• Tentang UGM
  • Informasi Publik
  • IT Center
  • Perpustakaan UGM
  • Webmail UGM
  • Pertanian Digital
    • Desa Apps
    • Lentera DESA
  • English Version
Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
Fakultas Pertanian
  • Home
  • Tentang Kami
    • Tentang Fakultas
      • Visi & Misi
      • Sasaran & Tujuan
      • Struktur Organisasi
    • Program Studi
    • Sarjana
      • Leaflet dan Video Promosi Program Studi
      • Uang Kuliah Tunggal (UKT) Program Sarjana
      • SOP Perkuliahan Sarjana
      • Panduan Akademik Sarjana
      • Kurikulum Sarjana
      • Jadwal Kuliah & Praktikum
      • PROGRAM KAMPUS BERDAMPAK
      • Program Fastrack Faperta
      • Insentif Prestasi Mahasiswa
      • Surat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI)
      • Virtual Office Academic FAPERTA UGM
      • Info Beasiswa
      • International Undergraduate Class (IUC)
      • RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN PEMBELAJARAN SEMESTER (RPKPS)
    • Pascasarjana
      • INFORMASI PERKULIAHAN PASCASARJANA
      • SOP PERKULIAHAN PASCASARJANA
      • Panduan Akademik Pascasarjana
      • Uang Kuliah Tunggal (UKT) Program Profesi dan Pascasarjana
      • Aturan Akademik Pascasarjana
      • Kurikulum Pascasarjana
      • RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN PEMBELAJARAN SEMESTER (RPKPS)
      • Daftar Pembimbing S2 Pascasarjana
      • Daftar Promotor S3 Pascasarjana
      • Dokumen Seminar dan Ujian S3 Pascasarjana
      • Persyaratan Pendaftaran Doktor Ilmu Pertanian
    • Kemahasiswaan
    • Alumni
      • TRACER STUDY
      • Lowongan Kerja
    • Fasilitas Pendukung
      • AGROTROPICA LEARNING CENTER UGM
      • Perpustakaan
      • UGM Library Video Profile
      • Agriculture Ebooks
      • HPU
    • AIMS
    • Jaminan Mutu
      • EDOM Sarjana
      • EDOM Pascasarjana
      • Standard Operating Procedure – EDOM
      • Rencana Tindak Lanjut EDOM
      • Laporan RTM
      • Panduan OBA Simaster
      • Panduan Pengisian SIMONI
      • Kepuasan Stakeholder
    • Profil Dosen
    • Zone Integritas
    • Rencana Strategis
    • Target Capaian Kinerja
    • Inovasi dan Kajian Akademik
    • Laporan Tahunan
  • PMB
  • Departemen
    • Budidaya Pertanian
    • Hama dan Penyakit Tumbuhan
    • Mikrobiologi Pertanian
    • Perikanan
      • Departemen Perikanan
      • Program Studi Akuakultur
      • Program Studi Manajemen Sumber Daya Akuatik
      • Program Studi Teknologi hasil Perikanan
    • Sosial Ekonomi Pertanian
      • Program Studi Ekonomi Pertanian dan Agribisnis
      • Program Studi Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian
    • Tanah
  • Penelitian & Publikasi
    • PENELITIAN
    • PENGABDIAN MASYARAKAT
    • PUBLIKASI
      • Buku
    • KERJASAMA
    • Buku Karya Dosen
  • Download
    • Peraturan
    • Download panduan kuliah online
    • Jadwal Kuliah & Praktikum
    • Bahan Kuliah dan Praktikum
    • Formulir
    • Agriculture Ebooks
    • PROSEDUR OPERASIONAL STANDAR (POS) KEGIATAN FAKULTAS
    • Petunjuk Penulisan Laporan Akhir PKM 2020
    • Panduan Pelayanan Akademik Faperta UGM
    • E-Booklet PPKS UGM
    • Buku Kenangan Wisuda
  • Beranda
  • SDG 12: Konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab
Arsip:

SDG 12: Konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab

Forum Maritim Bali Dorong Peran Generasi Muda dalam Menjaga Laut

berita Friday, 25 September 2026

Forum Maritim Bali (FMB) menghadirkan perspektif lintas generasi mengenai pentingnya menjaga sumber daya maritim Indonesia dalam rangkaian Family Gathering Lustrum XVI Dies Natalis ke-80 Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (Faperta UGM). Kegiatan tersebut menghadirkan empat pemateri dengan latar belakang duta yang berbeda untuk membahas keterkaitan antara pangan, ekosistem laut, kesejahteraan masyarakat, dan peran generasi muda.

Empat pemateri yang hadir yakni Keyza Morenata, salah satu Duta Protein Indonesia 2024; Gusti Agung Ayu Ananda Triskajaya, Duta Kids Maritim Bali 2024; Putu Winie Arisachi Karita, Runner Up 3 Duta Maritim Bali 2024; serta Ni Komang Larasati Kusumawardana, Duta Maritim Bali 2024.

Dalam pemaparannya, Keyza Morenata mengangkat materi mengenai pentingnya konsumsi ikan dan protein berkualitas. Ia menekankan bahwa edukasi mengenai pangan dan protein tidak cukup berhenti pada penyampaian informasi, tetapi perlu diwujudkan melalui solusi yang nyata. Upaya tersebut dapat dilakukan dengan meningkatkan kesadaran masyarakat untuk mengonsumsi protein yang cukup, aman, dan bergizi, memastikan mutu ikan yang dikonsumsi, serta mendukung sumber pangan lokal dengan tetap menjaga keberlanjutan laut.

“Edukasi tidak cukup berhenti pada kata-kata, tetapi harus diwujudkan melalui solusi yang nyata,” ujar Keyza.

Perspektif mengenai keberlanjutan laut kemudian dilanjutkan oleh Gusti Agung Ayu Ananda Triskajaya melalui materi “Peran Gen Alfa dalam Menjaga Ekosistem Terumbu Karang.” Ia menyoroti karakter Generasi Alfa yang tumbuh berdampingan dengan teknologi sebagai peluang untuk memperluas edukasi mengenai lingkungan laut. Menurutnya, teknologi dapat dimanfaatkan untuk menyebarkan informasi sekaligus mengajak lebih banyak generasi muda untuk peduli terhadap ekosistem terumbu karang.

“Kami, Generasi Alfa, tidak hanya sebagai penerus, tetapi sebagai bagian dari solusi,” ungkap Ananda.

Sementara itu, Putu Winie Arisachi Karita membahas keterkaitan erat antara ekosistem dan kesejahteraan masyarakat. Ekosistem laut tidak hanya menjadi habitat bagi berbagai organisme, tetapi juga memiliki peran penting sebagai sumber pangan dan mata pencaharian masyarakat, khususnya masyarakat pesisir. Oleh karena itu, upaya menjaga kelestarian laut juga berkaitan dengan keberlanjutan kehidupan masyarakat yang bergantung pada sumber daya tersebut.

“Menjaga ekosistem laut bukan hanya tentang menjaga alam, tetapi juga menjaga kehidupan dan kesejahteraan masyarakat,” tutur Putu.

Pembahasan kemudian ditutup dengan perspektif Generasi Z yang disampaikan oleh Ni Komang Larasati Kusumawardana melalui materi “Peran Gen Z dalam Menjaga dan Melestarikan Sumber Daya Maritim.” Ia menekankan bahwa generasi muda perlu mengambil peran aktif dalam menjaga ekosistem laut, bukan sekadar menjadi penonton. Peran tersebut dapat diwujudkan melalui berbagai langkah konkret, di antaranya digital movement, edukasi dan sosialisasi, serta aksi nyata dalam menjaga lingkungan laut.

“Kami tidak hanya menjadi penonton, tetapi menjadi garda terdepan untuk mencegah kerusakan dan melestarikan ekosistem laut,” ujar Larasati.

Kegiatan Forum Maritim Bali dalam rangkaian Family Gathering Lustrum XVI Dies Natalis ke-80 Faperta UGM berkontribusi pada pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 14: Ekosistem Lautan melalui edukasi mengenai perlindungan ekosistem laut, terumbu karang, dan keberlanjutan sumber daya maritim. Pembahasan mengenai konsumsi ikan dan protein berkualitas juga berkaitan dengan SDG 2: Tanpa Kelaparan dan SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera, terutama dalam mendorong kesadaran terhadap pangan yang aman, bergizi, dan berkualitas. Keterkaitan sumber daya laut dengan mata pencaharian masyarakat pesisir mendukung SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, sementara ajakan untuk menjaga sumber daya laut secara berkelanjutan sejalan dengan SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab. Edukasi dan keterlibatan generasi muda dalam menjaga ekosistem laut juga memperkuat kesadaran dan aksi masyarakat terhadap keberlanjutan lingkungan yang berkaitan dengan SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim.

Penulis: Arbi Darmawan

Editor: Tantriani

Dokumentasi: Media Faperta UGM

Duta Maritim Bali Kenalkan Potensi Tuna dan Pentingnya Keberlanjutan Laut kepada Generasi Muda

berita Friday, 25 September 2026

Potensi kelautan Indonesia tidak hanya perlu dimanfaatkan, tetapi juga dikenalkan dan dijaga keberlanjutannya oleh generasi muda. Pesan tersebut mengemuka dalam rangkaian kegiatan wawancara dan demonstrasi pengolahan tuna yang menghadirkan para Duta Maritim Bali dalam Family Gathering Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (Faperta UGM) di Yogyakarta. Melalui kegiatan tersebut, para duta memperkenalkan ikan tuna dari berbagai perspektif, mulai dari nilai ekonomi dan kandungan gizi hingga peluang inovasi pengolahan dan pentingnya menjaga kesehatan ekosistem laut.

Ni Putu Indhira Laksmi Putri, Runner Up V Duta Maritim Bali 2026, menjelaskan bahwa tuna dapat menjadi sarana edukasi yang efektif untuk memperkenalkan isu kelautan kepada masyarakat, khususnya generasi muda. Menurutnya, tuna memiliki karakteristik yang relevan untuk menghubungkan aspek ekonomi, pangan, kesehatan, dan keberlanjutan sumber daya laut.

“Menurut saya, ikan tuna bisa menjadi simbol yang efektif untuk mengedukasi masyarakat, terutama Gen Z dan Gen Alpha,” ujar Ni Putu Indhira.

Ia menjelaskan bahwa tuna merupakan salah satu komoditas perikanan yang memiliki nilai ekonomi dan pasar yang luas. Di sisi lain, tuna juga dikenal sebagai sumber protein dan mengandung berbagai zat gizi, termasuk asam lemak omega-3. Potensi tersebut dapat menjadi pintu masuk untuk meningkatkan apresiasi generasi muda terhadap kekayaan sumber daya kelautan Indonesia.

Namun, pemanfaatan tuna perlu diiringi dengan perhatian terhadap keberlanjutan ekosistem laut. Ni Putu Indhira menyoroti ancaman seperti overfishing dan pencemaran sampah plastik yang dapat memengaruhi keberlanjutan sumber daya perikanan.

“Jika ikan tuna terancam oleh overfishing dan sampah plastik, maka inilah yang menjadi sinyal darurat bahwa laut kita sedang tidak baik-baik saja,” tuturnya.

Perspektif tersebut menunjukkan bahwa tuna tidak hanya dapat dipandang sebagai komoditas pangan dan ekonomi, tetapi juga sebagai bagian dari ekosistem laut yang pemanfaatannya perlu dilakukan secara bertanggung jawab. Dengan demikian, pengembangan sektor perikanan perlu berjalan beriringan dengan upaya menjaga kesehatan dan keberlanjutan ekosistem laut.

Sementara itu, Ni Kadek Selbi Tariadani, Runner Up Duta Maritim Bali 2026, menyoroti pentingnya menghubungkan potensi sumber daya kelautan dengan inovasi pengolahan pangan. Hal tersebut ditunjukkan melalui demonstrasi pengolahan tuna yang ditujukan kepada peserta Family Gathering di lingkungan Faperta UGM.

Dalam wawancara tersebut, Ni Kadek Selbi menyampaikan bahwa potensi hasil perikanan dari wilayah perairan Indonesia, termasuk kawasan selatan Yogyakarta, dapat dikembangkan melalui berbagai inovasi pengolahan. Kegiatan demonstrasi menjadi sarana untuk memperkenalkan bahwa hasil perikanan tidak hanya dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan, tetapi juga memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk bernilai tambah.

Ia berharap kegiatan tersebut dapat mendorong mahasiswa Faperta UGM untuk semakin tertarik mengembangkan inovasi dalam pengolahan hasil perikanan. Menurutnya, potensi pangan Indonesia berasal dari sumber daya daratan maupun lautan yang dapat dikembangkan secara terpadu.

Pengolahan hasil perikanan seperti tuna juga dapat menjadi salah satu pendekatan untuk meningkatkan nilai tambah komoditas sekaligus memperkenalkan pentingnya pemanfaatan sumber daya pangan secara optimal dan bertanggung jawab.

Dimensi pendidikan dan keberlanjutan turut disampaikan oleh Ni Kadek Keisha Suparta, Runner Up II Duta Kids Maritim Bali 2024. Ia menekankan pentingnya membangun kesadaran mengenai sektor maritim sejak usia dini. Menurutnya, kepedulian terhadap laut tidak hanya diwujudkan melalui upaya menjaga kebersihan, tetapi juga melalui proses mengenal, menghargai, dan melestarikan kekayaan maritim Indonesia.

“Kami sebagai Duta Kids Maritim Bali berharap agar generasi muda dapat menjadi generasi yang peduli, bertanggung jawab, dan ikut berperan dalam menjaga dan memajukan potensi Indonesia,” tutur Ni Kadek Keisha.

Ia juga mengaitkan peran generasi muda dengan pengembangan ekonomi biru dan cita-cita membangun Generasi Emas 2045. Karena itu, edukasi mengenai maritim perlu dilakukan secara berkelanjutan agar kesadaran dan tanggung jawab terhadap laut dapat tumbuh sejak dini.

Pesan serupa disampaikan oleh I.G.A. Kineta Adiaraya, Runner Up I Pra Kids Maritim Bali 2025. Menurutnya, kepedulian terhadap laut bukan hanya tanggung jawab masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir. Masyarakat yang berada jauh dari laut pun dapat berkontribusi melalui perilaku sehari-hari.

“Walaupun saya tinggal jauh dari pesisir, saya berhak untuk menjaga laut,” tegas I.G.A. Kineta.

Ia mencontohkan berbagai tindakan sederhana yang dapat dilakukan, seperti tidak membuang sampah sembarangan, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, menghemat air, memilah sampah, serta memanfaatkan media sosial untuk menyebarluaskan edukasi mengenai lingkungan laut.

Rangkaian wawancara dan demonstrasi pengolahan tuna tersebut memperlihatkan bahwa isu maritim memiliki keterkaitan yang luas dengan kehidupan masyarakat. Potensi tuna dapat dibahas dari sisi pangan dan gizi, nilai ekonomi, inovasi pengolahan, hingga keberlanjutan sumber daya dan ekosistem laut.

Kehadiran Duta Maritim Bali di lingkungan perguruan tinggi juga menunjukkan bahwa edukasi mengenai kelautan dapat dibangun melalui berbagai pendekatan yang dekat dengan generasi muda. Pengenalan terhadap komoditas seperti tuna menjadi salah satu cara untuk menghubungkan pengetahuan mengenai sumber daya laut dengan persoalan pangan, lingkungan, dan ekonomi.

Melalui kegiatan tersebut, generasi muda didorong untuk tidak hanya menjadi konsumen sumber daya maritim, tetapi juga memahami nilai, potensi, serta tanggung jawab dalam menjaga keberlanjutannya. Kesadaran tersebut dapat dimulai dari tindakan sederhana di lingkungan masing-masing dan berkembang menjadi partisipasi yang lebih luas dalam mendukung keberlanjutan sektor maritim Indonesia.

Kegiatan ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 2: Tanpa Kelaparan melalui pengenalan hasil perikanan sebagai sumber pangan dan protein, SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui edukasi mengenai ikan sebagai bagian dari pangan bergizi, SDG 4: Pendidikan Berkualitas melalui peningkatan literasi generasi muda mengenai potensi, pemanfaatan, dan keberlanjutan sumber daya maritim, SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi melalui pengenalan nilai ekonomi dan peluang pengembangan hasil perikanan, SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui demonstrasi serta pengembangan inovasi pengolahan hasil perikanan menjadi produk bernilai tambah, serta SDG 10: Berkurangnya Kesenjangan melalui perluasan akses pengetahuan dan edukasi mengenai isu kemaritiman kepada generasi muda.

Kegiatan ini juga sejalan dengan capaian SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab melalui pemanfaatan dan pengolahan hasil perikanan secara lebih optimal serta pengurangan penggunaan plastik sekali pakai, SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim melalui peningkatan kesadaran mengenai pentingnya menjaga ekosistem laut dan pesisir, SDG 14: Ekosistem Lautan melalui edukasi tentang keberlanjutan sumber daya ikan, ancaman overfishing, pengurangan pencemaran, dan perlindungan ekosistem laut; SDG 15: Ekosistem Daratan melalui penguatan kesadaran bahwa pengelolaan sampah dan aktivitas di daratan turut memengaruhi kesehatan ekosistem pesisir dan laut, serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui interaksi dan kolaborasi antara Duta Maritim Bali, perguruan tinggi, mahasiswa, dan masyarakat dalam memperkuat edukasi serta kepedulian terhadap keberlanjutan maritim.

Melalui pengenalan potensi tuna dan edukasi mengenai keberlanjutan laut, kegiatan ini menegaskan bahwa membangun budaya maritim tidak harus dimulai dari wilayah pesisir. Kepedulian dapat tumbuh dari ruang pendidikan, keluarga, komunitas, hingga tindakan sederhana sehari-hari. Dari sana, generasi muda dapat mengambil peran dalam memastikan kekayaan laut Indonesia tetap memberikan manfaat secara berkelanjutan bagi generasi sekarang dan mendatang.

Penulis: Nailah Zahrah Anggun Shalihah

Editor: Tantriani
Dokumentasi: Unit Media Faperta UGM

 

Perkuat Kompetensi Internal, Tim PPK Ormawa KAB UGM Gelar Pembekalan Pembuatan Agen Pengendali Hayati sebagai Bagian Program ASAGRI

berita Wednesday, 23 September 2026

Tim PPK Ormawa Klinik Agromina Bahari (KAB) Universitas Gadjah Mada kembali melaksanakan rangkaian kegiatan Program ASAGRI (Agents for Sustainable Agricultural-Practice) melalui Pembekalan untuk Sosialisasi Kedua Agen Pengendali Hayati (APH) pada Minggu (5/7) pukul 09.00–13.00 WIB di Laboratorium Klinik Tanaman, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh anggota Tim PPK Ormawa ASAGRI UGM beserta volunteer sebagai bentuk penguatan kapasitas internal sebelum pelaksanaan Sosialisasi Kedua kepada Kelompok Wanita Tani (KWT) di Dukuh Kepek, Kalurahan Timbulharjo, Kapanewon Sewon, Kabupaten Bantul. Pembekalan didampingi secara langsung oleh dosen pembimbing, Dr. Ady Bayu Prakoso, S.P., yang memberikan materi sekaligus pendampingan praktik mengenai Agen Pengendali Hayati (APH).

Program pengabdian ASAGRI merupakan salah satu bentuk implementasi Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) yang berfokus pada penguatan ketahanan pangan melalui pemanfaatan Agen Pengendali Hayati (APH). Program ini diinisiasi sebagai upaya untuk mengurangi ketergantungan terhadap pestisida kimia sekaligus meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai alternatif pengendalian organisme pengganggu tanaman yang lebih aman dan ramah lingkungan. Melalui berbagai rangkaian kegiatan, mulai dari pemetaan, sosialisasi, pembekalan, praktik laboratorium, hingga pendampingan kepada Kelompok Wanita Tani (KWT), Tim PPK Ormawa KAB Universitas Gadjah Mada berkomitmen menghadirkan inovasi yang dapat diterapkan secara berkelanjutan di Dukuh Kepek, Kalurahan Timbulharjo.

Pembekalan ini menjadi tahapan penting sebelum dilaksanakannya Sosialisasi Kedua kepada masyarakat. Berbeda dengan sosialisasi pertama yang berfokus pada pengenalan konsep Agen Pengendali Hayati, pemetaan titik tumbuh jamur alami, media tumbuh, dan isolasi, pembekalan kali ini menitikberatkan pada penguatan kemampuan teknis seluruh anggota tim. Hal ini dilakukan agar setiap anggota memiliki pemahaman yang sama mengenai prosedur pembuatan media tumbuh jamur, teknik sterilisasi, serta proses perbanyakan Agen Pengendali Hayati sehingga pelaksanaan demonstrasi kepada masyarakat nantinya dapat berlangsung secara optimal dan sesuai dengan standar laboratorium.

Pada sesi materi, peserta memperoleh penjelasan mengenai media Potato Dextrose Agar (PDA) sebagai media standar yang digunakan dalam proses isolasi, perbanyakan, dan pemeliharaan jamur. Dosen pembimbing menjelaskan fungsi masing-masing bahan penyusun media, mulai dari kentang sebagai sumber nutrisi alami, dextrose sebagai sumber karbon bagi pertumbuhan jamur, hingga agar sebagai bahan pemadat media. Selain itu, peserta juga diberikan pemahaman mengenai pentingnya teknik kerja aseptik untuk meminimalkan kontaminasi selama proses kultur jamur.

Setelah penyampaian materi, kegiatan dilanjutkan dengan praktik pembuatan media Potato Dextrose Agar (PDA). Praktik diawali dengan mengupas, mencuci, dan memotong kentang menjadi ukuran yang lebih kecil sebelum direbus hingga lunak. Air rebusan kentang kemudian disaring untuk memperoleh filtrat yang selanjutnya dicampurkan dengan dextrose dan agar. Seluruh peserta mengikuti setiap tahapan secara langsung sehingga memahami fungsi dari masing-masing proses dalam menghasilkan media tumbuh jamur yang sesuai standar.

Larutan media kemudian dipanaskan hingga seluruh bahan tercampur secara homogen sebelum volumenya disesuaikan menjadi satu liter. Setelah itu, media dituangkan ke dalam botol kultur untuk menjalani proses sterilisasi menggunakan autoklaf. Pada tahap ini, peserta memperoleh penjelasan mengenai pentingnya sterilisasi sebagai upaya menghilangkan mikroorganisme lain yang dapat menyebabkan kontaminasi pada media. Selain memahami prosedur penggunaan autoklaf, peserta juga diberikan pemahaman mengenai standar keselamatan kerja di laboratorium selama proses sterilisasi berlangsung.

Selain praktik pembuatan media, peserta juga diperkenalkan dengan salah satu jamur entomopatogen yang dimanfaatkan sebagai Agen Pengendali Hayati, yaitu Beauveria bassiana. Melalui pengamatan secara langsung terhadap kultur jamur, peserta dapat mengenali karakteristik pertumbuhan koloni pada media serta memahami mekanisme infeksi jamur terhadap serangga hama. Materi ini menjadi bekal penting bagi seluruh anggota tim karena nantinya akan disampaikan kembali kepada masyarakat pada saat pelaksanaan Sosialisasi Kedua sebagai bentuk edukasi mengenai pengendalian hama yang lebih ramah lingkungan.

Kegiatan pembekalan berlangsung secara interaktif. Peserta aktif berdiskusi mengenai teknik pembuatan media, proses kultur jamur, hingga penerapan Agen Pengendali Hayati pada budidaya tanaman. Berbagai pertanyaan yang muncul selama kegiatan dijawab secara langsung oleh dosen pembimbing sehingga peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga memperoleh pemahaman praktis berdasarkan pengalaman di laboratorium. Antusiasme peserta terlihat selama seluruh rangkaian kegiatan berlangsung, mulai dari penyampaian materi hingga sesi praktik.

Kelancaran kegiatan turut didukung oleh kesiapan fasilitas Laboratorium Klinik Tanaman Universitas Gadjah Mada. Seluruh alat dan bahan yang diperlukan, seperti autoklaf, peralatan gelas laboratorium, bahan pembuatan media, hingga kultur jamur yang digunakan sebagai media pembelajaran, telah dipersiapkan dengan baik sebelum kegiatan dimulai. Kesiapan tersebut memungkinkan setiap tahapan pembekalan berjalan sesuai prosedur sehingga peserta dapat mengikuti praktik dengan aman, tertib, dan optimal.

Pembekalan untuk Sosialisasi Kedua menjadi salah satu tahapan penting dalam rangkaian Program ASAGRI untuk memastikan seluruh anggota Tim PPK Ormawa KAB Universitas Gadjah Mada beserta volunteer memiliki bekal pengetahuan dan keterampilan yang memadai sebelum terjun ke masyarakat. Dengan pemahaman yang telah diperoleh melalui pembekalan ini, diharapkan pelaksanaan Sosialisasi Kedua kepada Kelompok Wanita Tani (KWT) di Dukuh Kepek, Kalurahan Timbulharjo dapat berjalan lebih efektif sehingga masyarakat tidak hanya memahami manfaat Agen Pengendali Hayati secara teoritis, tetapi juga mampu menerapkannya secara mandiri dalam mendukung sistem pertanian yang lebih sehat, produktif, dan berkelanjutan.

Bersamaan dengan kegiatan ini, Faperta UGM terus berkontribusi dalam pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Kegiatan pembekalan dan rangkaian Program ASAGRI mendukung SDG 2: Tanpa Kelaparan melalui penguatan kapasitas masyarakat dalam menerapkan perlindungan tanaman yang lebih efektif dan berkelanjutan untuk mendukung produktivitas serta ketahanan pangan; SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui upaya mengurangi ketergantungan dan potensi paparan pestisida kimia berbahaya bagi petani dengan mendorong pemanfaatan Agen Pengendali Hayati; SDG 4: Pendidikan Berkualitas melalui pembelajaran berbasis praktik laboratorium, transfer pengetahuan, dan peningkatan kompetensi teknis mahasiswa serta volunteer yang kemudian diteruskan kepada masyarakat; SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi melalui pengembangan kompetensi, keterampilan teknis, dan green skills mahasiswa serta masyarakat dalam mendukung praktik pertanian yang lebih inovatif dan berkelanjutan; SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab melalui penerapan alternatif pengendalian hama yang dapat mengurangi ketergantungan terhadap input kimia sintetis dan mendukung praktik budidaya yang lebih ramah lingkungan; SDG 15: Ekosistem Daratan melalui pemanfaatan agen hayati sebagai bagian dari pengelolaan organisme pengganggu tanaman yang lebih selaras dengan keseimbangan ekosistem dan keanekaragaman hayati; serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi antara mahasiswa, dosen pembimbing, volunteer, fasilitas laboratorium, dan Kelompok Wanita Tani (KWT) dalam proses transfer pengetahuan dan penerapan inovasi pertanian di tingkat masyarakat.

 

Penulis: Magdha Safitri

Editor: Tantriani

Dokumentasi: Tim Klinik Agromina Bahari

Duta Maritim Bali Ajak Generasi Muda Jaga Laut melalui Konservasi, Gizi, dan Aksi Nyata

berita Friday, 18 September 2026

Menjaga keberlanjutan laut membutuhkan lebih dari sekadar upaya konservasi. Pemanfaatan sumber daya secara bijaksana, peningkatan kesadaran masyarakat, serta keterlibatan generasi muda menjadi bagian penting dalam memastikan ekosistem maritim tetap memberikan manfaat bagi generasi saat ini dan mendatang. Pesan tersebut mengemuka dalam sesi orasi tiga perwakilan Forum Maritim Bali, yakni Ni Putu Esa Indah Suari selaku Duta Mangrove, Nilo Nyoman Bubung Gayatri Daivi Adkhikara selaku Duta Protein, dan Putu Diandra Kanaya Bimaputri selaku Runner Up Duta Maritim, dalam rangkaian Family Gathering Lustrum XVI Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (Faperta UGM) pada Minggu, 13 September 2026.

Sesi orasi tersebut mengangkat sejumlah isu yang saling berkaitan dengan keberlanjutan maritim, mulai dari konservasi ekosistem mangrove dan pengurangan sampah plastik hingga pemanfaatan sumber daya ikan dan penguatan peran generasi muda dalam menjaga lingkungan laut.

Sebagai Duta Mangrove, Ni Putu Esa Indah Suari menyoroti pentingnya ekosistem mangrove bagi keberlanjutan wilayah pesisir. Mangrove merupakan habitat bagi berbagai organisme, membantu melindungi wilayah pantai, serta memberikan manfaat ekologis dan sosial bagi masyarakat di sekitarnya. Namun, keberadaan sampah plastik menjadi salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian karena dapat mengganggu kualitas dan keberlanjutan ekosistem pesisir.

Menurutnya, konservasi mangrove tidak dapat dilakukan secara parsial, tetapi membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk masyarakat dan generasi muda. Kesadaran terhadap lingkungan dapat dibangun melalui kebiasaan dan tindakan sederhana yang dilakukan secara konsisten, mulai dari mengurangi penggunaan plastik hingga terlibat dalam kegiatan konservasi di lingkungan sekitar.

Perspektif berbeda disampaikan oleh Nilo Nyoman Bubung Gayatri Daivi Adkhikara selaku Duta Protein. Ia mengangkat potensi ikan sebagai sumber protein dan bagian penting dari pemanfaatan sumber daya laut. Sebagai negara kepulauan dengan sumber daya perikanan yang besar, Indonesia memiliki potensi untuk mengoptimalkan hasil perikanan sebagai bagian dari pemenuhan kebutuhan pangan dan gizi masyarakat.

Meski demikian, peningkatan kesadaran dan ketertarikan masyarakat, khususnya generasi muda, terhadap konsumsi ikan tetap menjadi perhatian. Pengenalan terhadap manfaat ikan sebagai sumber pangan bergizi diharapkan dapat mendorong pola konsumsi yang lebih beragam sekaligus meningkatkan apresiasi terhadap sumber daya perikanan Indonesia.

Sementara itu, Putu Diandra Kanaya Bimaputri selaku Runner Up Duta Maritim menekankan pentingnya peran generasi muda dalam menjaga keberlanjutan sumber daya dan ekosistem maritim. Generasi muda tidak hanya menjadi penerima manfaat dari kekayaan laut, tetapi juga memiliki peran dalam menentukan bagaimana sumber daya tersebut dikelola dan dijaga untuk masa depan.

“The ocean is not just a place to enjoy, but to protect,” ujar Putu Diandra.

Pesan tersebut menegaskan bahwa laut merupakan ruang kehidupan yang memiliki keterkaitan erat dengan keberlangsungan manusia. Karena itu, kepedulian terhadap laut perlu diterjemahkan ke dalam aksi nyata yang dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam orasinya, Putu Diandra menyampaikan sejumlah bentuk keterlibatan yang dapat dilakukan generasi muda, seperti kegiatan pembersihan pantai, penanaman mangrove, edukasi lingkungan ke sekolah, serta keterlibatan dalam berbagai forum yang mendorong kepedulian terhadap isu maritim. Upaya mengurangi penggunaan plastik juga menjadi salah satu langkah sederhana yang dapat dilakukan secara individual maupun kolektif.

Ketiga perspektif tersebut menunjukkan bahwa keberlanjutan maritim memiliki dimensi yang luas dan saling berkaitan. Konservasi mangrove, pemanfaatan ikan sebagai sumber pangan bergizi, pengurangan sampah plastik, edukasi lingkungan, serta keterlibatan generasi muda merupakan bagian dari upaya bersama untuk menjaga ekosistem laut. Melalui pendekatan tersebut, sumber daya maritim tidak hanya dipandang sebagai kekayaan alam yang dimanfaatkan, tetapi juga sebagai aset ekologis yang perlu dikelola secara bertanggung jawab.

Kegiatan ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 2: Tanpa Kelaparan melalui peningkatan kesadaran terhadap ikan sebagai sumber pangan dan protein untuk mendukung pemenuhan giz, SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui edukasi mengenai pangan bergizi dan pentingnya lingkungan pesisir yang sehat, SDG 4: Pendidikan Berkualitas melalui peningkatan literasi generasi muda mengenai konservasi, lingkungan, dan isu kemaritiman, SDG 5: Kesetaraan Gender melalui ruang partisipasi dan kepemimpinan yang setara bagi generasi muda, SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi melalui peningkatan kesadaran terhadap potensi sumber daya maritim yang dapat dikelola secara berkelanjutan, SDG 10: Berkurangnya Kesenjanganmelalui perluasan akses terhadap pengetahuan dan kesempatan berpartisipasi dalam isu lingkungan, serta SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab melalui pengurangan penggunaan plastik dan penerapan perilaku konsumsi yang lebih bertanggung jawab.

Kegiatan ini juga sejalan dengan SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim melalui upaya menjaga dan memulihkan ekosistem pesisir, SDG 14: Ekosistem Lautan melalui konservasi mangrove, pengurangan pencemaran plastik, peningkatan kesadaran terhadap sumber daya perikanan, dan aksi nyata menjaga lingkungan laut, SDG 15: Ekosistem Daratan melalui pelestarian ekosistem mangrove sebagai bagian dari ekosistem pesisir yang menghubungkan lingkungan darat dan laut, SDG 16: Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh melalui penguatan partisipasi masyarakat dan kepemimpinan generasi muda dalam isu lingkungan, serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi antara generasi muda, komunitas maritim, perguruan tinggi, masyarakat, dan pemangku kepentingan dalam mendukung keberlanjutan ekosistem pesisir dan laut.

Melalui sesi orasi tersebut, Forum Maritim Bali menghadirkan perspektif yang saling melengkapi mengenai hubungan antara konservasi, pangan dan gizi, serta peran generasi muda dalam menjaga laut. Pesan yang disampaikan menjadi pengingat bahwa keberlanjutan maritim membutuhkan pengetahuan, kepedulian, dan aksi nyata yang dilakukan secara konsisten. Bagi generasi muda, menjaga laut dapat dimulai dari langkah sederhana di lingkungan sekitar dan berkembang menjadi gerakan bersama untuk memastikan sumber daya maritim tetap lestari bagi generasi mendatang.

Penulis: Nailah Zahrah Anggun Shalihah

Editor: Tantriani

Dokumentasi: Unit Media Faperta UGM

 

37 Kilogram Tuna Warnai Family Gathering Faperta UGM, Kenalkan Potensi Pangan Laut

berita Friday, 18 September 2026

Sebanyak 37 kilogram ikan tuna hadir dalam rangkaian Family Gathering Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (Faperta UGM) melalui kolaborasi dengan Forum Maritim Bali pada Minggu, 13 September 2026. Tuna yang telah dipotong dan dibumbui tersebut diolah menjadi beragam sajian, di antaranya sate dan sashimi, serta dinikmati bersama oleh peserta kegiatan.

Kehadiran tuna tidak sekadar menjadi bagian dari hidangan dalam kegiatan kebersamaan, tetapi juga menjadi sarana untuk memperkenalkan potensi hasil laut sebagai sumber pangan bergizi. Ikan merupakan salah satu sumber protein hewani yang dibutuhkan tubuh untuk mendukung pertumbuhan serta pemeliharaan dan perbaikan jaringan. Melalui penyajian tuna dalam kegiatan tersebut, peserta diajak mengenal lebih dekat pemanfaatan hasil perikanan sebagai bagian dari sumber pangan dan protein.

Selain memiliki nilai gizi, tuna merupakan salah satu komoditas hasil perikanan yang memiliki peluang untuk dikembangkan melalui inovasi pengolahan pangan. Pengolahan ikan menjadi berbagai jenis sajian dapat memperkenalkan keragaman pemanfaatan hasil laut sekaligus membuka perspektif mengenai potensi pengembangan produk pangan berbasis sumber daya perikanan.

Kegiatan ini juga memperlihatkan keterkaitan antara sektor pertanian, pangan, dan kelautan. Sebagai bagian dari sistem pangan yang saling terhubung, hasil perikanan dapat dikembangkan melalui pendekatan pengolahan, inovasi, dan edukasi sehingga manfaatnya dapat dikenal lebih luas oleh masyarakat.

Kolaborasi antara Faperta UGM dan Forum Maritim Bali dalam menghadirkan tuna pada Family Gathering menjadi salah satu bentuk pengenalan potensi pangan laut kepada sivitas akademika. Kegiatan tersebut sekaligus membuka ruang interaksi dan edukasi mengenai pentingnya mengenal sumber daya pangan Indonesia, baik yang berasal dari daratan maupun lautan.

Lebih dari sekadar sajian, kehadiran 37 kilogram tuna dalam kegiatan ini menjadi pengingat bahwa kekayaan sumber daya laut Indonesia memiliki potensi yang dapat dikenalkan melalui pendekatan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Pemanfaatannya perlu berjalan seiring dengan kesadaran terhadap pentingnya menjaga keberlanjutan sumber daya perikanan dan ekosistem laut.

Kegiatan ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 2: Tanpa Kelaparan melalui pengenalan hasil perikanan sebagai sumber pangan dan protein, SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui peningkatan kesadaran mengenai konsumsi pangan bergizi, SDG 4: Pendidikan Berkualitas melalui edukasi mengenai potensi pangan laut dan pemanfaatan hasil perikanan, SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi melalui pengenalan potensi nilai tambah dan pengembangan produk berbasis hasil perikanan, serta SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui pengembangan dan pengenalan inovasi pengolahan hasil perikanan.

Kegiatan ini juga sejalan dengan SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab melalui pemanfaatan hasil perikanan menjadi produk pangan secara lebih bernilai tambah dan bertanggung jawab, SDG 14: Ekosistem Lautan melalui peningkatan kesadaran terhadap potensi dan keberlanjutan sumber daya laut, serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi antara Faperta UGM dan Forum Maritim Bali dalam kegiatan edukasi dan pengenalan potensi pangan laut.

Melalui kegiatan tersebut, ikan tuna tidak hanya hadir sebagai hidangan dalam Family Gathering Faperta UGM, tetapi juga menjadi media untuk memperkenalkan potensi pangan laut, pentingnya sumber protein, inovasi pengolahan hasil perikanan, serta kesadaran terhadap keberlanjutan sumber daya maritim. Dari sebuah sajian di meja makan, tuna menjadi pintu masuk untuk mengenalkan hubungan antara pangan, inovasi, dan keberlanjutan laut kepada sivitas akademika.

Penulis: Nailah Zahrah Anggun Shalihah

Editor: Tantriani
Dokumentasi: Unit Media Faperta UGM

 

Kenal Kebun 2026: Mengajak Mahasiswa Baru Belajar Pertanian Langsung di Lapangan

berita Friday, 18 September 2026

Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (Faperta UGM) kembali menyelenggarakan agenda rutin tahunan Kenal Kebun 2026, sebuah program yang memberikan pengalaman belajar langsung kepada mahasiswa baru dengan mengunjungi kebun teh dan kakao yang dikelola oleh PT Pagilaran.

Kegiatan Kenal Kebun 2026 dilaksanakan dalam dua gelombang, yaitu Gelombang I pada 28–30 Agustus 2026 dan Gelombang II pada 4–6 September 2026. Kegiatan ini melibatkan 412 mahasiswa baru program sarjana angkatan 2026, termasuk mahasiswa program internasional AIMS dan Yamagata University.

Selama kunjungan ke Unit Produksi Pagilaran (Teh), mahasiswa diajak mengelilingi tiga afdeling kebun teh inti untuk mempelajari berbagai aspek budidaya, mulai dari pembibitan, teknik pemuliaan, pemangkasan, hingga praktik replanting dan infilling. Mereka juga mengamati jenis-jenis organisme pengganggu tanaman (OPT) yang menjadi tantangan dalam budidaya teh.

Sementara itu, di Unit Produksi Segayung (Kakao), mahasiswa memperoleh wawasan tentang budidaya kakao, mulai dari pembibitan, perawatan, hingga proses pascapanen. Sebagai bagian dari pengalaman holistik, mahasiswa juga berkesempatan mengunjungi UGM Cocoa Teaching and Learning Industry (CTLI), fasilitas pabrik sekaligus pusat pembelajaran yang berfokus pada pengolahan dan hilirisasi produk kakao.

Program Kenal Kebun menjadi sarana penting bagi mahasiswa baru untuk memahami dunia pertanian secara nyata. Dengan terjun langsung ke lapangan, mahasiswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga melihat praktik budidaya dan pengolahan hasil pertanian secara langsung.

Kegiatan Kenal Kebun 2026 berkontribusi pada pencapaian beberapa Sustainable Development Goals (SDGs), yaitu SDG 2: Tanpa Kelaparan melalui penguatan pemahaman tentang produksi pertanian, SDG 4: Pendidikan Berkualitas melalui pembelajaran langsung berbasis pengalaman, SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi melalui pengenalan dunia kerja dan rantai nilai sektor perkebunan, SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui pengenalan teknologi pengolahan dan hilirisasi kakao, serta SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab melalui pemahaman mengenai pengelolaan produksi dan hasil pertanian secara berkelanjutan.

Kegiatan ini juga sejalan dengan SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim melalui pengenalan pentingnya praktik pertanian yang memperhatikan keberlanjutan lingkungan, SDG 15: Ekosistem Daratan melalui pemahaman pengelolaan tanaman dan lingkungan perkebunan, serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi antara Faperta UGM, PT Pagilaran, dan mitra internasional dalam mendukung pembelajaran pertanian.

Dengan semangat belajar langsung di lapangan, Kenal Kebun 2026 menjadi langkah awal bagi mahasiswa baru untuk mengenal dunia pertanian secara lebih dekat, membangun kepedulian terhadap keberlanjutan, dan menyiapkan diri sebagai generasi penerus yang siap berkontribusi bagi pembangunan pertanian Indonesia.

 

Penulis: Beny Nabila Happy Fauziah

Editor: Tantriani

Dokumentasi: Fakultas Pertanian UGM

Tim INTOCO UGM Lolos Pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa 2026

berita Friday, 18 September 2026

Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Universitas Gadjah Mada melalui ajang Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) tingkat nasional. Tim INTOCO yang beranggotakan Muhammad Fajar, Aziz Dafa Fadillah, Samuel Panji Sri Wijaya (Teknologi Rekayasa Mesin/2024), Hanum Rahma Nurfadila (Ilmu Tanah/2024), serta Nagita Selviana (Ekonomi Pertanian dan Agribisnis/2024), dengan bimbingan Ir. Irfan Bahiuddin, S.T., M.Phil., Ph.D., IPM, ASEAN Eng., berhasil lolos pendanaan PKM periode Juni–September 2026.

Tim ini mengusung karya inovatif berupa alat tempering cokelat bernama INTOCO (Integrated Tempering Operation with Cooling Heating Control). Inovasi tersebut lahir dari kepedulian terhadap potensi kakao di Kabupaten Kulon Progo yang selama ini diolah oleh Kelompok Wanita Tani (KWT) Pawon Gendis menjadi produk cokelat. Meski memiliki peluang besar dalam pengembangan agroindustri lokal, proses produksi masih menghadapi kendala pada tahap tempering cokelat yang dilakukan manual, memakan waktu hingga 60 menit, dan berisiko gagal hingga 40 persen.

Menjawab tantangan tersebut, INTOCO hadir sebagai teknologi tepat guna yang mengintegrasikan proses pemanasan dan pendinginan dalam satu sistem. Dilengkapi dengan pemantauan suhu real-time, alat ini mampu mempercepat proses produksi, menjaga konsistensi mutu cokelat, serta menekan tingkat kegagalan produksi. Kehadiran INTOCO diharapkan menjadi solusi nyata bagi mitra KWT Pawon Gendis sekaligus mendorong penguatan agroindustri lokal berbasis komoditas kakao.

Tim INTOCO berharap penerapan teknologi ini tidak hanya berdampak pada efisiensi produksi cokelat, tetapi juga membuka peluang lebih luas bagi masyarakat untuk mengembangkan hasil pertanian menjadi produk olahan bernilai tambah. Dengan demikian, potensi kakao Kulon Progo dapat berkembang menjadi produk agroindustri yang berdaya saing, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat di tingkat lokal.

Capaian ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 2: Tanpa Kelaparan melalui penguatan ketahanan pangan dan pengolahan hasil pertanian lokal menjadi produk bernilai tambah, SDG 4: Pendidikan Berkualitas melalui penerapan pengetahuan dan keterampilan mahasiswa dalam pengembangan teknologi inovatif, SDG 5: Kesetaraan Gender melalui dukungan terhadap pengembangan usaha agroindustri yang melibatkan Kelompok Wanita Tani, SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi melalui pengembangan peluang usaha, peningkatan produktivitas, dan penguatan ekonomi masyarakat berbasis komoditas lokal, serta SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui pengembangan teknologi tepat guna untuk meningkatkan efisiensi produksi dan mendukung hilirisasi kakao.

Kegiatan ini juga turut mendukung capaian SDG 10: Berkurangnya Kesenjangan melalui perluasan akses terhadap inovasi dan teknologi bagi pelaku agroindustri lokal, SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab melalui proses produksi yang lebih efisien dan konsisten, SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim melalui pengembangan proses produksi yang lebih efisien dalam pemanfaatan sumber daya, serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi antara mahasiswa, dosen, universitas, dan kelompok masyarakat dalam pengembangan agroindustri kakao lokal.

 

Penulis: Beny Nabila Happy Fauziah

Editor: Tantriani

Dokumentasi: Tim INTOCO PKM UGM

 

 

Mahasiswa S2 Ilmu Tanah UGM Raih Penghargaan Internasional dalam Kompetisi Riset FAO-AUN-AFS

Prestasi Friday, 18 September 2026

Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM). Rendi Saputra, mahasiswa Magister Ilmu Tanah angkatan genap 2025 Fakultas Pertanian UGM, berhasil meraih gelar juara dalam FAO-AUN-AFS Youth Research Proposal Competition 2026 untuk kategori Better Environment.

Kompetisi ini diselenggarakan oleh Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO) bekerja sama dengan ASEAN University Network (AUN) dan Universiti Putra Malaysia (UPM), bertepatan dengan pelaksanaan The 10th International Agriculture Congress (IAC10) yang berlangsung di Courtyard by Marriott, Malaka, Malaysia, pada 8–10 September 2026.

Penghargaan ini diberikan sebagai bentuk pengakuan atas gagasan inovatif yang diajukan Rendi dalam mendukung pembangunan sistem agrifood berkelanjutan. Proposal yang ia ajukan menekankan pentingnya inovasi berbasis riset untuk menciptakan lingkungan yang lebih baik, sejalan dengan tema besar kompetisi “Empowering Youth Innovation for Sustainable Agrifood Systems.”

Sertifikat penghargaan ditandatangani oleh Prof. Dr. Anjas Asmara Samsudin, Chairman of the ASEAN University Network for Agriculture and Food, Universiti Putra Malaysia. Kehadiran Rendi dalam ajang internasional ini sekaligus menegaskan peran aktif mahasiswa UGM dalam forum akademik global, khususnya dalam bidang pertanian berkelanjutan dan inovasi lingkungan.

Capaian ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 2: Tanpa Kelaparan melalui pengembangan gagasan inovatif untuk mendukung sistem agrifood yang berkelanjutan, SDG 4: Pendidikan Berkualitas melalui pengembangan kompetensi dan pengalaman akademik mahasiswa pada forum riset internasional, SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi melalui penguatan kapasitas generasi muda dalam menghasilkan inovasi bagi sektor pertanian, serta SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui pengembangan proposal riset dan inovasi berbasis pengetahuan.

Selain itu, turut berkontribusi pada SDG 10: Berkurangnya Kesenjangan melalui perluasan kesempatan generasi muda untuk berpartisipasi dalam forum akademik dan kompetisi internasional, SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab melalui gagasan pengelolaan sumber daya dalam sistem agrifood secara berkelanjutan, SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim melalui pengembangan inovasi yang berorientasi pada keberlanjutan lingkungan, SDG 15: Ekosistem Daratan melalui perhatian terhadap pengelolaan dan keberlanjutan lingkungan daratan dalam sistem pertanian, serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi internasional antara FAO, AUN, UPM, dan institusi pendidikan dalam mendorong inovasi generasi muda.

Keberhasilan Rendi Saputra tidak hanya menjadi kebanggaan bagi UGM, tetapi juga memperlihatkan bagaimana generasi muda Indonesia mampu bersaing di tingkat internasional dengan membawa gagasan inovatif untuk masa depan pertanian dan lingkungan yang berkelanjutan.

 

Penulis: Beny Nabila Happy Fauziah

Editor: Tantriani

Dokumentasi: Rendi Saputra

Penyuluhan Pupuk Hayati dan Sensor Uji Tanah di Kawasan Transmigrasi Sagea Waleh

berita Friday, 18 September 2026

Tim Ekspedisi Patriot Sagea Waleh 2026 melaksanakan kegiatan Penyuluhan Pupuk Hayati Bacillus Amyloliquefaciens dan sensor uji tanah di Kawasan Transmigrasi Sagea Waleh, Maluku Utara pada 9 September 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen tim dalam mendukung pendidikan, pengabdian, dan pemberdayaan masyarakat transmigrasi melalui pengenalan teknologi pertanian modern.

Kegiatan ini dipimpin oleh Dr. Najmu Tsaqib Akhda, S.P., M.A. selaku Ketua Tim, dengan dukungan mahasiswa dan alumni lintas disiplin, yaitu Khusnus Syifa Muhammada (S1 Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian UGM), Alvaida Ekawati (S1 Hama dan Penyakit Tumbuhan UGM), Muh. Yusuf Saputra (S1 Ilmu Tanah UGM), Desi Rindi Rahmawati (S2 Akuntansi UGM), serta Alkadri Ajwan (S2 Linguistik UNY). Selain itu, kegiatan ini juga melibatkan ketua kelompok tani SP 1, SP 2, dan SP 3 Kawasan Transmigrasi Sagea Waleh, yang menjadi mitra utama dalam penerapan teknologi di lapangan.

Dalam kegiatan ini, masyarakat transmigrasi diperkenalkan pada manfaat bakteri Bacillus Amyloliquefaciens sebagai pupuk hayati yang mampu meningkatkan kesuburan tanah serta penggunaan sensor uji tanah untuk mendeteksi kondisi lahan secara lebih akurat. Edukasi ini diharapkan dapat membantu petani mengoptimalkan hasil pertanian meski menghadapi tantangan iklim yang semakin tidak menentu.

Kegiatan ini mendapat sambutan positif dari para petani. Engkus, Ketua Kelompok Tani SP 1 sekaligus tokoh masyarakat, menyampaikan bahwa edukasi ini memberikan semangat baru bagi petani. “Dengan adanya penyuluhan ini, kami merasa lebih percaya diri menghadapi kondisi iklim yang kurang terprediksi. Teknologi ini memberi harapan untuk hasil yang lebih baik,” ujarnya.

Sementara itu, Dr. Najmu Tsaqib Akhda, S.P., M.A., selaku Ketua Tim Ekspedisi Patriot Sagea Waleh 2026, menegaskan pentingnya kegiatan ini. “Kami berharap melalui pengenalan pupuk hayati dan sensor tanah, para petani dapat semakin meningkatkan produktivitas dan memperoleh hasil yang optimal,” ungkapnya.

Kegiatan ini tidak hanya memperkuat kapasitas teknis petani, tetapi juga menegaskan peran Fakultas Pertanian UGM dalam mendukung pembangunan berkelanjutan di kawasan transmigrasi. Dengan pendekatan berbasis pendidikan dan pemberdayaan, kegiatan ini menjadi wujud nyata pengabdian akademisi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.

Kegiatan penyuluhan ini turut berkontribusi pada pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 1: Tanpa Kemiskinan melalui penguatan kapasitas dan potensi peningkatan kesejahteraan masyarakat transmigrasi, SDG 2: Tanpa Kelaparan melalui peningkatan produktivitas dan ketahanan pangan berbasis teknologi pertanian, SDG 4: Pendidikan Berkualitas melalui transfer pengetahuan dan edukasi teknologi kepada petani, SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi melalui pemberdayaan petani dan penguatan kapasitas ekonomi masyarakat, SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui pengenalan sensor uji tanah dan inovasi pupuk hayati, SDG 10: Berkurangnya Kesenjangan melalui perluasan akses masyarakat transmigrasi terhadap pengetahuan dan teknologi pertanian, SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab melalui pengenalan penggunaan input pertanian berbasis hayati dan pengelolaan sumber daya secara lebih efisien, SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim melalui penguatan kapasitas adaptasi petani terhadap kondisi iklim yang tidak menentu, SDG 15: Ekosistem Daratan melalui pengenalan praktik yang mendukung kesehatan dan keberlanjutan tanah, serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, mahasiswa, alumni, kelompok tani, dan masyarakat dalam penerapan teknologi pertanian.

Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya berdampak langsung pada peningkatan kapasitas petani transmigrasi, tetapi juga menjadi kontribusi nyata Fakultas Pertanian UGM dalam mendukung agenda global pembangunan berkelanjutan.

 

Penulis: Beny Nabila Happy Fauziah

Editor: Tantriani

Dokumentasi: Tim Ekspedisi Patriot Sagea Waleh 2026

Wujudkan Pendidikan Berkelanjutan, Lentera DESA Faperta UGM Hadirkan Pembelajaran Interaktif pada Pelatihan Hidroponik BPSDMP DIY

berita Wednesday, 9 September 2026

Sebagai perwujudan Tridharma Perguruan Tinggi khususnya pada pilar pengabdian kepada masyarakat dan penyediaan pendidikan berkelanjutan, Lentera DESA Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (Faperta UGM) hadir menjadi fasilitator dalam Pelatihan Agribisnis Pertanian Berbasis Teknologi Hidroponik. Pelatihan yang diselenggarakan oleh UPTD Balai Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPSDMP) Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY ini diselenggarakan pada 7 September 2026 di UPTD Balai PSDMP DIY.

Pada sesi pembuka pelatihan di hari pertama, Senin (7/9), tim Lentera DESA membawakan materi bertajuk “Dinamika Kelompok Tani & Penguatan Kelembagaan Kelompok Tani”. Materi ini diarahkan untuk membekali para petani agar memiliki kesiapan organisasi, kekompakan tim, dan pola pikir adaptif sebelum menerima materi teknis budidaya hidroponik. Sesi kelas dikemas dengan skema pembelajaran interaktif menggunakan platform digital, studi kasus riil (seperti inovasi pemangkasan rantai pasok digital), hingga aneka permainan kelompok yang partisipatif.

Melalui metode ice breaking dan games yang dirancang komunikatif, peserta diajak memetakan langsung tantangan internal kelompok serta mendiskusikan transformasi kelompok tani menuju tiga fungsi strategis: kelas belajar, wahana kerja sama, dan unit produksi. Pendekatan pembelajaran yang hidup dan menyenangkan ini memicu motivasi tinggi dari para peserta, sehingga pemahaman mengenai pentingnya kolaborasi digital dan kekompakan kelompok dapat diserap dengan optimal.

Keterlibatan aktif Lentera DESA dalam pelatihan ini menegaskan komitmen Faperta UGM untuk terus mendampingi masyarakat pedesaan melalui transfer pengetahuan aplikatif, mempercepat adopsi teknologi pertanian ramah lingkungan, serta memperkuat kelembagaan tani lokal. Kegiatan ini juga berkontribusi pada pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 2: Tanpa Kelaparan melalui peningkatan kapasitas petani dalam menerapkan teknologi hidroponik untuk mendukung produksi pangan yang produktif, efisien, dan adaptif terhadap keterbatasan lahan; SDG 4: Pendidikan Berkualitas melalui penyediaan pendidikan nonformal dan pembelajaran sepanjang hayat dengan metode pelatihan yang partisipatif, inklusif, dan interaktif bagi petani; SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi melalui peningkatan kapasitas kelembagaan dan keterampilan agribisnis berbasis teknologi yang berpotensi meningkatkan produktivitas, peluang usaha, dan perekonomian masyarakat perdesaan; SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui pengenalan inovasi teknologi hidroponik serta pemanfaatan platform digital dalam pembelajaran dan pengembangan agribisnis; SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab melalui pengenalan sistem produksi pertanian yang hemat lahan, lebih efisien dalam penggunaan air dan nutrisi, serta berorientasi pada praktik produksi yang lebih ramah lingkungan; dan SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan kelompok tani dalam memperkuat kapasitas masyarakat serta mendukung pembangunan pertanian dan ketahanan pangan yang berkelanjutan.

Penulis: Rani Nur Rochim
Editor: Tantriani
Dokumentasi: Tim Lentera DESA

123…24

BERITA FAKULTAS

  • Vigoasa Kalina Zaida Artha Raih Medali Emas di Kejuaraan Internasional Taekwondo 2026
    25/09/2026
  • Lustrum XVI Fakultas Pertanian UGM: Alumni Tetap Menjadi Mitra Strategis Kampus
    25/09/2026
  • 5 Praktikum Tak Terlupakan yang Selalu Diingat Alumni Fakultas Pertanian UGM
    25/09/2026
  • Temu Alumni: Momentum Sinergi Lintas Generasi untuk Kemajuan Pertanian
    25/09/2026
  • Alumni Fakultas Pertanian UGM Perkuat Akses Pendidikan Lewat Beasiswa KAGAMA Pertanian
    25/09/2026
Universitas Gadjah Mada

FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA

Jl. Flora Bulaksumur Yogyakarta 55281
faperta@ugm.ac.id
Telp./Fax.: +62 (274) 563062

TENTANG FAKULTAS

Visi & Misi

Sasaran & Tujuan

Struktur Organisasi

 

INFORMASI PUBLIK

Permohonan Informasi Publik

Daftar Informasi Tersedia Setiap Saat

Daftar Informasi Tersedia Secara Berkala

JURNAL ONLINE

Jurnal Ilmu Pertanian

Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia

Jurnal Ilmu Perikanan

Vegetalika

Jurnal Agro Ekonomi

PENELITIAN & PUBLIKASI

Penelitian

Publikasi

Buku Karya Dosen

 

FASILITAS PENDUKUNG

Perpustakaan Fakultas  

Laboratorium

Ebooks

Health Promoting Unit (HPU) Faperta

KERJASAMA

Kerjasama Fakultas

Kunjungan Sekolah

 

PENDAFTARAN

Sarjana

Pascasarjana

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY

[EN] We use cookies to help our viewer get the best experience on our website. -- [ID] Kami menggunakan cookie untuk membantu pengunjung kami mendapatkan pengalaman terbaik di situs web kami.I Agree / Saya Setuju