
Transformasi Kurikulum Fakultas Pertanian UGM: Menuju Smart-Eco Bioproduction.
Fakultas Pertanian UGM secara resmi melibatkan para alumni dan pengguna lulusan dalam merancang Kurikulum 2024 untuk Program Sarjana dan Pascasarjana. Langkah strategis ini mengusung visi kurikulum Smart-Eco Bioproduction yang adaptif terhadap perkembangan zaman. Rangkaian perancangan ini diawali dengan agenda evaluasi mendalam terhadap kurikulum 2019 untuk kedua jenjang pendidikan tersebut, yang diselenggarakan pada Rabu, 15 Mei 2024, di Swiss-Belboutique Yogyakarta.
Pertemuan tersebut menghadirkan perwakilan alumni dan pengguna lulusan dari berbagai program studi, baik pada level Sarjana maupun Pascasarjana. Secara kolaboratif, mereka memberikan masukan kritis mengenai aspek-aspek yang perlu dipertahankan, diperbarui, hingga kompetensi baru yang harus ditambahkan. Salah satu poin evaluasi yang menarik muncul dari perwakilan Ailesh, sebuah perusahaan start-up di sektor energi terbarukan dan lingkungan, yang menyoroti pentingnya relevansi akademik dengan kebutuhan industri hijau saat ini.

“Sebagai pengguna alumni, saya rasa Fakultas Pertanian UGM dapat merumuskan kurikulum yang memuat pengetahuan tentang cara kalkulasi karbon, agar para lulusan tetap bisa bersaing di era green jobs,” jelas Cahaya Prautama selaku Vice President/Director of Operations Ailesh.
Selain itu, Suryandari Marindiliku selaku Human Resources (HR) Manager dari PT Aksara Juara Nusantara (AKSORO) juga menambahkan, perlunya memasukkan kemampuan mahasiswa dalam pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) sebagai salah satu capaian kurikulum. Hal tersebut akan membiasakan mahasiswa untuk bekerja secara cepat dan efektif, serta terbiasa untuk menganalisis data secara detail, sehingga akan bermanfaat di dunia kerja sesungguhnya.

Di sisi lain, pengguna dari Syngenta Seed Indonesia yang diwakili oleh Triwit Wahyu Karyono menyampaikan pendapatnya mengenai dampak positif dari kegiatan magang selama 4 bulan melalui program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Menurutnya, kegiatan magang tersebut sangat membantu perusahaan untuk melakukan seleksi lebih awal dalam rekrutmen calon pegawai, sehingga sangat perlu untuk dilanjutkan ke depannya.
Evaluasi pun datang dari para alumni, seperti Melly (Aumni Program Studi Ilmu Tanah) yang menyampaikan bahwa perlunya diadakan pelatihan atau sertifikasi pertanian dengan menggandeng praktisi. Bagi Melly yang saat ini bekerja sebagai peneliti, sertifikasi tersebut akan sangat bermanfaat bagi lulusan kedepannya untuk bekerja di perusahaan pertanian. Tak hanya itu, Erina Cahya (Alumni Program Studi Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian), mengusulkan tentang pelatihan pembuatan power point sebagai media bantu presentasi yang padat, singkat, dan jelas.
“Setelah terjun di dunia kerja, saya merasakan betul perbedaan presentasi di tempat saya kerja dan di kampus masa kuliah dulu. Saya mengusulkan untuk kurikulum ke depannya juga bisa dikaitkan dengan pelatihan pembuatan power point dan cara presentasi yang singkat, namun tetap informatif,” ujar Erina yang saat ini bekerja sebagai SEO Specialist.

Dekan Fakultas Pertanian UGM, Ir. Jaka Widada, M.P., Ph.D., mengatakan kegiatan evaluasi kurikulum 2019 ini diharapkan bisa menghasilkan bahan perumusan kurikulum 2024 yang lebih sesuai dengan keinginan pasar pengguna lulusan Fakultas Pertanian UGM. Adapun kurikulum 2024 tersebut memfokuskan pada Smart-Eco Bioproduction sebagai visi fakultas, sehingga terdapat beberapa elemen penting yang perlu diperhatikan, seperti crop (tanaman), smart (kecerdasan), eco (lingkungan), bioproduction (budidaya tanaman dengan hasil maksimal), agribusiness (bisnis pertanian), dan communication (keterampilan komunikasi). Hal tersebut dijelaskan oleh Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Fakultas Pertanian UGM, Dr. Dyah Weny Respatie, S.P., M.Si.
“Dalam menyusun kurikulum 2024, kami ingin berfokus pada elemen-elemen di dalam visi Smart-Eco Bioproduction. Hal ini juga untuk mendukung unsur agriculture science sebagai salah satu unsur penting kurikulum selain nilai-nilai ke-UGM-an, basic knowledge, soft skill, dan hard skill,” jelas Weny.
Kegiatan ini juga menjadi pendukung terwujudnya tujuan SDG 4: Pendidikan Berkualitas dan SDG 16: Perdamaian Keadilan dan Kelembagaan yang Tangguh.
Penulis: Hanita Athasari Zain
Editor: Desi Utami