• Tentang UGM
  • Informasi Publik
  • IT Center
  • Perpustakaan UGM
  • Webmail UGM
  • Pertanian Digital
    • Desa Apps
    • Lentera DESA
  • English Version
Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
Fakultas Pertanian
  • Home
  • Tentang Kami
    • Tentang Fakultas
      • Visi & Misi
      • Sasaran & Tujuan
      • Struktur Organisasi
    • Program Studi
    • Sarjana
      • Leaflet dan Video Promosi Program Studi
      • Uang Kuliah Tunggal (UKT) Program Sarjana
      • SOP Perkuliahan Sarjana
      • Panduan Akademik Sarjana
      • Kurikulum Sarjana
      • Bahan Kuliah dan Praktikum
      • Jadwal Kuliah & Praktikum
      • PROGRAM KAMPUS BERDAMPAK
      • Program Fastrack Faperta
      • Insentif Prestasi Mahasiswa
      • Surat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI)
      • Virtual Office Academic FAPERTA UGM
      • Info Beasiswa
      • International Undergraduate Class (IUC)
      • RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN PEMBELAJARAN SEMESTER (RPKPS)
    • Pascasarjana
      • INFORMASI PERKULIAHAN PASCASARJANA
      • SOP PERKULIAHAN PASCASARJANA
      • Panduan Akademik Pascasarjana
      • Uang Kuliah Tunggal (UKT) Program Profesi dan Pascasarjana
      • Aturan Akademik Pascasarjana
      • Kurikulum Pascasarjana
      • RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN PEMBELAJARAN SEMESTER (RPKPS)
      • Daftar Pembimbing S2 Pascasarjana
      • Daftar Promotor S3 Pascasarjana
      • Dokumen Seminar dan Ujian S3 Pascasarjana
    • Kemahasiswaan
    • Alumni
      • TRACER STUDY
      • Lowongan Kerja
    • Fasilitas Pendukung
      • AGROTROPICA LEARNING CENTER UGM
      • Perpustakaan
      • UGM Library Video Profile
      • Agriculture Ebooks
      • HPU
    • AIMS
    • Jaminan Mutu
      • EDOM Sarjana
      • EDOM Pascasarjana
      • Standard Operating Procedure – EDOM
      • Rencana Tindak Lanjut EDOM
      • Laporan RTM
      • Panduan OBA Simaster
      • Panduan Pengisian SIMONI
      • Kepuasan Stakeholder
    • Profil Dosen
    • Zone Integritas
    • Rencana Strategis
    • Target Capaian Kinerja
    • Inovasi dan Kajian Akademik
    • Laporan Tahunan
  • PMB
  • Departemen
    • Budidaya Pertanian
    • Hama dan Penyakit Tumbuhan
    • Mikrobiologi Pertanian
    • Perikanan
      • Departemen Perikanan
      • Program Studi Akuakultur
      • Program Studi Manajemen Sumber Daya Akuatik
      • Program Studi Teknologi hasil Perikanan
    • Sosial Ekonomi Pertanian
      • Program Studi Ekonomi Pertanian dan Agribisnis
      • Program Studi Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian
    • Tanah
  • Penelitian & Publikasi
    • PENELITIAN
    • PENGABDIAN MASYARAKAT
    • PUBLIKASI
      • Buku
    • KERJASAMA
    • Buku Karya Dosen
  • Download
    • Peraturan
    • Download panduan kuliah online
    • Jadwal Kuliah & Praktikum
    • Bahan Kuliah dan Praktikum
    • Formulir
    • Agriculture Ebooks
    • PROSEDUR OPERASIONAL STANDAR (POS) KEGIATAN FAKULTAS
    • Petunjuk Penulisan Laporan Akhir PKM 2020
    • Panduan Pelayanan Akademik Faperta UGM
    • E-Booklet PPKS UGM
    • Buku Kenangan Wisuda
  • Beranda
  • SDG 2: Tanpa Kelaparan
  • SDG 2: Tanpa Kelaparan
Arsip:

SDG 2: Tanpa Kelaparan

ISILF 2026 Rumuskan Komitmen Strategis dan Pembentukan Working Group

berita Saturday, 18 July 2026

Fakultas Pertanian UGM melalui Indonesia Seed Industry Leadership Forum (ISILF) 2026 menutup rangkaian forum dengan sesi peneguhan komitmen strategis dan pembentukan working group (WG). Acara yang berlangsung di Grand Ballroom Eastparc Hotel ini dipimpin oleh Dr. Elly Syafriani, S.P., dengan dua narasumber, yaitu Dr. Eka Tarwaca Susila Putra, S.P., M.P (UGM), Agus Budi Setiawan, S.P., M.Sc., Ph.D. (UGM), dan Moh. Aris, S.P., M.P. (Ikatan Produsen Benih Hortikultura) dalam agenda perumusan rekomendasi, kesepakatan bersama, serta penyusunan tindak lanjut pascaforum.

Dalam diskusi penutup, perwakilan dari BRIN menegaskan kesiapan lembaga riset nasional untuk menjadi mitra kolaborasi industri perbenihan. Narasumber dari Departemen Budidaya Pertanian UGM menambahkan bahwa fakultas telah rutin melakukan pelatihan dan pendidikan terkait perbenihan, serta membuka kesempatan riset kolaboratif dengan perusahaan, seperti yang pernah dilakukan dalam penyelesaian permasalahan varietas kelapa di Lampung. Hal ini menunjukkan bahwa universitas dapat berperan langsung dalam menjawab kebutuhan industri.

Sementara itu, perwakilan dari UGM menekankan bahwa industri perlu membantu merumuskan kebutuhan yang dapat dijadikan dasar bagi kampus dalam menyusun program riset dan pendidikan. Forum juga menyepakati bahwa pada bulan Oktober mendatang akan diluncurkan Working Group R&D sebagai tindak lanjut dari diskusi hari ini. WG tersebut akan difasilitasi penuh oleh Departemen Budidaya Pertanian, dengan fokus pada kemitraan riset dan inovasi, serta pengembangan program jangka pendek maupun jangka panjang.

Kesimpulan forum menegaskan bahwa pembentukan WG merupakan langkah strategis untuk merealisasikan hasil diskusi, memperkuat kolaborasi universitas–industri, dan memastikan keberlanjutan ekosistem riset perbenihan di Indonesia.

Rekomendasi dan komitmen yang dihasilkan dalam ISILF 2026 memiliki keterkaitan yang erat dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Penguatan riset dan pengembangan benih unggul melalui kolaborasi berbagai pemangku kepentingan mendukung SDG 2: Tanpa Kelaparan dengan meningkatkan inovasi yang berkontribusi pada produktivitas pertanian dan ketahanan pangan. Komitmen Fakultas Pertanian UGM untuk terus menyelenggarakan pelatihan, pendidikan, dan riset kolaboratif mencerminkan implementasi SDG 4: Pendidikan Berkualitas melalui pengembangan sumber daya manusia yang adaptif terhadap kebutuhan industri. Pembentukan tenaga profesional yang kompeten di sektor perbenihan juga sejalan dengan SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, yang mendorong peningkatan kualitas tenaga kerja dan daya saing industri. Inisiatif pembentukan Working Group (WG) Research and Development (R&D) sebagai wadah kolaborasi riset dan inovasi menjadi implementasi nyata SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur dalam memperkuat ekosistem inovasi nasional. Lebih dari itu, sinergi yang dibangun antara universitas, industri, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dan berbagai pemangku kepentingan lainnya merupakan wujud konkret SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, yang menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menghasilkan solusi berkelanjutan bagi pembangunan pertanian Indonesia.

Penulis: Beny Nabila Happy Fauziah

Editor: Tantriani

Dokumentasi: Unit Media Faperta UGM

ISILF 2026 Bahas Model Pendidikan Pascasarjana untuk Profesional Industri Benih

berita Saturday, 18 July 2026

Fakultas Pertanian (Faperta) UGM melalui Indonesia Seed Industry Leadership Forum (ISILF) 2026 menutup rangkaian diskusi dengan sesi strategis bertajuk Graduate Education for Industry Professionals pada 11 Juni 2026. Forum yang berlangsung di Grand Ballroom Eastparc Hotel ini dipimpin oleh Enik Nurlaili Afifah, S.P., M.Sc., Ph.D., dengan fokus pada model pendidikan pascasarjana yang fleksibel, aplikatif, dan relevan dengan kebutuhan industri benih modern.  Narasumber sesi ini adalah Agus Budi Setiawan, S.P., M.Sc., Ph.D. (UGM), Prof. Dr. Rudi Hari Murti, S.P., M.P. (UGM), dan Ir. Mulyantoro, M.P., Ph.D. (PT BISI International Tbk).

Diskusi menegaskan bahwa industri benih membutuhkan sumber daya manusia berkelas dengan pendidikan pascasarjana yang fleksibel. Seorang narasumber dari industri menekankan bahwa keterbatasan waktu, lokasi, dan padatnya aktivitas pekerja industri menjadi tantangan nyata, sehingga model pendidikan harus adaptif, misalnya melalui sistem hybrid daring. Kolaborasi antara universitas dan perusahaan diharapkan mampu menjembatani kebutuhan akademik dan profesional, dengan supervisi bersama yang menjaga kerahasiaan data sekaligus menghasilkan riset yang relevan bagi industri.

Narasumber lain menambahkan bahwa pengalaman magang dan penelitian sejak jenjang S1 hingga S3 telah membuka ruang kolaborasi nyata, khususnya dalam menghadapi tantangan virus baru pada tanaman hortikultura. Program pascasarjana diharapkan tidak hanya menghasilkan inovasi, tetapi juga memecahkan masalah nyata yang dihadapi perusahaan.

Kesimpulan forum menekankan perlunya model pembelajaran pascasarjana yang fleksibel, berbasis komitmen, dukungan pimpinan, akses data, dan komunikasi yang intensif. Diskusi juga membuka peluang beasiswa khusus di bidang perbenihan melalui kerja sama antara UGM, pemerintah, dan asosiasi, sehingga dapat memperkuat ekosistem talenta jangka panjang bagi industri benih.

Forum ISILF 2026 memiliki relevansi yang kuat dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Pengembangan talenta di bidang pemuliaan tanaman dan industri benih berkontribusi terhadap SDG 2: Tanpa Kelaparan melalui penguatan sistem perbenihan yang mendukung produktivitas pertanian dan ketahanan pangan. Model pendidikan pascasarjana yang fleksibel, kolaboratif, serta berbasis kebutuhan industri mencerminkan implementasi SDG 4: Pendidikan Berkualitas dengan memperluas akses terhadap pendidikan tinggi yang relevan dan berorientasi pada pembelajaran sepanjang hayat. Penguatan kompetensi profesional untuk menjawab kebutuhan industri juga mendukung SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia yang siap menghadapi tantangan dunia kerja. Kolaborasi riset yang berfokus pada penyelesaian permasalahan nyata industri, termasuk pemanfaatan hasil penelitian untuk inovasi sektor perbenihan, sejalan dengan SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur. Upaya pengembangan riset untuk menghadapi tantangan penyakit tanaman serta memperkuat ketahanan sektor pertanian terhadap perubahan lingkungan juga mendukung SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim. Selain itu, kerja sama antara universitas, pemerintah, asosiasi, dan industri dalam penyelenggaraan pendidikan, supervisi riset, serta penyediaan beasiswa merupakan implementasi nyata SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

 

Penulis: Beny Nabila Happy Fauziah

Editor: Tantriani

Dokumentasi: Unit Media Faperta UGM

UGM Perkuat Kemitraan Riset Universitas–Industri dalam ISILF 2026

berita Saturday, 18 July 2026

Fakultas Pertanian (Faperta) UGM melalui Indonesia Seed Industry Leadership Forum (ISILF) 2026 menegaskan komitmen untuk memperkuat kolaborasi riset antara universitas dan industri. Forum yang berlangsung di Grand Ballroom Eastparc Hotel pada 11 Juni 2026 ini dipandu oleh Moh. Aris, S.P., M.P. (Ikatan Produsen Benih Hortikultura), dengan menghadirkan narasumber Dr. Eka Tarwaca Susila Putra, S.P., M.P., Dr.nat.techn. Rizky Pasthika Kirana, S.P., M.Sc., dan Dr. Azis Natawijaya, S.P., M.Si. (PT Bumitama Gunajaya Agro).

Diskusi menekankan bahwa kolaborasi riset tidak sekadar proyek penelitian, melainkan kerja bersama untuk memecahkan masalah nyata. Dr. Eka menegaskan kesiapan UGM dalam penelitian pemuliaan tanaman dan agronomi, dengan fasilitas yang memadai serta arah pengembangan yang berfokus pada produktivitas, ketahanan, dan keberlanjutan. Dr. Rizky menambahkan bahwa kolaborasi harus dibangun atas dasar komunikasi dan kepercayaan, sehingga universitas dapat membentuk talenta yang relevan dengan kebutuhan industri. Sementara itu, Dr. Azis menyoroti pentingnya efisiensi dalam kegiatan breeding melalui kerja sama genbank, agar Indonesia tidak bergantung pada negara lain.

Dalam sesi tanya jawab, perwakilan dari PT Sang Hyang Seri (SHS) menekankan perlunya dukungan universitas dalam pelepasan varietas dan pengelolaan genbank, mengingat SHS memiliki koleksi 1.500 plasma nutfah padi namun menghadapi kendala rejuvenasi akibat keterbatasan SDM dan pembiayaan. Menanggapi hal ini, Dr. Eka menyatakan kesediaan kampus untuk mendukung pengujian varietas, sementara Dr. Rizky menegaskan bahwa fasilitas pengujian di Departemen Budidaya Pertanian telah dibuka dan dapat diakses melalui laman Fakultas Pertanian UGM. Moderator menutup dengan penekanan bahwa komunikasi yang baik menjadi kunci keberhasilan kemitraan riset universitas–industri.

Forum ini menegaskan bahwa kolaborasi riset harus menghasilkan manfaat nyata bagi industri sekaligus memperkuat kapasitas akademik universitas. Dengan sinergi yang berkelanjutan, UGM diharapkan mampu menjadi pusat pengembangan riset perkebunan dan perbenihan yang relevan dengan kebutuhan nasional.

Forum ini memiliki keterkaitan yang erat dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Penguatan riset pemuliaan tanaman, pengembangan varietas unggul, serta pengelolaan sumber daya genetik tanaman mendukung SDG 2: Tanpa Kelaparan melalui peningkatan produktivitas pertanian dan penguatan ketahanan pangan. Kolaborasi antara universitas dan industri dalam kegiatan penelitian, magang, serta pemanfaatan fasilitas pengujian mencerminkan implementasi SDG 4: Pendidikan Berkualitas dengan memperkuat pembelajaran berbasis pengalaman dan pengembangan kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Upaya membangun talenta yang adaptif dan siap berkontribusi pada sektor perbenihan juga sejalan dengan SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi. Pengembangan teknologi pemuliaan tanaman, penguatan sistem genbank, serta inovasi dalam penelitian varietas unggul menjadi kontribusi nyata terhadap SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur. Di samping itu, pengelolaan dan pelestarian plasma nutfah sebagai sumber daya genetik tanaman mendukung SDG 15: Ekosistem Daratan melalui konservasi keanekaragaman hayati pertanian dan pemanfaatan sumber daya genetik secara berkelanjutan. Kolaborasi yang erat antara Universitas Gadjah Mada, industri benih, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya juga mencerminkan implementasi SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan dalam membangun ekosistem riset dan inovasi yang berkelanjutan.

Penulis: Beny Nabila Happy Fauziah

Editor: Tantriani

Dokumentasi: Unit Media Faperta UGM

 

ISILF 2026 Teguhkan Perspektif Lintas Sektor untuk Penguatan Industri Benih

berita Saturday, 18 July 2026

Fakultas Pertanian (Faperta) UGM melalui Indonesia Seed Industry Leadership Forum (ISILF) 2026 kembali menegaskan peran strategisnya dalam membangun ekosistem perbenihan nasional pada 11 Juni 2026. Pada sesi pleno bertajuk Consolidating Sector Perspectives yang berlangsung di Grand Ballroom Eastparc Hotel, diskusi dipimpin oleh Prof. Dr. Ir. Taryono, M.Sc. bersama Andrianto Ansari, S.T.P., M.Agr., Ph.D., dengan fokus pada konsolidasi hasil diskusi sektoral dan identifikasi prioritas nasional lintas sektor.

Dalam pembukaan, Andrianto Ansari menekankan pentingnya keseimbangan antara hard skill dan soft skill bagi calon pemulia dan tenaga profesional di bidang perbenihan. Mentalitas menghadapi situasi baru, integritas menjaga kerahasiaan, kemampuan komunikasi, serta kepemimpinan menjadi soft skill utama yang harus dimiliki. Sementara itu, hard skill yang relevan mencakup analisis penanda molekuler, agronomi, manajemen sumber daya genetik, serta jiwa bisnis dalam mengelola usaha benih. Ia menambahkan bahwa pelatihan sertifikasi dan manajemen benih, termasuk pemahaman ISO, menjadi kebutuhan mendesak agar produsen benih mampu mengelola produksi hingga distribusi secara profesional.

Prof. Taryono menegaskan bahwa benih merupakan blueprint budidaya pertanian dan kunci kedaulatan pangan. Ketersediaan benih unggul bermutu tinggi tidak hanya menentukan keberhasilan budidaya, tetapi juga menjadi fondasi bagi ketahanan pangan nasional. Ia menyoroti perlunya rencana penguatan industri benih dalam tiga horizon: jangka panjang melalui penelitian dan inovasi, jangka menengah melalui pendidikan formal dan non-formal, serta jangka pendek melalui pelatihan teknis. Harapannya, Jogja dapat menjadi pusat benih nasional maupun internasional, dengan slogan “Ingat Jogja, Ingat Benih” sebagai penguat identitas.

Diskusi pleno menghasilkan kesepakatan mengenai prioritas pelatihan yang harus segera dikembangkan, antara lain pelatihan smart breeding yang mengintegrasikan pendekatan konvensional dan teknologi digital, pelatihan produksi benih berbasis sistem informasi, analisis pasar untuk memahami kebutuhan petani, serta pelatihan manajemen mutu berbasis ISO. Selain itu, penguatan kapasitas sumber daya manusia melalui pelatihan soft skill dan pengelolaan plasma nutfah Indonesia juga menjadi agenda penting.

Kesimpulan forum menegaskan bahwa penguatan industri benih harus dilakukan secara berlapis, dengan kolaborasi erat antara pemerintah, universitas, dan perusahaan. Sinergi ini diharapkan mampu menghasilkan SDM yang tangguh, inovasi yang relevan, serta sistem regulasi yang mendukung keberlanjutan industri benih nasional.

Forum ISILF 2026 memiliki keterkaitan yang erat dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Penguatan industri benih melalui penyediaan benih unggul berkualitas mendukung SDG 2: Tanpa Kelaparan dengan meningkatkan produktivitas pertanian dan memperkuat ketahanan pangan nasional. Integrasi pendidikan formal, pelatihan teknis, sertifikasi profesi, serta pengembangan hard skills dan soft skills mencerminkan implementasi SDG 4: Pendidikan Berkualitas dalam menyiapkan sumber daya manusia yang adaptif terhadap kebutuhan industri. Upaya mencetak tenaga profesional yang kompeten di sektor perbenihan juga sejalan dengan SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi melalui peningkatan kualitas tenaga kerja dan daya saing industri. Penerapan smart breeding, sistem informasi produksi benih, manajemen mutu berbasis ISO, serta penguatan riset dan inovasi menjadi kontribusi nyata terhadap SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur. Selain itu, kolaborasi yang erat antara pemerintah, perguruan tinggi, perusahaan, dan berbagai pemangku kepentingan dalam memperkuat ekosistem industri benih merupakan implementasi SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Pengelolaan dan pemanfaatan plasma nutfah Indonesia yang turut dibahas dalam forum juga mendukung SDG 15: Ekosistem Daratan melalui upaya pelestarian dan pemanfaatan sumber daya genetik tanaman secara berkelanjutan.

 

Penulis: Beny Nabila Happy Fauziah

Editor: Tantriani

Dokumentasi: Unit Media Faperta UGM

Inovasi Teknologi Pengolahan Limbah Kapal: Langkah Nyata Melindungi Akuakultur Tropis di Hari Terakhir SC-STAF 2026

berita Saturday, 18 July 2026

Rangkaian kegiatan kelas paralel Summer Course on Sustainable Tropical Agriculture and Fisheries (SC-STAF) 2026 mencapai puncaknya pada Jumat, 10 Juli 2026. Memasuki hari terakhir pelaksanaan kelas paralel, atmosfer forum ilmiah ini tetap dipenuhi antusiasme tinggi dari para peserta. Kelas paralel penutup ini berhasil menjadi ruang diskusi yang krusial, membedah berbagai riset aplikatif mutakhir yang mempertemukan inovasi teknologi dengan kebutuhan mendesak di sektor industri dan pelestarian lingkungan maritim.

Salah satu narasumber dalam sesi tersebut adalah Jingjing Wang, Associate Research Fellow sekaligus kandidat doktor dari Universiti Putra Malaysia. Dengan latar belakang di bidang teknik kimia dan teknik lingkungan dari Tongji University, Wang memaparkan hasil penelitiannya mengenai teknologi pengolahan limbah domestik kapal.

Dalam presentasinya yang bertajuk “Copper-Based Catalytic Treatment of Ship Domestic Sewage for Protecting Tropical Coastal Aquaculture and Sustainable Fisheries,” Wang memaparkan solusi inovatif berupa penggunaan katalis berbasis tembaga untuk memurnikan limbah domestik dari kapal. Menggunakan sampel nyata dari Pelabuhan Ningbo (Tiongkok) dan Pelabuhan Klang (Malaysia), ia menjelaskan bagaimana teknologi pembersihan lanjutan ini mampu menghancurkan polutan organik berbahaya serta senyawa pengganggu hormon (yang kerap lolos dari penyaringan biasa.

Sebagai penutup, forum menggarisbawahi bahwa inovasi sistem pengolahan limbah ini bukan sekadar pencapaian teknik kimia semata, melainkan instrumen vital dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Secara khusus, riset ini berkontribusi langsung pada SDG 14: Ekosistem Laut dengan menjaga kualitas air pesisir dari kontaminasi zat kimia berbahaya , SDG 2: Tanpa Kelaparan lewat jaminan keamanan pangan akuakultur yang dikonsumsi masyarakat , SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui modernisasi teknologi perkapalan yang ramah lingkungan, serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi universitas.

 

Penulis: Rani Nur Rochim

Editor: Tantriani

Dokumentasi: Tim SC-STAF 2026

Meninjau Inovasi Akuakultur Rwanda: Dari Keterbatasan Geografis Menuju Swasembada Pangan di SC-STAF 2026

berita Saturday, 18 July 2026

Pelaksanaan hari keempat kelas paralel Summer Course on Sustainable Tropical Agriculture and Fisheries (SC-STAF) 2026 kembali menyuguhkan ruang diseminasi ilmiah yang kaya akan studi kasus internasional. Melalui media zoom meeting, forum internasional yang dipelopori oleh Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (Faperta UGM) ini berfokus pada eksplorasi manajemen perikanan di negara tanpa laut (landlocked country) melalui materi bertajuk “Reimagining Tropical Agriculture and Fisheries for a New Generation: The Case of Rwanda”.

Presentasi yang memikat ini dibawakan oleh Joas Iradukunda, M.Sc., seorang akademisi dan peneliti muda di bidang nutrisi ikan dan biologi molekuler asal Rwanda. Iradukunda, yang merupakan lulusan Program Magister Ilmu Perikanan Faperta UGM, saat ini aktif sebagai kolaborator riset di University of Rwanda. Latar belakang profesionalnya yang luas, mulai dari pengelolaan laboratorium kesehatan ikan UGM hingga keterlibatannya dalam proyek ketahanan pangan Orora Wihaze USAID di Afrika, memberikan kedalaman tersendiri dalam membedah lompatan teknologi perikanan darat.

Dalam paparannya, Iradukunda menjelaskan keunikan geografi Rwanda yang dijuluki sebagai “Land of a Thousand Hills”. Sebagai negara yang tidak memiliki wilayah laut, pasokan perikanan Rwanda bergantung sepenuhnya pada sumber air tawar pedalaman seperti danau, sungai, dan lahan basah, di mana Danau Kivu menjadi pusat tangkapan andalan sekaligus pusat akuakultur keramba jaring apung komersial terbesar.

Sesi diskusi juga membahas tantangan regenerasi sumber daya manusia di sektor perikanan Rwanda yang masih didominasi oleh generasi yang lebih tua. Untuk meningkatkan minat generasi muda, pemerintah dan para pemangku kepentingan mendorong transformasi digital melalui pemanfaatan teknologi berbasis Internet of Things (IoT) dan Artificial Intelligence (AI) untuk pemantauan kualitas air secara real-time, penggunaan larva lalat tentara hitam (Black Soldier Fly/BSF) sebagai bahan baku pakan berkelanjutan, serta pengembangan kewirausahaan melalui program AYuTe Africa Challenge Rwanda.

Penyelenggaraan kegiatan ini merefleksikan andil besar Faperta UGM dalam mengakselerasi pemenuhan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Diseminasi inovasi di bidang perikanan ini berkontribusi langsung pada pencapaian SDG 1: Tanpa Kemiskinan dan SDG 2: Tanpa Kelaparan melalui penyediaan sumber protein hewani yang terjangkau bagi ketahanan pangan keluarga. Selain itu, riset nutrisi ramah lingkungan dan sirkulasi nutrien limbah peternakan menjadi langkah nyata dalam pemenuhan SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kegiatan kolaborasi internasional.

 

Penulis: Rani Nur Rochim

Editor: Tantriani

Dokumentasi: Tim SC-STAF 2026

Sinergi Akademik Internasional: Prof. Weiwei You Bedah Pendekatan One-Health Aquaculture pada SC-STAF 2026 Faperta UGM

berita Saturday, 18 July 2026

Hari keempat pelaksanaan Summer Course on Sustainable Tropical Agriculture and Fisheries (SC-STAF) 2026 yang diselenggarakan oleh Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (Faperta UGM) pada Kamis, 9 Juli 2026, berlangsung dengan penuh antusiasme. Ruang kelas paralel bertransformasi menjadi pusat diskusi interaktif berskala internasional saat para peserta dari 7 negara diajak mendalami inovasi akuakultur modern yang berbasis ekosistem laut atau blue food.

Salah satu narasumber yang dihadirkan dalam sesi paralel ini adalah Prof. Weiwei You, Ph.D. Beliau merupakan ilmuwan marikultir yang saat ini menjabat sebagai Wakil Dekan College of Ocean and Earth Sciences di Xiamen University, China. Selain aktif memimpin lebih dari 30 proyek riset strategis nasional, Prof. You juga mengemban posisi penting sebagai Wakil Presiden International Abalone Society serta anggota Dewan Penasihat Teknis pada Aquaculture Stewardship Council (ASC).

Dalam pemaparannya yang bertajuk “Reimagining Tropical Agriculture and Fisheries for a New Generation: Case studies from abalone aquaculture in China”, Prof. You menjelaskan peran vital ekonomi kelautan (Blue Economy) yang diproyeksikan tumbuh pesat dari 1,3 triliun USD menjadi 2,6 triliun USD global. Salah satu komoditas bernilai ekonomi tinggi yang menjadi fokus risetnya adalah abalone atau kerang mata tujuh (Bao Yu). China saat ini menjadi produsen dan konsumen abalone terbesar di dunia, di mana metode budidaya (farmed abalone) telah menyuplai sekitar 95% dari total produksi global akibat menipisnya stok liar di alam.

Sebagai penutup, Prof. You menegaskan bahwa arah masa depan marikultur harus bersandar pada prinsip One-Health akuakultur. Pendekatan ini mengintegrasikan keselarasan kesehatan antara manusia, organisme budidaya, dan lingkungan bersama melalui sinergi Government-Scientist-Enterprise. Penerapan budidaya multi-trofik terintegrasi (Integrated Multi-trophic Aquaculture/IMTA) yang menggabungkan rumput laut kelp, kerang abalone, dan teripang dalam satu kawasan keramba jaring menjadi contoh nyata ekosistem yang seimbang.

Fasilitasi kelas internasional oleh Faperta UGM ini mempertegas kontribusi nyata institusi dalam mengawal pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) global. Pembahasan mengenai sistem produksi pangan laut (blue food) yang ramah lingkungan dan kaya nutrisi ini selaras dengan pemenuhan SDG 2: Tanpa Kelaparan dan SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera. Selain itu, inovasi platform mekanisasi lepas pantai dan riset genomik abalone mendukung ketercapaian SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, sementara komitmen menjaga ekosistem pesisir serta sertifikasi keberlanjutan ASC berkontribusi penuh pada pemenuhan target SDG 14: Ekosistem Laut demi kelestarian pangan masa depan. Selain itu, kolaborasi internasional ini juga turut mendukung pencapaian target SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Penulis: Rani Nur Rochim
Editor: Tantriani
Dokumentasi: TIM SCA-STAF 2026

Harmonisasi Revisi UU Perlindungan Petani: Kontribusi Guru Besar UGM untuk SDGs  

berita Thursday, 16 July 2026

Komitmen memperkuat perlindungan dan pemberdayaan petani Indonesia memasuki tahap strategis melalui Harmonisasi Rancangan Undang-Undang (RUU) Perubahan Ketiga atas Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2013. Kegiatan yang diselenggarakan di Gedung DPD RI ini menghadirkan Prof. Subejo, S.P., M.Sc., Ph.D., Guru Besar Fakultas Pertanian UGM, sebagai Koordinator Tim Ahli Penyusun RUU. Kehadiran beliau menegaskan peran perguruan tinggi dalam mengawal kebijakan publik berbasis riset dan pengalaman empiris.

Sebagai koordinator, Prof. Subejo memimpin penyusunan naskah akademik, perumusan substansi perubahan pasal, serta sinkronisasi masukan dari akademisi, organisasi petani, pemerintah daerah, kementerian, dan pemangku kepentingan lainnya. Pendekatan multidisiplin yang melibatkan pakar hukum, ekonomi pertanian, kelembagaan, dan pembangunan wilayah memperlihatkan bahwa revisi ini tidak hanya bersifat normatif, tetapi juga responsif terhadap dinamika sosial dan ekonomi petani.

Menurut Prof. Subejo, revisi UU ini bukan sekadar penyempurnaan redaksional, melainkan transformasi paradigma pembangunan pertanian. Perlindungan petani diperluas dari sekadar peningkatan produksi menjadi jaminan keberlanjutan usaha tani, kesejahteraan, ketahanan terhadap risiko, serta regenerasi petani yang adaptif terhadap teknologi digital.

Salah satu inovasi penting adalah penambahan Bab baru mengenai Regenerasi Petani dan Petani Muda. Definisi Petani Muda (usia 19–39 tahun) serta konsep regenerasi dimasukkan secara eksplisit dalam ruang lingkup perlindungan dan pemberdayaan. Program ini mencakup pendidikan, pelatihan, magang, akses lahan, pembiayaan, teknologi, kewirausahaan, digitalisasi, penelitian, dan inovasi.

RUU juga mengusulkan perluasan jaminan sosial nasional hingga mencakup petani muda, pengembangan prasarana berbasis teknologi informasi, serta penguatan layanan publik pertanian melalui Standar Pelayanan Minimal (SPM).

Revisi UU menekankan pentingnya sistem peringatan dini perubahan iklim, peningkatan kompetensi penyuluh dalam teknologi digital, serta adaptasi kelembagaan petani. Hal ini memperkuat ketahanan sektor pertanian terhadap risiko iklim.

Keterlibatan Prof. Subejo dan tim ahli memperlihatkan kontribusi nyata Universitas Gadjah Mada dalam proses legislasi nasional. Dengan basis penelitian, pengalaman lapangan, dan praktik terbaik pembangunan pertanian berkelanjutan, UGM menegaskan perannya sebagai perguruan tinggi yang konsisten mendukung penyelesaian persoalan strategis bangsa.

Revisi UU Perlindungan dan Pemberdayaan Petani yang dikawal Prof. Subejo secara langsung mendukung pencapaian SDG 1: Tanpa Kemiskinan, SDG 2: Tanpa Kelaparan, SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 10: Berkurangnya Ketimpangan, SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim, serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Regulasi baru ini diharapkan menjadi instrumen nyata dalam mendorong transformasi pertanian nasional menuju sistem yang modern, inklusif, tangguh, dan berkelanjutan.

 

Penulis: Beny Nabila Happy Fauziah
Editor: Tantriani
Dokumentasi: Unit Media Faperta UGM

Executive Leadership Panel: Indonesia Seed Industry Leadership Forum 2026

berita Wednesday, 15 July 2026

Forum kepemimpinan industri benih Indonesia tahun 2026 resmi dibuka dengan sesi Executive Leadership Panel: Talent and Technology for the Next Decade di The Grand Ballroom Eastparc Hotel. Diskusi strategis ini dipimpin oleh Dr. agr. Panjisakti Basunanda, S.P., M.P., yang menekankan pentingnya sinergi antara perguruan tinggi dan dunia industri dalam menyiapkan talenta serta teknologi untuk menghadapi tantangan lima hingga sepuluh tahun mendatang.

Dalam pengantarnya, Dr. Panjisakti menegaskan bahwa forum ini menjadi ruang kolaborasi yang jarang terjadi, di mana universitas dan industri dapat duduk bersama untuk merumuskan kurikulum dan kompetensi prioritas yang relevan dengan kebutuhan masa depan. Fokus diskusi mencakup eksplorasi sumber daya manusia, perkembangan teknologi seperti precision agriculture dan artificial intelligence (AI), serta tantangan yang dihadapi industri benih di Indonesia.

Sesi ini menghadirkan enam narasumber yang memberikan perspektif berharga, yaitu

  1. Muhammad Aris (Ikatan Produsen Benih Hortikultura) menekankan pentingnya kolaborasi universitas, industri dalam memperkuat fundamental breeding. Ia menyoroti peluang digital breeding dan penerapan Good Seed Production Practice (GSPP) sebagai standar mutu.
  2. Imam Sujono (PT Syngenta Indonesia) memaparkan fokus pada jagung bioteknologi, termasuk pemanfaatan double haploid dan AI untuk mempercepat pemuliaan. Ia menekankan perlunya regulasi genome editing agar Indonesia dapat bersaing secara global.
  3. Dr. Glenn Pardede (PT East West Seed Indonesia) menyoroti kebutuhan talenta yang mampu menjembatani sains dan praktik lapangan. Ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas lembaga untuk menghasilkan SDM unggul.
  4. Agustinus Budi (PT Sang Hyang Seri) menjelaskan transformasi SHS menuju perusahaan genetik, dengan fokus pada breeding, bioteknologi, data science, agribisnis, dan leadership. SHS telah bermitra dengan UGM untuk pengembangan varietas dan talenta.
  5. Dr. Cahyo Sri Wibowo (PT Astra Agro Lestari Tbk) menekankan kebutuhan benih legal dalam perkebunan kelapa sawit serta tantangan replanting. Ia menyoroti peran AI dan infrastruktur dalam mendukung produktivitas sawit.
  6. Ir. Dwi Asmono (PT Prime Agri Resources Tbk) memberikan peringatan tentang risiko penyakit pada hybrid sawit. Ia menekankan perlunya breeder berkompetensi dengan dukungan AI, data analyst, dan leadership yang kuat.

Kegiatan ini mendukung pencapaian beberapa Sustainable Development Goals (SDGs), yaitu SDG 2: Tanpa Kelaparan melalui penguatan inovasi benih untuk mendukung ketahanan pangan; SDG 4: Pendidikan Berkualitas melalui kolaborasi perguruan tinggi dan industri dalam pengembangan talenta; SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi dengan peningkatan kompetensi sumber daya manusia di sektor perbenihan; SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui penerapan bioteknologi, artificial intelligence (AI), dan precision agriculture; SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab melalui penerapan standar produksi benih yang baik serta penggunaan benih legal dan berkualitas; serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui penguatan sinergi antara perguruan tinggi, industri, dan pemerintah dalam mendorong inovasi sektor benih.

 

Penulis: Beny Nabila Happy Fauziah

Editor: Tantriani

Dokumentasi: Unit Media Faperta UGM

Faperta UGM Bahas SDM dan Kolaborasi Industri Benih dalam Indonesia Seed Industry Leadership Forum 2026

berita Wednesday, 15 July 2026

Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (Faperta UGM) berpartisipasi aktif dalam Indonesia Seed Industry Leadership Forum 2026, khususnya pada Session 2: Sectoral Roundtable Discussions pada komoditas pangan yang digelar Kamis, 11 Juni 2026 di Eastparc Hotel Yogyakarta. Diskusi ini dipimpin oleh Andrianto Ansari, S.T.P., M.Agr., Ph.D., dengan Sugeng Rijadi, S.P. (PT Sang Hyang Seri) sebagai pengarah utama (lead discussant).

Forum ini menyoroti kebutuhan sumber daya manusia (SDM) dalam industri benih, tantangan pengembangan varietas hibrida, serta peluang kolaborasi antara universitas, industri, dan pemerintah. Indonesia diproyeksikan membutuhkan sekitar 410 ribu ton benih padi untuk mendukung rencana penanaman 16 juta hektare lahan pada tahun 2026. Namun, saat ini benih bersertifikat baru mencakup 60% dari kebutuhan nasional, sehingga diperlukan langkah strategis untuk memperkuat kemandirian benih.

Dalam diskusi, Nana Laksana Ranu (Asosiasi Benih Indonesia/Asbenindo) menekankan perlunya penguatan hard skills dan soft skills bagi SDM, khususnya tenaga pemulia dan pemasaran. Dr. Ir. Ladiyani Retno Widowati, M.Sc. (Dirjen Perbenihan/Pangan) menyoroti keterbatasan tenaga Pengawas Benih Tanaman (PBT) yang saat ini hanya berjumlah 883 orang, jauh dari kebutuhan ideal 1.550 orang, dengan distribusi yang timpang antara Jawa dan luar Jawa.

Sementara itu, Ir. Putu Darsana, M.P., Ph.D. (PT BISI Internasional Tbk.) menegaskan pentingnya integritas, sikap kerja, serta modul pelatihan yang dapat diakses mahasiswa maupun masyarakat umum. Hariyanta, M.Sc. (PT Zaini Makmur Sentosa) menekankan perlunya soft skills seperti problem solving, analogi, dan kemampuan bahasa asing untuk mendukung kolaborasi internasional.

Dari sisi industri, Syarifin Firdaus (PT Advanta) menyoroti pentingnya pengalaman magang, integritas, serta self branding melalui media sosial sebagai faktor penentu rekrutmen. A. Novia Edi Maharanto, S.E., M.M. (PT Bisi Internasional Tbk.) menekankan tantangan komunikasi dengan petani yang memiliki ego kuat, sehingga diperlukan pendekatan adaptif. Safe’i Pradana (PT Bayer Indonesia Crop Science) menegaskan bahwa hanya sekitar 10% lulusan baru yang siap terjun ke industri, sehingga mentalitas dan daya juang perlu dipupuk sejak masa pendidikan.

Selain itu, Rakimin (PT Twinn) mengusulkan integrasi mata kuliah berbasis SKS agar lebih aplikatif, serta akses terhadap plasma nutfah yang lebih luas bagi mahasiswa. Pak Taryono mengingatkan perlunya perspektif nasional dalam diskusi, agar tidak hanya berfokus pada lingkup institusi.

Diskusi menyimpulkan bahwa kompetensi wajib bagi lulusan mencakup kemampuan teknis perbenihan, integritas, komunikasi efektif, ketangguhan fisik dan mental, serta daya juang tinggi. Pelatihan prioritas yang perlu dikembangkan adalah komunikasi efektif, bahasa asing, serta keahlian khusus di bidang perbenihan. Kolaborasi antara universitas, industri, dan pemerintah menjadi kunci dalam menyiapkan SDM unggul yang mampu mendukung kemandirian benih dan ketahanan pangan nasional.

Melalui partisipasi dalam forum ini, Fakultas Pertanian UGM kembali menegaskan komitmennya dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 2: Tanpa Kelaparan melalui penguatan sistem perbenihan sebagai fondasi ketahanan pangan nasional, SDG 4: Pendidikan Berkualitas melalui pengembangan kompetensi sumber daya manusia yang selaras dengan kebutuhan industri, SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi melalui peningkatan kesiapan lulusan menghadapi dunia kerja dan penguatan daya saing sektor pertanian, SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui pengembangan inovasi teknologi perbenihan dan varietas unggul, serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui penguatan kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan industri dalam membangun ekosistem industri benih nasional yang berkelanjutan.

Penulis: Beny Nabila Happy Fauziah

Editor: Tantriani

Dokumentasi: Unit Media Faperta

123…43

BERITA FAKULTAS

  • ISILF 2026 Rumuskan Komitmen Strategis dan Pembentukan Working Group
    18/07/2026
  • ISILF 2026 Bahas Model Pendidikan Pascasarjana untuk Profesional Industri Benih
    18/07/2026
  • UGM Perkuat Kemitraan Riset Universitas–Industri dalam ISILF 2026
    18/07/2026
  • ISILF 2026 Teguhkan Perspektif Lintas Sektor untuk Penguatan Industri Benih
    18/07/2026
  • Inovasi Teknologi Pengolahan Limbah Kapal: Langkah Nyata Melindungi Akuakultur Tropis di Hari Terakhir SC-STAF 2026
    18/07/2026
Universitas Gadjah Mada

FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA

Jl. Flora Bulaksumur Yogyakarta 55281
faperta@ugm.ac.id
Telp./Fax.: +62 (274) 563062

TENTANG FAKULTAS

Visi & Misi

Sasaran & Tujuan

Struktur Organisasi

 

INFORMASI PUBLIK

Permohonan Informasi Publik

Daftar Informasi Tersedia Setiap Saat

Daftar Informasi Tersedia Secara Berkala

JURNAL ONLINE

Jurnal Ilmu Pertanian

Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia

Jurnal Ilmu Perikanan

Vegetalika

Jurnal Agro Ekonomi

PENELITIAN & PUBLIKASI

Penelitian

Publikasi

Buku Karya Dosen

 

FASILITAS PENDUKUNG

Perpustakaan Fakultas

Laboratorium

Ebooks

Health Promoting Unit (HPU) Faperta

KERJASAMA

Kerjasama Fakultas

Kunjungan Sekolah

 

PENDAFTARAN

Sarjana

Pascasarjana

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY

[EN] We use cookies to help our viewer get the best experience on our website. -- [ID] Kami menggunakan cookie untuk membantu pengunjung kami mendapatkan pengalaman terbaik di situs web kami.I Agree / Saya Setuju