
Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (Faperta UGM) menyelenggarakan kuliah tamu pada Senin, 2 Maret 2026, di Ruang Venture Gedung AGLC Lantai 6 dengan menghadirkan tiga akademisi dari Jepang. Salah satu pembicara, Dr. Sota Yamamoto dari International Research Center of Island Studies, Kagoshima University, memaparkan riset etnobotani yang menyoroti sejarah dan pemanfaatan cabai di kawasan Asia Pasifik, khususnya Indonesia.

Dalam wawancaranya, Dr. Yamamoto menjelaskan ketertarikannya pada cabai sebagai tanaman yang tidak hanya digunakan sebagai bumbu, tetapi juga sebagai sayuran dan obat tradisional. “Saya sudah berkunjung ke Jawa, Sumatra, Sulawesi, dan Maluku untuk melihat bagaimana masyarakat memanfaatkan cabai. Daun dan buahnya tidak hanya dimakan, tetapi juga digunakan sebagai obat,” ungkapnya.

Lebih jauh, ia menyoroti sejarah penyebaran cabai dari Amerika ke berbagai belahan dunia. Menurutnya, selain jalur Atlantik melalui Eropa, Afrika, India, dan Asia Tenggara, terdapat kemungkinan jalur lain melalui Pasifik dan Oceania menuju Asia. “Saya tertarik meneliti apakah Jawa atau Sulawesi mendapat pengaruh dari kedua jalur tersebut (India dan Pasifik) dan bagaimana dampaknya terhadap budaya konsumsi cabai di Indonesia,” jelas Dr. Yamamoto.
Kuliah tamu ini menjadi wadah pertukaran pengetahuan lintas negara dan disiplin, memperkuat posisi Faperta UGM sebagai pusat riset pertanian yang berorientasi global. Kajian etnobotani ini tidak hanya penting secara akademis, tetapi juga relevan dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 2: Tanpa Kelaparan, SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG 11: Kota dan Komunitas yang Berkelanjutan, dan SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.
Penulis: Beny Nabila Happy Fauziah
Editor: Tantriani
Dokumentasi: Unit Media Faperta UGM
