
Transformasi teknologis menuju pertanian regeneratif tidak akan berjalan optimal tanpa keberhasilan adopsi di tingkat petani dan efisiensi rantai pasok agribisnis. Hal tersebut digarisbawahi oleh Ketua Departemen Sosial Ekonomi Pertanian Faperta UGM, Prof. Dr. Ir. Irham, M.Sc., saat memberikan paparan pada acara sosialisasi departemen di Auditorium Prof. Harjono Danoesastro UGM, Selasa (11/8)
Departemen Sosial Ekonomi Pertanian berperan penting dalam memetakan perilaku adopsi petani, merancang tata kelola kebijakan, menganalisis kelayakan ekonomi, hingga memperkuat kelembagaan kelompok tani di era digital. Keilmuan sosial ekonomi menjadi jembatan yang menyelaraskan inovasi teknis dari laboratorium (seperti benih unggul, biopestisida, dan alat dekarbonasi) agar dapat diterima secara sosial dan memberikan keuntungan finansial yang adil bagi petani.

Melalui pendampingan masyarakat dan kajian rantai nilai (value chain), Departemen Sosek Pertanian berkomitmen untuk memastikan bahwa implementasi Smart Eco Bioproduction mampu meningkatkan pendapatan bersih petani, mengurangi kesenjangan ekonomi pedesaan, serta menciptakan ekosistem bisnis pertanian yang inklusif dan tangguh.
Pemaparan Departemen Sosek ini semakin memperkuat komitmen dan kontribusi Faperta UGM dalam pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan, khususnya SDG 1: Tanpa Kemiskinan melalui peningkatan efisiensi dan kesejahteraan ekonomi usaha tani sebagai upaya mendukung pengentasan kemiskinan di kawasan pedesaan; SDG 2: Tanpa Kelaparan melalui penguatan sistem agribisnis, rantai nilai, dan kelembagaan petani untuk mendukung ketahanan dan keberlanjutan sistem pangan; SDG 4: Pendidikan Berkualitas melalui pendampingan dan pemerataan akses masyarakat, khususnya petani, terhadap pengetahuan serta inovasi pertanian yang dikembangkan di lingkungan akademis Faperta UGM; SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi melalui pembangunan rantai nilai agribisnis yang adil, menguntungkan, inklusif, dan berkelanjutan bagi pelaku usaha tani; SDG 10: Berkurangnya Kesenjangan melalui penguatan kelembagaan kelompok tani dan pengembangan adopsi teknologi yang inklusif untuk mengurangi kesenjangan ekonomi masyarakat pedesaan; serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui penguatan sinergi antara perguruan tinggi, petani, pemerintah, dunia usaha, dan pemangku kepentingan lainnya dalam mendorong transformasi agribisnis yang berkelanjutan.
Penulis: Rani Nur Rochim
Editor: Tantriani
Dokumentasi: Unit Media Faperta UGM




















