Menatap Masa Depan Pangan Tropis: Paul Hamzah Sampaikan Paradigma Pertanian 5.0 dan Ekonomi Biru di SC-STAF 2026

Bagaimana kita memberi makan dunia di tengah ancaman krisis iklim yang kian nyata? Pertanyaan mendasar inilah yang menggerakkan diskusi mendalam pada hari kedua gelaran Summer Course on Sustainable Tropical Agriculture and Fisheries (SC-STAF) 2026 yang diinisiasi oleh Fakultas Pertanian UGM. Menghadirkan Paul Fuseini Hamza pada hari ke 2 (7 Juli 2026), seorang ilmuwan agronomi sekaligus spesialis penyuluhan pertanian lintas benua, forum internasional ini diajak membedah visi besar transformasi pangan dalam pemaparan bertajuk “Reimagining Tropical Agriculture and Fisheries for a New Generation”.

Melalui latar belakang akademisnya yang kuat di University for Development Studies (UDS) Ghana dan The University of Queensland (UQ) Australia, Hamza menyuguhkan sebuah sudut pandang komparatif yang kaya, memadukan realitas lapangan wilayah tropis Afrika dengan perkembangan sains modern di dunia internasional.

Salah satu sorotan utama yang memantik daya kritis para peserta adalah transformasi radikal dari era Agriculture 4.0 menuju Agriculture 5.0. Jika era hulu ke hilir Agriculture 4.0 menitikberatkan pada digitalisasi massal melalui integrasi kecerdasan buatan (AI), big data, sensor IoT, kontrol drone, dan komputasi demi pertumbuhan ekonomi semata, maka era Agriculture 5.0 membawa sains ke tingkat yang lebih manusiawi.  Era Agriculture 5.0 meletakkan kolaborasi antara kecerdasan manusia  dan kecerdasan buatan sebagai motor penggerak utama.

Di sisi lain, mengingat wilayah tropis menyokong kehidupan lebih dari 40% populasi dunia, pengelolaan sumber daya air dan laut menjadi pilar yang tidak boleh diabaikan. Hamza memaparkan konsep Blue Economy sebagai instrumen mutakhir untuk mengoptimalkan potensi akuatik secara bertanggung jawab. Di dalam ruang ekosistem laut ini, komoditas rumput laut muncul sebagai sumber daya hijau andalan yang multi-manfaat. Sejalan dengan hal tersebut, diperkenalkan pula konsep pangan masa depan melalui payung protein alternatif guna melengkapi ketergantungan pada peternakan konvensional hulu.

Melalui diskusi interaktif yang terbangun sepanjang sesi kelas, Hamza bersama peserta dari berbagai negara menyusun sebuah roadmap jangka panjang hulu ke hilir:

  • Jangka Pendek (2026–2030): Fokus pada transformasi digital harian, adaptasi perubahan iklim di tingkat tapak, investasi riset benih unggul, optimalisasi irigasi pintar (smart irrigation), dan pelibatan aktif pemuda.
  • Jangka Menengah (2030–2040): Peningkatan skala pertanian presisi, implementasi smart aquaculture, aplikasi bioteknologi modern, serta hilirisasi agro-processing berbasis energi terbarukan.
  • Jangka Panjang (2040–2050): Mewujudkan sistem pangan terintegrasi penuh berbasis AI, berjalannya ekonomi sirkular biologis (circular bioeconomy), serta tercapainya pertanian net-zero yang kompetitif secara global.

Keterlibatan aktif Fakultas Pertanian UGM dalam menghadirkan ilmuwan internasional seperti Paul Fuseini Hamza menunjukkan komitmen institusi dalam memperkuat kolaborasi akademik dan mendorong transformasi sistem pertanian serta perikanan yang berkelanjutan. Kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 2: Tanpa Kelaparan melalui penguatan sistem pangan berkelanjutan, SDG 4: Pendidikan Berkualitas melalui pertukaran pengetahuan global, SDG 9: Industri Inovasi dan Infrastruktur melalui pemanfaatan teknologi pertanian dan akuakultur cerdas, SDG 13: Penanganan Perbuahan Iklim melalui pengembangan strategi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim, SDG 14: Ekosistem Lautan melalui penguatan konsep Blue Economy dan pengelolaan sumber daya perairan secara berkelanjutan, SDG 15: Ekosistem Daratan melalui pengembangan sistem pertanian yang ramah lingkungan, serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi internasional dalam pendidikan dan riset.

 

Penulis: Rani Nur Rochim

Editor: Tantriani

Dokumentasi: Tim SC-STAF 2026