• Tentang UGM
  • Informasi Publik
  • IT Center
  • Perpustakaan UGM
  • Webmail UGM
  • Pertanian Digital
    • Desa Apps
    • Lentera DESA
  • English Version
Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
Fakultas Pertanian
  • Home
  • Tentang Kami
    • Tentang Fakultas
      • Visi & Misi
      • Sasaran & Tujuan
      • Struktur Organisasi
    • Program Studi
    • Sarjana
      • Leaflet dan Video Promosi Program Studi
      • SOP Perkuliahan Sarjana
      • Panduan Akademik
      • Bahan Kuliah dan Praktikum
      • Jadwal Kuliah & Praktikum
      • PROGRAM KAMPUS BERDAMPAK
      • Program Fastrack Faperta
      • Insentif Prestasi Mahasiswa
      • Surat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI)
      • Virtual Office Academic FAPERTA UGM
      • Info Beasiswa
      • International Undergraduate Class (IUC)
      • RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN PEMBELAJARAN SEMESTER (RPKPS)
    • Pascasarjana
      • INFORMASI PERKULIAHAN PASCASARJANA
      • SOP PERKULIAHAN PASCASARJANA
      • Uang Kuliah Tunggal (UKT) Program Profesi dan Pascasarjana
      • Aturan Akademik Pascasarjana
      • Kurikulum Pascasarjana
      • RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN PEMBELAJARAN SEMESTER (RPKPS)
      • Daftar Pembimbing S2 Pascasarjana
      • Daftar Promotor S3 Pascasarjana
      • Dokumen Seminar dan Ujian S3 Pascasarjana
    • Kemahasiswaan
    • Alumni
      • TRACER STUDY
      • Lowongan Kerja
    • Fasilitas Pendukung
      • AGROTROPICA LEARNING CENTER UGM
      • Perpustakaan
      • UGM Library Video Profile
      • Agriculture Ebooks
      • HPU
    • AIMS
    • Jaminan Mutu
      • EDOM Sarjana
      • EDOM Pascasarjana
      • Standard Operating Procedure – EDOM
      • Rencana Tindak Lanjut EDOM
      • Laporan RTM
    • Profil Dosen
  • PMB
  • Departemen
    • Budidaya Pertanian
    • Hama dan Penyakit Tumbuhan
    • Mikrobiologi Pertanian
    • Perikanan
      • Departemen Perikanan
      • Program Studi Akuakultur
      • Program Studi Manajemen Sumber Daya Akuatik
      • Program Studi Teknologi hasil Perikanan
    • Sosial Ekonomi Pertanian
      • Program Studi Ekonomi Pertanian dan Agribisnis
      • Program Studi Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian
    • Tanah
  • Penelitian & Publikasi
    • PENELITIAN
    • PENGABDIAN MASYARAKAT
    • PUBLIKASI
      • Buku
    • KERJASAMA
    • Buku Karya Dosen
  • Download
    • Peraturan
    • Download panduan kuliah online
    • Jadwal Kuliah & Praktikum
    • Bahan Kuliah dan Praktikum
    • Formulir
    • Agriculture Ebooks
    • PROSEDUR OPERASIONAL STANDAR (POS) KEGIATAN FAKULTAS
    • Petunjuk Penulisan Laporan Akhir PKM 2020
    • Panduan Pelayanan Akademik Faperta UGM
    • E-Booklet PPKS UGM
    • Laporan Tahunan
    • Buku Kenangan Wisuda
  • Beranda
  • SDG 12: Konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab
  • SDG 12: Konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab
  • page. 5
Arsip:

SDG 12: Konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab

Sinergi Edukasi dan Pemberdayaan: Upaya Tim KKN-PPM UGM Bromo Bestari dalam Transformasi Pertanian Desa Gubugklakah

berita Tuesday, 12 August 2025

Sebanyak 30 mahasiswa Kuliah Kerja Nyata-Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat Universitas Gadjah Mada (KKN-PPM UGM) Periode II Tahun 2025 dari Tim Bromo Bestari melaksanakan pengabdian masyarakat di Desa Gubugklakah dan Desa Wringinanom, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang dengan tema “Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Edukasi dan Kesejahteraan untuk Meningkatkan Potensi Lokal, Pembangunan Kesadaran Ekologis, serta Pergerakan Ekonomi melalui Pengembangan Pariwisata dan Sistem Pertanian Terpadu”. Tim ini dibimbing oleh Dosen Pembimbing Lapangan, Adam Wijaya Sukarno, S.IP., M.Sc. Salah satu mahasiswa dari Prodi Ilmu Tanah (2022), Sulthon Isma Hanggoro Putra, turut berperan aktif dalam pengembangan pertanian dan pengelolaan lahan di Dusun Gubugklakah.

Kegiatan KKN-PPM dilaksanakan selama 50 hari dengan beberapa program kerja unggulan di bidang pertanian, antara lain penyuluhan pemanfaatan limbah dapur sayur dan buah sebagai bahan pembuatan pupuk organik cair menggunakan media ember tumpuk yang berlangsung pada 7 Juli 2025. Selanjutnya, pada tanggal 11 Juli 2025 dilakukan pengelolaan feses dan urin ternak sebagai upaya meningkatkan produktivitas lahan di Desa Gubugklakah serta pembuatan pestisida nabati untuk mengurangi penggunaan pestisida kimia. Pada hari yang sama, juga digelar sosialisasi pemahaman terkait manajemen lahan pertanian kepada para petani setempat.

Program-program ini menyasar beragam target masyarakat, mulai dari kader kesehatan, petani, hingga anggota kelompok tani (poktan), dengan tujuan utama memberikan edukasi praktis yang bisa diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari sekaligus mendorong keberlanjutan pertanian lokal. Meski menghadapi tantangan dalam mengumpulkan warga dan menyampaikan materi secara efektif, antusiasme masyarakat sangat tinggi, terbukti dari banyaknya peserta yang aktif bertanya dan berdiskusi selama kegiatan.

“Kami berharap materi yang kami sampaikan dapat membantu masyarakat desa Gubugklakah dalam mempermudah pengelolaan pertanian dan memberikan manfaat jangka panjang yang berkelanjutan,” ucap Sulthon, salah satu mahasiswa dari Ilmu Tanah yang turut serta dalam kegiatan pengabdian tersebut.

Program KKN ini menjadi bukti nyata kontribusi mahasiswa UGM dalam mendukung meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa sekaligus menjaga kelestarian lingkungan melalui inovasi pertanian terpadu dan pengembangan potensi lokal desa yang berkelanjutan. Melalui kegiatan ini, tim KKN-PPM turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) khususnya SDG 1: Tanpa Kemiskinan, SDG 2: Tanpa Kelaparan, SDG 4: Pendidikan Berkualitas, SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, SDG 15: Ekosistem Darat, serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Upaya ini menjadi bagian dari kontribusi nyata dalam mendorong kesejahteraan ekonomi, pelestarian lingkungan, dan sinergi kemitraan yang berkelanjutan di Desa Gubugklakah.

Penulis: Khasanah Kartika Dewi, Sulthon Isma Hanggoro Putra
Editor: Desi Utami
Foto: Tim KKN-PPM UGM Bromo Bestari

Workshop “Irama Hijau di Birunya Melodi” Ajak Amarta Muda Kenali Simfoni Pertanian dan Perikanan Lewat Akuaponik Sederhana

berita Tuesday, 12 August 2025

Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Pionir Organik 2025, Amarta Muda Fakultas Pertanian UGM mengikuti workshop bertajuk “Irama Hijau di Birunya Melodi: Simfoni Pertanian dan Perikanan dalam Wujud Akuaponik” pada Kamis, 7 Agustus 2025. Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara Pionir Organik dan Klinik Agromina Bahari (KAB) Fakultas Pertanian UGM.

Dalam workshop ini, mahasiswa baru diajak untuk mengenal lebih dekat dunia pertanian dan perikanan melalui praktik pembuatan akuaponik sederhana. Terdapat 10 pos kegiatan yang tersebar di berbagai titik di lingkungan Fakultas Pertanian UGM, sebagai ruang eksplorasi sekaligus praktik langsung.

“Kami ingin mengenalkan dunia pertanian dan perikanan secara menyenangkan kepada Amarta Muda. Ini juga menjadi bagian dari outcome kegiatan Pionir agar mereka tidak hanya mengenal sisi akademik, tetapi juga inovasi yang berbasis lingkungan,” ungkap Rokhmiy Naafila, Staf Materi dan Penalaran (Matpen) Pionir Organik.

Dhea Natalia dan Kartika Kirana, Staf KAB Faperta UGM, menyampaikan bahwa kolaborasi seperti ini telah menjadi agenda tahunan yang selalu dinanti. “Lewat praktik pembuatan akuaponik mini, kami berharap Amarta Muda tidak hanya memahami teori, tetapi juga mengenal secara langsung bagaimana integrasi pertanian dan perikanan bisa berjalan berdampingan dalam satu sistem,” ujar Dhea.

Pembuatan akuaponik sederhana dilakukan dengan memanfaatkan toples bening yang diisi air hingga ¾ bagian, kemudian ditambahkan batu hias di dasar toples. Bagian atas toples ditutup menggunakan penutup berlubang di tengah sebagai tempat meletakkan netpot. Netpot yang telah berisi media tanam seperti sekam padi atau rockwool serta dilapisi kain flanel terlebih dahulu dicelupkan ke dalam air, lalu diletakkan pada lubang penutup. Bibit sukulen ditanam di dalam media tanam tersebut. Sebagai bentuk integrasi pertanian dan perikanan, ikan kecil seperti guppy atau cupang turut dimasukkan ke dalam air, memperlihatkan fungsi ganda sistem akuaponik secara estetis dan fungsional.

“Ini pengalaman baru dan menyenangkan. Saya jadi lebih tahu bagaimana pertanian dan perikanan bisa digabungkan dalam satu sistem yang efisien,” ungkap Farel Tharona, mahasiswa baru Program Studi Akuakultur 2025.

Selain melatih kreativitas dan keterampilan teknis, kegiatan ini juga bertujuan menumbuhkan minat dan bakat Amarta Muda dalam bidang pertanian dan perikanan. Menurut Kartika, sistem akuaponik merupakan contoh konkret sinergi dua sektor vital bangsa. “Kami ingin adik-adik Gamada menyadari bahwa mereka akan menjadi bagian penting dalam transformasi pertanian dan perikanan Indonesia ke depan,” ujar Kartika.

Seluruh rangkaian workshop ini berkontribusi pada pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), seperti SDG 2: Tanpa Kelaparan, SDG 4: Pendidikan Berkualitas, SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, dan SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim.

Penulis: Ghorizatu Shofra

Editor: Desi Utami

 

SC-STA 2025 Eksplorasi Kopi Merapi: Praktik Nyata Pertanian Tropis Berkelanjutan

berita Friday, 8 August 2025

Sebagai bagian dari agenda hari ketiga Summer Course on Sustainable Tropical Agriculture 2025 (SC-STA 2025), Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (Faperta UGM) mengajak para peserta untuk mengikuti kegiatan pembelajaran lapangan di sentra budidaya kopi Merapi yang terletak di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kegiatan ini dipandu oleh Andrianto Ansari, S.T.P., M.Agr., Ph.D., dan  Dr. Priyaji Agung Pambudi, S.Pd., M.Si yang memandu peserta internasional dari berbagai negara seperti Singapura, Bangladesh, Gambia, Pakistan, India, Malaysia, dan Filipina. Pada kesempatan ini para peserta berkesempatan mengeksplorasi langsung praktik budidaya kopi tropis berkelanjutan di Cangkringan, Sleman. Komoditas kopi Robusta yang ditanam di kawasan ini tidak hanya menjadi unggulan pertanian lokal, tetapi juga berperan penting dalam meningkatkan perekonomian masyarakat lokal.

Peserta summer course mendapatkan penjelasan menyeluruh mengenai teknik budidaya kopi, mulai dari proses penanaman, perawatan, hingga mengolah biji kopi menjadi bubuk kopi. Mereka juga diajak memahami peran kopi Merapi sebagai bagian dari praktik adaptif terhadap perubahan iklim melalui pemanfaatan limbah, serta sebagai simbol kebangkitan ekonomi warga di daerah rawan bencana dengan memasarkan produknya melalui marketplace dan coffeshop sekitar .

“Kopi Merapi adalah contoh nyata bagaimana masyarakat lokal bisa mengelola kopi dari hulu ke hilir dengan melalui pemanfaatan limbah dan strategi pemasaran yang terintegrasi,” terang Andriyanto.

Selain memberikan pengalaman lapangan yang berharga, kunjungan ini juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 2: Tanpa Kelaparan, SDG 4: Pendidikan Berkualitas, SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim, SDG 15: Ekosistem Daratan, SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Dengan menghadirkan langsung praktik pertanian tropis berkelanjutan yang berbasis kearifan lokal, SC-STA 2025 memperkuat komitmen Faperta UGM dalam mencetak generasi muda global yang peduli pada masa depan sistem agroekologi dunia.

Penulis: Agrit Kirana Bunda

Editor : Desi Utami

KKN PPM UGM di Kei Kecil: Mahasiswa Agronomi Gaungkan Potensi Lokal dalam Sail to Indonesia 2025

berita Friday, 8 August 2025

Sebanyak 30 mahasiswa tim KKN-PPM Jelajah Kei Kecil 2025 Universitas Gadjah Mada (UGM) Periode II Tahun 2025, di bawah bimbingan Prof. Dr. Ir. Leni Sophia Heliani, S.T., M.Sc., IPU, menjalankan pengabdian di Desa Iso, Wain Baru, dan Disuk, Kecamatan Kei Kecil Timur, Kabupaten Maluku Tenggara, turut serta memeriahkan kegiatan bertaraf internasional Sail to Indonesia 2025 dengan mengangkat potensi lokal melalui workshop berwawasan lingkungan yang diikuti oleh 12 peserta dari berbagai negara.

Kegiatan ini berlangsung pada 24 Juli 2025, di mana salah satu mahasiswa, Vivian Lucia Utama (Agronomi 2022), menyelenggarakan workshop lintas budaya dalam program “One Day Tour Package” yang menyambut kedatangan wisatawan asing. Acara ini merupakan bagian dari Sail to Indonesia, program yang diselenggarakan oleh Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves), yang mempertemukan puluhan kapal yacht dari berbagai negara untuk menjelajahi perairan Indonesia. Tahun ini, jalur pelayaran mencakup wilayah timur Indonesia, termasuk Maluku Tenggara, Banda Neira, dan beberapa pulau lainnya, dengan misi memperkuat konektivitas maritim, mempromosikan pariwisata, serta memberdayakan ekonomi lokal.

Dalam kegiatan tersebut, Vivian mengangkat dua kekayaan lokal Kei Kecil: makanan tradisional Enbal dan kekayaan flora lokal dalam praktik ecoprint. Workshop disampaikan dalam dua bahasa, yaitu Inggris dan Prancis, serta melibatkan partisipasi aktif dari anak-anak, ibu-ibu, dan bapak-bapak setempat.

“Saya ingin memperkenalkan bahwa di Kei Kecil, akses logistik masih cukup terbatas. Karena itu, enbal menjadi pangan pokok masyarakat,” jelas Vivian.

Enbal sendiri merupakan bahan pangan khas yang perlu diolah secara khusus sebelum dikonsumsi karena kandungan sianidanya. Proses pengolahan ini turut dijelaskan oleh ibu-ibu lokal kepada peserta workshop.

Selain itu, Vivian juga memperkenalkan bunga-bunga lokal seperti daun katuk, bunga mata kucing, pacar air, lantana, dan krokot untuk ecoprint. Semua bahan yang digunakan bersifat alami dan dapat terurai, sejalan dengan prinsip keberlanjutan. Bahkan anak-anak lokal turut diajak meramban tanaman, menambah unsur edukasi dan apresiasi terhadap alam sekitar.

Meskipun perjalanan menuju lokasi workshop, yakni pantai Ngiarvarat, memakan waktu sekitar satu jam dari desa, kegiatan berjalan lancar dengan antusiasme tinggi. Workshop ini meninggalkan kesan baik bagi peserta asing yang sebagian besar memiliki minat besar terhadap gaya hidup alami dan berkelanjutan.

“Saya merasa sangat puas bisa mengangkat kekayaan alam Nusantara dalam kegiatan internasional seperti ini. Apalagi semuanya minim sampah dan tidak merusak lingkungan,” pungkas Vivian.

Program KKN-PPM “Jelajah Kei Kecil 2025” menjadi bukti nyata dari komitmen mahasiswa dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya pada SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi. SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab. SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim. SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Penulis: Alkhansa Khairunnisa
Editor: Desi Utami

Mahasiswa Baru Faperta UGM Kenali Isu Kesehatan dan SDGs Lewat Kegiatan Interaktif di Kelas

berita Friday, 8 August 2025

Rangkaian kegiatan hari kedua pada Kamis, 7 Agustus 2025 Pionir Organik Fakultas Pertanian UGM (Faperta UGM) kembali menghadirkan sesi edukatif yang berlangsung di ruang-ruang kelas. Tiga kegiatan utama yang diusung adalah Health Promoting Unit (HPU), diskusi mengenai Sustainable Development Goals (SDGs), serta sesi afeksi bertajuk Creating Our Memories. Seluruh kegiatan ini dirancang sebagai sarana pengenalan dan adaptasi awal bagi mahasiswa baru, atau yang akrab disapa Amarta Muda, terhadap dunia kampus dan isu-isu yang relevan dengan sektor pertanian.

Dalam sesi HPU, mahasiswa dikenalkan dengan konsep dan layanan Health Promoting University (HPU) yang telah diinisiasi di Fakultas Pertanian UGM dan berpusat di Agricultural Learning Center (AGLC). Materi yang disampaikan mencakup tujuh pilar utama: literasi kesehatan, aktivitas fisik, pola makan sehat, kesehatan mental, toleransi nol terhadap narkoba, tembakau dan alkohol, toleransi nol terhadap kekerasan dan perundungan, serta pembentukan lingkungan yang sehat dan ramah disabilitas. Fasilitas HPU ini penting dikenalkan sejak dini karena belum banyak mahasiswa yang menyadari keberadaannya dan manfaat yang ditawarkan.

Beberapa program unggulan HPU Faperta UGM antara lain: Workshop Kesehatan Mental bekerja sama dengan Center for Public Mental Health (CPMH) Fakultas Psikologi UGM, layanan kesehatan bersama Gadjah Mada Medical Centre, assessment dan konseling psikologi untuk mahasiswa dan dosen yang bekerja sama dengan RSK Puri Nirmala, serta Posbindu Penyakit Tidak Menular (PTM) yang digelar rutin tiap tiga bulan.

Selanjutnya, dalam sesi SDGs, mahasiswa terlibat aktif dalam diskusi kelompok untuk membahas kontribusi sektor pertanian terhadap pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan. Mereka diberi mosi untuk diperdebatkan secara pro dan kontra, yang kemudian dipresentasikan dalam format FGD. Hasil akhir dari kegiatan ini dituangkan dalam bentuk scrapbook yang berisi refleksi dan pemahaman mengenai keterkaitan pertanian dengan SDGs. Tujuannya agar mahasiswa menyadari bahwa bidang pertanian memainkan peran penting dalam isu-isu global seperti ketahanan pangan, pengentasan kemiskinan, dan pelestarian lingkungan.

Kegiatan ditutup dengan sesi Creating Our Memories, di mana mahasiswa baru bersama para pemandu membuat video berisi kesan, pesan, serta momen kebersamaan selama kegiatan berlangsung. Kegiatan ini tidak hanya menumbuhkan rasa afeksi dan kebersamaan, tetapi juga menjadi sarana membangun kenangan awal yang menyenangkan selama menempuh pendidikan di Fakultas Pertanian UGM.

Anisa Eka Zahra, Koordinator Teknis Pemandu, menyampaikan bahwa ketiga sesi ini dirancang untuk mendukung proses adaptasi mahasiswa baru terhadap dunia perkuliahan. “Lewat kegiatan ini, mereka diajak berpikir kritis, berani berbicara di depan umum, saling berbagi, dan mengenal satu sama lain. Tidak hanya itu, mereka juga jadi lebih memahami Fakultas Pertanian secara lebih menyeluruh, termasuk kontribusinya dalam isu kesehatan dan keberlanjutan,” jelasnya.

Antusiasme juga dirasakan oleh mahasiswa baru yang mengikuti kegiatan tersebut. “Kegiatan hari ini seru dan menyenangkan. Kita diajak untuk mengenal lebih dekat tentang isu-isu penting seperti kesehatan dan peran pertanian dalam pembangunan berkelanjutan,” ungkap Zaki Munif Musyafa, mahasiswa baru dari Program Studi Agronomi.

Kegiatan ini turut berkontribusi pada pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), meliputi SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG 4: Pendidikan Berkualitas, SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim, dan SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Penulis : Ghorizatu Shofra
Editor: Desi Utami

UGM Kembali Membungkus Peringkat Pertama di Business Plan Competition Jambore Koperasi Nasional 2025

Prestasi Thursday, 7 August 2025

Tim Eskalasi Universitas Gadjah Mada berhasil meraup peringkat pertama dalam ajang perlombaan Business Plan (BPC) pada event Jambore Koperasi Nasional (Jamkopnas) 2025 yang diadakan di Universitas Sebelas Maret, Surakarta, yang diselenggarakan pada 28 hingga 30 Mei 2025 lalu.

Pemenang perlombaan ini diraih oleh tim diketuai Ghiffari Putra Agoeng (Fakultas Pertanian 2023) yang beranggotakan Muhamad Dafin Attoriq (Fakultas Teknik 2023) dan Falinkha Nazzara Ardya Varally (Fakultas Ekonomika dan Bisnis 2024). Selain itu, Kopma UGM juga mendelegasikan Indah Amalia Indrayani (Sekolah Vokasi 24) untuk mendampingi tim yang didelegasikan. Tidak hanya itu, mereka didukung oleh Prof. Dr. Didi Achjari, SE., Akt., M.Com. sebagai dosen pembimbing juga Desi Utami S.P., M. Env.Sc., Ph.D. sebagai dosen penasihat yang berpengalaman di bidang mikrobiologi.

Dalam tema Jamkopnas tahun ini yakni “Rebranding and Digitalizing Youth Cooperatives: Bridging Innovation, Cultural Heritage, and Sustainability for a Transformative Future”, delegasi UGM membawa rencana bisnis berjudul “Parisa: Processor of natural and renewable litter scented accelerator” yang mempresentasikan alat pengolah limbah sisa makanan menjadi pupuk kompos melalui proses dekomposisi dengan integrasi teknologi.

Gagasan ini dilatarbelakangi oleh permasalahan sampah di Indonesia yang kian berkembang akibat naiknya populasi penduduk. Sampah juga menjadi permasalahan di Yogyakarta akibat adanya overload di beberapa tempat sampai penutupan tempat pembuangan akhir (TPA). Selain itu, sisa makanan menjadi masalah di tingkat global dan nasional dengan menyumbang emisi gas rumah kaca sehingga menghambat pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

Sebagai tindak lanjut menangani permasalahan tersebut, Tim Eskalasi menyusun Parisa yang didukung oleh Parisa Microbe sebagai sub produk berbahan alami guna mempercepat proses dekomposisi dan meningkatkan model ekonomi sirkular yang ditawarkan.

Selain itu, Parisa juga menciptakan kesempatan kemitraan dan membangun komunitas yang dibangun melalui website dan media sosial agar Parisa tidak hanya menjadi solusi lingkungan, tapi juga membuka jaringan sosial, mempromosikan edukasi, dan membuka peluang bisnis bagi semua pemangku kepentingan.

Setelah melewati berbagai dinamika dalam rangkaian perlombaan ini, Ghiffari mengaku bersyukur dan bahagia bisa berkompetisi dan memenangkan ajang BPC Jamkopnas 2025. Perlombaan ini telah memberikan pelajaran serta pengalaman yang tak terlupakan. Sebagai penutup, ia juga memberikan harapannya terkait inovasi ini.

“Semoga inovasi ini tidak hanya menjadi sebuah pencapaian bagi tim dan pribadi, tapi inovasi ini juga bisa mendorong dan menjadi motivasi bagi para pemuda untuk tidak hanya menghadirkan inovasi yang bermanfaat dan berkelanjutan, tetapi juga berani untuk mencari dan mencoba hal bermanfaat di luar zona nyaman mereka agar bisa menjadi pribadi yang lebih baik dan membantu orang disekitarnya”, ucapnya.

Pencapaian prestasi ini juga sejalan dengan program pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) yaitu pada SDG 11: Kota dan Komunitas yang Berkelanjutan, SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim, dan SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Penulis: Ghiffari Putra Agoeng
Editor: Desi Utami, Ghorizatu Shofra

Belajar Permaculture di Bumi Langit: Summer Course UGM (SC-STA 2025) Hari ke-3

berita Thursday, 7 August 2025

Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (Faperta UGM) melanjutkan rangkaian kegiatan Summer Course on Sustainable Tropical Agriculture 2025 (SC-STA 2025) pada hari ketiga, Rabu, 6 Agustus 2025, dengan kunjungan lapangan ke Bumi Langit Institute yang berlokasi di Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta yang didampingi oleh dosen Fakultas Pertanian UGM, yakni Dr. Prayogo Probo Asmoro, S.P., M.Si. dan Andrianto Ansari, S.T.P., M.Agr., Ph.D.

Pada kegiatan ini, para peserta dari berbagai negara, seperti Singapura, Bangladesh, Gambia, dan Filipina, mengikuti pembelajaran langsung mengenai konsep permaculture atau pertanian berkelanjutan yang menyelaraskan antara manusia dan alam. Kegiatan ini dipandu oleh fasilitator dari Bumi Langit, Ibu Ria, yang mengajak peserta untuk menjelajahi tiga pos utama, yaitu Pos Manajemen Air, Pos Fermentasi, dan Pos Pengelolaan Air Abu-abu.

Di Pos Manajemen Air, peserta diperkenalkan pada sistem pemanenan air hujan dan teknik irigasi ramah lingkungan. Pada Pos Fermentasi, peserta mempelajari proses pembuatan pupuk dari limbah organik, termasuk feses, sebagai upaya peningkatan kesuburan tanah secara alami. Sementara di Pos Pengelolaan Air Abu-abu, peserta belajar tentang teknik penyaringan air rumah tangga menggunakan sistem filtrasi berbasis kompos alami.

“Kami belajar bahwa semua limbah bisa dimanfaatkan kembali secara bijak. Ini pengalaman yang membuka wawasan saya tentang pertanian dan ekologi,” ungkap salah satu peserta asal Bangladesh.

Kegiatan hari ketiga ini tidak hanya memberikan pengalaman teknis, tetapi juga memperluas wawasan peserta terhadap pentingnya pendekatan holistik dan regeneratif dalam praktik pertanian berkelanjutan, sekaligus mempererat interaksi lintas budaya di antara peserta dari berbagai negara.

Kegiatan ini juga menunjukkan kontribusi nyata terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), meliputi SDG 2: Tanpa Kelaparan, SDG 6: Air Bersih dan Sanitasi Layak, SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim, dan SDG 15: Ekosistem Daratan

Penulis: Beny Nabila Happy Fauziah
Editor: Desi Utami

Eksplorasi Pertanian dan Cokelat: Summer Course Faperta UGM (SC-STA 2025) Hari Pertama

berita Thursday, 7 August 2025

Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (Faperta UGM) kembali menggelar program rangkaian kegiatan Summer Course on Sustainable Tropical Agriculture 2025 (SC-STA 2025) pada Senin, 4 Agustus 2025, dengan melakukan kunjungan lapangan ke berbagai lokasi edukatif di Yogyakarta. Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa internasional yang berasal dari berbagai negara, seperti Singapura, Bangladesh, Gambia, dan Filipina, baik yang tengah menempuh studi di luar negeri maupun di Indonesia.

Pada hari pertama ini, para peserta summer course menjalani rangkaian kunjungan lapangan ke beberapa lokasi yang merepresentasikan sistem pertanian dan olahan lokal, di antaranya sistem pertanian sawah surjan di Kulon Progo, serta kegiatan agroindustri di Kabupaten Bantul.  Seluruh kegiatan didampingi oleh dosen Fakultas Pertanian UGM, yakni Wahyu Dwi Saputra, S.T.P., M.Agr.Sc., Ph.D. dan Agung Dian Kharisma, S.Pd., M.Biotech., Ph.D.

Lokasi pertama yang dikunjungi adalah area pertanian lokal di Kulon Progo. Di sana, peserta diperkenalkan dengan sistem pertanian surjan, yakni teknik penanaman yang memanfaatkan lahan basah dan kering secara bersamaan. Mereka juga mempelajari praktik tumpangsari, yaitu teknik menanam tanaman kentang dan cabai secara bersamaan di lahan yang sama untuk efisiensi ruang dan peningkatan hasil panen.

Rangkaian kegiatan berlanjut ke Bantul, dengan kunjungan ke tempat kuliner khas Ingkung Rumah Nduwur, sentra batik Batik Erlin, serta pusat olahan kakao Coklat Monggo. Pada Coklat Monggo, peserta belajar mengenai proses pemilihan buah kakao yang berkualitas, pengolahan pasca panen, hingga praktik pembuatan cokelat yang dapat bernilai jual tinggi. Mereka juga berkesempatan membuat cokelat secara mandiri, serta mengikuti tur edukatif di Museum Cokelat Monggo untuk memahami sejarah dan perkembangan cokelat di Indonesia.

“Saya senang bisa belajar langsung membuat cokelat, ternyata sangat membuka wawasan saya tentang sistem pertanian dan agroindustri tropis,” ujar salah satu peserta asal Filipina dengan penuh antusias.

Seluruh kegiatan berlangsung dengan pendampingan dosen dari Faperta UGM yaitu Wahyu Dwi Saputra, S.T.P., M.Agr.Sc., Ph.D. dan Agung Dian Kharisma, S.Pd., M.Biotech., Ph.D., dan pemandu profesional dari tiap lokasi. Para peserta mengikuti sesi penjelasan dengan antusias, serta aktif mencoba berbagai praktik langsung yang disediakan.

Melalui program ini, Faperta UGM berharap mahasiswa asing dapat memperoleh pengalaman belajar kontekstual tentang sistem pertanian berkelanjutan di Indonesia, sekaligus memperluas perspektif mereka terhadap pengembangan agroindustri lokal dan warisan budaya daerah.

Program ini turut berkontribusi dalam pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals / SDGs), antara lain: SDG 2: Tanpa Kelaparan, melalui edukasi pertanian berkelanjutan, SDG 4: Pendidikan Berkualitas, lewat pembelajaran kontekstual berbasis lapangan, SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, dengan mendorong praktik agroindustri ramah lingkungan, SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, melalui kolaborasi antara universitas, pelaku industri, dan masyarakat lokal.

Penulis: Ghorizatu Shofra
Editor: Desi Utami

Foto : Media Faperta

Prof. Jamhari, Guru Besar Faperta UGM, Tegaskan Penguatan Kelembagaan Lumbung Mataraman sebagai Kunci Ketahanan Pangan DIY

berita Friday, 1 August 2025

Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (Faperta UGM), Prof. Dr. Jamhari, S.P., M.P., menegaskan pentingnya penguatan Lumbung Mataraman sebagai strategi utama dalam mewujudkan ketahanan pangan berkelanjutan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Hal ini ia sampaikan saat menjadi pembicara kunci dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Pembangunan Daerah Triwulan II Tahun 2025 yang mengusung tema “Penguatan Ketahanan Pangan di DIY melalui Transformasi dan Optimalisasi Lumbung Mataraman”, pada Selasa, 29 Juli 2025 di Gedhong Pracimasana, Kompleks Kepatihan Yogyakarta.

Kegiatan ini turut dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, antara lain Dr. Ir. H. Andi Amran Sulaiman dari Kementerian Pertanian Republik Indonesia, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X, para bupati dan wali kota se-DIY, serta pemangku kepentingan lainnya dari berbagai perwakilan instansi daerah maupun pusat.

Dalam paparannya, Prof. Jamhari menekankan bahwa ketahanan pangan DIY menunjukkan arah yang positif. Berdasarkan data terbaru, provinsi ini bahkan menempati peringkat ke-6 nasional dari sisi food security dan food vulnerability atlas, dengan peningkatan konsisten selama lima tahun terakhir. Indeks ini dihitung berdasarkan tiga aspek utama: ketersediaan, keterjangkauan, dan pemanfaatan pangan.

“Indeks ketersediaan pangan DIY meningkat sebesar 0,31 per tahun, keterjangkauan pangan naik 1,38 poin per tahun, dan pemanfaatan pangan meningkat 0,816 poin. Namun, indeks ketersediaan masih tergolong rendah karena keterbatasan lahan yang kita miliki. Di sinilah peran inovasi dan optimalisasi pekarangan menjadi sangat penting. Pakar pekarangan seperti almarhum Prof. Harjono Danoesastro (Dekan Pertama Faperta UGM) telah lama menunjukkan bahwa ketahanan pangan bisa dibangun dari rumah sendiri,” ujarnya.

Prof. Jamhari juga memetakan sejumlah tantangan ketahanan pangan di DIY, seperti alih fungsi lahan, perubahan iklim, rantai pasok yang panjang, serta keterbatasan teknologi dan akses modal bagi petani kecil. Untuk itu, ia menawarkan solusi strategis berupa perlindungan lahan melalui kebijakan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) dan penataan ruang, penggunaan varietas tahan iklim dan sistem peringatan dini (early warning system), penguatan pemasaran digital dan agroindustri, serta akses permodalan melalui KUR dan kemitraan perbankan.

Beliau juga menekankan bahwa perlindungan terhadap lahan pertanian sangat krusial. “Elastisitas produksi lahan itu nyata. Penurunan 1% luas lahan bisa menurunkan produksi sampai 0,88%. Karena itu, kita harus dorong produktivitas lewat peningkatan indeks pertanaman (IP 400), efisiensi usaha tani, dan penguatan kelembagaan petani,” jelasnya.

Dari sisi teknologi, Prof. Jamhari menyoroti pentingnya pemanfaatan inovasi lokal seperti penggunaan mikroba Bacillus untuk meningkatkan kesuburan tanah, pengembangan varietas unggul seperti Gamagora, serta digitalisasi penyuluhan melalui platform seperti Lentera Desa dan Desa Apps. Seluruh inovasi ini merupakan hasil pengembangan dari Fakultas Pertanian UGM yang dirancang untuk menjawab tantangan spesifik pertanian tropis dan memperkuat kapasitas petani kecil.

Prof. Jamhari menekankan perlunya insentif harga yang adil bagi petani. Saat ini, kenaikan harga Gabah Kering Panen (GKP) di tingkat petani hanya 1,6 rupiah, sementara beras premium di penggilingan mencapai 3,28-rupiah dan beras medium di eceran 2,9 rupiah. Ketimpangan ini menunjukkan pentingnya perbaikan rantai pasok agar petani mendapat keuntungan yang layak.

Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa DIY terancam kehilangan petani pada tahun 2057 jika tidak ada regenerasi. Maka, gerakan urban farming perlu digalakkan, dan Lumbung Mataraman harus dioptimalkan sebagai basis ketahanan pangan kota berbasis pekarangan. Ia juga menekankan pentingnya revitalisasi konsep Lumbung Mataraman yang telah ada sejak abad ke-17.

 

“Filosofi ‘nandur opo sing dipangan, mangan opo sing ditandur’ itu konsepnya sebenarnya adalah integrated farming yang sudah diterapkan di Jogja sejak tahun tahun 1600-an,” terangnya.

Prof. Jamhari menyarankan agar kelembagaan Lumbung Mataraman ditingkatkan dari pranata sosial (Poktan, Gapoktan, UPPKS, PNPM, dan lain-lain)  dalam bentuk Usaha Pertanian Lainnnya (UTL) menjadi koperasi atau korporasi tani melalui Usaha Pertanian Berbadan Hukum (UPB). Dengan demikian, Lumbung Mataraman mampu meningkatkan daya saing dan berkontribusi pada pengembangan usaha ekonomi, termasuk produksi beras premium dengan branding lokal.

“Kita dorong Lumbung Mataraman bukan hanya sebagai pranata sosial, tapi naik kelas menjadi koperasi atau korporasi tani agar mampu bersaing dan berkontribusi nyata bagi ekonomi lokal,” ujarnya.  “Kami mengusulkan penguatan kelembagaan Lumbung Mataraman. Mengacu pada Permentan, satu korporasi tani idealnya mencakup 5.000 hektar atau setara dengan lima kapanewon. Artinya, perlu ada kesadaran untuk menyatukan lima KUD yang ada agar menjadi entitas yang lebih kuat. Dengan demikian, Lumbung Mataraman tidak hanya fokus pada penyediaan pangan, tetapi juga mendorong pengembangan usaha ekonomi, meningkatkan daya saing, dan menghasilkan produk dengan branding milik petani sendiri,” tambahnya.

Komitmen terhadap Lumbung Mataraman tidak hanya datang dari akademisi dan komunitas petani, tetapi juga didukung penuh oleh pemerintah daerah dan pusat. Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X menekankan pentingnya transformasi pengelolaan ketahanan pangan berbasis solusi lokal. Pemda DIY, menurut Kepala Bappeda (Badan Perencanaan Pembangunan Daerah) DIY, Nimade Dwianti Indrayanti, S.T., M.T., siap mendukung penguatan pangan melalui stabilisasi pasokan dan harga, penguatan logistik, serta kolaborasi lintas sektor.

Menteri Pertanian RI, Dr. Ir. H. Andi Amran Sulaiman, M.P., menegaskan bahwa pertanian adalah tulang punggung ekonomi DIY saat ini. Ia menyerukan pentingnya hilirisasi dan konsistensi kebijakan untuk mewujudkan visi besar kedaulatan pangan nasional. “Kemajuan pertanian tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri. Perlu kebersamaan dan keberlanjutan agar kita bisa mandiri secara ekonomi,” tegasnya.

Keterlibatan Faperta UGM dalam upaya penguatan Lumbung Mataraman mencerminkan kontribusi nyata terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 1: Tanpa Kemiskinan, SDG 2: Tanpa Kelaparan, SDG 4: Pendidikan Berkelanjutan, SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim, SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, melalui pendekatan berbasis komunitas dan kearifan lokal yang terintegrasi.

Penulis: Agrit Kirana Bunda
Editor: Desi Utami

Faperta UGM dan Perhutani Sinergi Tingkatkan Produktivitas Kopi di Candiroto melalui Program Pengabdian Masyarakat

berita Friday, 1 August 2025

Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (Faperta UGM) menjalin sinergi dengan Perhutani KPH Kedu Utara untuk meningkatkan produktivitas dan ketahanan tanaman kopi di Candiroto, Temanggung. Kolaborasi ini diwujudkan melalui rapat pra-survei Program Pengabdian Masyarakat (Abdimas) yang digelar pada Sabtu, 5 Juli 2025, di BKPH Candiroto. Kegiatan ini dihadiri oleh tim dosen Faperta UGM, mahasiswa Magister Manajemen Agribisnis, serta staf Perhutani.

Candiroto, yang dikenal sebagai salah satu sentra produksi kopi terbesar di Kabupaten Temanggung, saat ini menghadapi tantangan serius akibat serangan patogen yang menyerang akar dan batang tanaman kopi. Sistem agroforestri di bawah tegakan pinus menciptakan kondisi mikroklimat dengan tingkat kelembaban tinggi, yang diperparah oleh pola tanam yang rapat (1,5 m × 1,5 m) dan tajuk tanaman yang saling tumpang tindih. Kondisi ini mendukung perkembangan patogen dan mempercepat penyebaran penyakit. Oleh karena itu, diperlukan tindakan mitigasi melalui pemangkasan tajuk dan perbaikan sanitasi lahan untuk mencegah kerusakan lebih lanjut.

Dalam diskusi terungkap bahwa petani belum memiliki fasilitas rumah kompos yang memadai. Pengolahan kompos saat ini masih dilakukan secara sederhana, seperti menumpuk seresah di lahan terbuka atau menimbun sisa-sisa daun ke dalam rorak, tanpa proses dekomposisi yang optimal. Padahal, penggunaan kompos berkualitas sangat penting untuk memperbaiki struktur tanah, meningkatkan kesehatan tanaman, dan mengurangi ketergantungan pada pupuk anorganik serta pestisida sintetis. Untuk mendukung pengendalian penyakit tanaman kopi secara terpadu, peserta rapat menyarankan pembangunan pos-pos kompos dengan drum atau bioreaktor skala kecil di tiap wilayah. Selain itu, integrasi penggunaan biopestisida seperti larutan hasil fermentasi limbah organik (misalnya MOL dari kulit buah atau rebung bambu), serta agen hayati seperti Trichoderma spp. perlu didorong sebagai strategi preventif dan kuratif terhadap patogen penyebab penyakit tanaman kopi, terutama dalam ekosistem agroforestri yang lembab dan rawan infeksi.

Selain masalah penyakit, para petani juga menghadapi tantangan dalam proses pascapanen. Pengeringan biji kopi yang masih dilakukan secara manual menggunakan sinar matahari sering kali menurunkan kualitas biji, sehingga mempengaruhi harga jual yang saat ini berkisar Rp50.000–78.000 per kilogram.

Sebagai langkah awal, akan dilakukan uji coba pembuatan kompos pada lahan seluas 100 meter persegi dengan sistem aplikasi kompos menggunakan terpal, untuk mengevaluasi efektivitasnya sebelum diterapkan dalam skala yang lebih luas. Dalam proses dekomposisi, akan ditambahkan agen hayati Trichoderma spp. sebagai bioaktivator, yang tidak hanya mempercepat penguraian bahan organik tetapi juga berfungsi sebagai agen pengendali hayati terhadap patogen tanah. Selain diaplikasikan dalam kompos, Trichoderma spp. juga akan ditebar langsung ke lahan tanam sebagai bagian dari strategi pengendalian penyakit terpadu, khususnya untuk menekan infeksi patogen yang menyerang akar dan batang tanaman kopi.

Program pengabdian kepada masyarakat ini turut mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 1: Tanpa Kemiskinan, SDG 2:  Tanpa Kelaparan, SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim, SDG 15: Ekosistem Daratan, SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Penulis: Agrit Kirana Bunda
Editor: Desi Utami

1…34567…12

BERITA FAKULTAS

  • Fakultas Pertanian UGM Laksanakan Pengisian Bersama Beban Kerja Dosen: Upaya Mendukung Tri Dharma
    15/01/2026
  • Fakultas Pertanian UGM Sambut Guru Besar Baru dalam Bidang Mikrobiologi Terapan
    13/01/2026
  • Fakultas Pertanian UGM Sambut Dua Guru Besar Baru dalam Bidang Virologi Tumbuhan dan Biologi Perikanan
    12/01/2026
  • Fakultas Pertanian UGM Sambut Dosen Baru: Semangat Baru Perkuat Pendidikan, Riset, dan Keberlanjutan
    12/01/2026
  • Lowongan – PT Gunung Madu Plantation
    08/01/2026
Universitas Gadjah Mada

FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA

Jl. Flora Bulaksumur Yogyakarta 55281
faperta@ugm.ac.id
Telp./Fax.: +62 (274) 563062

TENTANG FAKULTAS

Visi & Misi

Sasaran & Tujuan

Struktur Organisasi

 

INFORMASI PUBLIK

Permohonan Informasi Publik

Daftar Informasi Tersedia Setiap Saat

Daftar Informasi Tersedia Secara Berkala

JURNAL ONLINE

Jurnal Ilmu Pertanian

Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia

Jurnal Ilmu Perikanan

Vegetalika

Jurnal Agro Ekonomi

PENELITIAN & PUBLIKASI

Penelitian

Publikasi

Buku Karya Dosen

 

FASILITAS PENDUKUNG

Perpustakaan Fakultas

Laboratorium

Ebooks

Health Promoting Unit (HPU) Faperta

KERJASAMA

Kerjasama Fakultas

Kunjungan Sekolah

 

PENDAFTARAN

Sarjana

Pascasarjana

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY

[EN] We use cookies to help our viewer get the best experience on our website. -- [ID] Kami menggunakan cookie untuk membantu pengunjung kami mendapatkan pengalaman terbaik di situs web kami.I Agree / Saya Setuju