• Tentang UGM
  • Informasi Publik
  • IT Center
  • Perpustakaan UGM
  • Webmail UGM
  • Pertanian Digital
    • Desa Apps
    • Lentera DESA
  • English Version
Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
Fakultas Pertanian
  • Home
  • Tentang Kami
    • Tentang Fakultas
      • Visi & Misi
      • Sasaran & Tujuan
      • Struktur Organisasi
    • Program Studi
    • Sarjana
      • Leaflet dan Video Promosi Program Studi
      • Uang Kuliah Tunggal (UKT) Program Sarjana
      • SOP Perkuliahan Sarjana
      • Panduan Akademik Sarjana
      • Kurikulum Sarjana
      • Jadwal Kuliah & Praktikum
      • PROGRAM KAMPUS BERDAMPAK
      • Program Fastrack Faperta
      • Insentif Prestasi Mahasiswa
      • Surat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI)
      • Virtual Office Academic FAPERTA UGM
      • Info Beasiswa
      • International Undergraduate Class (IUC)
      • RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN PEMBELAJARAN SEMESTER (RPKPS)
    • Pascasarjana
      • INFORMASI PERKULIAHAN PASCASARJANA
      • SOP PERKULIAHAN PASCASARJANA
      • Panduan Akademik Pascasarjana
      • Uang Kuliah Tunggal (UKT) Program Profesi dan Pascasarjana
      • Aturan Akademik Pascasarjana
      • Kurikulum Pascasarjana
      • RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN PEMBELAJARAN SEMESTER (RPKPS)
      • Daftar Pembimbing S2 Pascasarjana
      • Daftar Promotor S3 Pascasarjana
      • Dokumen Seminar dan Ujian S3 Pascasarjana
      • Persyaratan Pendaftaran Doktor Ilmu Pertanian
    • Kemahasiswaan
    • Alumni
      • TRACER STUDY
      • Lowongan Kerja
    • Fasilitas Pendukung
      • AGROTROPICA LEARNING CENTER UGM
      • Perpustakaan
      • UGM Library Video Profile
      • Agriculture Ebooks
      • HPU
    • AIMS
    • Jaminan Mutu
      • EDOM Sarjana
      • EDOM Pascasarjana
      • Standard Operating Procedure – EDOM
      • Rencana Tindak Lanjut EDOM
      • Laporan RTM
      • Panduan OBA Simaster
      • Panduan Pengisian SIMONI
      • Kepuasan Stakeholder
    • Profil Dosen
    • Zone Integritas
    • Rencana Strategis
    • Target Capaian Kinerja
    • Inovasi dan Kajian Akademik
    • Laporan Tahunan
  • PMB
  • Departemen
    • Budidaya Pertanian
    • Hama dan Penyakit Tumbuhan
    • Mikrobiologi Pertanian
    • Perikanan
      • Departemen Perikanan
      • Program Studi Akuakultur
      • Program Studi Manajemen Sumber Daya Akuatik
      • Program Studi Teknologi hasil Perikanan
    • Sosial Ekonomi Pertanian
      • Program Studi Ekonomi Pertanian dan Agribisnis
      • Program Studi Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian
    • Tanah
  • Penelitian & Publikasi
    • PENELITIAN
    • PENGABDIAN MASYARAKAT
    • PUBLIKASI
      • Buku
    • KERJASAMA
    • Buku Karya Dosen
  • Download
    • Peraturan
    • Download panduan kuliah online
    • Jadwal Kuliah & Praktikum
    • Bahan Kuliah dan Praktikum
    • Formulir
    • Agriculture Ebooks
    • PROSEDUR OPERASIONAL STANDAR (POS) KEGIATAN FAKULTAS
    • Petunjuk Penulisan Laporan Akhir PKM 2020
    • Panduan Pelayanan Akademik Faperta UGM
    • E-Booklet PPKS UGM
    • Buku Kenangan Wisuda
  • Beranda
  • SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim
Arsip:

SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim

Hadapi Ancaman Perubahan Iklim, Lentera DESA Faperta UGM Perkuat Kelembagaan Petani Lewat Kelas Partisipatif di BPSDMP DIY

berita Wednesday, 23 September 2026

Perubahan iklim global yang kian dinamis menjadi tantangan nyata bagi stabilitas produktivitas sektor pertanian. Menjawab isu krusial tersebut, Balai Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPSDMP) DIY menyelenggarakan Pelatihan Mitigasi dan Perubahan Iklim pada Jumat, 11 September 2026 di BPSDMP DIY. Dalam agenda ini, platform Lentera DESA Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (Faperta UGM) dipercaya hadir sebagai narasumber utama untuk membawakan materi bertajuk “Dinamika Kelompok dan Penguatan Kelembagaan Pertanian”.

Pelatihan ini menempatkan kelembagaan tani sebagai garda terdepan dalam membangun resiliensi terhadap dampak anomali cuaca dan krisis iklim. Sesi kelas dikemas secara inovatif menggunakan pendekatan participatory learning, di mana peserta diposisikan sebagai pusat pembelajaran (center of education). Melalui konsep ini, setiap peserta tidak hanya menyerap teori, tetapi juga saling berbagi pengalaman praktis lapangan dan bertindak sebagai sumber pengetahuan bagi peserta lainnya.

Suasana pelatihan berlangsung dinamis dan interaktif dengan pemanfaatan media digital pendukung pembelajaran. Peserta diajak memetakan tantangan bersama, merumuskan strategi adaptasi kelompok, serta mengoptimalkan peran kelembagaan tani dalam memitigasi risiko gagal panen. Pendekatan berbasis digital dan partisipasi aktif ini memicu motivasi peserta untuk mewujudkan kelembagaan tani yang adaptif, solid, dan berdaya tahan tinggi menghadapi krisis iklim.

Keikutsertaan Faperta UGM melalui Lentera DESA dalam pelatihan ini turut berkontribusi pada pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 1: Tanpa Kemiskinan melalui penguatan kapasitas dan ketahanan ekonomi masyarakat pertanian, SDG 2: Tanpa Kelaparan melalui peningkatan kapasitas kelembagaan tani dalam mendukung keberlanjutan produksi pangan, SDG 4: Pendidikan Berkualitas melalui pembelajaran nonformal yang partisipatif, inklusif, dan berbasis media digital, SDG 5: Kesetaraan Gender melalui penguatan kapasitas kelembagaan yang dapat mendorong partisipasi yang setara dalam pembangunan pertanian, SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi melalui peningkatan kapasitas, produktivitas, dan daya saing pelaku pertanian, SDG 10: Berkurangnya Kesenjangan melalui perluasan akses terhadap pengetahuan dan penguatan kapasitas kelompok tani, SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim melalui peningkatan pemahaman dan kapasitas adaptasi serta mitigasi terhadap risiko perubahan iklim, SDG 16: Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh melalui penguatan kelembagaan tani, pengambilan keputusan partisipatif, dan tata kelola kelompok, serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan kelembagaan pertanian.

 

Penulis: Rani Nur Rochim

Editor: Tantriani

Dokumentasi: Tim Lentera DESA

Duta Maritim Bali Ajak Generasi Muda Jaga Laut melalui Konservasi, Gizi, dan Aksi Nyata

berita Friday, 18 September 2026

Menjaga keberlanjutan laut membutuhkan lebih dari sekadar upaya konservasi. Pemanfaatan sumber daya secara bijaksana, peningkatan kesadaran masyarakat, serta keterlibatan generasi muda menjadi bagian penting dalam memastikan ekosistem maritim tetap memberikan manfaat bagi generasi saat ini dan mendatang. Pesan tersebut mengemuka dalam sesi orasi tiga perwakilan Forum Maritim Bali, yakni Ni Putu Esa Indah Suari selaku Duta Mangrove, Nilo Nyoman Bubung Gayatri Daivi Adkhikara selaku Duta Protein, dan Putu Diandra Kanaya Bimaputri selaku Runner Up Duta Maritim, dalam rangkaian Family Gathering Lustrum XVI Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (Faperta UGM) pada Minggu, 13 September 2026.

Sesi orasi tersebut mengangkat sejumlah isu yang saling berkaitan dengan keberlanjutan maritim, mulai dari konservasi ekosistem mangrove dan pengurangan sampah plastik hingga pemanfaatan sumber daya ikan dan penguatan peran generasi muda dalam menjaga lingkungan laut.

Sebagai Duta Mangrove, Ni Putu Esa Indah Suari menyoroti pentingnya ekosistem mangrove bagi keberlanjutan wilayah pesisir. Mangrove merupakan habitat bagi berbagai organisme, membantu melindungi wilayah pantai, serta memberikan manfaat ekologis dan sosial bagi masyarakat di sekitarnya. Namun, keberadaan sampah plastik menjadi salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian karena dapat mengganggu kualitas dan keberlanjutan ekosistem pesisir.

Menurutnya, konservasi mangrove tidak dapat dilakukan secara parsial, tetapi membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk masyarakat dan generasi muda. Kesadaran terhadap lingkungan dapat dibangun melalui kebiasaan dan tindakan sederhana yang dilakukan secara konsisten, mulai dari mengurangi penggunaan plastik hingga terlibat dalam kegiatan konservasi di lingkungan sekitar.

Perspektif berbeda disampaikan oleh Nilo Nyoman Bubung Gayatri Daivi Adkhikara selaku Duta Protein. Ia mengangkat potensi ikan sebagai sumber protein dan bagian penting dari pemanfaatan sumber daya laut. Sebagai negara kepulauan dengan sumber daya perikanan yang besar, Indonesia memiliki potensi untuk mengoptimalkan hasil perikanan sebagai bagian dari pemenuhan kebutuhan pangan dan gizi masyarakat.

Meski demikian, peningkatan kesadaran dan ketertarikan masyarakat, khususnya generasi muda, terhadap konsumsi ikan tetap menjadi perhatian. Pengenalan terhadap manfaat ikan sebagai sumber pangan bergizi diharapkan dapat mendorong pola konsumsi yang lebih beragam sekaligus meningkatkan apresiasi terhadap sumber daya perikanan Indonesia.

Sementara itu, Putu Diandra Kanaya Bimaputri selaku Runner Up Duta Maritim menekankan pentingnya peran generasi muda dalam menjaga keberlanjutan sumber daya dan ekosistem maritim. Generasi muda tidak hanya menjadi penerima manfaat dari kekayaan laut, tetapi juga memiliki peran dalam menentukan bagaimana sumber daya tersebut dikelola dan dijaga untuk masa depan.

“The ocean is not just a place to enjoy, but to protect,” ujar Putu Diandra.

Pesan tersebut menegaskan bahwa laut merupakan ruang kehidupan yang memiliki keterkaitan erat dengan keberlangsungan manusia. Karena itu, kepedulian terhadap laut perlu diterjemahkan ke dalam aksi nyata yang dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam orasinya, Putu Diandra menyampaikan sejumlah bentuk keterlibatan yang dapat dilakukan generasi muda, seperti kegiatan pembersihan pantai, penanaman mangrove, edukasi lingkungan ke sekolah, serta keterlibatan dalam berbagai forum yang mendorong kepedulian terhadap isu maritim. Upaya mengurangi penggunaan plastik juga menjadi salah satu langkah sederhana yang dapat dilakukan secara individual maupun kolektif.

Ketiga perspektif tersebut menunjukkan bahwa keberlanjutan maritim memiliki dimensi yang luas dan saling berkaitan. Konservasi mangrove, pemanfaatan ikan sebagai sumber pangan bergizi, pengurangan sampah plastik, edukasi lingkungan, serta keterlibatan generasi muda merupakan bagian dari upaya bersama untuk menjaga ekosistem laut. Melalui pendekatan tersebut, sumber daya maritim tidak hanya dipandang sebagai kekayaan alam yang dimanfaatkan, tetapi juga sebagai aset ekologis yang perlu dikelola secara bertanggung jawab.

Kegiatan ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 2: Tanpa Kelaparan melalui peningkatan kesadaran terhadap ikan sebagai sumber pangan dan protein untuk mendukung pemenuhan giz, SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui edukasi mengenai pangan bergizi dan pentingnya lingkungan pesisir yang sehat, SDG 4: Pendidikan Berkualitas melalui peningkatan literasi generasi muda mengenai konservasi, lingkungan, dan isu kemaritiman, SDG 5: Kesetaraan Gender melalui ruang partisipasi dan kepemimpinan yang setara bagi generasi muda, SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi melalui peningkatan kesadaran terhadap potensi sumber daya maritim yang dapat dikelola secara berkelanjutan, SDG 10: Berkurangnya Kesenjanganmelalui perluasan akses terhadap pengetahuan dan kesempatan berpartisipasi dalam isu lingkungan, serta SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab melalui pengurangan penggunaan plastik dan penerapan perilaku konsumsi yang lebih bertanggung jawab.

Kegiatan ini juga sejalan dengan SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim melalui upaya menjaga dan memulihkan ekosistem pesisir, SDG 14: Ekosistem Lautan melalui konservasi mangrove, pengurangan pencemaran plastik, peningkatan kesadaran terhadap sumber daya perikanan, dan aksi nyata menjaga lingkungan laut, SDG 15: Ekosistem Daratan melalui pelestarian ekosistem mangrove sebagai bagian dari ekosistem pesisir yang menghubungkan lingkungan darat dan laut, SDG 16: Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh melalui penguatan partisipasi masyarakat dan kepemimpinan generasi muda dalam isu lingkungan, serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi antara generasi muda, komunitas maritim, perguruan tinggi, masyarakat, dan pemangku kepentingan dalam mendukung keberlanjutan ekosistem pesisir dan laut.

Melalui sesi orasi tersebut, Forum Maritim Bali menghadirkan perspektif yang saling melengkapi mengenai hubungan antara konservasi, pangan dan gizi, serta peran generasi muda dalam menjaga laut. Pesan yang disampaikan menjadi pengingat bahwa keberlanjutan maritim membutuhkan pengetahuan, kepedulian, dan aksi nyata yang dilakukan secara konsisten. Bagi generasi muda, menjaga laut dapat dimulai dari langkah sederhana di lingkungan sekitar dan berkembang menjadi gerakan bersama untuk memastikan sumber daya maritim tetap lestari bagi generasi mendatang.

Penulis: Nailah Zahrah Anggun Shalihah

Editor: Tantriani

Dokumentasi: Unit Media Faperta UGM

 

Kenal Kebun 2026: Mengajak Mahasiswa Baru Belajar Pertanian Langsung di Lapangan

berita Friday, 18 September 2026

Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (Faperta UGM) kembali menyelenggarakan agenda rutin tahunan Kenal Kebun 2026, sebuah program yang memberikan pengalaman belajar langsung kepada mahasiswa baru dengan mengunjungi kebun teh dan kakao yang dikelola oleh PT Pagilaran.

Kegiatan Kenal Kebun 2026 dilaksanakan dalam dua gelombang, yaitu Gelombang I pada 28–30 Agustus 2026 dan Gelombang II pada 4–6 September 2026. Kegiatan ini melibatkan 412 mahasiswa baru program sarjana angkatan 2026, termasuk mahasiswa program internasional AIMS dan Yamagata University.

Selama kunjungan ke Unit Produksi Pagilaran (Teh), mahasiswa diajak mengelilingi tiga afdeling kebun teh inti untuk mempelajari berbagai aspek budidaya, mulai dari pembibitan, teknik pemuliaan, pemangkasan, hingga praktik replanting dan infilling. Mereka juga mengamati jenis-jenis organisme pengganggu tanaman (OPT) yang menjadi tantangan dalam budidaya teh.

Sementara itu, di Unit Produksi Segayung (Kakao), mahasiswa memperoleh wawasan tentang budidaya kakao, mulai dari pembibitan, perawatan, hingga proses pascapanen. Sebagai bagian dari pengalaman holistik, mahasiswa juga berkesempatan mengunjungi UGM Cocoa Teaching and Learning Industry (CTLI), fasilitas pabrik sekaligus pusat pembelajaran yang berfokus pada pengolahan dan hilirisasi produk kakao.

Program Kenal Kebun menjadi sarana penting bagi mahasiswa baru untuk memahami dunia pertanian secara nyata. Dengan terjun langsung ke lapangan, mahasiswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga melihat praktik budidaya dan pengolahan hasil pertanian secara langsung.

Kegiatan Kenal Kebun 2026 berkontribusi pada pencapaian beberapa Sustainable Development Goals (SDGs), yaitu SDG 2: Tanpa Kelaparan melalui penguatan pemahaman tentang produksi pertanian, SDG 4: Pendidikan Berkualitas melalui pembelajaran langsung berbasis pengalaman, SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi melalui pengenalan dunia kerja dan rantai nilai sektor perkebunan, SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui pengenalan teknologi pengolahan dan hilirisasi kakao, serta SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab melalui pemahaman mengenai pengelolaan produksi dan hasil pertanian secara berkelanjutan.

Kegiatan ini juga sejalan dengan SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim melalui pengenalan pentingnya praktik pertanian yang memperhatikan keberlanjutan lingkungan, SDG 15: Ekosistem Daratan melalui pemahaman pengelolaan tanaman dan lingkungan perkebunan, serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi antara Faperta UGM, PT Pagilaran, dan mitra internasional dalam mendukung pembelajaran pertanian.

Dengan semangat belajar langsung di lapangan, Kenal Kebun 2026 menjadi langkah awal bagi mahasiswa baru untuk mengenal dunia pertanian secara lebih dekat, membangun kepedulian terhadap keberlanjutan, dan menyiapkan diri sebagai generasi penerus yang siap berkontribusi bagi pembangunan pertanian Indonesia.

 

Penulis: Beny Nabila Happy Fauziah

Editor: Tantriani

Dokumentasi: Fakultas Pertanian UGM

Tim INTOCO UGM Lolos Pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa 2026

berita Friday, 18 September 2026

Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Universitas Gadjah Mada melalui ajang Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) tingkat nasional. Tim INTOCO yang beranggotakan Muhammad Fajar, Aziz Dafa Fadillah, Samuel Panji Sri Wijaya (Teknologi Rekayasa Mesin/2024), Hanum Rahma Nurfadila (Ilmu Tanah/2024), serta Nagita Selviana (Ekonomi Pertanian dan Agribisnis/2024), dengan bimbingan Ir. Irfan Bahiuddin, S.T., M.Phil., Ph.D., IPM, ASEAN Eng., berhasil lolos pendanaan PKM periode Juni–September 2026.

Tim ini mengusung karya inovatif berupa alat tempering cokelat bernama INTOCO (Integrated Tempering Operation with Cooling Heating Control). Inovasi tersebut lahir dari kepedulian terhadap potensi kakao di Kabupaten Kulon Progo yang selama ini diolah oleh Kelompok Wanita Tani (KWT) Pawon Gendis menjadi produk cokelat. Meski memiliki peluang besar dalam pengembangan agroindustri lokal, proses produksi masih menghadapi kendala pada tahap tempering cokelat yang dilakukan manual, memakan waktu hingga 60 menit, dan berisiko gagal hingga 40 persen.

Menjawab tantangan tersebut, INTOCO hadir sebagai teknologi tepat guna yang mengintegrasikan proses pemanasan dan pendinginan dalam satu sistem. Dilengkapi dengan pemantauan suhu real-time, alat ini mampu mempercepat proses produksi, menjaga konsistensi mutu cokelat, serta menekan tingkat kegagalan produksi. Kehadiran INTOCO diharapkan menjadi solusi nyata bagi mitra KWT Pawon Gendis sekaligus mendorong penguatan agroindustri lokal berbasis komoditas kakao.

Tim INTOCO berharap penerapan teknologi ini tidak hanya berdampak pada efisiensi produksi cokelat, tetapi juga membuka peluang lebih luas bagi masyarakat untuk mengembangkan hasil pertanian menjadi produk olahan bernilai tambah. Dengan demikian, potensi kakao Kulon Progo dapat berkembang menjadi produk agroindustri yang berdaya saing, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat di tingkat lokal.

Capaian ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 2: Tanpa Kelaparan melalui penguatan ketahanan pangan dan pengolahan hasil pertanian lokal menjadi produk bernilai tambah, SDG 4: Pendidikan Berkualitas melalui penerapan pengetahuan dan keterampilan mahasiswa dalam pengembangan teknologi inovatif, SDG 5: Kesetaraan Gender melalui dukungan terhadap pengembangan usaha agroindustri yang melibatkan Kelompok Wanita Tani, SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi melalui pengembangan peluang usaha, peningkatan produktivitas, dan penguatan ekonomi masyarakat berbasis komoditas lokal, serta SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui pengembangan teknologi tepat guna untuk meningkatkan efisiensi produksi dan mendukung hilirisasi kakao.

Kegiatan ini juga turut mendukung capaian SDG 10: Berkurangnya Kesenjangan melalui perluasan akses terhadap inovasi dan teknologi bagi pelaku agroindustri lokal, SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab melalui proses produksi yang lebih efisien dan konsisten, SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim melalui pengembangan proses produksi yang lebih efisien dalam pemanfaatan sumber daya, serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi antara mahasiswa, dosen, universitas, dan kelompok masyarakat dalam pengembangan agroindustri kakao lokal.

 

Penulis: Beny Nabila Happy Fauziah

Editor: Tantriani

Dokumentasi: Tim INTOCO PKM UGM

 

 

Mahasiswa S2 Ilmu Tanah UGM Raih Penghargaan Internasional dalam Kompetisi Riset FAO-AUN-AFS

Prestasi Friday, 18 September 2026

Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM). Rendi Saputra, mahasiswa Magister Ilmu Tanah angkatan genap 2025 Fakultas Pertanian UGM, berhasil meraih gelar juara dalam FAO-AUN-AFS Youth Research Proposal Competition 2026 untuk kategori Better Environment.

Kompetisi ini diselenggarakan oleh Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO) bekerja sama dengan ASEAN University Network (AUN) dan Universiti Putra Malaysia (UPM), bertepatan dengan pelaksanaan The 10th International Agriculture Congress (IAC10) yang berlangsung di Courtyard by Marriott, Malaka, Malaysia, pada 8–10 September 2026.

Penghargaan ini diberikan sebagai bentuk pengakuan atas gagasan inovatif yang diajukan Rendi dalam mendukung pembangunan sistem agrifood berkelanjutan. Proposal yang ia ajukan menekankan pentingnya inovasi berbasis riset untuk menciptakan lingkungan yang lebih baik, sejalan dengan tema besar kompetisi “Empowering Youth Innovation for Sustainable Agrifood Systems.”

Sertifikat penghargaan ditandatangani oleh Prof. Dr. Anjas Asmara Samsudin, Chairman of the ASEAN University Network for Agriculture and Food, Universiti Putra Malaysia. Kehadiran Rendi dalam ajang internasional ini sekaligus menegaskan peran aktif mahasiswa UGM dalam forum akademik global, khususnya dalam bidang pertanian berkelanjutan dan inovasi lingkungan.

Capaian ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 2: Tanpa Kelaparan melalui pengembangan gagasan inovatif untuk mendukung sistem agrifood yang berkelanjutan, SDG 4: Pendidikan Berkualitas melalui pengembangan kompetensi dan pengalaman akademik mahasiswa pada forum riset internasional, SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi melalui penguatan kapasitas generasi muda dalam menghasilkan inovasi bagi sektor pertanian, serta SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui pengembangan proposal riset dan inovasi berbasis pengetahuan.

Selain itu, turut berkontribusi pada SDG 10: Berkurangnya Kesenjangan melalui perluasan kesempatan generasi muda untuk berpartisipasi dalam forum akademik dan kompetisi internasional, SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab melalui gagasan pengelolaan sumber daya dalam sistem agrifood secara berkelanjutan, SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim melalui pengembangan inovasi yang berorientasi pada keberlanjutan lingkungan, SDG 15: Ekosistem Daratan melalui perhatian terhadap pengelolaan dan keberlanjutan lingkungan daratan dalam sistem pertanian, serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi internasional antara FAO, AUN, UPM, dan institusi pendidikan dalam mendorong inovasi generasi muda.

Keberhasilan Rendi Saputra tidak hanya menjadi kebanggaan bagi UGM, tetapi juga memperlihatkan bagaimana generasi muda Indonesia mampu bersaing di tingkat internasional dengan membawa gagasan inovatif untuk masa depan pertanian dan lingkungan yang berkelanjutan.

 

Penulis: Beny Nabila Happy Fauziah

Editor: Tantriani

Dokumentasi: Rendi Saputra

Penyuluhan Pupuk Hayati dan Sensor Uji Tanah di Kawasan Transmigrasi Sagea Waleh

berita Friday, 18 September 2026

Tim Ekspedisi Patriot Sagea Waleh 2026 melaksanakan kegiatan Penyuluhan Pupuk Hayati Bacillus Amyloliquefaciens dan sensor uji tanah di Kawasan Transmigrasi Sagea Waleh, Maluku Utara pada 9 September 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen tim dalam mendukung pendidikan, pengabdian, dan pemberdayaan masyarakat transmigrasi melalui pengenalan teknologi pertanian modern.

Kegiatan ini dipimpin oleh Dr. Najmu Tsaqib Akhda, S.P., M.A. selaku Ketua Tim, dengan dukungan mahasiswa dan alumni lintas disiplin, yaitu Khusnus Syifa Muhammada (S1 Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian UGM), Alvaida Ekawati (S1 Hama dan Penyakit Tumbuhan UGM), Muh. Yusuf Saputra (S1 Ilmu Tanah UGM), Desi Rindi Rahmawati (S2 Akuntansi UGM), serta Alkadri Ajwan (S2 Linguistik UNY). Selain itu, kegiatan ini juga melibatkan ketua kelompok tani SP 1, SP 2, dan SP 3 Kawasan Transmigrasi Sagea Waleh, yang menjadi mitra utama dalam penerapan teknologi di lapangan.

Dalam kegiatan ini, masyarakat transmigrasi diperkenalkan pada manfaat bakteri Bacillus Amyloliquefaciens sebagai pupuk hayati yang mampu meningkatkan kesuburan tanah serta penggunaan sensor uji tanah untuk mendeteksi kondisi lahan secara lebih akurat. Edukasi ini diharapkan dapat membantu petani mengoptimalkan hasil pertanian meski menghadapi tantangan iklim yang semakin tidak menentu.

Kegiatan ini mendapat sambutan positif dari para petani. Engkus, Ketua Kelompok Tani SP 1 sekaligus tokoh masyarakat, menyampaikan bahwa edukasi ini memberikan semangat baru bagi petani. “Dengan adanya penyuluhan ini, kami merasa lebih percaya diri menghadapi kondisi iklim yang kurang terprediksi. Teknologi ini memberi harapan untuk hasil yang lebih baik,” ujarnya.

Sementara itu, Dr. Najmu Tsaqib Akhda, S.P., M.A., selaku Ketua Tim Ekspedisi Patriot Sagea Waleh 2026, menegaskan pentingnya kegiatan ini. “Kami berharap melalui pengenalan pupuk hayati dan sensor tanah, para petani dapat semakin meningkatkan produktivitas dan memperoleh hasil yang optimal,” ungkapnya.

Kegiatan ini tidak hanya memperkuat kapasitas teknis petani, tetapi juga menegaskan peran Fakultas Pertanian UGM dalam mendukung pembangunan berkelanjutan di kawasan transmigrasi. Dengan pendekatan berbasis pendidikan dan pemberdayaan, kegiatan ini menjadi wujud nyata pengabdian akademisi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.

Kegiatan penyuluhan ini turut berkontribusi pada pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 1: Tanpa Kemiskinan melalui penguatan kapasitas dan potensi peningkatan kesejahteraan masyarakat transmigrasi, SDG 2: Tanpa Kelaparan melalui peningkatan produktivitas dan ketahanan pangan berbasis teknologi pertanian, SDG 4: Pendidikan Berkualitas melalui transfer pengetahuan dan edukasi teknologi kepada petani, SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi melalui pemberdayaan petani dan penguatan kapasitas ekonomi masyarakat, SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui pengenalan sensor uji tanah dan inovasi pupuk hayati, SDG 10: Berkurangnya Kesenjangan melalui perluasan akses masyarakat transmigrasi terhadap pengetahuan dan teknologi pertanian, SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab melalui pengenalan penggunaan input pertanian berbasis hayati dan pengelolaan sumber daya secara lebih efisien, SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim melalui penguatan kapasitas adaptasi petani terhadap kondisi iklim yang tidak menentu, SDG 15: Ekosistem Daratan melalui pengenalan praktik yang mendukung kesehatan dan keberlanjutan tanah, serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, mahasiswa, alumni, kelompok tani, dan masyarakat dalam penerapan teknologi pertanian.

Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya berdampak langsung pada peningkatan kapasitas petani transmigrasi, tetapi juga menjadi kontribusi nyata Fakultas Pertanian UGM dalam mendukung agenda global pembangunan berkelanjutan.

 

Penulis: Beny Nabila Happy Fauziah

Editor: Tantriani

Dokumentasi: Tim Ekspedisi Patriot Sagea Waleh 2026

Program Studi Proteksi Tanaman Faperta UGM Raih Akreditasi Unggul dari LAM-PTIP

berita Wednesday, 9 September 2026

Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (Faperta UGM) kembali menorehkan prestasi akademik yang membanggakan. Berdasarkan Keputusan Nomor: 007/SK/LAMPTIP/Ak.U/S/VIII/2026, Lembaga Akreditasi Mandiri Pendidikan Tinggi Ilmu Pertanian (LAM-PTIP) menetapkan bahwa Program Studi Proteksi Tanaman UGM memperoleh status akreditasi Unggul.

Status akreditasi ini berlaku sejak 6 Juli 2026 hingga 5 Juli 2031, dengan nilai asesmen sebesar 367,33. Keputusan resmi ditetapkan di Surakarta oleh Direktur Dewan Eksekutif LAM-PTIP, Prof. Dr. Ir. Samanhudi, S.P., M.Si., IPU, ASEAN Eng., APEC Eng., 24 Agustus 2026.

Capaian akreditasi Unggul ini menegaskan komitmen Fakultas Pertanian UGM dalam menjaga mutu akademik, memperkuat tata kelola program sarjana, serta memastikan kualitas lulusan yang berdaya saing di tingkat nasional maupun internasional. Lebih dari sekadar pengakuan formal, akreditasi ini juga memperkuat kontribusi program studi terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).

Melalui pendidikan dan riset yang inovatif, Program Studi Proteksi Tanaman mendukung SDG 4: Pendidikan Berkualitas dan SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur. Keilmuan proteksi tanaman juga berkontribusi pada SDG 2: Tanpa Kelaparan melalui upaya menjaga produktivitas dan mengurangi kehilangan hasil pertanian, serta SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab melalui pengembangan Pengendalian Hama Terpadu, agen hayati, dan teknologi pengendalian yang ramah lingkungan.

Pengembangan strategi proteksi tanaman yang adaptif terhadap perubahan lingkungan turut mendukung SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim, sementara upaya menjaga keseimbangan ekosistem dan keanekaragaman hayati memperkuat SDG 15: Ekosistem Daratan. Kolaborasi dengan berbagai pihak dalam pendidikan, penelitian, dan penerapan teknologi mendukung SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Dengan capaian ini, Program Studi Proteksi Tanaman UGM semakin memperkokoh perannya sebagai pusat pendidikan dan penelitian yang mendukung pembangunan pertanian yang produktif, tangguh, dan berkelanjutan.

Penulis: Beny Nabila Happy Fauziah
Editor: Tantriani
Dokumentasi: Unit Media Fakultas Pertanian UGM

Program Magister Ilmu Tanah Faperta UGM Raih Akreditasi Unggul dari LAM-PTIP

berita Wednesday, 9 September 2026

Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (Faperta UGM) kembali menorehkan prestasi akademik yang membanggakan. Berdasarkan Keputusan Nomor: 006/SK/LAMPTIP/Ak.U/Mg/VIII/2026, Lembaga Akreditasi Mandiri Pendidikan Tinggi Ilmu Pertanian (LAM-PTIP) menetapkan bahwa Program Studi Magister Ilmu Tanah UGM memperoleh status akreditasi Unggul.

Status akreditasi ini berlaku sejak 6 Juli 2026 hingga 5 Juli 2031, dengan nilai asesmen sebesar 370,44. Keputusan resmi ditetapkan di Surakarta oleh Direktur Dewan Eksekutif LAM-PTIP, Prof. Dr. Ir. Samanhudi, S.P., M.Si., IPU, ASEAN Eng., APEC Eng., pada 24 Agustus 2026.

Capaian akreditasi Unggul ini menjadi bukti komitmen Fakultas Pertanian UGM dalam menjaga mutu akademik, memperkuat tata kelola program magister, serta memastikan kualitas lulusan yang berdaya saing global. Lebih dari sekadar pengakuan formal, akreditasi ini juga memperkuat kontribusi program studi terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).

Melalui pendidikan dan riset yang inovatif, Program Magister Ilmu Tanah mendukung SDG 4: Pendidikan Berkualitas dan SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur. Pengelolaan tanah secara berkelanjutan berkontribusi pada SDG 2: Tanpa Kelaparan melalui dukungan terhadap produktivitas dan ketahanan pangan, serta SDG 15: Ekosistem Daratan melalui upaya menjaga kesehatan tanah dan keberlanjutan ekosistem. Riset terkait konservasi tanah, karbon tanah, dan adaptasi pertanian turut mendukung SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim. Sementara itu, kolaborasi akademik, penelitian, dan pengabdian masyarakat di tingkat nasional maupun internasional memperkuat SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Dengan capaian ini, Program Magister Ilmu Tanah UGM semakin memperkokoh perannya sebagai pusat pendidikan dan penelitian yang berkontribusi bagi pengelolaan sumber daya tanah yang sehat, produktif, dan berkelanjutan, sekaligus mendukung agenda pembangunan global.

Penulis: Beny Nabila Happy Fauziah
Editor: Tantriani
Dokumentasi: Unit Media Fakultas Pertanian UGM

Mahasiswa Akuakultur UGM Jalani Studi Pertukaran di Lund University, Swedia

berita Monday, 7 September 2026

Ribuan kilometer dari kolam budi daya dan bangku kuliah Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Gerson Lewis, mahasiswa Program Studi Akuakultur angkatan 2023, kini tengah menempuh satu semester studi pertukaran di Lund University, Swedia. Program ini berlangsung melalui Erasmus+ International Credit Mobility Programme (KA131/171) sejak 18 Agustus 2026 hingga 17 Januari 2027.

Ketertarikan Lewis pada program ini berangkat dari pengamatannya terhadap sektor perikanan dan akuakultur di Indonesia. Ia menilai bahwa inovasi hasil riset maupun praktik lapangan sering kali menghadapi kesulitan untuk berkembang menjadi usaha yang berkelanjutan secara ekonomi. Pertukaran ke Lund University menjadi kesempatan baginya untuk mempelajari bagaimana kebijakan, kerangka hukum, dan pendekatan keberlanjutan diterapkan di Swedia, negara dengan sistem tata kelola lingkungan terbaik sekaligus tercatat sebagai negara dengan performa inovasi tertinggi di Uni Eropa menurut European Innovation Scoreboard 2026.

Selama satu semester di Lund, Lewis mengikuti perkuliahan yang membahas studi lingkungan dan keberlanjutan, hukum internasional, hingga nature-based solutions untuk perencanaan wilayah perkotaan. Kombinasi ini memberinya kerangka berpikir yang lebih luas untuk melihat persoalan akuakultur tidak hanya dari sisi teknis produksi, tetapi juga dari aspek regulasi, tata kelola lingkungan, dan strategi pengembangan usaha. Ia juga menjajaki topik mengenai dimensi sosial dari teknologi dan kecerdasan buatan, sudut pandang yang menurutnya jarang disentuh dalam kurikulum sains terapan.

Proses seleksi menuju Lund, menurut Lewis, sepenuhnya berbasis dokumen tanpa tahap wawancara. Meski demikian, ia menekankan bahwa persiapan tidak sesederhana kelihatannya. “CV yang bagus tidak bisa dibangun dalam semalam. Itu hasil dari kerja keras yang diperjuangkan bertahun-tahun sebelumnya,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa motivation letter menjadi ruang penting untuk menuangkan tujuan, cara berkontribusi dalam program, serta dampak yang ingin ia ciptakan.

Kepada mahasiswa lain, Lewis membagikan refleksi pribadinya. Saat pertama kali masuk kuliah, ia tidak pernah membayangkan bisa melangkah sejauh ini. Namun, ia memilih untuk terus menantang dirinya sendiri untuk bermimpi lebih tinggi. Ia mengutip pesan yang lekat diingat banyak orang dari Soekarno: “Bermimpilah setinggi mungkin, maka kamu akan jatuh di antara bintang-bintang.”

Partisipasi Lewis dalam program ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) melalui berbagai aspek pembelajaran dan kolaborasi internasional. SDG 4: Pendidikan Berkualitas tercermin melalui pengalaman pembelajaran lintas negara yang memperluas wawasan akademik dan kompetensi mahasiswa. SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur tercermin dalam penguatan perspektif terhadap riset terapan, inovasi, teknologi, dan pengembangan solusi yang dapat diterapkan di sektor akuakultur.

Sebagai mahasiswa Akuakultur, pengalaman ini juga memiliki keterkaitan erat dengan SDG 14: Ekosistem Lautan, terutama melalui penguatan pemahaman mengenai praktik perikanan dan akuakultur yang berkelanjutan serta hubungan antara kegiatan produksi dengan keberlanjutan ekosistem perairan. Pembelajaran mengenai nature-based solutions dan keberlanjutan turut memperkuat relevansinya dengan SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim, khususnya dalam memahami pendekatan berbasis alam sebagai bagian dari strategi menghadapi tantangan lingkungan.

Sementara itu, kajian mengenai kebijakan, hukum internasional, dan tata kelola lingkungan mendukung SDG 16: Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan Tangguh, melalui pemahaman mengenai pentingnya regulasi dan institusi yang efektif dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan. Perspektif Lewis mengenai pengembangan hasil riset menjadi usaha yang berkelanjutan secara ekonomi juga sejalan dengan SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, terutama dalam mendorong inovasi dan pengetahuan agar dapat menghasilkan nilai ekonomi yang berkelanjutan.

Keseluruhan pengalaman tersebut diperkuat melalui SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, yang tercermin dalam kolaborasi akademik internasional antara UGM dan Lund University. Dengan demikian, program pertukaran ini tidak hanya menjadi pengalaman akademik individual, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun kapasitas generasi muda untuk menghubungkan pendidikan, inovasi, tata kelola, pertumbuhan ekonomi, dan keberlanjutan ekosistem dalam menghadapi tantangan global.

 

Penulis: Gerson Lewis, Beny Nabila Happy Fauziah

Editor: Tantriani

Dokumentasi: Gerson Lewis

Program Studi Teknologi Hasil Perikanan Faperta UGM Raih Akreditasi Unggul dari LAM-PTIP

berita Wednesday, 2 September 2026

Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (Faperta UGM) kembali menorehkan pencapaian akademik yang membanggakan. Berdasarkan Keputusan Nomor: 001/SK/LAMPTIP/Ak.U/S/VIII/2026, Lembaga Akreditasi Mandiri Pendidikan Tinggi Ilmu Pertanian (LAM-PTIP) menetapkan bahwa Program Studi Teknologi Hasil Perikanan UGM memperoleh status akreditasi Unggul.

Status akreditasi ini berlaku sejak 6 Juli 2026 hingga 5 Juli 2031, dengan nilai asesmen sebesar 365,68. Keputusan resmi ditetapkan di Surakarta oleh Direktur Dewan Eksekutif LAM-PTIP, Prof. Dr. Ir. Samanhudi, S.P., M.Si., IPU, ASEAN Eng., APEC Eng., pada 24 Agustus 2026.

Capaian akreditasi Unggul ini menegaskan komitmen Fakultas Pertanian UGM dalam menjaga mutu akademik, memperkuat tata kelola program sarjana, serta memastikan kualitas lulusan yang berdaya saing di tingkat nasional maupun internasional. Lebih dari sekadar pengakuan formal, akreditasi ini juga memperkuat kontribusi program studi terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).

Melalui penyelenggaraan pendidikan sarjana yang berkualitas, Program Studi Teknologi Hasil Perikanan mendukung SDG 4: Pendidikan Berkualitas dengan menghadirkan sistem pembelajaran yang inovatif dan relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, serta kebutuhan industri perikanan. Penguatan kompetensi mahasiswa juga diharapkan menghasilkan sumber daya manusia yang mampu berkontribusi terhadap pengembangan sektor perikanan dan pangan secara berkelanjutan.

Dalam konteks ketahanan pangan, pengembangan teknologi pengolahan hasil perikanan turut mendukung SDG 2: Tanpa Kelaparan, khususnya melalui peningkatan mutu, keamanan, nilai tambah, diversifikasi, serta pemanfaatan hasil perikanan sebagai sumber pangan bergizi. Penguasaan teknologi pengolahan dan penanganan pascapanen juga berperan dalam mengurangi kehilangan hasil dan meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya pangan.

Fokus riset dan pengembangan teknologi pengolahan hasil perikanan turut berkontribusi pada SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, terutama melalui pengembangan proses produksi yang lebih efisien, pemanfaatan hasil samping, pengurangan limbah, serta penerapan prinsip produksi yang lebih berkelanjutan. Pendekatan tersebut penting untuk meningkatkan nilai tambah hasil perikanan sekaligus mengurangi dampak lingkungan dari aktivitas pengolahan.

Sebagai bidang keilmuan yang berkaitan erat dengan pemanfaatan sumber daya perikanan, Program Studi Teknologi Hasil Perikanan juga memiliki keterkaitan dengan SDG 14: Ekosistem Lautan. Pengembangan teknologi pascapanen dan pengolahan yang efisien dapat mendukung pemanfaatan sumber daya perikanan secara lebih optimal dan bertanggung jawab, termasuk melalui upaya mengurangi kehilangan hasil serta meningkatkan nilai ekonomi dari sumber daya perikanan yang telah dimanfaatkan.

Di samping itu, penguatan kapasitas riset, teknologi, dan inovasi akademik mendukung SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, terutama melalui pengembangan teknologi pengolahan hasil perikanan, inovasi produk, serta penerapan hasil penelitian untuk menjawab kebutuhan sektor industri dan masyarakat.

Pengembangan kompetensi lulusan, penguatan keterkaitan dengan dunia usaha dan industri, serta peluang pengembangan kewirausahaan berbasis hasil perikanan juga berkontribusi terhadap SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi. Lulusan dengan kompetensi yang kuat di bidang teknologi hasil perikanan diharapkan mampu berperan dalam pengembangan industri, menciptakan inovasi dan usaha baru, serta meningkatkan daya saing sektor perikanan.

Sementara itu, jejaring kolaborasi akademik, alumni, pemerintah, dunia usaha dan industri, serta berbagai mitra eksternal memperkuat SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Kolaborasi tersebut menjadi bagian penting dalam pengembangan pendidikan, penelitian, inovasi, dan penerapan teknologi hasil perikanan yang memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat.

Dengan capaian akreditasi Unggul ini, Program Studi Teknologi Hasil Perikanan UGM semakin memperkokoh posisinya sebagai pusat pendidikan dan penelitian yang berkontribusi nyata bagi pengembangan sektor perikanan dan pangan yang inovatif, berdaya saing, dan berkelanjutan. Capaian tersebut sekaligus memperkuat kontribusi Faperta UGM dalam mendukung SDG 2, SDG 4, SDG 8, SDG 9, SDG 12, SDG 14, dan SDG 17 serta agenda pembangunan berkelanjutan di tingkat nasional maupun global.

 

Penulis: Beny Nabila Happy Fauziah

Editor: Tantriani

Dokumentasi: Unit Media Fakultas Pertanian UGM

 

123…19

BERITA FAKULTAS

  • Wawancara Alumni Faperta UGM: Refleksi dan Harapan di Temu Alumni 2026
    24/09/2026
  • Tari Guyup Nusantara Warnai Temu Alumni Faperta UGM 2026
    24/09/2026
  • Ketua KAGAMA Faperta UGM Teguhkan Komitmen Alumni dalam Peringatan Lustrum XVI
    24/09/2026
  • Agriculture Field Seminar 2026: UGM dan Shizuoka University Perkuat Kolaborasi Akademik
    24/09/2026
  • Hadapi Ancaman Perubahan Iklim, Lentera DESA Faperta UGM Perkuat Kelembagaan Petani Lewat Kelas Partisipatif di BPSDMP DIY
    23/09/2026
Universitas Gadjah Mada

FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA

Jl. Flora Bulaksumur Yogyakarta 55281
faperta@ugm.ac.id
Telp./Fax.: +62 (274) 563062

TENTANG FAKULTAS

Visi & Misi

Sasaran & Tujuan

Struktur Organisasi

 

INFORMASI PUBLIK

Permohonan Informasi Publik

Daftar Informasi Tersedia Setiap Saat

Daftar Informasi Tersedia Secara Berkala

JURNAL ONLINE

Jurnal Ilmu Pertanian

Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia

Jurnal Ilmu Perikanan

Vegetalika

Jurnal Agro Ekonomi

PENELITIAN & PUBLIKASI

Penelitian

Publikasi

Buku Karya Dosen

 

FASILITAS PENDUKUNG

Perpustakaan Fakultas  

Laboratorium

Ebooks

Health Promoting Unit (HPU) Faperta

KERJASAMA

Kerjasama Fakultas

Kunjungan Sekolah

 

PENDAFTARAN

Sarjana

Pascasarjana

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY

[EN] We use cookies to help our viewer get the best experience on our website. -- [ID] Kami menggunakan cookie untuk membantu pengunjung kami mendapatkan pengalaman terbaik di situs web kami.I Agree / Saya Setuju