• Tentang UGM
  • Informasi Publik
  • IT Center
  • Perpustakaan UGM
  • Webmail UGM
  • Pertanian Digital
    • Desa Apps
    • Lentera DESA
  • English Version
Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
Fakultas Pertanian
  • Home
  • Tentang Kami
    • Tentang Fakultas
      • Visi & Misi
      • Sasaran & Tujuan
      • Struktur Organisasi
    • Program Studi
    • Sarjana
      • Leaflet dan Video Promosi Program Studi
      • Uang Kuliah Tunggal (UKT) Program Sarjana
      • SOP Perkuliahan Sarjana
      • Panduan Akademik Sarjana
      • Kurikulum Sarjana
      • Bahan Kuliah dan Praktikum
      • Jadwal Kuliah & Praktikum
      • PROGRAM KAMPUS BERDAMPAK
      • Program Fastrack Faperta
      • Insentif Prestasi Mahasiswa
      • Surat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI)
      • Virtual Office Academic FAPERTA UGM
      • Info Beasiswa
      • International Undergraduate Class (IUC)
      • RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN PEMBELAJARAN SEMESTER (RPKPS)
    • Pascasarjana
      • INFORMASI PERKULIAHAN PASCASARJANA
      • SOP PERKULIAHAN PASCASARJANA
      • Panduan Akademik Pascasarjana
      • Uang Kuliah Tunggal (UKT) Program Profesi dan Pascasarjana
      • Aturan Akademik Pascasarjana
      • Kurikulum Pascasarjana
      • RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN PEMBELAJARAN SEMESTER (RPKPS)
      • Daftar Pembimbing S2 Pascasarjana
      • Daftar Promotor S3 Pascasarjana
      • Dokumen Seminar dan Ujian S3 Pascasarjana
    • Kemahasiswaan
    • Alumni
      • TRACER STUDY
      • Lowongan Kerja
    • Fasilitas Pendukung
      • AGROTROPICA LEARNING CENTER UGM
      • Perpustakaan
      • UGM Library Video Profile
      • Agriculture Ebooks
      • HPU
    • AIMS
    • Jaminan Mutu
      • EDOM Sarjana
      • EDOM Pascasarjana
      • Standard Operating Procedure – EDOM
      • Rencana Tindak Lanjut EDOM
      • Laporan RTM
      • Panduan OBA Simaster
      • Panduan Pengisian SIMONI
      • Kepuasan Stakeholder
    • Profil Dosen
    • Zone Integritas
    • Rencana Strategis
    • Target Capaian Kinerja
    • Inovasi dan Kajian Akademik
    • Laporan Tahunan
  • PMB
  • Departemen
    • Budidaya Pertanian
    • Hama dan Penyakit Tumbuhan
    • Mikrobiologi Pertanian
    • Perikanan
      • Departemen Perikanan
      • Program Studi Akuakultur
      • Program Studi Manajemen Sumber Daya Akuatik
      • Program Studi Teknologi hasil Perikanan
    • Sosial Ekonomi Pertanian
      • Program Studi Ekonomi Pertanian dan Agribisnis
      • Program Studi Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian
    • Tanah
  • Penelitian & Publikasi
    • PENELITIAN
    • PENGABDIAN MASYARAKAT
    • PUBLIKASI
      • Buku
    • KERJASAMA
    • Buku Karya Dosen
  • Download
    • Peraturan
    • Download panduan kuliah online
    • Jadwal Kuliah & Praktikum
    • Bahan Kuliah dan Praktikum
    • Formulir
    • Agriculture Ebooks
    • PROSEDUR OPERASIONAL STANDAR (POS) KEGIATAN FAKULTAS
    • Petunjuk Penulisan Laporan Akhir PKM 2020
    • Panduan Pelayanan Akademik Faperta UGM
    • E-Booklet PPKS UGM
    • Buku Kenangan Wisuda
  • Beranda
  • SDG 4: Pendidikan Berkualitas
  • SDG 4: Pendidikan Berkualitas
Arsip:

SDG 4: Pendidikan Berkualitas

Pembekalan Konsep HPU bagi Panitia PIONIR Organik 2026 menjadi Bekal Wujudkan Lingkungan Akademik Sehat

berita Thursday, 16 July 2026

Panitia PIONIR Organik 2026 sukses menyelenggarakan pembekalan upgrading bersama unit Health Promoting University (HPU) yang diselenggarakan dengan menghadirkan narasumber psikolog klinis, Ratih Ratnasari, M.Psi., Psikolog, juga kepala HPU Fakultas Pertanian, Dr. Desy Putri Handayani, S.Pi. Kegiatan ini bertujuan untuk mempersiapkan keadaan fisik dan mental sebagai panitia untuk menjadi role model yang berkarakter dan memiliki edukasi baik sehingga nantinya menjadi contoh positif bagi mahasiswa baru.

Kegiatan upgrading HPU dilaksanakan pada Rabu, 15 Juli 2026 bertempat di Auditorium Prof. Harjono Danoesastro dengan kehadiran dua narasumber utama sekaligus koordinator gugus fakultas pertanian, Tantriani, S.P., M.Agr., Ph.D., serta wakil dekan bidang akademik dan kemahasiswaan, Dr. Dyah Weny Respatie, S.P., M.Si., yang turut berkesempatan hadir ketika kegiatan sedang berlangsung. Dalam kesempatan ini panitia juga diarahkan untuk membangun lingkungan kampus sehat dengan membentuk relasi sehat guna mencegah kekerasan seksual, menumbuhkan kepedulian terhadap mahasiswa disabilitas tampak maupun tidak tampak, serta menegakkan pola hidup sehat melalui kebijakan bebas asap rokok di lingkungan kampus.

“Panitia memegang posisi peran strategis sebagai provider yang akan melayani langsung 625 mahasiswa baru. Dinamika di lapangan nanti akan luar biasa karena harus mengoordinasikan mahasiswa baru yang berada dalam fase transisi dari sekolah ke lingkungan kuliah. Oleh karena itu, situasi ini riskan bagi kesehatan mental. Panitia harus bisa memastikan diri sendiri sehat secara jiwa dan raga terlebih dahulu sebelum mulai melayani orang lain.” ujar Weny dalam sambutannya.

Urgensi adanya pembekalan ini yakni peran strategis panitia sebagai wajah awal bagi mahasiswa baru. pengenalan lingkungan kampus yang sehat sengaja dibangun sejak masa orientasi agar mahasiswa baru sejak awal menyadari bahwa pentingnya peduli terhadap diri sendiri dan orang lain. Mahasiswa juga diberikan kesadaran bahwa mereka tidak berdiri sendiri ketika menghadapi masalah, tetapi mampu didukung oleh fasilitas kesehatan fisik dan mental yang siap membantu kapan saja. Melalui materi yang disampaikan oleh para pakar, panitia dibekali kemampuan regulasi emosi melalui teknik STOP, grounding 54321, dan cognitive reframing, serta strategi coping untuk mendeteksi tanda-tanda stres psikis yang kerap kali mewujud dalam gejala fisik, emosi, dan perilaku.

“Sehat itu tidak hanya tentang mengelola emosi, tetapi juga bagaimana bersikap di setiap aktivitas. Kita harus peka karena seringkali masalah psikis tidak disadari, padahal tanda-tandanya sudah muncul melalui keluhan fisik seperti demam atau asam lambung. Kenali ciri psikis yang tidak sehat sejak dini, seperti kecemasan tiba-tiba, penurunan rasa percaya diri, serta emosi marah dan sedih yang tidak terkendali.” jelas Ratih.

Kegiatan pembekalan materi Health Promoting University ini menjadi wujud kesadaran dan komitmen Fakultas Pertanian UGM dalam mencapai tujuan global SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG 4: Pendidikan Berkualitas, SDG 5: Kesetaraan Gender, SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 11: Kota dan Komunitas yang Berkelanjutan, SDG 15: Ekosistem Daratan, serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Penulis: Salsabil Karima Swasono

Editor: Tantriani

Dokumentasi: DDD PIONIR Organik 2026

Executive Leadership Panel: Indonesia Seed Industry Leadership Forum 2026

berita Wednesday, 15 July 2026

Forum kepemimpinan industri benih Indonesia tahun 2026 resmi dibuka dengan sesi Executive Leadership Panel: Talent and Technology for the Next Decade di The Grand Ballroom Eastparc Hotel. Diskusi strategis ini dipimpin oleh Dr. agr. Panjisakti Basunanda, S.P., M.P., yang menekankan pentingnya sinergi antara perguruan tinggi dan dunia industri dalam menyiapkan talenta serta teknologi untuk menghadapi tantangan lima hingga sepuluh tahun mendatang.

Dalam pengantarnya, Dr. Panjisakti menegaskan bahwa forum ini menjadi ruang kolaborasi yang jarang terjadi, di mana universitas dan industri dapat duduk bersama untuk merumuskan kurikulum dan kompetensi prioritas yang relevan dengan kebutuhan masa depan. Fokus diskusi mencakup eksplorasi sumber daya manusia, perkembangan teknologi seperti precision agriculture dan artificial intelligence (AI), serta tantangan yang dihadapi industri benih di Indonesia.

Sesi ini menghadirkan enam narasumber yang memberikan perspektif berharga, yaitu

  1. Muhammad Aris (Ikatan Produsen Benih Hortikultura) menekankan pentingnya kolaborasi universitas, industri dalam memperkuat fundamental breeding. Ia menyoroti peluang digital breeding dan penerapan Good Seed Production Practice (GSPP) sebagai standar mutu.
  2. Imam Sujono (PT Syngenta Indonesia) memaparkan fokus pada jagung bioteknologi, termasuk pemanfaatan double haploid dan AI untuk mempercepat pemuliaan. Ia menekankan perlunya regulasi genome editing agar Indonesia dapat bersaing secara global.
  3. Dr. Glenn Pardede (PT East West Seed Indonesia) menyoroti kebutuhan talenta yang mampu menjembatani sains dan praktik lapangan. Ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas lembaga untuk menghasilkan SDM unggul.
  4. Agustinus Budi (PT Sang Hyang Seri) menjelaskan transformasi SHS menuju perusahaan genetik, dengan fokus pada breeding, bioteknologi, data science, agribisnis, dan leadership. SHS telah bermitra dengan UGM untuk pengembangan varietas dan talenta.
  5. Dr. Cahyo Sri Wibowo (PT Astra Agro Lestari Tbk) menekankan kebutuhan benih legal dalam perkebunan kelapa sawit serta tantangan replanting. Ia menyoroti peran AI dan infrastruktur dalam mendukung produktivitas sawit.
  6. Ir. Dwi Asmono (PT Prime Agri Resources Tbk) memberikan peringatan tentang risiko penyakit pada hybrid sawit. Ia menekankan perlunya breeder berkompetensi dengan dukungan AI, data analyst, dan leadership yang kuat.

Kegiatan ini mendukung pencapaian beberapa Sustainable Development Goals (SDGs), yaitu SDG 2: Tanpa Kelaparan melalui penguatan inovasi benih untuk mendukung ketahanan pangan; SDG 4: Pendidikan Berkualitas melalui kolaborasi perguruan tinggi dan industri dalam pengembangan talenta; SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi dengan peningkatan kompetensi sumber daya manusia di sektor perbenihan; SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui penerapan bioteknologi, artificial intelligence (AI), dan precision agriculture; SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab melalui penerapan standar produksi benih yang baik serta penggunaan benih legal dan berkualitas; serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui penguatan sinergi antara perguruan tinggi, industri, dan pemerintah dalam mendorong inovasi sektor benih.

 

Penulis: Beny Nabila Happy Fauziah

Editor: Tantriani

Dokumentasi: Unit Media Faperta UGM

Faperta UGM Bahas SDM dan Kolaborasi Industri Benih dalam Indonesia Seed Industry Leadership Forum 2026

berita Wednesday, 15 July 2026

Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (Faperta UGM) berpartisipasi aktif dalam Indonesia Seed Industry Leadership Forum 2026, khususnya pada Session 2: Sectoral Roundtable Discussions pada komoditas pangan yang digelar Kamis, 11 Juni 2026 di Eastparc Hotel Yogyakarta. Diskusi ini dipimpin oleh Andrianto Ansari, S.T.P., M.Agr., Ph.D., dengan Sugeng Rijadi, S.P. (PT Sang Hyang Seri) sebagai pengarah utama (lead discussant).

Forum ini menyoroti kebutuhan sumber daya manusia (SDM) dalam industri benih, tantangan pengembangan varietas hibrida, serta peluang kolaborasi antara universitas, industri, dan pemerintah. Indonesia diproyeksikan membutuhkan sekitar 410 ribu ton benih padi untuk mendukung rencana penanaman 16 juta hektare lahan pada tahun 2026. Namun, saat ini benih bersertifikat baru mencakup 60% dari kebutuhan nasional, sehingga diperlukan langkah strategis untuk memperkuat kemandirian benih.

Dalam diskusi, Nana Laksana Ranu (Asosiasi Benih Indonesia/Asbenindo) menekankan perlunya penguatan hard skills dan soft skills bagi SDM, khususnya tenaga pemulia dan pemasaran. Dr. Ir. Ladiyani Retno Widowati, M.Sc. (Dirjen Perbenihan/Pangan) menyoroti keterbatasan tenaga Pengawas Benih Tanaman (PBT) yang saat ini hanya berjumlah 883 orang, jauh dari kebutuhan ideal 1.550 orang, dengan distribusi yang timpang antara Jawa dan luar Jawa.

Sementara itu, Ir. Putu Darsana, M.P., Ph.D. (PT BISI Internasional Tbk.) menegaskan pentingnya integritas, sikap kerja, serta modul pelatihan yang dapat diakses mahasiswa maupun masyarakat umum. Hariyanta, M.Sc. (PT Zaini Makmur Sentosa) menekankan perlunya soft skills seperti problem solving, analogi, dan kemampuan bahasa asing untuk mendukung kolaborasi internasional.

Dari sisi industri, Syarifin Firdaus (PT Advanta) menyoroti pentingnya pengalaman magang, integritas, serta self branding melalui media sosial sebagai faktor penentu rekrutmen. A. Novia Edi Maharanto, S.E., M.M. (PT Bisi Internasional Tbk.) menekankan tantangan komunikasi dengan petani yang memiliki ego kuat, sehingga diperlukan pendekatan adaptif. Safe’i Pradana (PT Bayer Indonesia Crop Science) menegaskan bahwa hanya sekitar 10% lulusan baru yang siap terjun ke industri, sehingga mentalitas dan daya juang perlu dipupuk sejak masa pendidikan.

Selain itu, Rakimin (PT Twinn) mengusulkan integrasi mata kuliah berbasis SKS agar lebih aplikatif, serta akses terhadap plasma nutfah yang lebih luas bagi mahasiswa. Pak Taryono mengingatkan perlunya perspektif nasional dalam diskusi, agar tidak hanya berfokus pada lingkup institusi.

Diskusi menyimpulkan bahwa kompetensi wajib bagi lulusan mencakup kemampuan teknis perbenihan, integritas, komunikasi efektif, ketangguhan fisik dan mental, serta daya juang tinggi. Pelatihan prioritas yang perlu dikembangkan adalah komunikasi efektif, bahasa asing, serta keahlian khusus di bidang perbenihan. Kolaborasi antara universitas, industri, dan pemerintah menjadi kunci dalam menyiapkan SDM unggul yang mampu mendukung kemandirian benih dan ketahanan pangan nasional.

Melalui partisipasi dalam forum ini, Fakultas Pertanian UGM kembali menegaskan komitmennya dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 2: Tanpa Kelaparan melalui penguatan sistem perbenihan sebagai fondasi ketahanan pangan nasional, SDG 4: Pendidikan Berkualitas melalui pengembangan kompetensi sumber daya manusia yang selaras dengan kebutuhan industri, SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi melalui peningkatan kesiapan lulusan menghadapi dunia kerja dan penguatan daya saing sektor pertanian, SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui pengembangan inovasi teknologi perbenihan dan varietas unggul, serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui penguatan kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan industri dalam membangun ekosistem industri benih nasional yang berkelanjutan.

Penulis: Beny Nabila Happy Fauziah

Editor: Tantriani

Dokumentasi: Unit Media Faperta

Forum Industri Benih Hortikultura Dorong Kompetensi Lulusan dan Kolaborasi Riset Strategis

berita Wednesday, 15 July 2026

Sesi diskusi hortikultura dalam rangkaian Indonesia Seed Industry Leadership Forum (ISILF) 2026 menghadirkan percakapan mendalam antara akademisi dan praktisi industri benih di The Grand Ballroom Eastparc Hotel. Dipimpin oleh Enik Nurlaili Afifah, S.P., M.Sc., Ph.D., forum ini menyoroti kebutuhan mendesak akan kompetensi lulusan baru, prioritas pelatihan tenaga kerja, serta peluang kolaborasi riset strategis.

Diskusi dibuka oleh lead discussant, CH Atik Setyawati, S.P., M.P. (Hortindo), yang menekankan bahwa sektor hortikultura masih menghadapi tantangan besar, mulai dari kualitas SDM, adopsi teknologi terbarukan, hingga inovasi yang harus bergerak cepat. Sebagian peserta berpendapat bahwa hal yang perlu digarisbawahi adalah fresh graduate tidak cukup hanya menguasai teori dasar, tetapi juga harus memiliki keterampilan aplikatif, seperti smart breeding, manajemen rantai pasok, komunikasi pertanian, serta kemampuan membaca pasar global. Selain itu, loyalitas, komitmen, dan daya juang juga dinilai sebagai faktor penting yang menentukan keberhasilan di dunia kerja.

Selain itu, forum ini merumuskan tiga pelatihan prioritas yang perlu segera diperkuat, yakni sertifikasi benih, market analysis, dan smart farming dengan pemanfaatan greenhouse presisi dan drone. Pelatihan ini diharapkan mampu menjembatani kesenjangan antara kebutuhan industri dan kesiapan tenaga kerja.

Pada bagian kolaborasi riset, peserta forum menekankan pentingnya kerja sama universitas dan industri dalam bidang mapping patogen, prediksi perubahan iklim, serta market prediction berbasis AI. Riset strategis terkait pemuliaan bawang putih juga menjadi sorotan, mengingat tingginya ketergantungan impor komoditas tersebut.

Forum ini menegaskan bahwa penguatan kompetensi SDM, pelatihan aplikatif, dan kolaborasi riset strategis merupakan kunci untuk memperkuat daya saing industri benih hortikultura Indonesia. Fakultas Pertanian UGM berkomitmen untuk terus menjadi mitra strategis dalam menjembatani kebutuhan industri dengan pengembangan akademik, sehingga lulusan tidak hanya siap bekerja tetapi juga mampu berinovasi dan berkontribusi pada pembangunan pertanian berkelanjutan.

Diskusi dan rekomendasi ISILF 2026 sejalan dengan sejumlah Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Penguatan industri benih hortikultura mendukung SDG 2: Tanpa Kelaparan melalui penyediaan benih berkualitas yang berkontribusi pada peningkatan produktivitas pertanian dan ketahanan pangan. Upaya mendorong kurikulum yang lebih aplikatif, sertifikasi profesi, serta pengalaman magang yang relevan dengan kebutuhan industri mencerminkan implementasi SDG 4: Pendidikan Berkualitas. Pengembangan kompetensi lulusan agar siap memasuki dunia kerja dan mampu bersaing secara global sejalan dengan SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi. Sementara itu, penerapan smart breeding, smart farming, teknologi greenhouse presisi, drone, serta pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dalam analisis pasar dan riset menunjukkan kontribusi terhadap SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur. Pembahasan mengenai pemetaan patogen dan prediksi perubahan iklim sebagai bagian dari agenda riset strategis juga mendukung SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim melalui pengembangan inovasi untuk meningkatkan ketahanan sektor pertanian terhadap dampak perubahan iklim. Selain itu, kolaborasi antara perguruan tinggi, asosiasi profesi, dan industri benih dalam pengembangan riset dan sumber daya manusia merupakan implementasi nyata SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

 

Penulis: Beny Nabila Happy Fauziah

Editor: Tantriani

Dokumentasi: Unit Media Faperta

 

 

 

UGM Dorong Ekosistem Riset Perkebunan melalui ISILF 2026

berita Wednesday, 15 July 2026

Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (Faperta UGM) kembali menunjukkan komitmennya dalam memperkuat peran akademisi di sektor perkebunan melalui partisipasi aktif pada Indonesia Seed Industry Leadership Forum (ISILF) 2026 pada 11 Juni 2026. Dalam sesi Sectoral Roundtable Discussion subsektor perkebunan yang berlangsung di Hibiscus Room, Eastparc Hotel, Ketua Departemen Budidaya Pertanian, Eka Tarwaca Susila Putra, S.P., M.P., Ph.D., memimpin jalannya diskusi bersama para pemangku kepentingan dari industri, akademisi, dan alumni.

Forum ini menyoroti kebutuhan mendesak akan sumber daya manusia yang kompeten di bidang perkebunan, khususnya pada komoditas kakao, kelapa, karet, dan tebu. Para narasumber menekankan bahwa kompetensi kepemimpinan, mentalitas kerja, regulasi, serta familiaritas terhadap ekosistem perkebunan menjadi faktor utama yang harus diperkuat. Diskusi juga menggarisbawahi keterbatasan riset varietas, peluang beasiswa, serta pentingnya kolaborasi riset yang realistis dalam kurun waktu tidak lebih dari dua belas bulan.

Sejumlah masukan strategis muncul dalam forum, mulai dari perlunya mata kuliah berbasis industri dan program magang riset terpadu, hingga dorongan untuk memperluas akses informasi dan memperkuat regulasi pelepasan varietas. Konsorsium riset genom sawit juga menjadi perhatian, dengan harapan Indonesia tidak lagi bergantung pada kepakaran luar negeri. Usulan pembentukan program Magister Manajemen Benih serta program pascasarjana berbasis riset turut mengemuka, sebagai jawaban atas kebutuhan industri yang semakin berbasis permintaan.

Kesimpulan forum menegaskan bahwa UGM harus membangun ekosistem riset perkebunan yang terintegrasi dengan industri, mencakup aspek sumber daya manusia, mentalitas, kepemimpinan, regulasi, dan inovasi. Upaya ini tidak hanya memperkuat posisi UGM sebagai pusat akademik, tetapi juga mendukung pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan.

Rekomendasi yang dihasilkan dalam forum ini memiliki keterkaitan yang erat dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Penguatan riset dan pengembangan varietas unggul pada komoditas perkebunan seperti kakao, kelapa, karet, tebu, dan kelapa sawit mendukung SDG 2: Tanpa Kelaparan melalui peningkatan produktivitas pertanian dan ketahanan pangan. Integrasi kurikulum berbasis industri, program magang riset, serta pengembangan pendidikan pascasarjana yang relevan dengan kebutuhan sektor perkebunan mencerminkan implementasi SDG 4: Pendidikan Berkualitas. Upaya mencetak lulusan yang memiliki kompetensi teknis, kepemimpinan, dan kesiapan menghadapi kebutuhan industri juga sejalan dengan SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi. Pengembangan konsorsium riset genom kelapa sawit, inovasi varietas unggul, dan penguatan kolaborasi riset menjadi kontribusi nyata terhadap SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur. Di sisi lain, pemanfaatan dan pengembangan sumber daya genetik tanaman perkebunan secara berkelanjutan turut mendukung SDG 15: Ekosistem Daratan melalui pelestarian keanekaragaman hayati pertanian dan penguatan ketahanan sumber daya genetik tanaman. Selain itu, kolaborasi antara Universitas Gadjah Mada, industri perkebunan, lembaga riset, alumni, dan berbagai mitra strategis mencerminkan implementasi SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan dalam membangun ekosistem riset dan inovasi yang berkelanjutan.

Penulis: Beny Nabila Happy Fauziah

Editor: Tantriani

Dokumentasi: Unit Media Faperta UGM

Menatap Masa Depan Pangan Tropis: Paul Hamzah Sampaikan Paradigma Pertanian 5.0 dan Ekonomi Biru di SC-STAF 2026

berita Tuesday, 14 July 2026

Bagaimana kita memberi makan dunia di tengah ancaman krisis iklim yang kian nyata? Pertanyaan mendasar inilah yang menggerakkan diskusi mendalam pada hari kedua gelaran Summer Course on Sustainable Tropical Agriculture and Fisheries (SC-STAF) 2026 yang diinisiasi oleh Fakultas Pertanian UGM. Menghadirkan Paul Fuseini Hamza pada hari ke 2 (7 Juli 2026), seorang ilmuwan agronomi sekaligus spesialis penyuluhan pertanian lintas benua, forum internasional ini diajak membedah visi besar transformasi pangan dalam pemaparan bertajuk “Reimagining Tropical Agriculture and Fisheries for a New Generation”.

Melalui latar belakang akademisnya yang kuat di University for Development Studies (UDS) Ghana dan The University of Queensland (UQ) Australia, Hamza menyuguhkan sebuah sudut pandang komparatif yang kaya, memadukan realitas lapangan wilayah tropis Afrika dengan perkembangan sains modern di dunia internasional.

Salah satu sorotan utama yang memantik daya kritis para peserta adalah transformasi radikal dari era Agriculture 4.0 menuju Agriculture 5.0. Jika era hulu ke hilir Agriculture 4.0 menitikberatkan pada digitalisasi massal melalui integrasi kecerdasan buatan (AI), big data, sensor IoT, kontrol drone, dan komputasi demi pertumbuhan ekonomi semata, maka era Agriculture 5.0 membawa sains ke tingkat yang lebih manusiawi.  Era Agriculture 5.0 meletakkan kolaborasi antara kecerdasan manusia  dan kecerdasan buatan sebagai motor penggerak utama.

Di sisi lain, mengingat wilayah tropis menyokong kehidupan lebih dari 40% populasi dunia, pengelolaan sumber daya air dan laut menjadi pilar yang tidak boleh diabaikan. Hamza memaparkan konsep Blue Economy sebagai instrumen mutakhir untuk mengoptimalkan potensi akuatik secara bertanggung jawab. Di dalam ruang ekosistem laut ini, komoditas rumput laut muncul sebagai sumber daya hijau andalan yang multi-manfaat. Sejalan dengan hal tersebut, diperkenalkan pula konsep pangan masa depan melalui payung protein alternatif guna melengkapi ketergantungan pada peternakan konvensional hulu.

Melalui diskusi interaktif yang terbangun sepanjang sesi kelas, Hamza bersama peserta dari berbagai negara menyusun sebuah roadmap jangka panjang hulu ke hilir:

  • Jangka Pendek (2026–2030): Fokus pada transformasi digital harian, adaptasi perubahan iklim di tingkat tapak, investasi riset benih unggul, optimalisasi irigasi pintar (smart irrigation), dan pelibatan aktif pemuda.
  • Jangka Menengah (2030–2040): Peningkatan skala pertanian presisi, implementasi smart aquaculture, aplikasi bioteknologi modern, serta hilirisasi agro-processing berbasis energi terbarukan.
  • Jangka Panjang (2040–2050): Mewujudkan sistem pangan terintegrasi penuh berbasis AI, berjalannya ekonomi sirkular biologis (circular bioeconomy), serta tercapainya pertanian net-zero yang kompetitif secara global.

Keterlibatan aktif Fakultas Pertanian UGM dalam menghadirkan ilmuwan internasional seperti Paul Fuseini Hamza menunjukkan komitmen institusi dalam memperkuat kolaborasi akademik dan mendorong transformasi sistem pertanian serta perikanan yang berkelanjutan. Kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 2: Tanpa Kelaparan melalui penguatan sistem pangan berkelanjutan, SDG 4: Pendidikan Berkualitas melalui pertukaran pengetahuan global, SDG 9: Industri Inovasi dan Infrastruktur melalui pemanfaatan teknologi pertanian dan akuakultur cerdas, SDG 13: Penanganan Perbuahan Iklim melalui pengembangan strategi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim, SDG 14: Ekosistem Lautan melalui penguatan konsep Blue Economy dan pengelolaan sumber daya perairan secara berkelanjutan, SDG 15: Ekosistem Daratan melalui pengembangan sistem pertanian yang ramah lingkungan, serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi internasional dalam pendidikan dan riset.

 

Penulis: Rani Nur Rochim

Editor: Tantriani

Dokumentasi: Tim SC-STAF 2026

 

Mengulas Urgensi Regenerasi Petani di Sesi Penutup Hari Kedua SC-STAF 2026: Mengangkat Suara Generasi Penerus ke Ruang Publik

berita Tuesday, 14 July 2026

Rangkaian hari kedua gelaran Summer Course on Sustainable Tropical Agriculture and Fisheries (SC-STAF) 2026 yang diorganisasi oleh Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (Faperta UGM) pada Selasa, 7 Juli 2026 ditutup dengan diskusi interaktif yang mendalam. Sesi penutup tersebut menghadirkan akademisi internasional sekaligus Assistant Professor di bidang ekonomi pertanian dari Shimane University, Jepang, yaitu Rosalia Natalia Seleky, Ph.D.

Alumnus Faperta UGM ini mengulas perspektif sosio-ekonomi kritis dalam paparannya dengan topik “The Importance of Next Generation Farmers: A Conceptual Framework to Bring the Potential Successor into Focus”. Dalam kesempatan diskusi tersebut, Dr. Seleky membedah pentingnya keterlibatan langsung dan pemberian ruang suara mandiri bagi para generasi penerus usaha tani demi menghadapi lonjakan kebutuhan pangan global di masa depan.

Dalam pemaparan kerangka konseptualnya, Dr. Seleky mengkritisi kecenderungan umum dalam riset ekonomi pertanian konvensional yang kerap mengabaikan eksistensi otonom para calon penerus. Sebagian besar kajian suksesi selama ini dinilai terlalu bergantung pada representasi tunggal kepala keluarga atau petani utama sebagai juru bicara harian bagi seluruh individu di balik fasad keluarga tani.

Sesi diskusi interaktif tersebut memicu ketertarikan tinggi dari para mahasiswa dari 7 negara peserta. Mereka aktif mendiskusikan fenomena penuaan petani di wilayah Asia Tenggara serta bagaimana mengaplikasikan kerangka konseptual suksesi ini dalam konteks sosiologis agroekosistem di negara masing-masing.

Penyelenggaraan sesi bersama Dr. Rosalia Natalia Seleky menunjukkan komitmen Fakultas Pertanian UGM dalam memperkuat diskusi akademik mengenai keberlanjutan sektor pertanian melalui perspektif sosial-ekonomi. Kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 2: Tanpa Kelaparan melalui penguatan regenerasi petani sebagai fondasi sistem pangan berkelanjutan, SDG 4: Pendidikan Berkualitas melalui pembelajaran internasional dan pertukaran pengetahuan, SDG 8: Pertumbuhan Ekonomi dan Pekerjaan yang Layak melalui penguatan keberlanjutan profesi petani dan suksesi usaha tani, SDG 10: Berkurangnya Kesenjangan melalui pemberian ruang partisipasi bagi generasi penerus dalam pengambilan keputusan, serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi akademik internasional.

 

Penulis: Rani Nur Rochim

Editor: Tantriani

Dokumentasi: Tim SC-STAF 2026

Angkat Isu Pertanian di Amerika Serikat, Aidan K. Bobholz Berbagi Wawasan “Smart Agriculture” di SC-STAF 2026 Faperta UGM

berita Tuesday, 14 July 2026

Rangkaian kelas intensif dalam Summer Course on Sustainable Tropical Agriculture and Fisheries (SC-STAF) 2026 yang diselenggarakan oleh Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (Faperta UGM) terus menghadirkan perspektif global dari para pakar internasional. Pada pelaksanaan hari kedua, Selasa, 7 Juli 2026, antusiasme luar biasa ditunjukkan oleh para peserta saat mengikuti sesi kuliah pagi yang menghadirkan narasumber muda asal Amerika Serikat, Aidan K. Bobholz.  Melalui pemaparan materi mendalam berjudul “Agriculture in America’s Heartland”, ilmuwan agronomi ini berhasil membuka ruang diskusi komparatif yang interaktif mengenai dinamika agribisnis skala luas di wilayah Midwest Amerika Serikat serta penerapan teknologi presisi (precision agriculture) untuk mitigasi risiko iklim.

Aidan K. Bobholz memiliki rekam jejak akademik dan praktis yang sangat kuat di sektor pertanian Amerika Serikat. Saat ini, Aidan tengah menempuh pendidikan pascasarjana dan aktif melakukan riset intensif di Laboratorium Pemuliaan Kedelai Universitas Georgia. Tumbuh besar di lingkungan komunitas agraris di Wisconsin—wilayah yang dikenal sebagai salah satu jantung produksi susu dan pangan utama AS (Heartland)—Aidan telah aktif sejak masa sekolah menengah melalui organisasi kepemudaan pertanian bergengsi, Future Farmers of America (FFA), serta bekerja sebagai pemantau lapangan.

Dalam sesi materi, Aidan mengawali penjelasannya dengan mengenalkan karakteristik lanskap pertanian di Wisconsin yang didominasi oleh perkebunan jagung (mencakup 1,6 juta hektare), kedelai (0,8 juta hektare), serta industri persusuan (America’s Dairyland) yang bernilai hingga 52,8 miliar dolar AS. Sistem usaha tani di wilayah ini umumnya berupa lahan berskala luas milik keluarga yang terintegrasi secara profesional melalui sistem koperasi tani hulu ke hilir.  Namun, di balik skala produksinya yang masif, Aidan menekankan bahwa para petani di kawasan Heartland juga menghadapi tantangan berat abad ke-21 yang serupa dengan wilayah tropis. Beberapa isu krusial yang ia garis bawahi meliputi:

  • Anomali Cuaca Ekstrem: Perubahan iklim yang memicu pola cuaca tidak menentu sehingga mengancam stabilitas hasil panen semusim.
  • Tekanan Ekonomi & Lonjakan Biaya: Melambungnya harga sewa/beli lahan produktif serta tingginya biaya investasi alat mesin pertanian modern.
  • Penyusutan Lahan (Urban Sprawl): Konversi lahan pertanian produktif akibat ekspansi wilayah perkotaan.

Sebagai langkah solutif menuju pertanian berkelanjutan, Aidan membagikan implementasi Precision Agriculture yang diadopsi di AS. Melalui integrasi mekanisasi modern, pemanfaatan data satelit, data sensor tanah, hingga penggunaan varietas unggul hasil pemuliaan yang adaptif iklim, input produksi dapat ditekan seminimal mungkin sekaligus mengoptimalkan produktivitas lahan secara berkelanjutan.

Melalui penyelenggaraan summer course bersama pakar seperti Aidan K. Bobholz, Fakultas Pertanian UGM terus memperkuat perannya sebagai pusat pembelajaran dan kolaborasi global dalam pengembangan pertanian berkelanjutan. Kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 2: Tanpa Kelaparan melalui penguatan inovasi sistem pangan, SDG 4: Pendidikan Berkualitas melalui pertukaran pengetahuan internasional, SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui pemanfaatan teknologi pertanian presisi, SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim melalui pengembangan strategi adaptasi dan mitigasi risiko iklim di sektor pertanian, serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi akademik internasional.

 

Penulis: Rani Nur Rochim

Editor: Tantriani

Dokumentasi: Tim SC-STAF 2026

Jejak Kreativitas Mahasiswa PKP UGM di PEKSIMIPROV DIY 2026

Prestasi Tuesday, 14 July 2026

Ajang Pekan Seni Mahasiswa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (PEKSIMIPROV DIY) 2026 yang digelar pada 24 Juni 2026 kembali menjadi panggung penting bagi mahasiswa untuk menyalurkan bakat dan kreativitas. Kompetisi yang mempertemukan berbagai perguruan tinggi di DIY ini tidak hanya menjadi arena perlombaan, tetapi juga ruang pembelajaran, kolaborasi, dan penguatan karakter generasi muda melalui seni.

Dalam cabang Desain Poster, Cantik Djatoek Fadillah, mahasiswa Prodi Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian angkatan 2025, Universitas Gadjah Mada, berhasil meraih Juara III. Prestasi ini menjadi bukti nyata bahwa kerja keras, ketekunan, dan semangat berkarya mampu menghasilkan capaian yang membanggakan, sekalipun di tengah persaingan yang ketat.

Cantik berbagi refleksi atas pengalaman berharga tersebut. “PEKSIMIPROV DIY menjadi pijakan berharga bagiku untuk mengukir prestasi dan mengharumkan nama Universitas Gadjah Mada. Meski target awal adalah melangkah ke panggung nasional, berdiri di ajang ini sebagai juara menyadarkanku betapa bernilainya setiap proses dan pencapaian yang telah diraih. Mengingat lamanya persiapan, bimbingan secara berkala, serta perjuangan membagi waktu antara kuliah dan latihan, aku sangat bersyukur. Terlebih, kompetisi ini mempertemukanku dengan orang-orang hebat yang luar biasa berbakat. PEKSIMIPROV DIY memang telah usai, namun ruang tumbuh untuk diriku masih menjadi bagian dari cerita terbaik dalam proses membawa nama baik Universitas Gadjah Mada,” ungkapnya.

Lebih dari sekadar raihan juara, pencapaian ini mencerminkan komitmen Universitas Gadjah Mada dalam mendukung pengembangan potensi mahasiswa di bidang seni dan budaya. Partisipasi mahasiswa dalam ajang ini memperkuat reputasi UGM sebagai institusi yang tidak hanya unggul dalam akademik, tetapi juga mendorong mahasiswa untuk berkiprah dalam ranah kreatif, memperkaya pengalaman belajar, dan memperluas kontribusi sosial.

Prestasi Cantik juga memiliki relevansi dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan seni mendukung SDG 4: Pendidikan Berkualitas melalui pengembangan kreativitas, kemampuan berpikir kritis, serta pembelajaran yang holistik di luar ruang kelas. Keberhasilan Cantik sebagai mahasiswa perempuan dalam meraih prestasi di tingkat provinsi juga mencerminkan semangat SDG 5: Kesetaraan Gender, yang mendorong kesempatan yang setara bagi setiap individu untuk berkembang dan berprestasi. Kreativitas yang diwujudkan melalui desain poster sejalan dengan SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, mengingat seni dan desain merupakan bagian dari industri kreatif yang berkontribusi terhadap pembangunan ekonomi berkelanjutan. Kesempatan yang setara bagi mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi untuk berkompetisi mencerminkan nilai SDG 10: Berkurangnya Kesenjangan. Di sisi lain, seni berperan dalam memperkuat identitas budaya, ekspresi masyarakat, dan kehidupan komunitas sehingga mendukung SDG 11: Kota dan Komunitas Berkelanjutan. Tidak kalah penting, penyelenggaraan PEKSIMIPROV yang melibatkan berbagai perguruan tinggi di Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi wujud implementasi SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi antarinstitusi dalam mengembangkan potensi generasi muda.

Penulis: Beny Nabila Happy Fauziah

Editor: Tantriani

Dokumentasi: Cantik Djatoek Fadillah

Harmoni Prestasi Mahasiswa PKP UGM di Panggung PEKSIMIPROV DIY 2026

Prestasi Tuesday, 14 July 2026

Semangat seni dan kreativitas mahasiswa kembali bergema di Daerah Istimewa Yogyakarta melalui ajang Pekan Seni Mahasiswa Provinsi (PEKSIMIPROV DIY) 2026 pada 24 Juni 2026. Kompetisi bergengsi yang mempertemukan berbagai perguruan tinggi di wilayah ini menjadi wadah ekspresi, kolaborasi, sekaligus pembuktian bahwa seni memiliki peran penting dalam membangun karakter generasi muda.

Dalam suasana penuh antusiasme, M. Al Hazmi Kynan, mahasiswa Prodi Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian angkatan 2024, Universitas Gadjah Mada, tampil bersama tim vokal grup dan berhasil meraih Juara III. Pencapaian ini menjadi bukti nyata bahwa dedikasi, kerja sama, dan keberanian untuk tampil di panggung kompetisi mampu menghasilkan prestasi yang membanggakan, sekalipun di tengah persaingan ketat antar mahasiswa dari berbagai kampus.

Kynan mengungkapkan rasa syukur dan kebanggaannya atas kesempatan berharga tersebut. “Berpartisipasi dalam PEKSIMIPROV DIY 2026 menjadi pengalaman yang berkesan sekaligus berharga bagi saya pada tahun kedua perkuliahan ini. Suatu kebanggaan bagi saya dan tim karena mendapat kesempatan untuk mewakili Universitas Gadjah Mada dalam ajang perlombaan ini. Saya juga bersyukur dapat menjadi bagian dari tim hebat yang berhasil meraih Juara 3. Meskipun hasil yang didapat masih belum sesuai dengan ekspektasi, pencapaian ini tetap menjadi motivasi bagi saya untuk terus berkembang serta memberikan kontribusi yang lebih baik kedepannya,” ujarnya.

Lebih dari sekadar raihan juara, keikutsertaan mahasiswa UGM dalam PEKSIMIPROV DIY 2026 mencerminkan komitmen universitas dalam mendukung pengembangan potensi mahasiswa di bidang seni dan budaya. Ajang ini memperkuat reputasi UGM sebagai institusi yang tidak hanya unggul dalam akademik, tetapi juga mendorong mahasiswa untuk berkiprah dalam ranah kreatif, memperkaya pengalaman belajar, dan memperluas kontribusi sosial.

Prestasi Kynan dan tim vokal grup juga memiliki relevansi dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Partisipasi mahasiswa dalam kegiatan seni mendukung SDG 4: Pendidikan Berkualitas melalui pengayaan pengalaman belajar, pengembangan kreativitas, serta pembentukan karakter di luar ruang kelas. Kesempatan yang setara bagi seluruh mahasiswa untuk mengembangkan bakat dan berprestasi di bidang seni juga mencerminkan semangat SDG 5: Kesetaraan Gender, yang mendorong inklusivitas dan kesempatan yang sama bagi setiap individu. Kreativitas yang diasah melalui seni pertunjukan sejalan dengan SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, mengingat seni dan industri kreatif merupakan sektor yang berkontribusi terhadap pembangunan ekonomi berkelanjutan. Keikutsertaan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi dalam kompetisi ini mencerminkan nilai SDG 10: Berkurangnya Kesenjangan melalui penyediaan kesempatan yang setara untuk berkompetisi dan berkembang. Selain itu, seni memiliki peran penting dalam memperkuat identitas budaya, mempererat hubungan antarkomunitas, serta mendukung SDG 11: Kota dan Komunitas Berkelanjutan. Penyelenggaraan PEKSIMIPROV DIY yang melibatkan berbagai perguruan tinggi dan pemangku kepentingan juga menjadi wujud implementasi SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi dalam mengembangkan potensi generasi muda dan memajukan seni budaya.

Penulis: Beny Nabila Happy Fauziah

Editor: Tantriani

Dokumentasi: M. Al Hazmi Kynan

 

123…63

BERITA FAKULTAS

  • Pembekalan Konsep HPU bagi Panitia PIONIR Organik 2026 menjadi Bekal Wujudkan Lingkungan Akademik Sehat
    16/07/2026
  • Harmonisasi Revisi UU Perlindungan Petani: Kontribusi Guru Besar UGM untuk SDGs  
    16/07/2026
  • Executive Leadership Panel: Indonesia Seed Industry Leadership Forum 2026
    15/07/2026
  • Faperta UGM Bahas SDM dan Kolaborasi Industri Benih dalam Indonesia Seed Industry Leadership Forum 2026
    15/07/2026
  • Forum Industri Benih Hortikultura Dorong Kompetensi Lulusan dan Kolaborasi Riset Strategis
    15/07/2026
Universitas Gadjah Mada

FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA

Jl. Flora Bulaksumur Yogyakarta 55281
faperta@ugm.ac.id
Telp./Fax.: +62 (274) 563062

TENTANG FAKULTAS

Visi & Misi

Sasaran & Tujuan

Struktur Organisasi

 

INFORMASI PUBLIK

Permohonan Informasi Publik

Daftar Informasi Tersedia Setiap Saat

Daftar Informasi Tersedia Secara Berkala

JURNAL ONLINE

Jurnal Ilmu Pertanian

Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia

Jurnal Ilmu Perikanan

Vegetalika

Jurnal Agro Ekonomi

PENELITIAN & PUBLIKASI

Penelitian

Publikasi

Buku Karya Dosen

 

FASILITAS PENDUKUNG

Perpustakaan Fakultas

Laboratorium

Ebooks

Health Promoting Unit (HPU) Faperta

KERJASAMA

Kerjasama Fakultas

Kunjungan Sekolah

 

PENDAFTARAN

Sarjana

Pascasarjana

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY

[EN] We use cookies to help our viewer get the best experience on our website. -- [ID] Kami menggunakan cookie untuk membantu pengunjung kami mendapatkan pengalaman terbaik di situs web kami.I Agree / Saya Setuju