• Tentang UGM
  • Informasi Publik
  • IT Center
  • Perpustakaan UGM
  • Webmail UGM
  • Pertanian Digital
    • Desa Apps
    • Lentera DESA
  • English Version
Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
Fakultas Pertanian
  • Home
  • Tentang Kami
    • Tentang Fakultas
      • Visi & Misi
      • Sasaran & Tujuan
      • Struktur Organisasi
    • Program Studi
    • Sarjana
      • Leaflet dan Video Promosi Program Studi
      • Uang Kuliah Tunggal (UKT) Program Sarjana
      • SOP Perkuliahan Sarjana
      • Panduan Akademik Sarjana
      • Kurikulum Sarjana
      • Jadwal Kuliah & Praktikum
      • PROGRAM KAMPUS BERDAMPAK
      • Program Fastrack Faperta
      • Insentif Prestasi Mahasiswa
      • Surat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI)
      • Virtual Office Academic FAPERTA UGM
      • Info Beasiswa
      • International Undergraduate Class (IUC)
      • RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN PEMBELAJARAN SEMESTER (RPKPS)
    • Pascasarjana
      • INFORMASI PERKULIAHAN PASCASARJANA
      • SOP PERKULIAHAN PASCASARJANA
      • Panduan Akademik Pascasarjana
      • Uang Kuliah Tunggal (UKT) Program Profesi dan Pascasarjana
      • Aturan Akademik Pascasarjana
      • Kurikulum Pascasarjana
      • RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN PEMBELAJARAN SEMESTER (RPKPS)
      • Daftar Pembimbing S2 Pascasarjana
      • Daftar Promotor S3 Pascasarjana
      • Dokumen Seminar dan Ujian S3 Pascasarjana
      • Persyaratan Pendaftaran Doktor Ilmu Pertanian
    • Kemahasiswaan
    • Alumni
      • TRACER STUDY
      • Lowongan Kerja
    • Fasilitas Pendukung
      • AGROTROPICA LEARNING CENTER UGM
      • Perpustakaan
      • UGM Library Video Profile
      • Agriculture Ebooks
      • HPU
    • AIMS
    • Jaminan Mutu
      • EDOM Sarjana
      • EDOM Pascasarjana
      • Standard Operating Procedure – EDOM
      • Rencana Tindak Lanjut EDOM
      • Laporan RTM
      • Panduan OBA Simaster
      • Panduan Pengisian SIMONI
      • Kepuasan Stakeholder
    • Profil Dosen
    • Zone Integritas
    • Rencana Strategis
    • Target Capaian Kinerja
    • Inovasi dan Kajian Akademik
    • Laporan Tahunan
  • PMB
  • Departemen
    • Budidaya Pertanian
    • Hama dan Penyakit Tumbuhan
    • Mikrobiologi Pertanian
    • Perikanan
      • Departemen Perikanan
      • Program Studi Akuakultur
      • Program Studi Manajemen Sumber Daya Akuatik
      • Program Studi Teknologi hasil Perikanan
    • Sosial Ekonomi Pertanian
      • Program Studi Ekonomi Pertanian dan Agribisnis
      • Program Studi Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian
    • Tanah
  • Penelitian & Publikasi
    • PENELITIAN
    • PENGABDIAN MASYARAKAT
    • PUBLIKASI
      • Buku
    • KERJASAMA
    • Buku Karya Dosen
  • Download
    • Peraturan
    • Download panduan kuliah online
    • Jadwal Kuliah & Praktikum
    • Bahan Kuliah dan Praktikum
    • Formulir
    • Agriculture Ebooks
    • PROSEDUR OPERASIONAL STANDAR (POS) KEGIATAN FAKULTAS
    • Petunjuk Penulisan Laporan Akhir PKM 2020
    • Panduan Pelayanan Akademik Faperta UGM
    • E-Booklet PPKS UGM
    • Buku Kenangan Wisuda
  • Beranda
  • SDG 14: Ekosistem Lautan
Arsip:

SDG 14: Ekosistem Lautan

Forum Maritim Bali Dorong Peran Generasi Muda dalam Menjaga Laut

berita Friday, 25 September 2026

Forum Maritim Bali (FMB) menghadirkan perspektif lintas generasi mengenai pentingnya menjaga sumber daya maritim Indonesia dalam rangkaian Family Gathering Lustrum XVI Dies Natalis ke-80 Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (Faperta UGM). Kegiatan tersebut menghadirkan empat pemateri dengan latar belakang duta yang berbeda untuk membahas keterkaitan antara pangan, ekosistem laut, kesejahteraan masyarakat, dan peran generasi muda.

Empat pemateri yang hadir yakni Keyza Morenata, salah satu Duta Protein Indonesia 2024; Gusti Agung Ayu Ananda Triskajaya, Duta Kids Maritim Bali 2024; Putu Winie Arisachi Karita, Runner Up 3 Duta Maritim Bali 2024; serta Ni Komang Larasati Kusumawardana, Duta Maritim Bali 2024.

Dalam pemaparannya, Keyza Morenata mengangkat materi mengenai pentingnya konsumsi ikan dan protein berkualitas. Ia menekankan bahwa edukasi mengenai pangan dan protein tidak cukup berhenti pada penyampaian informasi, tetapi perlu diwujudkan melalui solusi yang nyata. Upaya tersebut dapat dilakukan dengan meningkatkan kesadaran masyarakat untuk mengonsumsi protein yang cukup, aman, dan bergizi, memastikan mutu ikan yang dikonsumsi, serta mendukung sumber pangan lokal dengan tetap menjaga keberlanjutan laut.

“Edukasi tidak cukup berhenti pada kata-kata, tetapi harus diwujudkan melalui solusi yang nyata,” ujar Keyza.

Perspektif mengenai keberlanjutan laut kemudian dilanjutkan oleh Gusti Agung Ayu Ananda Triskajaya melalui materi “Peran Gen Alfa dalam Menjaga Ekosistem Terumbu Karang.” Ia menyoroti karakter Generasi Alfa yang tumbuh berdampingan dengan teknologi sebagai peluang untuk memperluas edukasi mengenai lingkungan laut. Menurutnya, teknologi dapat dimanfaatkan untuk menyebarkan informasi sekaligus mengajak lebih banyak generasi muda untuk peduli terhadap ekosistem terumbu karang.

“Kami, Generasi Alfa, tidak hanya sebagai penerus, tetapi sebagai bagian dari solusi,” ungkap Ananda.

Sementara itu, Putu Winie Arisachi Karita membahas keterkaitan erat antara ekosistem dan kesejahteraan masyarakat. Ekosistem laut tidak hanya menjadi habitat bagi berbagai organisme, tetapi juga memiliki peran penting sebagai sumber pangan dan mata pencaharian masyarakat, khususnya masyarakat pesisir. Oleh karena itu, upaya menjaga kelestarian laut juga berkaitan dengan keberlanjutan kehidupan masyarakat yang bergantung pada sumber daya tersebut.

“Menjaga ekosistem laut bukan hanya tentang menjaga alam, tetapi juga menjaga kehidupan dan kesejahteraan masyarakat,” tutur Putu.

Pembahasan kemudian ditutup dengan perspektif Generasi Z yang disampaikan oleh Ni Komang Larasati Kusumawardana melalui materi “Peran Gen Z dalam Menjaga dan Melestarikan Sumber Daya Maritim.” Ia menekankan bahwa generasi muda perlu mengambil peran aktif dalam menjaga ekosistem laut, bukan sekadar menjadi penonton. Peran tersebut dapat diwujudkan melalui berbagai langkah konkret, di antaranya digital movement, edukasi dan sosialisasi, serta aksi nyata dalam menjaga lingkungan laut.

“Kami tidak hanya menjadi penonton, tetapi menjadi garda terdepan untuk mencegah kerusakan dan melestarikan ekosistem laut,” ujar Larasati.

Kegiatan Forum Maritim Bali dalam rangkaian Family Gathering Lustrum XVI Dies Natalis ke-80 Faperta UGM berkontribusi pada pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 14: Ekosistem Lautan melalui edukasi mengenai perlindungan ekosistem laut, terumbu karang, dan keberlanjutan sumber daya maritim. Pembahasan mengenai konsumsi ikan dan protein berkualitas juga berkaitan dengan SDG 2: Tanpa Kelaparan dan SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera, terutama dalam mendorong kesadaran terhadap pangan yang aman, bergizi, dan berkualitas. Keterkaitan sumber daya laut dengan mata pencaharian masyarakat pesisir mendukung SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, sementara ajakan untuk menjaga sumber daya laut secara berkelanjutan sejalan dengan SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab. Edukasi dan keterlibatan generasi muda dalam menjaga ekosistem laut juga memperkuat kesadaran dan aksi masyarakat terhadap keberlanjutan lingkungan yang berkaitan dengan SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim.

Penulis: Arbi Darmawan

Editor: Tantriani

Dokumentasi: Media Faperta UGM

Duta Maritim Bali Kenalkan Potensi Tuna dan Pentingnya Keberlanjutan Laut kepada Generasi Muda

berita Friday, 25 September 2026

Potensi kelautan Indonesia tidak hanya perlu dimanfaatkan, tetapi juga dikenalkan dan dijaga keberlanjutannya oleh generasi muda. Pesan tersebut mengemuka dalam rangkaian kegiatan wawancara dan demonstrasi pengolahan tuna yang menghadirkan para Duta Maritim Bali dalam Family Gathering Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (Faperta UGM) di Yogyakarta. Melalui kegiatan tersebut, para duta memperkenalkan ikan tuna dari berbagai perspektif, mulai dari nilai ekonomi dan kandungan gizi hingga peluang inovasi pengolahan dan pentingnya menjaga kesehatan ekosistem laut.

Ni Putu Indhira Laksmi Putri, Runner Up V Duta Maritim Bali 2026, menjelaskan bahwa tuna dapat menjadi sarana edukasi yang efektif untuk memperkenalkan isu kelautan kepada masyarakat, khususnya generasi muda. Menurutnya, tuna memiliki karakteristik yang relevan untuk menghubungkan aspek ekonomi, pangan, kesehatan, dan keberlanjutan sumber daya laut.

“Menurut saya, ikan tuna bisa menjadi simbol yang efektif untuk mengedukasi masyarakat, terutama Gen Z dan Gen Alpha,” ujar Ni Putu Indhira.

Ia menjelaskan bahwa tuna merupakan salah satu komoditas perikanan yang memiliki nilai ekonomi dan pasar yang luas. Di sisi lain, tuna juga dikenal sebagai sumber protein dan mengandung berbagai zat gizi, termasuk asam lemak omega-3. Potensi tersebut dapat menjadi pintu masuk untuk meningkatkan apresiasi generasi muda terhadap kekayaan sumber daya kelautan Indonesia.

Namun, pemanfaatan tuna perlu diiringi dengan perhatian terhadap keberlanjutan ekosistem laut. Ni Putu Indhira menyoroti ancaman seperti overfishing dan pencemaran sampah plastik yang dapat memengaruhi keberlanjutan sumber daya perikanan.

“Jika ikan tuna terancam oleh overfishing dan sampah plastik, maka inilah yang menjadi sinyal darurat bahwa laut kita sedang tidak baik-baik saja,” tuturnya.

Perspektif tersebut menunjukkan bahwa tuna tidak hanya dapat dipandang sebagai komoditas pangan dan ekonomi, tetapi juga sebagai bagian dari ekosistem laut yang pemanfaatannya perlu dilakukan secara bertanggung jawab. Dengan demikian, pengembangan sektor perikanan perlu berjalan beriringan dengan upaya menjaga kesehatan dan keberlanjutan ekosistem laut.

Sementara itu, Ni Kadek Selbi Tariadani, Runner Up Duta Maritim Bali 2026, menyoroti pentingnya menghubungkan potensi sumber daya kelautan dengan inovasi pengolahan pangan. Hal tersebut ditunjukkan melalui demonstrasi pengolahan tuna yang ditujukan kepada peserta Family Gathering di lingkungan Faperta UGM.

Dalam wawancara tersebut, Ni Kadek Selbi menyampaikan bahwa potensi hasil perikanan dari wilayah perairan Indonesia, termasuk kawasan selatan Yogyakarta, dapat dikembangkan melalui berbagai inovasi pengolahan. Kegiatan demonstrasi menjadi sarana untuk memperkenalkan bahwa hasil perikanan tidak hanya dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan, tetapi juga memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk bernilai tambah.

Ia berharap kegiatan tersebut dapat mendorong mahasiswa Faperta UGM untuk semakin tertarik mengembangkan inovasi dalam pengolahan hasil perikanan. Menurutnya, potensi pangan Indonesia berasal dari sumber daya daratan maupun lautan yang dapat dikembangkan secara terpadu.

Pengolahan hasil perikanan seperti tuna juga dapat menjadi salah satu pendekatan untuk meningkatkan nilai tambah komoditas sekaligus memperkenalkan pentingnya pemanfaatan sumber daya pangan secara optimal dan bertanggung jawab.

Dimensi pendidikan dan keberlanjutan turut disampaikan oleh Ni Kadek Keisha Suparta, Runner Up II Duta Kids Maritim Bali 2024. Ia menekankan pentingnya membangun kesadaran mengenai sektor maritim sejak usia dini. Menurutnya, kepedulian terhadap laut tidak hanya diwujudkan melalui upaya menjaga kebersihan, tetapi juga melalui proses mengenal, menghargai, dan melestarikan kekayaan maritim Indonesia.

“Kami sebagai Duta Kids Maritim Bali berharap agar generasi muda dapat menjadi generasi yang peduli, bertanggung jawab, dan ikut berperan dalam menjaga dan memajukan potensi Indonesia,” tutur Ni Kadek Keisha.

Ia juga mengaitkan peran generasi muda dengan pengembangan ekonomi biru dan cita-cita membangun Generasi Emas 2045. Karena itu, edukasi mengenai maritim perlu dilakukan secara berkelanjutan agar kesadaran dan tanggung jawab terhadap laut dapat tumbuh sejak dini.

Pesan serupa disampaikan oleh I.G.A. Kineta Adiaraya, Runner Up I Pra Kids Maritim Bali 2025. Menurutnya, kepedulian terhadap laut bukan hanya tanggung jawab masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir. Masyarakat yang berada jauh dari laut pun dapat berkontribusi melalui perilaku sehari-hari.

“Walaupun saya tinggal jauh dari pesisir, saya berhak untuk menjaga laut,” tegas I.G.A. Kineta.

Ia mencontohkan berbagai tindakan sederhana yang dapat dilakukan, seperti tidak membuang sampah sembarangan, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, menghemat air, memilah sampah, serta memanfaatkan media sosial untuk menyebarluaskan edukasi mengenai lingkungan laut.

Rangkaian wawancara dan demonstrasi pengolahan tuna tersebut memperlihatkan bahwa isu maritim memiliki keterkaitan yang luas dengan kehidupan masyarakat. Potensi tuna dapat dibahas dari sisi pangan dan gizi, nilai ekonomi, inovasi pengolahan, hingga keberlanjutan sumber daya dan ekosistem laut.

Kehadiran Duta Maritim Bali di lingkungan perguruan tinggi juga menunjukkan bahwa edukasi mengenai kelautan dapat dibangun melalui berbagai pendekatan yang dekat dengan generasi muda. Pengenalan terhadap komoditas seperti tuna menjadi salah satu cara untuk menghubungkan pengetahuan mengenai sumber daya laut dengan persoalan pangan, lingkungan, dan ekonomi.

Melalui kegiatan tersebut, generasi muda didorong untuk tidak hanya menjadi konsumen sumber daya maritim, tetapi juga memahami nilai, potensi, serta tanggung jawab dalam menjaga keberlanjutannya. Kesadaran tersebut dapat dimulai dari tindakan sederhana di lingkungan masing-masing dan berkembang menjadi partisipasi yang lebih luas dalam mendukung keberlanjutan sektor maritim Indonesia.

Kegiatan ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 2: Tanpa Kelaparan melalui pengenalan hasil perikanan sebagai sumber pangan dan protein, SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui edukasi mengenai ikan sebagai bagian dari pangan bergizi, SDG 4: Pendidikan Berkualitas melalui peningkatan literasi generasi muda mengenai potensi, pemanfaatan, dan keberlanjutan sumber daya maritim, SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi melalui pengenalan nilai ekonomi dan peluang pengembangan hasil perikanan, SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui demonstrasi serta pengembangan inovasi pengolahan hasil perikanan menjadi produk bernilai tambah, serta SDG 10: Berkurangnya Kesenjangan melalui perluasan akses pengetahuan dan edukasi mengenai isu kemaritiman kepada generasi muda.

Kegiatan ini juga sejalan dengan capaian SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab melalui pemanfaatan dan pengolahan hasil perikanan secara lebih optimal serta pengurangan penggunaan plastik sekali pakai, SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim melalui peningkatan kesadaran mengenai pentingnya menjaga ekosistem laut dan pesisir, SDG 14: Ekosistem Lautan melalui edukasi tentang keberlanjutan sumber daya ikan, ancaman overfishing, pengurangan pencemaran, dan perlindungan ekosistem laut; SDG 15: Ekosistem Daratan melalui penguatan kesadaran bahwa pengelolaan sampah dan aktivitas di daratan turut memengaruhi kesehatan ekosistem pesisir dan laut, serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui interaksi dan kolaborasi antara Duta Maritim Bali, perguruan tinggi, mahasiswa, dan masyarakat dalam memperkuat edukasi serta kepedulian terhadap keberlanjutan maritim.

Melalui pengenalan potensi tuna dan edukasi mengenai keberlanjutan laut, kegiatan ini menegaskan bahwa membangun budaya maritim tidak harus dimulai dari wilayah pesisir. Kepedulian dapat tumbuh dari ruang pendidikan, keluarga, komunitas, hingga tindakan sederhana sehari-hari. Dari sana, generasi muda dapat mengambil peran dalam memastikan kekayaan laut Indonesia tetap memberikan manfaat secara berkelanjutan bagi generasi sekarang dan mendatang.

Penulis: Nailah Zahrah Anggun Shalihah

Editor: Tantriani
Dokumentasi: Unit Media Faperta UGM

 

Duta Maritim Bali Ajak Generasi Muda Jaga Laut melalui Konservasi, Gizi, dan Aksi Nyata

berita Friday, 18 September 2026

Menjaga keberlanjutan laut membutuhkan lebih dari sekadar upaya konservasi. Pemanfaatan sumber daya secara bijaksana, peningkatan kesadaran masyarakat, serta keterlibatan generasi muda menjadi bagian penting dalam memastikan ekosistem maritim tetap memberikan manfaat bagi generasi saat ini dan mendatang. Pesan tersebut mengemuka dalam sesi orasi tiga perwakilan Forum Maritim Bali, yakni Ni Putu Esa Indah Suari selaku Duta Mangrove, Nilo Nyoman Bubung Gayatri Daivi Adkhikara selaku Duta Protein, dan Putu Diandra Kanaya Bimaputri selaku Runner Up Duta Maritim, dalam rangkaian Family Gathering Lustrum XVI Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (Faperta UGM) pada Minggu, 13 September 2026.

Sesi orasi tersebut mengangkat sejumlah isu yang saling berkaitan dengan keberlanjutan maritim, mulai dari konservasi ekosistem mangrove dan pengurangan sampah plastik hingga pemanfaatan sumber daya ikan dan penguatan peran generasi muda dalam menjaga lingkungan laut.

Sebagai Duta Mangrove, Ni Putu Esa Indah Suari menyoroti pentingnya ekosistem mangrove bagi keberlanjutan wilayah pesisir. Mangrove merupakan habitat bagi berbagai organisme, membantu melindungi wilayah pantai, serta memberikan manfaat ekologis dan sosial bagi masyarakat di sekitarnya. Namun, keberadaan sampah plastik menjadi salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian karena dapat mengganggu kualitas dan keberlanjutan ekosistem pesisir.

Menurutnya, konservasi mangrove tidak dapat dilakukan secara parsial, tetapi membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk masyarakat dan generasi muda. Kesadaran terhadap lingkungan dapat dibangun melalui kebiasaan dan tindakan sederhana yang dilakukan secara konsisten, mulai dari mengurangi penggunaan plastik hingga terlibat dalam kegiatan konservasi di lingkungan sekitar.

Perspektif berbeda disampaikan oleh Nilo Nyoman Bubung Gayatri Daivi Adkhikara selaku Duta Protein. Ia mengangkat potensi ikan sebagai sumber protein dan bagian penting dari pemanfaatan sumber daya laut. Sebagai negara kepulauan dengan sumber daya perikanan yang besar, Indonesia memiliki potensi untuk mengoptimalkan hasil perikanan sebagai bagian dari pemenuhan kebutuhan pangan dan gizi masyarakat.

Meski demikian, peningkatan kesadaran dan ketertarikan masyarakat, khususnya generasi muda, terhadap konsumsi ikan tetap menjadi perhatian. Pengenalan terhadap manfaat ikan sebagai sumber pangan bergizi diharapkan dapat mendorong pola konsumsi yang lebih beragam sekaligus meningkatkan apresiasi terhadap sumber daya perikanan Indonesia.

Sementara itu, Putu Diandra Kanaya Bimaputri selaku Runner Up Duta Maritim menekankan pentingnya peran generasi muda dalam menjaga keberlanjutan sumber daya dan ekosistem maritim. Generasi muda tidak hanya menjadi penerima manfaat dari kekayaan laut, tetapi juga memiliki peran dalam menentukan bagaimana sumber daya tersebut dikelola dan dijaga untuk masa depan.

“The ocean is not just a place to enjoy, but to protect,” ujar Putu Diandra.

Pesan tersebut menegaskan bahwa laut merupakan ruang kehidupan yang memiliki keterkaitan erat dengan keberlangsungan manusia. Karena itu, kepedulian terhadap laut perlu diterjemahkan ke dalam aksi nyata yang dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam orasinya, Putu Diandra menyampaikan sejumlah bentuk keterlibatan yang dapat dilakukan generasi muda, seperti kegiatan pembersihan pantai, penanaman mangrove, edukasi lingkungan ke sekolah, serta keterlibatan dalam berbagai forum yang mendorong kepedulian terhadap isu maritim. Upaya mengurangi penggunaan plastik juga menjadi salah satu langkah sederhana yang dapat dilakukan secara individual maupun kolektif.

Ketiga perspektif tersebut menunjukkan bahwa keberlanjutan maritim memiliki dimensi yang luas dan saling berkaitan. Konservasi mangrove, pemanfaatan ikan sebagai sumber pangan bergizi, pengurangan sampah plastik, edukasi lingkungan, serta keterlibatan generasi muda merupakan bagian dari upaya bersama untuk menjaga ekosistem laut. Melalui pendekatan tersebut, sumber daya maritim tidak hanya dipandang sebagai kekayaan alam yang dimanfaatkan, tetapi juga sebagai aset ekologis yang perlu dikelola secara bertanggung jawab.

Kegiatan ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 2: Tanpa Kelaparan melalui peningkatan kesadaran terhadap ikan sebagai sumber pangan dan protein untuk mendukung pemenuhan giz, SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui edukasi mengenai pangan bergizi dan pentingnya lingkungan pesisir yang sehat, SDG 4: Pendidikan Berkualitas melalui peningkatan literasi generasi muda mengenai konservasi, lingkungan, dan isu kemaritiman, SDG 5: Kesetaraan Gender melalui ruang partisipasi dan kepemimpinan yang setara bagi generasi muda, SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi melalui peningkatan kesadaran terhadap potensi sumber daya maritim yang dapat dikelola secara berkelanjutan, SDG 10: Berkurangnya Kesenjanganmelalui perluasan akses terhadap pengetahuan dan kesempatan berpartisipasi dalam isu lingkungan, serta SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab melalui pengurangan penggunaan plastik dan penerapan perilaku konsumsi yang lebih bertanggung jawab.

Kegiatan ini juga sejalan dengan SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim melalui upaya menjaga dan memulihkan ekosistem pesisir, SDG 14: Ekosistem Lautan melalui konservasi mangrove, pengurangan pencemaran plastik, peningkatan kesadaran terhadap sumber daya perikanan, dan aksi nyata menjaga lingkungan laut, SDG 15: Ekosistem Daratan melalui pelestarian ekosistem mangrove sebagai bagian dari ekosistem pesisir yang menghubungkan lingkungan darat dan laut, SDG 16: Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh melalui penguatan partisipasi masyarakat dan kepemimpinan generasi muda dalam isu lingkungan, serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi antara generasi muda, komunitas maritim, perguruan tinggi, masyarakat, dan pemangku kepentingan dalam mendukung keberlanjutan ekosistem pesisir dan laut.

Melalui sesi orasi tersebut, Forum Maritim Bali menghadirkan perspektif yang saling melengkapi mengenai hubungan antara konservasi, pangan dan gizi, serta peran generasi muda dalam menjaga laut. Pesan yang disampaikan menjadi pengingat bahwa keberlanjutan maritim membutuhkan pengetahuan, kepedulian, dan aksi nyata yang dilakukan secara konsisten. Bagi generasi muda, menjaga laut dapat dimulai dari langkah sederhana di lingkungan sekitar dan berkembang menjadi gerakan bersama untuk memastikan sumber daya maritim tetap lestari bagi generasi mendatang.

Penulis: Nailah Zahrah Anggun Shalihah

Editor: Tantriani

Dokumentasi: Unit Media Faperta UGM

 

37 Kilogram Tuna Warnai Family Gathering Faperta UGM, Kenalkan Potensi Pangan Laut

berita Friday, 18 September 2026

Sebanyak 37 kilogram ikan tuna hadir dalam rangkaian Family Gathering Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (Faperta UGM) melalui kolaborasi dengan Forum Maritim Bali pada Minggu, 13 September 2026. Tuna yang telah dipotong dan dibumbui tersebut diolah menjadi beragam sajian, di antaranya sate dan sashimi, serta dinikmati bersama oleh peserta kegiatan.

Kehadiran tuna tidak sekadar menjadi bagian dari hidangan dalam kegiatan kebersamaan, tetapi juga menjadi sarana untuk memperkenalkan potensi hasil laut sebagai sumber pangan bergizi. Ikan merupakan salah satu sumber protein hewani yang dibutuhkan tubuh untuk mendukung pertumbuhan serta pemeliharaan dan perbaikan jaringan. Melalui penyajian tuna dalam kegiatan tersebut, peserta diajak mengenal lebih dekat pemanfaatan hasil perikanan sebagai bagian dari sumber pangan dan protein.

Selain memiliki nilai gizi, tuna merupakan salah satu komoditas hasil perikanan yang memiliki peluang untuk dikembangkan melalui inovasi pengolahan pangan. Pengolahan ikan menjadi berbagai jenis sajian dapat memperkenalkan keragaman pemanfaatan hasil laut sekaligus membuka perspektif mengenai potensi pengembangan produk pangan berbasis sumber daya perikanan.

Kegiatan ini juga memperlihatkan keterkaitan antara sektor pertanian, pangan, dan kelautan. Sebagai bagian dari sistem pangan yang saling terhubung, hasil perikanan dapat dikembangkan melalui pendekatan pengolahan, inovasi, dan edukasi sehingga manfaatnya dapat dikenal lebih luas oleh masyarakat.

Kolaborasi antara Faperta UGM dan Forum Maritim Bali dalam menghadirkan tuna pada Family Gathering menjadi salah satu bentuk pengenalan potensi pangan laut kepada sivitas akademika. Kegiatan tersebut sekaligus membuka ruang interaksi dan edukasi mengenai pentingnya mengenal sumber daya pangan Indonesia, baik yang berasal dari daratan maupun lautan.

Lebih dari sekadar sajian, kehadiran 37 kilogram tuna dalam kegiatan ini menjadi pengingat bahwa kekayaan sumber daya laut Indonesia memiliki potensi yang dapat dikenalkan melalui pendekatan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Pemanfaatannya perlu berjalan seiring dengan kesadaran terhadap pentingnya menjaga keberlanjutan sumber daya perikanan dan ekosistem laut.

Kegiatan ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 2: Tanpa Kelaparan melalui pengenalan hasil perikanan sebagai sumber pangan dan protein, SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui peningkatan kesadaran mengenai konsumsi pangan bergizi, SDG 4: Pendidikan Berkualitas melalui edukasi mengenai potensi pangan laut dan pemanfaatan hasil perikanan, SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi melalui pengenalan potensi nilai tambah dan pengembangan produk berbasis hasil perikanan, serta SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui pengembangan dan pengenalan inovasi pengolahan hasil perikanan.

Kegiatan ini juga sejalan dengan SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab melalui pemanfaatan hasil perikanan menjadi produk pangan secara lebih bernilai tambah dan bertanggung jawab, SDG 14: Ekosistem Lautan melalui peningkatan kesadaran terhadap potensi dan keberlanjutan sumber daya laut, serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi antara Faperta UGM dan Forum Maritim Bali dalam kegiatan edukasi dan pengenalan potensi pangan laut.

Melalui kegiatan tersebut, ikan tuna tidak hanya hadir sebagai hidangan dalam Family Gathering Faperta UGM, tetapi juga menjadi media untuk memperkenalkan potensi pangan laut, pentingnya sumber protein, inovasi pengolahan hasil perikanan, serta kesadaran terhadap keberlanjutan sumber daya maritim. Dari sebuah sajian di meja makan, tuna menjadi pintu masuk untuk mengenalkan hubungan antara pangan, inovasi, dan keberlanjutan laut kepada sivitas akademika.

Penulis: Nailah Zahrah Anggun Shalihah

Editor: Tantriani
Dokumentasi: Unit Media Faperta UGM

 

Mahasiswa Akuakultur UGM Jalani Studi Pertukaran di Lund University, Swedia

berita Monday, 7 September 2026

Ribuan kilometer dari kolam budi daya dan bangku kuliah Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Gerson Lewis, mahasiswa Program Studi Akuakultur angkatan 2023, kini tengah menempuh satu semester studi pertukaran di Lund University, Swedia. Program ini berlangsung melalui Erasmus+ International Credit Mobility Programme (KA131/171) sejak 18 Agustus 2026 hingga 17 Januari 2027.

Ketertarikan Lewis pada program ini berangkat dari pengamatannya terhadap sektor perikanan dan akuakultur di Indonesia. Ia menilai bahwa inovasi hasil riset maupun praktik lapangan sering kali menghadapi kesulitan untuk berkembang menjadi usaha yang berkelanjutan secara ekonomi. Pertukaran ke Lund University menjadi kesempatan baginya untuk mempelajari bagaimana kebijakan, kerangka hukum, dan pendekatan keberlanjutan diterapkan di Swedia, negara dengan sistem tata kelola lingkungan terbaik sekaligus tercatat sebagai negara dengan performa inovasi tertinggi di Uni Eropa menurut European Innovation Scoreboard 2026.

Selama satu semester di Lund, Lewis mengikuti perkuliahan yang membahas studi lingkungan dan keberlanjutan, hukum internasional, hingga nature-based solutions untuk perencanaan wilayah perkotaan. Kombinasi ini memberinya kerangka berpikir yang lebih luas untuk melihat persoalan akuakultur tidak hanya dari sisi teknis produksi, tetapi juga dari aspek regulasi, tata kelola lingkungan, dan strategi pengembangan usaha. Ia juga menjajaki topik mengenai dimensi sosial dari teknologi dan kecerdasan buatan, sudut pandang yang menurutnya jarang disentuh dalam kurikulum sains terapan.

Proses seleksi menuju Lund, menurut Lewis, sepenuhnya berbasis dokumen tanpa tahap wawancara. Meski demikian, ia menekankan bahwa persiapan tidak sesederhana kelihatannya. “CV yang bagus tidak bisa dibangun dalam semalam. Itu hasil dari kerja keras yang diperjuangkan bertahun-tahun sebelumnya,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa motivation letter menjadi ruang penting untuk menuangkan tujuan, cara berkontribusi dalam program, serta dampak yang ingin ia ciptakan.

Kepada mahasiswa lain, Lewis membagikan refleksi pribadinya. Saat pertama kali masuk kuliah, ia tidak pernah membayangkan bisa melangkah sejauh ini. Namun, ia memilih untuk terus menantang dirinya sendiri untuk bermimpi lebih tinggi. Ia mengutip pesan yang lekat diingat banyak orang dari Soekarno: “Bermimpilah setinggi mungkin, maka kamu akan jatuh di antara bintang-bintang.”

Partisipasi Lewis dalam program ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) melalui berbagai aspek pembelajaran dan kolaborasi internasional. SDG 4: Pendidikan Berkualitas tercermin melalui pengalaman pembelajaran lintas negara yang memperluas wawasan akademik dan kompetensi mahasiswa. SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur tercermin dalam penguatan perspektif terhadap riset terapan, inovasi, teknologi, dan pengembangan solusi yang dapat diterapkan di sektor akuakultur.

Sebagai mahasiswa Akuakultur, pengalaman ini juga memiliki keterkaitan erat dengan SDG 14: Ekosistem Lautan, terutama melalui penguatan pemahaman mengenai praktik perikanan dan akuakultur yang berkelanjutan serta hubungan antara kegiatan produksi dengan keberlanjutan ekosistem perairan. Pembelajaran mengenai nature-based solutions dan keberlanjutan turut memperkuat relevansinya dengan SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim, khususnya dalam memahami pendekatan berbasis alam sebagai bagian dari strategi menghadapi tantangan lingkungan.

Sementara itu, kajian mengenai kebijakan, hukum internasional, dan tata kelola lingkungan mendukung SDG 16: Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan Tangguh, melalui pemahaman mengenai pentingnya regulasi dan institusi yang efektif dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan. Perspektif Lewis mengenai pengembangan hasil riset menjadi usaha yang berkelanjutan secara ekonomi juga sejalan dengan SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, terutama dalam mendorong inovasi dan pengetahuan agar dapat menghasilkan nilai ekonomi yang berkelanjutan.

Keseluruhan pengalaman tersebut diperkuat melalui SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, yang tercermin dalam kolaborasi akademik internasional antara UGM dan Lund University. Dengan demikian, program pertukaran ini tidak hanya menjadi pengalaman akademik individual, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun kapasitas generasi muda untuk menghubungkan pendidikan, inovasi, tata kelola, pertumbuhan ekonomi, dan keberlanjutan ekosistem dalam menghadapi tantangan global.

 

Penulis: Gerson Lewis, Beny Nabila Happy Fauziah

Editor: Tantriani

Dokumentasi: Gerson Lewis

Program Studi Teknologi Hasil Perikanan Faperta UGM Raih Akreditasi Unggul dari LAM-PTIP

berita Wednesday, 2 September 2026

Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (Faperta UGM) kembali menorehkan pencapaian akademik yang membanggakan. Berdasarkan Keputusan Nomor: 001/SK/LAMPTIP/Ak.U/S/VIII/2026, Lembaga Akreditasi Mandiri Pendidikan Tinggi Ilmu Pertanian (LAM-PTIP) menetapkan bahwa Program Studi Teknologi Hasil Perikanan UGM memperoleh status akreditasi Unggul.

Status akreditasi ini berlaku sejak 6 Juli 2026 hingga 5 Juli 2031, dengan nilai asesmen sebesar 365,68. Keputusan resmi ditetapkan di Surakarta oleh Direktur Dewan Eksekutif LAM-PTIP, Prof. Dr. Ir. Samanhudi, S.P., M.Si., IPU, ASEAN Eng., APEC Eng., pada 24 Agustus 2026.

Capaian akreditasi Unggul ini menegaskan komitmen Fakultas Pertanian UGM dalam menjaga mutu akademik, memperkuat tata kelola program sarjana, serta memastikan kualitas lulusan yang berdaya saing di tingkat nasional maupun internasional. Lebih dari sekadar pengakuan formal, akreditasi ini juga memperkuat kontribusi program studi terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).

Melalui penyelenggaraan pendidikan sarjana yang berkualitas, Program Studi Teknologi Hasil Perikanan mendukung SDG 4: Pendidikan Berkualitas dengan menghadirkan sistem pembelajaran yang inovatif dan relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, serta kebutuhan industri perikanan. Penguatan kompetensi mahasiswa juga diharapkan menghasilkan sumber daya manusia yang mampu berkontribusi terhadap pengembangan sektor perikanan dan pangan secara berkelanjutan.

Dalam konteks ketahanan pangan, pengembangan teknologi pengolahan hasil perikanan turut mendukung SDG 2: Tanpa Kelaparan, khususnya melalui peningkatan mutu, keamanan, nilai tambah, diversifikasi, serta pemanfaatan hasil perikanan sebagai sumber pangan bergizi. Penguasaan teknologi pengolahan dan penanganan pascapanen juga berperan dalam mengurangi kehilangan hasil dan meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya pangan.

Fokus riset dan pengembangan teknologi pengolahan hasil perikanan turut berkontribusi pada SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, terutama melalui pengembangan proses produksi yang lebih efisien, pemanfaatan hasil samping, pengurangan limbah, serta penerapan prinsip produksi yang lebih berkelanjutan. Pendekatan tersebut penting untuk meningkatkan nilai tambah hasil perikanan sekaligus mengurangi dampak lingkungan dari aktivitas pengolahan.

Sebagai bidang keilmuan yang berkaitan erat dengan pemanfaatan sumber daya perikanan, Program Studi Teknologi Hasil Perikanan juga memiliki keterkaitan dengan SDG 14: Ekosistem Lautan. Pengembangan teknologi pascapanen dan pengolahan yang efisien dapat mendukung pemanfaatan sumber daya perikanan secara lebih optimal dan bertanggung jawab, termasuk melalui upaya mengurangi kehilangan hasil serta meningkatkan nilai ekonomi dari sumber daya perikanan yang telah dimanfaatkan.

Di samping itu, penguatan kapasitas riset, teknologi, dan inovasi akademik mendukung SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, terutama melalui pengembangan teknologi pengolahan hasil perikanan, inovasi produk, serta penerapan hasil penelitian untuk menjawab kebutuhan sektor industri dan masyarakat.

Pengembangan kompetensi lulusan, penguatan keterkaitan dengan dunia usaha dan industri, serta peluang pengembangan kewirausahaan berbasis hasil perikanan juga berkontribusi terhadap SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi. Lulusan dengan kompetensi yang kuat di bidang teknologi hasil perikanan diharapkan mampu berperan dalam pengembangan industri, menciptakan inovasi dan usaha baru, serta meningkatkan daya saing sektor perikanan.

Sementara itu, jejaring kolaborasi akademik, alumni, pemerintah, dunia usaha dan industri, serta berbagai mitra eksternal memperkuat SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Kolaborasi tersebut menjadi bagian penting dalam pengembangan pendidikan, penelitian, inovasi, dan penerapan teknologi hasil perikanan yang memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat.

Dengan capaian akreditasi Unggul ini, Program Studi Teknologi Hasil Perikanan UGM semakin memperkokoh posisinya sebagai pusat pendidikan dan penelitian yang berkontribusi nyata bagi pengembangan sektor perikanan dan pangan yang inovatif, berdaya saing, dan berkelanjutan. Capaian tersebut sekaligus memperkuat kontribusi Faperta UGM dalam mendukung SDG 2, SDG 4, SDG 8, SDG 9, SDG 12, SDG 14, dan SDG 17 serta agenda pembangunan berkelanjutan di tingkat nasional maupun global.

 

Penulis: Beny Nabila Happy Fauziah

Editor: Tantriani

Dokumentasi: Unit Media Fakultas Pertanian UGM

 

Program Magister Ilmu Perikanan Faperta UGM Raih Akreditasi Unggul dari LAM-PTIP

berita Wednesday, 2 September 2026

Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (Faperta UGM) kembali meneguhkan reputasi akademiknya melalui pencapaian strategis. Berdasarkan Keputusan Nomor: 002/SK/LAMPTIP/Ak.U/Mg/VIII/2026, Lembaga Akreditasi Mandiri Pendidikan Tinggi Ilmu Pertanian (LAM-PTIP) menetapkan bahwa Program Studi Magister Ilmu Perikanan UGM memperoleh status akreditasi Unggul.

Status akreditasi ini berlaku sejak 6 Juli 2026 hingga 5 Juli 2031, dengan nilai asesmen sebesar 376,22. Keputusan resmi ditetapkan di Surakarta oleh Direktur Dewan Eksekutif LAM-PTIP, Prof. Dr. Ir. Samanhudi, S.P., M.Si., IPU, ASEAN Eng., APEC Eng., pada 24 Agustus 2026.

Pencapaian ini mencerminkan komitmen Fakultas Pertanian UGM dalam menjaga mutu pendidikan tinggi, memperkuat tata kelola akademik, serta memastikan kualitas lulusan yang berdaya saing global. Akreditasi Unggul menjadi pengakuan atas keberhasilan program studi dalam menyediakan lingkungan pembelajaran yang kondusif, berbasis capaian pembelajaran, dan sesuai standar internasional.

Pencapaian akreditasi Unggul ini tidak hanya menjadi pengakuan atas mutu akademik dan tata kelola program studi, tetapi juga memperkuat kontribusi Fakultas Pertanian UGM terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Melalui penyelenggaraan pendidikan magister yang berkualitas, program ini mendukung SDG 4: Pendidikan Berkualitas dengan menghadirkan sistem pembelajaran yang inovatif dan berorientasi global. Di sisi lain, fokus riset dan pengembangan ilmu perikanan turut berkontribusi pada SDG 14: Ekosistem Lautan, khususnya dalam pengelolaan sumber daya perikanan yang berkelanjutan.

Selain itu, penguatan kapasitas riset dan inovasi akademik yang dilakukan program studi ini sejalan dengan SDG 9: Industri Inovasi Infrastruktur, yang menekankan pentingnya pembangunan infrastruktur ilmu pengetahuan dan teknologi. Lebih jauh, jejaring kolaborasi akademik, penelitian, dan pengabdian masyarakat yang diperluas baik di tingkat nasional maupun internasional mendukung SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, sehingga memperkuat ekosistem pendidikan tinggi yang inklusif dan berdaya saing.

Dengan capaian ini, Program Magister Ilmu Perikanan UGM semakin memperkokoh posisinya sebagai pusat pendidikan dan penelitian yang berkontribusi nyata bagi pembangunan sektor perikanan berkelanjutan, sekaligus mendukung agenda pembangunan global.

 

Penulis: Beny Nabila Happy Fauziah
Editor: Tantriani
Dokumentasi: Unit Media Fakultas Pertanian UGM

Kunjungan SD BIAS Giwangan, Kaliurang, dan Palagan ke Fakultas Pertanian UGM

berita Wednesday, 19 August 2026

Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (Faperta UGM) menerima kunjungan edukatif dari siswa kelas 1 dan 2 SD BIAS Giwangan, SD BIAS Kaliurang, dan SD BIAS Palagan pada 13 Agustus 2026. Kegiatan ini bertujuan memperkenalkan dunia pertanian dan perikanan sejak dini melalui pengalaman belajar langsung di lingkungan Fakultas Pertanian UGM.

Dalam sambutannya, Prof. Ir. Jaka Widada, M.P., Ph.D. selaku Dekan Fakultas Pertanian UGM menyampaikan apresiasi atas kehadiran para siswa. Beliau berharap semakin banyak anak-anak yang mencintai dunia pertanian, karena sektor ini merupakan bagian penting dalam mendukung kehidupan masyarakat saat ini maupun di masa mendatang.

Kegiatan ini turut dihadiri oleh jajaran pimpinan fakultas, antara lain Prof. Subejo, S.P., M.Sc., Ph.D. selaku Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat dan Kerjasama, Dr. Najmu Tsaqib Akhda, S.P., M.A. sebagai Ketua Unit Kerjasama Fakultas Pertanian, serta perwakilan dosen dari Departemen Perikanan yang terdiri dari Prof. Dr. Ir. Alim Isnansetyo, M.Sc., Dr. Sulistiowati, S.Si., M.Si., dan Mgs. Muhammad Prima Putra, S.Pi., M.Sc., Ph.D.

Dalam rangkaian kegiatan, siswa diajak untuk mengenal pertanian melalui kunjungan ke kebun anggur, kebun kelengkeng, dan greenhouse strawberry serta mengenal perikanan dengan mengunjungi kolam percobaan serta display aquarium di Departemen Perikanan.

Kunjungan ini memberikan kesempatan bagi siswa untuk belajar secara interaktif, menumbuhkan rasa ingin tahu, serta memperkuat pemahaman tentang pentingnya pertanian dan perikanan dalam kehidupan sehari-hari.

Kegiatan ini turut berkontribusi pada pencapaian SDG 4: Pendidikan Berkualitas melalui penyediaan pengalaman belajar yang inklusif, interaktif, dan menyenangkan bagi siswa sejak usia dini; SDG 14: Ekosistem Lautan melalui pengenalan dunia perikanan, organisme akuatik, dan pentingnya menjaga keberlanjutan sumber daya perairan melalui kolam percobaan dan display aquarium; serta SDG 15: Ekosistem Daratan melalui pengenalan tanaman, kegiatan budidaya, dan pemahaman mengenai pentingnya menjaga lingkungan serta keanekaragaman hayati daratan.

 

Penulis: Beny Nabila Happy Fauziah

Editor: Tantriani

Dokumentasi: Unit Media Faperta UGM

Perkuat Ekosistem Perairan, Departemen Perikanan UGM Dorong “Smart Eco Bioproduction” dalam Akuakultur dan Pengelolaan Sumber Daya Laut

berita Wednesday, 12 August 2026

Sektor perikanan dan kelautan memegang peranan penting dalam memperkuat sistem ketahanan pangan dan ekonomi sirkular Indonesia. Hal tersebut ditekankan oleh Sekretaris Departemen Perikanan Faperta UGM, Dr.rer.nat. Riza Yuliratno Setiawan, S.Kel., M.Sc., dalam paparan sosialisasi peran departemen yang berlangsung di Auditorium Prof. Harjono Danoesastro Faperta UGM, Selasa (11/8).

Departemen Perikanan UGM mengimplementasikan Smart Eco Bioproduction melalui pengembangan sistem akuakultur cerdas dan ramah lingkungan, pengelolaan nutrisi akuatik yang efisien, pemantauan kualitas air digital, serta perlindungan keanekaragaman hayati perairan. Integrasi ilmu perikanan dengan teknologi biosistem modern diharapkan mampu meminimalkan dampak limbah budidaya serta meningkatkan daya tahan komoditas perikanan dari ancaman penyakit dan perubahan iklim.

Selain itu, Departemen Perikanan juga membuka ruang sinergi yang luas dengan departemen agrokompleks lainnya, salah satunya melalui pengembangan sistem integrated fish-crop farming (mina-padi/akuaponik) dan daur ulang nutrisi perairan untuk mendukung sektor pertanian darat yang terpadu dan efisien.

Kontribusi Departemen Perikanan sekaligus mendukung komitmen Faperta UGM dalam pencapaian SDGs, khususnya SDG 2: Tanpa Kelaparan melalui penguatan penyediaan sumber protein akuatik yang berkualitas, aman, dan terjangkau guna mendukung ketahanan pangan masyarakat; SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui pengembangan sistem akuakultur cerdas, pemantauan kualitas air berbasis digital, dan integrasi teknologi biosistem dalam pengelolaan sumber daya perikanan; SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab melalui penerapan daur ulang nutrisi perairan dan integrated fish-crop farming seperti mina-padi dan akuaponik untuk meningkatkan efisiensi sumber daya sekaligus meminimalkan limbah; SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim melalui pengembangan sistem budidaya perikanan yang adaptif terhadap perubahan iklim dan peningkatan ketahanan komoditas perikanan terhadap berbagai tekanan lingkungan; serta SDG 14: Ekosistem Lautan melalui pengelolaan sumber daya perairan yang berkelanjutan, pemantauan kualitas lingkungan perairan, dan upaya perlindungan keanekaragaman hayati akuatik.

 

Penulis: Rani Nur Rochim

Editor: Tantriani

Dokumentasi: Unit Media Faperta UGM

Peran Departemen di Fakultas Pertanian UGM dalam Mewujudkan Pertanian dan Perikanan Regeneratif melalui Implementasi Smart Eco Bioproduction

berita Wednesday, 12 August 2026

Dalam rangkaian acara memperingati Dies Natalis ke-80, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (Faperta UGM) menyelenggarakan kegiatan “Sosialisasi Peran Departemen Fakultas Pertanian UGM dalam Mewujudkan Pertanian dan Perikanan Regeneratif melalui Implementasi Smart Eco Bioproduction”. Kegiatan yang berlangsung secara hybrid berpusat di Auditorium Prof. Harjono Danoesastro Faperta UGM pada Selasa, 11 Agustus 2026 ini diikuti oleh jajaran pimpinan dan dosen di lingkungan Faperta UGM.

Rangkaian acara diawali dengan pembukaan oleh MC, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Hymne Gadjah Mada secara khidmat. Prof. Ir. Jaka Widada, M.P.,Ph.D. selaku Dekan Faperta UGM dalam sambutannya menegaskan bahwa Smart Eco Bioproduction kini telah menjadi satu kesatuan living knowledge ecosystem dan holobiont knowledge transformation. Konsep ini diintegrasikan secara menyeluruh dalam kurikulum pendidikan, arah penelitian, hingga pilar pengabdian kepada masyarakat demi mendukung masa depan pertanian dan perikanan nasional yang berkelanjutan.

Dipimpin oleh Moderator Prof. Ir. Y. Andi Trisyono, M.Sc., Ph.D. selaku Ketua Senat Faperta UGM, sesi pemaparan dibagi menjadi dua panel utama. Sesi 1 menghadirkan Ketua Departemen Budidaya Pertanian (Dr. Eka Tarwaca Susila P., S.P., M.P.), Ketua Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan (Prof. Dr. Ir. Siwi Indarti, M.P.), dan Ketua Departemen Mikrobiologi Pertanian (Muhammad Saifur Rohman, S.P., M.Si., M.Eng., Ph.D.). Selanjutnya, Sesi 2 diisi oleh Sekretaris Departemen Perikanan (Dr.rer.nat. Riza Yuliratno Setiawan, S.Kel., M.Sc.), Ketua Departemen Sosial Ekonomi Pertanian (Prof. Dr. Ir. Irham, M.Sc.), serta Ketua Departemen Tanah (Dr. Agr. Makruf Nurudin, S.P., M.P.).

Pada sesi diskusi, seluruh departemen berdialog interaktif membedah evaluasi implementasi Smart Eco Bioproduction selama 9 tahun terakhir serta merumuskan strategi kolaborasi lintas disiplin. Acara kemudian diakhiri dengan closing statement dari Dekan yang menegaskan pentingnya konsistensi seluruh sivitas akademika UGM untuk memulihkan bumi dan menyejahterakan bangsa melalui inovasi pertanian dan perikanan regeneratif.

Kegiatan ini semakin memperkuat kontribusi Faperta UGM dalam pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan, khususnya SDG 2: Tanpa Kelaparan melalui pengembangan inovasi pertanian dan perikanan regeneratif untuk mendukung ketahanan, produktivitas, dan keberlanjutan sistem pangan; SDG 4: Pendidikan Berkualitas melalui integrasi visi Smart Eco Bioproduction ke dalam ekosistem ilmu pengetahuan, penelitian, serta kurikulum pendidikan tinggi yang inklusif dan adaptif; SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui pengembangan inovasi dan teknologi pertanian serta perikanan yang sejalan dengan konsep Smart Eco Bioproduction; SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab melalui penerapan prinsip efisiensi sumber daya, pemanfaatan teknologi ramah lingkungan, serta pengembangan sistem produksi pertanian dan perikanan yang berkelanjutan; SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim melalui pengembangan sistem pertanian dan perikanan regeneratif yang adaptif terhadap perubahan iklim serta mendukung upaya pengurangan dampak lingkungan dan emisi; SDG 14: Ekosistem Lautan melalui penguatan inovasi dan pengelolaan sumber daya perikanan yang berkelanjutan, perlindungan ekosistem perairan, serta pengembangan sistem akuakultur yang ramah lingkungan; serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui penguatan sinergi dan kolaborasi strategis lintas departemen dan lintas disiplin di lingkungan Faperta UGM dalam mendukung pembangunan pertanian dan perikanan regeneratif.

 

Penulis: Rani Nur Rochim

Editor: Tantriani

Dokumentasi: Unit Media Faperta UGM

1234

BERITA FAKULTAS

  • Vigoasa Kalina Zaida Artha Raih Medali Emas di Kejuaraan Internasional Taekwondo 2026
    25/09/2026
  • Lustrum XVI Fakultas Pertanian UGM: Alumni Tetap Menjadi Mitra Strategis Kampus
    25/09/2026
  • 5 Praktikum Tak Terlupakan yang Selalu Diingat Alumni Fakultas Pertanian UGM
    25/09/2026
  • Temu Alumni: Momentum Sinergi Lintas Generasi untuk Kemajuan Pertanian
    25/09/2026
  • Alumni Fakultas Pertanian UGM Perkuat Akses Pendidikan Lewat Beasiswa KAGAMA Pertanian
    25/09/2026
Universitas Gadjah Mada

FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA

Jl. Flora Bulaksumur Yogyakarta 55281
faperta@ugm.ac.id
Telp./Fax.: +62 (274) 563062

TENTANG FAKULTAS

Visi & Misi

Sasaran & Tujuan

Struktur Organisasi

 

INFORMASI PUBLIK

Permohonan Informasi Publik

Daftar Informasi Tersedia Setiap Saat

Daftar Informasi Tersedia Secara Berkala

JURNAL ONLINE

Jurnal Ilmu Pertanian

Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia

Jurnal Ilmu Perikanan

Vegetalika

Jurnal Agro Ekonomi

PENELITIAN & PUBLIKASI

Penelitian

Publikasi

Buku Karya Dosen

 

FASILITAS PENDUKUNG

Perpustakaan Fakultas  

Laboratorium

Ebooks

Health Promoting Unit (HPU) Faperta

KERJASAMA

Kerjasama Fakultas

Kunjungan Sekolah

 

PENDAFTARAN

Sarjana

Pascasarjana

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY

[EN] We use cookies to help our viewer get the best experience on our website. -- [ID] Kami menggunakan cookie untuk membantu pengunjung kami mendapatkan pengalaman terbaik di situs web kami.I Agree / Saya Setuju