• Tentang UGM
  • Informasi Publik
  • IT Center
  • Perpustakaan UGM
  • Webmail UGM
  • Pertanian Digital
    • Desa Apps
    • Lentera DESA
  • English Version
Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
Fakultas Pertanian
  • Home
  • Tentang Kami
    • Tentang Fakultas
      • Visi & Misi
      • Sasaran & Tujuan
      • Struktur Organisasi
    • Program Studi
    • Sarjana
      • Leaflet dan Video Promosi Program Studi
      • Uang Kuliah Tunggal (UKT) Program Sarjana
      • SOP Perkuliahan Sarjana
      • Panduan Akademik Sarjana
      • Kurikulum Sarjana
      • Jadwal Kuliah & Praktikum
      • PROGRAM KAMPUS BERDAMPAK
      • Program Fastrack Faperta
      • Insentif Prestasi Mahasiswa
      • Surat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI)
      • Virtual Office Academic FAPERTA UGM
      • Info Beasiswa
      • International Undergraduate Class (IUC)
      • RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN PEMBELAJARAN SEMESTER (RPKPS)
    • Pascasarjana
      • INFORMASI PERKULIAHAN PASCASARJANA
      • SOP PERKULIAHAN PASCASARJANA
      • Panduan Akademik Pascasarjana
      • Uang Kuliah Tunggal (UKT) Program Profesi dan Pascasarjana
      • Aturan Akademik Pascasarjana
      • Kurikulum Pascasarjana
      • RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN PEMBELAJARAN SEMESTER (RPKPS)
      • Daftar Pembimbing S2 Pascasarjana
      • Daftar Promotor S3 Pascasarjana
      • Dokumen Seminar dan Ujian S3 Pascasarjana
      • Persyaratan Pendaftaran Doktor Ilmu Pertanian
    • Kemahasiswaan
    • Alumni
      • TRACER STUDY
      • Lowongan Kerja
    • Fasilitas Pendukung
      • AGROTROPICA LEARNING CENTER UGM
      • Perpustakaan
      • UGM Library Video Profile
      • Agriculture Ebooks
      • HPU
    • AIMS
    • Jaminan Mutu
      • EDOM Sarjana
      • EDOM Pascasarjana
      • Standard Operating Procedure – EDOM
      • Rencana Tindak Lanjut EDOM
      • Laporan RTM
      • Panduan OBA Simaster
      • Panduan Pengisian SIMONI
      • Kepuasan Stakeholder
    • Profil Dosen
    • Zone Integritas
    • Rencana Strategis
    • Target Capaian Kinerja
    • Inovasi dan Kajian Akademik
    • Laporan Tahunan
  • PMB
  • Departemen
    • Budidaya Pertanian
    • Hama dan Penyakit Tumbuhan
    • Mikrobiologi Pertanian
    • Perikanan
      • Departemen Perikanan
      • Program Studi Akuakultur
      • Program Studi Manajemen Sumber Daya Akuatik
      • Program Studi Teknologi hasil Perikanan
    • Sosial Ekonomi Pertanian
      • Program Studi Ekonomi Pertanian dan Agribisnis
      • Program Studi Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian
    • Tanah
  • Penelitian & Publikasi
    • PENELITIAN
    • PENGABDIAN MASYARAKAT
    • PUBLIKASI
      • Buku
    • KERJASAMA
    • Buku Karya Dosen
  • Download
    • Peraturan
    • Download panduan kuliah online
    • Jadwal Kuliah & Praktikum
    • Bahan Kuliah dan Praktikum
    • Formulir
    • Agriculture Ebooks
    • PROSEDUR OPERASIONAL STANDAR (POS) KEGIATAN FAKULTAS
    • Petunjuk Penulisan Laporan Akhir PKM 2020
    • Panduan Pelayanan Akademik Faperta UGM
    • E-Booklet PPKS UGM
    • Buku Kenangan Wisuda
  • Beranda
  • SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan
  • (Page 32)
Arsip:

SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan

Cerita Nazla Amanda Seimbangkan Dunia Perkuliahan dan Organisasi Ala Wisudawan Terbaik Faperta

berita Wednesday, 10 September 2025

Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (Faperta UGM) kembali melahirkan sosok inspiratif dalam wisuda kali ini. Nazla Amanda Kamila, mahasiswa Program Studi Sosial Ekonomi Pertanian, dinobatkan sebagai wisudawan terbaik periode IV T.A. 2024-2025 dengan skripsi berjudul “Kontribusi Agroindustri Slondok terhadap Pendapatan Rumah Tangga di Desa Sumurarum, Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang.” Ia dinobatkan sebagai wisudawan terbaik fakultas pada prosesi wisuda Program Sarjana Faperta yang dilaksanakan pada Kamis, 28 Agustus 2025 di Auditorium Harjono Danoesastro Fakultas Pertanian UGM.

Semasa menduduki bangku perkuliahan, Manda tidak hanya berprestasi dalam bidang akademik, tetapi juga aktif dalam berbagai kegiatan organisasi dan unit kegiatan mahasiswa (UKM) di tingkat Fakultas. Selama menempuh studi, ia tercatat aktif sebagai anggota KMSEP (Keluarga Mahasiswa Sosial Ekonomi Pertanian), Squad Asisten Program Studi Ekonomi Pertanian dan Agribisnis, Event Jogjajanan, PPSMB Organik, serta mengikuti program Magang Studi Independen Bersertifikat (MSIB) di PT Nutrifood periode 6. Selain itu, ia juga pernah menjadi tenaga paruh waktu Program Studi Ekonomi Pertanian dan Agribisnis.

Keterlibatan dalam banyak kegiatan tentu bukan tanpa tantangan. Manda mengaku pernah mengalami kesulitan ketika harus membagi waktu antara skripsi dengan organisasi. “Kadang kalau kegiatan sedang padat, saya sampai tidak sempat menyentuh skripsi beberapa hari. Tapi akhirnya saya belajar mengatur prioritas dan disiplin menggunakan Google Calendar serta teknik time-blocking,” jelasnya.

Walaupun menyeimbangkan porsi organisasi dan perkuliahan bukanlah hal yang mudah, Manda berpendapat bahwa organisasi merupakan hal yang penting dan berpengaruh dalam kehidupan mahasiswa. Melalui organisasi, ia mendapat banyak relasi, pengalaman, serta kesempatan untuk mengembangkan soft skill dan rasa peduli terhadap lingkungan sekitar. Salah satu pengalaman yang paling berkesan baginya adalah ketika menjadi pemandu PPSMB Organik 2023. Dari kegiatan itu, ia belajar tentang kerja sama, komunikasi, serta mendapatkan keluarga baru yang membuat perjalanan kuliahnya semakin bermakna.

Meski banyak kegiatan di luar kelas, Manda tetap menjadikan akademik sebagai prioritas. Ia berpesan kepada mahasiswa agar tidak takut untuk berorganisasi, asalkan tetap bisa mengatur waktu dengan baik.

“Akademik tetap nomor satu, tapi organisasi juga penting untuk menambah pengalaman. Keduanya bisa berjalan bersama kalau kita disiplin,” ungkapnya.

Prestasi Manda menunjukkan bahwa mahasiswa tidak harus memilih antara berprestasi di akademik atau organisasi. Dengan manajemen waktu yang baik dan komitmen yang kuat, keduanya bisa diraih bersamaan. Sosok Nazla Amanda Kamila menjadi contoh nyata bahwa mahasiswa dapat lulus dengan predikat terbaik sekaligus memiliki rekam jejak organisasi yang membanggakan. Keberhasilan ini juga diraih atas dukungan penuh dari Faperta UGM untuk mewujudkan komitmen SDGS yang tertuang dalam poin SDG 4 : Pendidikan Berkualitas, SDG 8: Pertumbuhan Ekonomi Merata dan SDG 17: Kemitraan Untuk Mencapai Tujuan.

Penulis : Noor Amelia Putri
Editor : Desi Utami

STIVALUTION Sulap Sampah Plastik dan Sekam Padi Menjadi Bahan Bakar Industri yang Ramah Lingkungan

berita Thursday, 4 September 2025

Lima mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) berpartisipasi dalam perlombaan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi (Diktiristek), melalui unitnya yaitu Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa), yang berada di bawah Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek). PKM terdiri dari 9 bidang, sedangkan bidang PKM yang diikuti adalah PKM Kewirausahaan (PKM-K). Kelima mahasiswa tersebut adalah Gayuh Dewi Mahesa (S1 Teknologi Industri Pertanian 2023) sebagai ketua tim, Ikhsan Setiawan (S1 Teknologi Industri Pertanian 2023), Octavia Riezqi Yusandra (S1 Proteksi Tanaman 2023), Vanky Agrinda Tama (S1 Teknik Mesin 2024), dan Muchammad Zakky Pratama (S1 Manajemen Kebijakan Publik 2024) yang dibersamai dengan dosen pembimbing dari Fakultas Teknologi Pertanian, Dr. Novita Erma Kristanti, S.T.P., M.P. Setelah melalui beberapa tahap seleksi mulai dari seleksi internal oleh pihak UGM hingga seleksi oleh pihak Belmawa, tim PKM-K berhasil lolos pendanaan dengan mendapatkan pendanaan penuh dari Simbelmawa.

Inovasi yang ditawarkan oleh tim PKM-K adalah STIVALUTION yaitu produk bahan bakar industri yang ramah lingkungan berbentuk biopelet dengan bahan baku sampah plastik kategori Low Density Polyethylene (LDPE) dan sekam padi. Penggunaan kedua bahan baku ini bertujuan untuk mengurangi sampah plastik yang menumpuk di Indonesia, khususnya Daerah Istimewa Yogyakarta serta sekam padi yang jarang dimanfaatkan. “Kami memanfaatkan sampah plastik LDPE seperti kantong plastik dan sekam padi yang terbuang begitu saja menjadi bahan bakar ramah lingkungan agar dapat memiliki nilai jual,” jelas Gayuh.

“Sampah plastik LDPE menghasilkan nilai kalor yang tinggi dengan nyala api yang stabil, sedangkan sekam padi mengandung senyawa lignin apabila dibakar menghasilkan minim asap dengan nilai kalor ±3.000 kkal/kg. Hal ini mendorong kami menggabungkan kedua bahan tersebut untuk dijadikan bahan bakar alternatif,” tambah Octa.

STIVALUTION memiliki target pasar industri kecil dan menengah, seperti usaha pembuatan Bakpia Pathok, penggorengan kerupuk, catering, dan pembuatan batu bata. Harapannya melalui inovasi baru dari produk STIVALUTION dapat menjadi solusi berkelanjutan dalam mengurangi sampah plastik dan sekam padi di Indonesia dan menghadapi habisnya bahan bakar tidak terbarukan seperti batu bara di masa mendatang. Kini, STIVALUTION telah diperjualbelikan melalui e-commerce seperti Shopee, Tokopedia, dan Lazada untuk menjangkau customer hingga seluruh Indonesia. Customer dapat menemukan produk pada bar pencarian dengan nama toko “STIVALUTION”.

Langkah kecil dari tim STIVALUTION merupakan salah satu upaya untuk ikut serta menyukseskan program Sustainable Development Goals (SDGs) diantaranya SDG 1: Tanpa Kemiskinan, SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG 4: Pendidikan Berkualitas, SDG 7: Energi Bersih dan Terjangkau, SDG 9: Industri Inovasi dan Infrastruktur, SDG 11: Kota dan Komunitas yang Berkelanjutan, dan SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Penulis: Octavia Riezqi Yusandra
Editor: Desi Utami

Exchange ke Ibaraki University, Ilham Justin Amara Beberkan Pengalamannya

berita Thursday, 4 September 2025

Ilham Justin Amara atau yang kerap disapa “Justin”, mahasiswa program studi Ekonomi Pertanian dan Agribisnis Angkatan 2022 mendapatkan pengalaman berkuliah di Jepang tahun 2024. Melalui program AIMS Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (Faperta UGM), Justin berkesempatan ikut dalam program pertukaran pelajar ke Ibaraki University. Dengan adanya program tersebut, Justin mendapatkan pengalaman baru yang berkesan bagi dirinya. “Disana saya kuliah lintas budaya bersama mahasiswa dari Jepang dan negara lainnya”, kata Justin. Selain kegiatan perkuliahan di kelas, Justin juga mendapatkan kesempatan untuk ikut kegiatan mengunjungi beberapa lokasi pertanian di Ibaraki. Selama belajar di Jepang, Justin terkesan dengan kondisi pertanian Jepang yang dapat dikelola dengan efisiensi tinggi dan tetap menjaga tradisi disana.

Pengalaman lainnya yang dimiliki Justin, yaitu juga merasakan interaksi dengan masyarakat lokal yang menjadi salah satu pengalaman berharga yang ia miliki. Dengan interaksi dengan masyarakat tersebut, Justin dapat merasakan langsung kehidupan akademik disana. Akan tetapi, selama di Jepang pengalaman yang paling berharga dan masih terkesan untuk Justin adalah ketika ia dapat berjalan-jalan keliling Jepang, baik di sekitar kampus maupun penjuru lainnya. “Dengan begitu saya bisa melihat langsung kehidupan sehari-hari masyarakat Jepang, merasakan suasana lingkungan yang tertata, serta menikmati keindahan alam dan budaya lokal”, kata Justin dari pengalamannya saat berkeliling Jepang.

“Kegiatan belajar di Jepang sangat berbeda dengan yang ada di Indonesia”, kata Justin. Di Jepang sistem pembelajarannya lebih terstruktur, disiplin, dan detail. Berdasarkan pengalaman Justin di Ibaraki University, dosen-dosennya sangat peduli dengan perkembangan mahasiswa dengan memberikan pendekatan yang penuh kehangatan dan kepedulian. Akan tetapi, di saat yang sama dosen-dosen juga mendorong kita untuk lebih mandiri dan proaktif. “Dengan begitu, saya jadi merasa lebih tertantang untuk mengelola waktu, menyiapkan materi, dan berkontribusi aktif dalam diskusi”, kata Justin menyesuaikan diri dengan gaya belajar di Jepang. Menurutnya juga, budaya belajar di Jepang lebih mendorong untuk belajar mandiri dan tanggung jawab pribadi. “Biasanya mahasiswa sudah membaca atau mempelajari materi sebelum kelas dimulai, sehingga ketika kelas berlangsung akan lebih banyak diskusi dan pendalaman”, kata Justin membandingkan dengan budaya belajar di Indonesia yang masih terpusat pada dosen.

Selama berkuliah di Jepang, Justin memiliki mata kuliah favorit yang berkaitan dengan cross cultural communication dan sistem pertanian di Jepang. “Alasannya karena kedua mata kuliah tersebut membuka wawasan saya tentang bagaimana budaya memengaruhi cara orang berinteraksi, sekaligus bagaimana Jepang membangun sistem pertaniannya”, kata Justin beberkan alasan mata kuliah favoritnya. Selain itu, ditambah dengan gaya penyampaian dosennya yang memberikan diskusi yang menarik, banyak studi kasus, dan sering kali meminta membandingkan dengan situasi di negara masing-masing. Dengan begitu Justin merasa dapat lebih kritis dan menghargai keunikan tiap sistem.

Dengan pengalamannya selama satu semester, Justin memberikan pesan bagi mahasiswa lain yang ingin mengikuti pertukaran mahasiswa untuk dapat mempersiapkan dirinya. Mulai dari, persiapan mental dan bahasa di negara yang akan dituju. Kemudian, kelola waktu dan kemandirian menyesuaikan budaya belajar di negara yang akan dituju. Selain itu, jangan ragu untuk terbuka dan berinteraksi dengan mahasiswa lokal maupun mahasiswa internasional lainnya. Serta yang tidak kalah penting, persiapkan rasa ingin tahu dan keterbukaan terhadap budaya baru untuk membantu beradaptasi di negara yang dituju.

Dengan demikian, pengalaman Justin ini sejalan dengan komitmen Fakultas Pertanian UGM untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs), yaitu SDG 4: Pendidikan Berkualitas; SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi; dan SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan

Penulis : Muhamad Fathan Mubina
Editor : Desi Utami
Dokumentasi : Media Faperta

Faperta UGM Gelar Masterclass “ClimMob: Citizen Science Method on Farming Testing”

berita Tuesday, 2 September 2025

Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (Faperta UGM) menyelenggarakan Masterclass “ClimMob: A Citizen Science Method on Farming Testing” pada Rabu, 27 Agustus 2025 di Venture Lab AGLC, Lantai 6. Acara ini menghadirkan Prof. Edward Carey dari Kansas University, Amerika Serikat, sebagai pembicara utama.

Dalam paparannya, Prof. Carey mengambil contoh komoditas ubi jalar sebagai salah satu komoditas strategis dunia. Ia menjelaskan bahwa selain varietas unggul dari Tiongkok, banyak negara di Afrika seperti Tanzania, Uganda, Angola, dan Nigeria juga berhasil mengembangkan ubi jalar dengan produktivitas tinggi. “Ubi jalar dahulu dikenal sebagai tanaman pangan tradisional untuk ketahanan pangan, tetapi kini berkembang menjadi komoditas bernilai tinggi dengan rantai pasok modern. Produk olahan ubi jalar, seperti roti dan mi, bahkan bisa menjadi alternatif pengganti tepung gandum, yang relevan bagi Indonesia yang tidak cocok menanam gandum,” terangnya.

Prof. Carey juga menekankan sifat ubi jalar yang sangat heterozigot, heksaploid, dan dapat diperbanyak secara klonal mampu mendorong kemajuan baru dalam genomik. Dengan sumber daya genetik global termasuk CIP (Center International Potato) genebanks, national genebanks, serta program pemuliaan—upaya percepatan pemuliaan ubi jalar terus dilakukan secara kolaboratif. “Pemuliaan membutuhkan tim multidisiplin, mulai dari pemulia, ahli benih, peneliti pangan, hingga pakar sosial dan gender,” tambahnya.

Masterclass ini juga memperkenalkan ClimMob, sebuah perangkat lunak daring berbasis citizen science yang dirancang untuk mendukung eksperimen pertanian skala besar secara partisipatif. Platform ini memungkinkan ribuan partisipan, mulai dari petani, konsumen, hingga masyarakat umum, untuk ikut berkontribusi dalam pengujian berbagai teknologi pertanian, seperti varietas tanaman, produk pangan, maupun praktik agronomi.

ClimMob mengusung pendekatan baru dalam citizen science melalui metode tricot (triadic comparison of technologies) yang menyederhanakan proses eksperimen. Dalam metode ini, petani membandingkan tiga perlakuan berbeda untuk menilai teknologi atau varietas yang lebih unggul. Data preferensi yang terkumpul kemudian dianalisis dengan model Plackett-Luce, menghasilkan informasi yang akurat dan relevan. Didukung oleh alat open-source, ClimMob membantu peneliti memahami tren secara mendalam sekaligus mempercepat inovasi pertanian demi ketahanan pangan global.

“Metode tricot memungkinkan peneliti memahami preferensi petani dan konsumen secara lebih akurat, baik dari sisi agronomis maupun kualitas pascapanen, seperti rasa, tekstur, warna, hingga daya simpan,” jelas Prof. Carey. Platform ini telah dikembangkan melalui situs climmob.net dan 1000farms.climmob.net, yang memungkinkan distribusi paket percobaan, pengumpulan data genotipe-fenotipe, serta analisis preferensi secara terintegrasi.

Kegiatan ini memperkuat peran Fakultas Pertanian UGM sebagai pusat kolaborasi global dalam inovasi pertanian berkelanjutan. Inisiatif ini juga mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 1: Tanpa Kemiskinan, SDG 2 : Tanpa Kelaparan, SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG 4: Pendidikan Berkualitas, SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Penulis: Agrit Kirana Bunda
Editor: Desi Utami
Foto: Media Faperta

Salah Satu Mahasiswa S2 Agronomi 2023 Faperta UGM Berhasil Ikuti Program SUIJI-JP-MS 2024 di Jepang

berita Tuesday, 2 September 2025

Salah satu mahasiswa magister program studi agronomi angkatan 2023 Fakultas Pertanian Univeristas Gadjah Mada (Faperta UGM) yaitu Nadhiroh Lailan Aulia berkesempatan mengikuti program SUIJI-JP-MS (Six University Initiative Japan-Indonesia Joint Program for Master Students) 2024. Lailan menjalani program ini selama 6 bulan mulai dari bulan Januari-Juni 2025. Program ini merupakan sebuah program kolaborasi akademik antara tiga universitas di Indonesia (UGM, IPB, Unhas) dengan tiga universitas di Jepang (Universitas Ehime, Universitas Kagawa, dan Universitas Kochi) yang berfokus pada riset/penelitian dalam bidang agrokompleks.

Dibawah bimbingan Associate Professor Koici Nomura, Lailan mengikuti kegiatan penelitian di Jepang dengan judul “Effects of different in-row spacings on intercepted photosynthetic photon flux density (PPFD), leaf area index (LAI), photosynthetic parameters, and yield of eggplant (Solanum melongena L.)”. Kegiatan penelitian dilakukan di Laboratory of Environmental Control for Crop Production, Faculty of Agruculture and Marine Sciences. Selain penelitian, Lailan juga mengikuti kelas Tropical Science dan bahasa Jepang. Tak hanya mengikuti kegiatan akademik di kampus, Lailan berkesempatan untuk menjelajahi daerah dan budaya di Jepang seperti Tokyo, Osaka, Kyoto, Kobe, Nara, dan Fukuoka.

“Menurut saya, program SUIJI-JP-MS bukan sekadar program exchange, tetapi juga kesempatan untuk tumbuh secara pribadi dan akademik tentunya sejalan dengan bidang saya di pertanian. Dan saya bersyukur bisa jadi bagian dari program ini,” ucap Lailan.

Proses mendapatkan kesempatan exchange ini tergolong cukup panjang dan lama. Tahap awal diawali dengan pendaftaran seperti pengumpulan berkas & diadakan wawancara dengan pihak internal UGM dan hanya diambil 5 mahasiswa di tahap awal. Selanjutnya kelima mahasiswa yang telah terpilih diberikan kesempatan dua kali untuk menghubungi supervisor pada host university. Kemudian setelah itu baru ada pengumuman final dari pihak SUIJI-JP-MS di bulan Oktober 2024.

“Saya awalnya tidak terlalu tahu banyak mengenai program SUIJI-LP-MS, akan tetapi saya berusaha mencari beberapa informasi dan ternyata program ini menjadi salah satu peluang terbaik yang pernah saya dapatkan,” ujar beliau.

Program ini sejalan dengan komitmen Faperta UGM untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs), yaitu SDG 4: Pendidikan Berkualitas, SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, dan SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Penulis: Anin Dita Rahmadiyanti
Editor: Desi Utami
Foto: Lailan Aulia

Faperta UGM Sambut Kunjungan Kerja ORTN-BRIN, Perkuat Kolaborasi Riset Nuklir untuk Pengendalian Lalat Buah

berita Tuesday, 2 September 2025

Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (Faperta UGM) menyambut hangat kunjungan kerja Organisasi Riset Tenaga Nuklir (ORTN) – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Joglo Tea, Coffee, and Cacao Learning Center pada Jumat–Sabtu, 22–23 Agustus 2025. Kegiatan ini bertujuan menjalin dan mempererat kerja sama penelitian perlindungan tanaman, khususnya pemanfaatan teknologi nuklir untuk pengendalian hama lalat buah.

Kegiatan ini dihadiri oleh jajaran peneliti BRIN, antara lain Prof. Dr. Irawan Sugoro (Kepala PTPR BRIN), Dr. Yogi Sugiawan, Dr. Murni Indarwatmi, M.Si., Ir. Indah Arastuti, Ashri Mukti Benita, M.Sc., Dr. Nadya Nurdini, S.Si., M.Si., Gagad Rahmadi, S.T., M.Sc., Eva Susanti Waruwu, S.P., dan Rivaldi Mardani, S.H., M.Si.

Sementara itu, dari Fakultas Pertanian UGM turut hadir Prof. Subejo, S.P., M.Sc., Ph.D., Prof. Dr. Tri Joko, S.P., M.Sc., Prof. Dr. Ir. Siwi Indarti, M.P., Dr. Deni Pranowo, S.Si., M.Si., Dr. Suputa, S.P., M.P, Dr. Najmu Tsaqib, S.P., M.A., Riya Fatma Sari, S.P., M.Sc., dan Winda Ramayanti, S.P.

Salah satu Dosen Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan (HPT) Faperta UGM, Dr. Suputa, menjelaskan latar belakang riset ini. Menurutnya, buah salak yang menjadi ikon Sleman mulai ditinggalkan petani karena harga yang rendah. Padahal, salak memiliki peluang besar untuk diekspor karena jarang dibudidayakan di luar negeri. Tantangan utamanya adalah serangan lalat buah.

“Contoh kasus pada tahun 2016, negara tujuan ekspor seperti Australia tidak menerima salak Indonesia karena ditemukan belatung lalat buah di dalamnya. Salah satu cara mengatasinya adalah dengan teknologi radiasi nuklir. Dengan iradiasi, telur atau larva lalat buah yang mungkin ada di dalam buah bisa dimatikan, sehingga aman dan dapat diterima mitra dagang,” jelas Dr. Suputa.

Ia menambahkan, berbagai metode pengendalian lalat buah juga terus dikembangkan, antara lain pemanfaatan umpan protein beracun, penggunaan perangkap Steiner trap untuk monitoring, tabung “pendama” untuk memerangkap lalat buah, serta wooden block yang dilengkapi atraktan dan pestisida. “Dengan umpan protein beracun, kami bisa menangkap hingga 36 ekor lalat buah betina per hari. Itu artinya sekitar 14.400 telur berpotensi merusak buah berhasil dicegah,” ungkapnya.

Selain itu, pengendalian populasi lalat buah juga diarahkan pada pemanfaatan musuh alami seperti semut rangrang dan parasitoid Fopius. Ke depan, Faperta UGM bersama BRIN juga berencana mengembangkan Teknik Serangga Mandul (TSM) berbasis teknologi nuklir sebagai metode ideal jangka panjang.

Para peneliti BRIN menekankan pentingnya penerapan standar fitosanitari untuk menjaga kesehatan tanaman dan mencegah penyebaran hama serta penyakit. Teknologi nuklir, khususnya iradiasi, dinilai memiliki peran besar dalam mendukung keamanan pangan dan daya saing produk hortikultura.

“Iradiasi pangan efektif membasmi serangga hingga ke fase larva tersembunyi, tidak meninggalkan residu, dan praktis karena dapat dilakukan pada produk yang sudah dikemas. Teknologi ini sangat mendukung keamanan pangan serta meningkatkan daya saing hortikultura Indonesia di pasar ekspor,” ujar Dr. Murni Indarwatmi.

Namun, tantangan lain adalah penerimaan masyarakat. Menurut Murni, sebagian masyarakat masih mengaitkan nuklir dengan peristiwa seperti Fukushima, Chernobyl, Hiroshima, atau Nagasaki. “Padahal iradiasi untuk pangan aman karena hanya menggunakan sinar dengan dosis kecil, sekitar 1 kilogray. Tidak ada residu pada buah atau produk segar. Jadi masyarakat tidak perlu khawatir,” tegasnya.

Ia menambahkan, edukasi publik sangat penting, mulai dari sekolah hingga masyarakat luas, agar pemahaman yang salah tentang nuklir dapat diluruskan. “Di banyak negara maju, teknologi nuklir untuk pangan sudah lazim digunakan karena efisien dan murah. Indonesia juga harus mengarah ke sana,” lanjutnya.

Ke depan, kegiatan ini juga akan melibatkan penyuluh pertanian lapangan (PPL), pejabat pengendali organisme pengganggu tumbuhan (POPT), petani, dan sekolah-sekolah. Harapannya, peningkatan kesadaran publik tentang teknologi pengendalian hama ramah lingkungan dapat berjalan lebih luas dan berkelanjutan.

“Faperta UGM berterima kasih dan mengapresiasi BRIN yang berencana mengembangkan teknologi radiasi untuk salak pondoh di Sleman. Dengan kolaborasi ini, kita dapat meningkatkan produktivitas petani sekaligus, melakukan ekspor salak, serta mendorong inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat pertanian,” kata Prof. Dr. Subejo, Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian Kepada Masyarakat, dan Kerja Sama Faperta UGM.

Inisiatif ini sejalan dengan komitmen pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 2: Tanpa Kelaparan, SDG 4: Pendidikan Berkualitas, SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, dan SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, SDG 15: Ekosistem Daratan, SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Penulis: Agrit Kirana Bunda
Editor: Desi Utami
Foto: Media Faperta

Faperta UGM Gelar Sosialisasi untuk Tingkatkan Manajemen, Kualitas Tanah dan Budidaya Kopi di Temanggung

berita Tuesday, 2 September 2025

Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (Faperta UGM) kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung petani lokal melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Kali ini, tim dosen dari Faperta UGM menyelenggarakan pelatihan dengan tema “Peningkatan Kualitas Tanah dan Budidaya Kopi” yang ditujukan untuk memperkuat kapasitas petani kopi dan pengurus Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Kedu Utara.

Acara berlangsung pada Sabtu, 23 Agustus 2025, di RM “Aghniya”, Candiroto, Kabupaten Temanggung, dengan dihadiri para petani kopi, Administrator KPH Kedu Utara Maria Endah Ambarwati, serta tim pengabdi dari Faperta UGM yang terdiri dari Dr. Hani Perwitasari, S.P., M.Sc., Dr. Imas Masithoh Devangsari, S.P., M.Sc., dan Dr. Rizky Pasthika Kirana, S.P., M.Sc., bersama mahasiswa Program Studi Ekonomi Pertanian dan Agribisnis dan Magister Manajemen Agribisnis.

Dr. Hani Perwitasari membuka sesi materi dengan topik “Pencatatan dan Analisis Usaha Tani”. Ia menekankan pentingnya pendekatan bisnis dalam pertanian, agar petani mencatat semua biaya operasional dan pendapatan secara rinci, sehingga keuntungan dan kelayakan usaha dapat dihitung dengan tepat.

Selanjutnya Dr. Rizky Pasthika Kirana menyampaikan materi “Menjaga Produktivitas dan Kualitas untuk Generasi Berikutnya”. Paparan ini menekankan prinsip budidaya kopi berkelanjutan yang tidak hanya berorientasi pada hasil saat ini, tetapi juga menjaga keberlanjutan usaha tani di masa depan.

Materi ketiga disampaikan oleh Dr. Imas Masithoh Devangsari, M.Sc. yang memperkenalkan teknik “Pengomposan dan Ember Tumpuk”. Inovasi ini memanfaatkan limbah organik menjadi kompos berkualitas sehingga petani dapat mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia sekaligus meningkatkan kualitas tanah. Suasana semakin hidup saat sesi tanya jawab. Para petani kopi, antusias berdiskusi seputar perhitungan keuntungan dan kelayakan usaha tani kopi, strategi menghadapi fluktuasi harga pasar, aplikasi pupuk organik dan anorganik, peremajaan tanaman kopi, pilihan klon unggul, serta pencegahan hama dan penyakit pada tanaman kopi.

Tidak hanya teori, kegiatan juga dilengkapi praktik lapangan berupa perhitungan keuntungan, aplikasi jamur antagonis Trichoderma sebagai agen hayati pengendali penyakit, serta demonstrasi pembuatan kompos dengan bioaktivator menggunakan ember tumpuk.

Melalui pelatihan ini, Faperta UGM berharap petani kopi Temanggung semakin mandiri dalam mengelola kebun secara berkelanjutan, meningkatkan kualitas tanah, sekaligus menjaga produktivitas kopi sebagai komoditas unggulan daerah. Pada akhirnya, ilmu yang dibagikan diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat petani kopi.

Kegiatan ini tidak hanya bertujuan memberikan pengetahuan praktis, tetapi juga mendukung SDGs (Sustainable Development Goals), terutama SDG 2: Tanpa Kelaparan, SDG 4: Pendidikan Berkualitas, SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim, SDG 15: Ekosistem Daratan, SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Penulis: Tim Pengabdian Masyarakat Faperta UGM
Editor: Desi Utami
Foto: Tim Pengabdian Masyarakat Faperta UGM

Fakultas Pertanian UGM Latih Warga Bergan Membuat Pupuk Hayati, Dorong Pertanian Berkelanjutan

berita Tuesday, 2 September 2025

Dosen dan mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (Faperta UGM) mengadakan pelatihan pupuk hayati berbasis mikroba dalam rangka Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM). Pelatihan tersebut dilaksanakan pada Minggu, 20 Juli 2025 di Pedukuhan Bergan, Kelurahan Wijirejo, Kabupaten Bantul. Program yang diketuai oleh Yumechris Amekan, S.Si., M.Biotech., Ph.D. sebagai Ketua Pelaksana dan mengangkat judul “Pelatihan Pembuatan Pupuk Hayati Berbasis Mikroba untuk Meningkatkan Produktivitas Tanaman Pangan Lokal di Pedukuhan Bergan, Kelurahan Wijirejo, Kabupaten Bantul”.

Program ini didukung oleh dosen Fakultas Pertanian lainnya, yaitu Agung Dian Kharisma, S.Pd.Si., M.Biotech., Ph.D., Nur Akbar Arofatullah, S.P., M.Biotech., Ph.D., Dr. Najmu Tsaqib Akhda, S.P., M.A., Susanti Mugi Lestari, S.P., M.Si., Ph.D., dan Dr. Adyatma Irawan Santosa, S.P., M.Sc., beserta beberapa mahasiswa departemen Mikrobiologi Pertanian yaitu Severinus Adrian Maitri, Najmaturrahma Baskoro, Tsania Putri Soflyna Azzahra, dan Praharsiwi Nisa Az Zahro. Para dosen bertindak sebagai pemateri utama, sementara mahasiswa membantu dalam persiapan teknis dan pelaksanaan kegiatan. Tujuan pelaksanaan kegiatan ini yaitu guna meningkatkan pemahaman petani mengenai alternatif pertanian ramah lingkungan sekaligus mendorong pertanian berkelanjutan di tingkat desa.

Program ini dilakukan sebagai respon atas permasalahan pertanian lokal, seperti tingginya ketergantungan terhadap pupuk dan pestisida kimia dalam praktik bertani dan berkebun masyarakat. Harga pupuk yang kian mahal, ditambah dampak negatif seperti penurunan kesuburan tanah dan pencemaran lingkungan, merupakan persoalan nyata yang dihadapi petani. Oleh karena itu, melalui kegiatan ini, masyarakat diperkenalkan dengan teknologi pembuatan dan perbanyakan pupuk hayati berbasis mikroba Bacillus sp. yang lebih sederhana dan ramah lingkungan.

Pelatihan dihadiri oleh sekitar 40 warga dari berbagai kalangan usia dan latar belakang yang berbeda-beda, mulai dari mahasiswa, praktisi pertanian, karang taruna, dan ibu-ibu PKK (Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga). Kegiatan dibuka oleh perangkat dusun dan dilanjutkan dengan materi edukasi yang disampaikan oleh tim dari Faperta UGM menggunakan alat bantu presentasi serta distribusi folder berisi informasi lengkap tentang pelatihan. Salah satu momen penting dalam pelatihan ini adalah demonstrasi langsung pembuatan pupuk hayati. Selama sesi demonstrasi, peserta diajarkan langkah-langkah pembuatan pupuk hayati berbasis mikroba Bacillus sp. secara praktis dengan melibatkan partisipasi langsung dari peserta dalam proses pencampuran bahan.

Tingginya antusiasme warga terlihat dari harapan mayoritas peserta agar kegiatan serupa dapat terus berlanjut dengan pendampingan yang lebih intensif. Salah satu peserta, Friyatmoko, mengungkapkan bahwa kegiatan ini sangat bermanfaat. “Kami sangat terbantu karena bisa belajar membuat pupuk sendiri. Harapannya bisa mengurangi biaya tani dan menjaga tanah tetap subur,” ungkapnya.

Menanggapi hal tersebut, Yumechris Amekan menyampaikan bahwa kedepannya PKM harus mampu mengatasi masalah yang ada di masyarakat dengan solusi yang sederhana dan aplikatif. “Salah satunya caranya adalah dengan mengembangkan aplikasi atau teknologi sederhana yang telah dikaji di institusi, kemudian diaplikasikan secara langsung ke masyarakat. Oleh karena itu, dibutuhkan ilmu yang praktis serta solusi yang mudah dipahami untuk diterapkan oleh masyarakat. Sasaran penerapannya pun sebaiknya lebih luas, tidak hanya terbatas pada petani, tetapi juga kelompok lain seperti PKK yang memiliki pengalaman berkebun. Dengan begitu, inovasi yang ditawarkan tidak akan ditinggalkan karena dianggap terlalu rumit untuk dijalankan,” ujar Yumechris.

Kegiatan ini juga menjadi bagian dari implementasi Tridharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian masyarakat, serta memberi ruang bagi mahasiswa untuk belajar langsung di lapangan melalui experiential learning. Keterlibatan mahasiswa diharapkan dapat menumbuhkan kepedulian generasi muda terhadap pembangunan pertanian berkelanjutan.

Kedepannya tim PKM Faperta UGM berencana untuk menjalin kerja sama lebih erat dengan kelompok tani dan PKK di Dusun Bergan. Melalui kolaborasi antara akademisi dan masyarakat, diharapkan Dusun Bergan dapat menjadi contoh desa mandiri pupuk hayati yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Pendampingan lanjutan serta replikasi program ke dusun lain di Bantul juga menjadi target agar inovasi ini tidak berhenti hanya dalam satu kali kegiatan, tetapi benar-benar memberi dampak nyata.

Pelatihan ini tidak hanya bertujuan memberikan pengetahuan praktis, tetapi juga mendukung program pemerintah terkait SDGs (Sustainable Development Goals), terutama SDG 2: Tanpa Kelaparan, SDG 4: Pendidikan Berkualitas, SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim, SDG 15: Ekosistem Daratan, SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Penulis: Najmaturrahma Baskoro, Praharsiwi Nisa Az Zahro
Editor: Agrit Kirana Bunda
Dokumentasi: Tim PKM Faperta UGM

Cerita Seru Amal sebagai Awardee Asean International Mobility Students (AIMS) di Gyeongsang National University, Korea Selatan

berita Tuesday, 2 September 2025

Pada Bulan Agustus hingga Desember 2024 lalu, beberapa mahasiswa Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada (Faperta UGM) mengikuti program Asean International Mobility Students (AIMS). Salah satunya adalah Amalia Sawita Linuwih yang akrab dipanggil Amal, mahasiswi Program Studi Proteksi Tanaman, berbagi pengalamannya selama study exchange di Gyeongsang National University, Korea Selatan. Program AIMS merupakan program kerja sama di bawah kemitraan antar universitas yang berasal dari negara-negara di kawasan ASEAN, Jepang, dan Korea Selatan. Program ini memberikan mahasiswa kesempatan untuk belajar di luar negeri dalam disiplin ilmu tertentu dan mengembangkan keterampilan belajar dan antarbudaya mereka untuk memperkaya kompetensi global mereka serta berkontribusi pada internasionalisasi pendidikan tinggi di kawasan Asia Tenggara dan sekitarnya.

Menurut Amal, mengikuti program AIMS memiliki peluang besar dan kesempatan yang berharga untuk menambah pengalaman di bidang akademik dan non akademik. Selain itu, program ini juga fully funded, sehingga sangat memberikan benefit yang besar bagi para awardee. Amal juga berbagi cerita mengenai perbedaan sistem belajar yang ia rasakan selama menjadi mahasiswa di Gyeongsang National University. “Dosen disana selalu on time baik masuk dan keluarnya sesuai jadwal. Biasanya kalau tipe dosen kita selalu kasih waktu untuk berdiskusi menganai topik perkuliahan, sedangkan kalau disana tidak diberi kesempatan itu. Jadi kalau mahasiswa bingung dengan pembelajarannya dituntut untuk mencari informasi sendiri contohnya melalui bacaan di perpustakaan,” jelasnya.

Selain perbedaan tipe mengajar dosen, mahasiswa di sana cenderung bersifat individualis karena sistem penilaian yang menggunakan sistem distribusi normal. Amal menjelaskan, “Ketika sudah memasuki masa ujian, pperpustakan pasti penuh sampai mereka rela menginap dan bawa sikat gigi ke perpustakaan. Mereka sangat serius untuk pendidikan, sehingga memotivasi aku untuk lebih rajin belajar dan menyempatkan waktu ketika weekend ke perpustakaan”.

Amal merasa sangat menikmati dunia perkuliahan di luar negeri seperti kegiatan belajar mengajar yang tidak hanya di dalam kelas, tetapi juga di luar kelas. “Salah satu mata kuliah favoritku adalah International Cooperation in Agriculture karena setiap dua minggu sekali ada outdoor learning untuk mengamati pertanian di Korea jadi nggak bosen,” terangnya.

Tentunya menjadi mahasiswa yang merantau ke negeri orang juga mengalami perbedaan dari segi daily life. “Tantangan yang paling basic adalah dasar beretika orang korea dan kendala dalam berkomunikasi. Karena ada beberapa dialek yang sulit didengar dan dimengerti,” tutur Amal. Dalam menghadapi tantangan tersebut, Amal berusaha untuk adaptasi dengan memperhatikan etika dan cara bersosialisasi melalui teman-temannya yang berasal dari korea serta belajar bahasa korea dengan bantuan aplikasi pendukung untuk memudahkan komunikasi.

Banyaknya pengalaman berharga yang didapatkan Amal melalui AIMS merupakan salah satu upaya Fakultas Pertanian untuk ikut serta menyukseskan program Sustainable Development Goals (SDGs) diantaranya SDG 1: Tanpa Kemiskinan, SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG 4: Pendidikan Berkualitas, SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Penulis: Octavia Riezqi Yusandra
Editor: Desi Utami
Dokumentasi: Media Faperta

Intan Naura Buktikan Bahwa Mahasiswa KIP Bisa Ikut Program Pertukaran Pelajar ke Korea, Melalui Program AIMS

berita Tuesday, 2 September 2025

Mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (Faperta UGM), Intan Naura Nur Ain atau yang sering disapa Naura, berhasil lolos seleksi ASEAN International Mobility for Students (AIMS) dan mengikuti rangkaian kegiatan pertukaran pelajar ke Gyeongsang National University, Department of Agronomy, Republic of Korea. AIMS merupakan salah satu program unggulan Faperta UGM yang menjembatani mahasiswanya untuk mengikuti kegiatan pertukaran pelajar di negara negara Asia.

“Awalnya untuk membuktikan diri ke orang lain sekaligus membuktikan ke diri sendiri. Saya merupakan anak KIP (Kartu Indonesia Pintar) untuk menempuh kuliah. Beberapa orang di sekitar saya, terutama teman-teman dan seorang dosen saya berkata bahwa program pertukaran pelajar ke luar negeri hanya untuk orang kaya” ucap Naura.

Naura tidak pernah membayangkan bahwa dirinya akan pergi ke negara yang dijuluki sebagai Negeri Gingseng di umur 20 tahun. Tekadnya dimulai dari bulan Desember 2023, di mana dia mulai tertarik untuk mencoba tantangan baru. Naura pertama kali mengetahui informasi terkait AIMS dari salah satu kakak tingkatnya yang juga pernah mengikuti program ini. Semenjak itu, Naura mulai mempersiapkan segala persyaratan yang di butuhkan di tengah kesibukan perkuliahan.

“Saat itu periode pendaftaran sangat mepet sehingga saya harus memadatkan jadwal saya untuk belajar English Proficiency yaitu TOEFL secara mandiri. Saya hanya belajar TOEFL selama dua minggu dengan menggunakan e-book dan Youtube“ ucap Naura.

Faperta UGM juga mendukung Naura dalam proses pengurusan pemberkasan dan menyediakan informasi pendaftaran. Tidak hanya itu, dosen pembimbing akademik (DPA) Naura, Prof. Ir. Triwibowo Yuwono, Ph.D., juga sangat mendukung dan mendorong mahasiswanya untuk mengikuti program pertukaran pelajar. Saat menjalani program ini, Naura mengikuti beberapa kegiatan akademik berupa beberapa mata kuliah, yaitu International Cooperation in Agriculture, Farm Practice 2PBL, English Reading and Writing using Media, Intercultural Communication and Global Etiquette, Comprehensive Crop Science Design, dan Environmental Politics. Selain itu, Narua juga aktif dalam kegiatan non-akademik seperti tari modern atau dance. Dia bersama mahasiswa-mahasiswa dari Korea, Indonesia, dan Spanyol untuk tampil di Gaecheon Arts Festival, Jinju Lantern Festival dan berhasil meraih juara 1 melawan puluhan institusi  lain di Korea.

“Hal yang bisa mutusin mampu atau gaknya kamu melakukan sesuatu itu ya cuma Tuhan dan kamu sendiri. Jangan peduliin omongan orang lain kalau mereka gatau hidupmu. Kamu mau apa ya mintanya ke Tuhan, Tuhan itu maha Kaya” ujar Naura.

Program ini memberikan dampak positif bagi Naura, termasuk dapat belajar bersosialisasi sama banyak orang baru, dengan latar belakang, bahasa, ras, dan kewarganegaraan beragam. Bertemu orang-orang hebat yang memotivasi buat lebih maju dan berkembang.

“Dunia itu terlalu luas untuk gak dijelajahi dan terlalu sayang untuk gak dinikmati. Manfaatin semua kesempatan/privilege yang disediain dari Faperta UGM. Program AIMS di UGM cuma ada di Faperta lho. Kapan lagi ke luar negeri saingan pendaftarnya cuma anak-anak Faperta UGM doang?” pesan Naura.

Pesan ini juga mengajak seluruh mahasiswa di FAPERTA UGM untuk memanfaatkan program yang ditawarkan oleh fakultas dengan semaksimal mungkin. Tentunya setiap program akan memberikan dampak yang bermanfaat bagi masa depan peraihnnya.  Dengan program AIMS di Fakultas Pertanian UGM menunjukkan komitmen untuk mencapai tujuan Sustainable Development Goals (SDG), antara lain: SGD 4: Pendidikan Berkualitas, SDG 10: Berkurangnya Kesenjangan, dan SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

 

Penulis: Olivia Regita Br Tarigan

Editor: Desi Utami

 

1…3031323334…67

BERITA FAKULTAS

  • Program Pondasi UTS Faperta UGM Dukung Mahasiswa Hadapi Ujian Tengah Semester
    21/10/2026
  • Fakultas Pertanian UGM Terima Kunjungan BRI untuk Perkuat Sinergi dan Peluang Kolaborasi
    21/10/2026
  • Fakultas Pertanian UGM Perluas Jejaring Internasional melalui Kerja Sama dengan ICI-HAAS China
    21/10/2026
  • Perkuat Capacity Building SDM Pertanian Jawa Barat, Lentera DESA Faperta UGM dan Kemenko Pangan Gelar Pelatihan Literasi Digital di Bogor
    21/10/2026
  • Percepat Swasembada Pangan, Lentera DESA dan Kemenko Pangan Fasilitasi Pelatihan Literasi Digital dan Buku Tani Digital bagi SDM Pertanian Kabupaten Semarang
    20/10/2026
Universitas Gadjah Mada

FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA

Jl. Flora Bulaksumur Yogyakarta 55281
faperta@ugm.ac.id
Telp./Fax.: +62 (274) 563062

TENTANG FAKULTAS

Visi & Misi

Sasaran & Tujuan

Struktur Organisasi

 

INFORMASI PUBLIK

Permohonan Informasi Publik

Daftar Informasi Tersedia Setiap Saat

Daftar Informasi Tersedia Secara Berkala

JURNAL ONLINE

Jurnal Ilmu Pertanian

Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia

Jurnal Ilmu Perikanan

Vegetalika

Jurnal Agro Ekonomi

PENELITIAN & PUBLIKASI

Penelitian

Publikasi

Buku Karya Dosen

 

FASILITAS PENDUKUNG

Perpustakaan Fakultas  

Laboratorium

Ebooks

Health Promoting Unit (HPU) Faperta

KERJASAMA

Kerjasama Fakultas

Kunjungan Sekolah

 

PENDAFTARAN

Sarjana

Pascasarjana

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY

[EN] We use cookies to help our viewer get the best experience on our website. -- [ID] Kami menggunakan cookie untuk membantu pengunjung kami mendapatkan pengalaman terbaik di situs web kami.I Agree / Saya Setuju