
Buah jeruk merupakan salah satu komoditas hortikultura unggulan di Indonesia dengan total produksi mencapai 2,45 juta ton pada tahun 2024 serta nilai ekonomi menembus Rp 53,4 triliun. Namun, keberlanjutan mata pencaharian sebagian besar petani kecil jeruk kini terancam oleh penyakit Huanglongbing (HLB) atau Citrus Vein Phloem Degeneration (CVPD) yang disebabkan oleh bakteri ‘Candidatus Liberibacter asiaticus’ (CLas). Menjawab tantangan destruktif ini, tim peneliti Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (Faperta UGM) mengambil peran aktif dalam upaya mitigasi dan penyelamatan industri jeruk nasional hingga global.
Tim Faperta UGM yang dipimpin oleh Prof. Dr. Ir. Siti Subandiyah, M.Agr.Sc. menjalankan proyek riset dan pengembangan kapasitas bertajuk “Preparedness and management of huánglóngbìng (citrus greening disease) to safeguard the future of the citrus industry in Australia, China and Indonesia” (HORT/2019/164). Proyek riset internasional yang didanai oleh Australian Centre for International Agricultural Research (ACIAR) ini dilaksanakan melalui kolaborasi strategis bersama NSW Department of Primary Industries and Regional Development (NSW-DPIRD) Australia yang dipimpin Dr. Meena Thakur, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Citrus Australia Ltd., serta Citrus Research Institute of Chinese Academy of Agricultural Sciences.
Sebagai langkah konkrit diseminasi pengetahuan dan peningkatan kewaspadaan di lapangan, tim gabungan yang terdiri dari pakar Departemen Proteksi Tanaman UGM, Departemen Sosial Ekonomi Pertanian UGM, PIAT UGM, BRIN, Universitas Tidar, hingga NSW-DPIRD telah mengembangkan media edukasi berupa poster dan brosur panduan. Media ini dirancang khusus untuk membantu petani, penyuluh pertanian, petugas pengendali hama, hingga pemerintah daerah dalam mengenali gejala awal HLB serta menerapkan strategi pencegahan yang efektif.
Inisiatif riset dan kolaborasi lintas negara ini sekaligus memperkuat kontribusi nyata Faperta UGM dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), antara lain SDG 1: Tanpa Kemiskinan melalui keterlibatan upaya perlindungan sumber pendapatan dan mata pencaharian utama para petani jeruk kecil dari risiko gagal panen akibat penyakit HLB, SDG 2: Tanpa Kelaparan melalui upaya kontribusi menjaga ketahanan pangan dan kestabilan rantai pasok hortikultura nasional melalui perlindungan komoditas buah jeruk, SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab melalui praktik pengelolaan dan budidaya tanaman jeruk yang berkelanjutan serta bebas dari hama penyakit destruktif, serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi riset dan pengembangan kapasitas multisectoral skala internasional antar-perguruan tinggi, lembaga riset, dan pemerintah dari Indonesia, Australia, serta Tiongkok.
Penulis: Rani Nur Rochim
Editor: Tantriani