakan Ikan Fungsional”. Penelitian ini dipimpin oleh Prof. Dr. Ir. Alim Isnansetyo, M.Sc. selaku Ketua Tim Peneliti, dengan melibatkan 12 mahasiswa program Sarjana (S1) dan Magister (S2). Penelitian berlangsung selama 10 bulan, terhitung sejak 28 Februari hingga 10 Desember 2025, dan dilaksanakan di wilayah Sleman.
Budidaya perikanan merupakan salah satu sektor strategis dalam mendukung pemenuhan kebutuhan pangan nasional. Namun demikian, sektor ini masih menghadapi berbagai tantangan, terutama terkait ketersediaan pakan berkualitas serta tingginya risiko serangan penyakit pada ikan budidaya. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh suplementasi nanoalginat berbahan dasar Sargassum dalam pakan formulasi terhadap respon kekebalan seluler, histologi usus, serta pertumbuhan ikan nila.
Penelitian dilakukan dengan memelihara ikan nila berukuran 8–12 cm di dalam bak berbentuk tabung berkapasitas 1 m³ yang dilengkapi dengan sistem resirkulasi. Ikan ditebar dengan kepadatan 50 ekor per bak dan dipelihara selama dua bulan. Penelitian ini menggunakan lima perlakuan dengan tiga ulangan, yaitu pakan formulasi yang disuplementasi nanoalginat dengan dosis berbeda, alginat non-nano, serta pakan formulasi tanpa penambahan suplemen sebagai kontrol.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian nanoalginat tidak memberikan perbedaan yang signifikan terhadap pertumbuhan panjang dan berat ikan, tingkat kelangsungan hidup (SR), maupun rasio konversi pakan (FCR). Namun demikian, pada aspek kekebalan nonspesifik seluler, terjadi peningkatan yang signifikan pada aktivitas superoksida dismutase dan fagositosis pada hari ke-30, terutama pada perlakuan nanoalginat dosis 1,5 g. Pada hari ke-60, perbedaan signifikan juga terlihat pada aktivitas dan indeks fagositosis, dengan hasil terbaik ditunjukkan oleh perlakuan nanoalginat dosis 2 g.
Selain itu, analisis histologi usus menunjukkan bahwa perlakuan nanoalginat memberikan respons yang berbeda terhadap struktur jaringan usus ikan. Panjang vili usus terbaik diperoleh pada perlakuan nanoalginat dosis 0,5 g/kg, sementara ketebalan otot usus tertinggi ditemukan pada perlakuan nanoalginat dosis 1,5 g/kg. Temuan ini mengindikasikan bahwa nanoalginat memiliki potensi dalam meningkatkan efikasi sistem pencernaan dan daya tahan tubuh ikan.
Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan nanoalginat dalam pakan fungsional berpotensi meningkatkan sistem kekebalan ikan nila dan berkontribusi dalam upaya pencegahan penyakit pada budidaya perikanan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar pengembangan pakan ikan fungsional yang inovatif, berkelanjutan, dan aplikatif bagi sektor budidaya perikanan nasional.
Penelitian ini turut mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 2: Tanpa Kelaparan, SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, serta SDG 14: Ekosistem Laut.
Penulis: Ghorizatu Shofra
Editor: Desi Utami
Tim peneliti dari Departemen Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (Faperta UGM) melaksanakan penelitian berjudul “Efisiensi Teknis Usahatani Jagung dalam Mendukung Pertanian Berkelanjutan di Kabupaten Lombok Tengah”. Penelitian ini dipimpin oleh Prof. Dr. Jamhari, S.P., M.P. selaku Ketua Tim Peneliti, dengan melibatkan sembilan mahasiswa program Sarjana (S1) dan Magister (S2) sebagai anggota tim.
Penelitian dilaksanakan selama lima bulan dan berlokasi di Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat, tepatnya di Kecamatan Praya (Kelurahan Gonjak) serta Kecamatan Praya Barat (Desa Selong Belanak dan Desa Mekar Sari). Kabupaten Lombok Tengah dipilih sebagai lokasi penelitian karena menjadi salah satu wilayah pelaksanaan program korporasi petani dengan fokus pada komoditas jagung, yang merupakan komoditas unggulan daerah dan memiliki peran strategis dalam mendukung ketahanan pangan.
Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengukur tingkat efisiensi teknis usahatani jagung, (2) mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi inefisiensi teknis usahatani jagung, serta (3) merumuskan strategi peningkatan efisiensi teknis dan keberlanjutan usahatani jagung di Kabupaten Lombok Tengah. Pengumpulan data dilakukan terhadap 140 petani jagung yang ditentukan menggunakan metode quota sampling, dengan teknik pengambilan sampel snowball sampling.
Analisis data dilakukan menggunakan beberapa pendekatan kuantitatif, yaitu analisis regresi linear berganda dengan metode Ordinary Least Squares (OLS) dan Stochastic Frontier Analysis (SFA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat efisiensi teknis usahatani jagung di Kabupaten Lombok Tengah belum optimal, dengan nilai rata-rata efisiensi teknis sebesar 0,83. Temuan ini mengindikasikan bahwa masih terdapat peluang untuk meningkatkan produktivitas usahatani jagung melalui perbaikan pengelolaan input dan dukungan kebijakan yang lebih tepat sasaran.
Lebih lanjut, hasil analisis mengungkapkan bahwa faktor umur petani cenderung menurunkan efisiensi teknis usahatani jagung, sementara akses terhadap penyuluhan pertanian dan status kepesertaan dalam program atau kelembagaan pertanian terbukti dapat meningkatkan efisiensi teknis. Oleh karena itu, penguatan peran penyuluhan dan kelembagaan petani menjadi aspek penting dalam mendorong kinerja usahatani jagung yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Melalui penelitian ini, tim peneliti merekomendasikan perlunya perluasan akses penyuluhan yang interaktif, peningkatan kapasitas petani, serta kebijakan input–output yang lebih adil guna melindungi dan memperkuat posisi petani jagung. Langkah-langkah tersebut diharapkan mampu meningkatkan efisiensi teknis sekaligus mendukung keberlanjutan usahatani jagung di Kabupaten Lombok Tengah.
Penelitian ini turut berkontribusi dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 2: Tanpa Kelaparan, SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.
Penulis: Ghorizatu Shofra
Editor: Desi Utami
Departemen Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (Faperta UGM), melaksanakan penelitian berjudul “Inovasi Teknologi dalam Rangka Mewujudkan Kemandirian Pangan Nasional”. Penelitian ini dipimpin oleh Prof. Dr. Taryono, M.Sc. selaku Ketua Tim Peneliti, dengan melibatkan Dr. Andrianto Ansari, S.TP., M.Agr., Ph.D. sebagai dosen anggota tim, serta enam mahasiswa program Sarjana (S1) dan Magister (S2). Penelitian berlangsung selama 10 bulan, terhitung sejak 29 Februari hingga 9 Desember 2025, dan berlokasi di Banguntapan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Penelitian ini berangkat dari pentingnya pangan sebagai kebutuhan pokok manusia serta perlunya inovasi teknologi pertanian untuk mendukung kemandirian pangan nasional. Salah satu pendekatan yang dikaji adalah pertanian sirkuler, yaitu sistem pertanian yang memanfaatkan limbah hasil pertanian sebagai input pada siklus produksi berikutnya. Limbah pertanian dinilai memiliki potensi besar sebagai sumber hara bagi tanaman apabila dikelola secara tepat.
Salah satu limbah pertanian yang menjadi fokus penelitian adalah bulu ayam, yang diketahui sulit terdekomposisi secara alami. Dalam penelitian ini, bulu ayam dihidrolisis dan direaksikan dengan senyawa kalium, kalsium, dan fosfat, kemudian diikat menggunakan arang sekam, sehingga menghasilkan senyawa kompleks yang dikenal sebagai Kalsium Kalium Fosfat Proteinat berbasis arang sekam. Senyawa ini mengandung asam amino hasil hidrolisis bulu ayam yang bersifat lebih mudah tersedia bagi tanaman.
Berdasarkan penelitian pendahuluan, campuran arang sekam Kalsium Kalium Fosfat Proteinat, kompos, dan biochar yang diaplikasikan sebagai pupuk super cerdas, serta dikombinasikan dengan pupuk anorganik sesuai dosis anjuran pada tanaman padi dan teh, menunjukkan hasil yang cukup menjanjikan. Oleh karena itu, penelitian lanjutan ini dirancang untuk menguji pupuk super cerdas tersebut sebagai pembawa (carrier) unsur hara nitrogen, yang diaplikasikan pada tanaman padi dan sorgum.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan pupuk super cerdas sebagai pembawa hara nitrogen belum mampu meningkatkan pertumbuhan maupun hasil tanaman padi dan sorgum secara signifikan. Temuan ini mengindikasikan bahwa formulasi pupuk, dosis aplikasi, maupun interaksi dengan kondisi lingkungan masih perlu dikaji lebih lanjut agar inovasi teknologi berbasis limbah pertanian ini dapat memberikan hasil yang optimal.
Meskipun demikian, penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pertanian, khususnya terkait pemanfaatan limbah pertanian sebagai sumber hara alternatif dalam sistem pertanian berkelanjutan. Hasil kajian ini diharapkan dapat menjadi dasar pengembangan inovasi lanjutan untuk mendukung kemandirian pangan nasional melalui pendekatan pertanian sirkuler yang ramah lingkungan.
Penelitian ini turut mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 2: Tanpa Kelaparan, SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, serta SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim.
Penulis: Ghorizatu Shofra
Editor: Desi Utami
Tim peneliti dari Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan (HPT), Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (Faperta UGM) melaksanakan penelitian berjudul “Pemanfaatan Streptomyces spp. untuk Pengendalian Patogen Tanaman”. Penelitian ini dipimpin oleh Prof. Dr. Ir. Siti Subandiyah, M.Agr.Sc. selaku Ketua Peneliti, melibatkan empat mahasiswa program Sarjana (S1) dengan Hibah Kolaborasi Dosen dan Mahasiswa 2025, 1 mahasiswa S2 fastreck 2024, serta kerjasama melalui magang riset 2 mahasiswa S3 dan 1 mhs S2 dari Dept. Micobiology and Biotechnology Helsinki University 2023 di Dept. HPT UGM. Penelitian dengan hibah kerjasama dosen dan mahasiswa 2025 berlangsung selama delapan bulan, terhitung sejak 28 Februari hingga 23 November 2025, dan dilaksanakan di Laboratorium Bakteriologi dan Mikologi, Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian UGM.
Streptomyces dikenal sebagai salah satu agen biokontrol potensial dalam pengendalian penyakit tanaman karena kemampuannya menghasilkan berbagai metabolit sekunder yang bersifat antagonis terhadap patogen. Namun demikian, kelompok bakteri ini juga diketahui dapat membawa antibiotic resistance genes (ARGs) yang berpotensi berkontribusi terhadap meningkatnya resistensi antimikroba di lingkungan pertanian. Kondisi tersebut semakin relevan mengingat penggunaan pupuk organik berbasis kotoran ternak berpotensi mempercepat akumulasi ARGs serta terjadinya transfer gen horizontal di ekosistem pertanian.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan sejumlah 39 isolat Streptomyces spp. yang berasal dari berbagai sumber dalam menekan pertumbuhan jamur patogen Fusarium oxysporum f. sp. cubense Tropical Race 4 (TR4) penyebab penyakit layu pisang secara in vitro dengan 5 isolat diantaranya sudah diuji bersifat antagonis terhadap Ganoderma boninense patogen busuk pangkal batang kelapa sawit. Lebih lanjut dilakukan juga deteksi terhadap tujuh ARGs menggunakan metode multiplex PCR (mPCR) pada isolat yang berasal dari pupuk kotoran ternak. Selain itu, penelitian ini juga dilakukan untuk mengidentifikasi isolat yang memiliki ARGs unik sebagai dasar pengembangan strategi pengendalian penyakit tanaman yang lebih aman dan berkelanjutan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat isolat Streptomyces yang mampu menghambat pertumbuhan Foc TR4 secara in vitro. Meski demikian, dua isolat dari 5 isolat yang bersifat antagonis terhadap G. boninense yaitu P-NI3 dan P-I2, diketahui memiliki kekerabatan dekat dengan Streptomyces collinus strain L2 dan Streptomyces broussonetiae strain T44. Deteksi molekuler menunjukkan bahwa primer StrepPNI3-F dan StrepPNI3-R berhasil mendeteksi isolat P-NI3 dengan amplikon berukuran 650 bp, sedangkan primer StrepPI2-F dan StrepPI2-R mampu mendeteksi isolat P-I2 dengan amplikon 221 bp.
Lebih lanjut, hasil deteksi ARGs mengungkapkan bahwa seluruh isolat mengandung lebih dari satu gen resistensi antibiotik, yang mengindikasikan adanya sifat multi drug resistance (MDR). Analisis filogenetik menunjukkan bahwa isolat WTP-1 berkerabat paling dekat dengan Streptomyces sp. WAC00288, sedangkan isolat WTP-6 memiliki kedekatan genetik dengan Streptomyces sp. Sudan B70. Temuan ini menjadi catatan penting dalam pengembangan agen biokontrol berbasis mikroba agar tetap memperhatikan aspek keamanan lingkungan dan kesehatan.
Melalui penelitian ini, Faperta UGM menegaskan komitmennya dalam mengembangkan ilmu pengetahuan di bidang perlindungan tanaman yang berbasis sains, berkelanjutan, dan berwawasan lingkungan. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi dasar bagi pengembangan strategi pengendalian penyakit tanaman yang tidak hanya efektif, tetapi juga aman dari risiko penyebaran resistensi antimikroba di sektor pertanian.
Penelitian ini turut mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 2: Tanpa Kelaparan, SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim, serta SDG 15: Ekosistem Daratan.
Penulis: Ghorizatu Shofra
Editor: Desi Utami

