
Menteri Pertanian Republik Indonesia, Dr. Ir. Andi Amran Sulaiman, M.P., membahas berbagai tantangan pembangunan pertanian nasional dalam sesi tanya jawab pada kuliah umum yang diselenggarakan di Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (Faperta UGM). Diskusi interaktif bersama sivitas akademika tersebut mengangkat sejumlah isu strategis, mulai dari pengembangan pertanian organik, dukungan bagi penyuluh dan peneliti, regenerasi petani, hingga keterlibatan mahasiswa dalam proyek pertanian nasional.

Yusran, mahasiswa Program Doktor Ilmu Pertanian UGM sekaligus dosen Universitas Halu Oleo, mengusulkan pengembangan kembali kawasan persawahan organik di tengah keterbatasan sarana produksi. Menanggapi usulan tersebut, Amran mendorong agar gagasan tersebut diterjemahkan menjadi program konkret melalui koordinasi dengan pemerintah daerah dan pihak terkait.
“Jangan berhenti pada gagasan. Susun program yang konkret dan koordinasikan dengan pihak-pihak terkait agar dapat dilaksanakan di lapangan,” demikian inti arahan Amran kepada peserta.

Persoalan lain disampaikan oleh Sola, mahasiswa Program Magister Manajemen Agribisnis UGM sekaligus penyuluh pertanian dari Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara. Ia menjelaskan keterbatasan kendaraan operasional dan biaya kegiatan penyuluhan yang masih harus ditanggung secara pribadi. Menanggapi persoalan tersebut, Amran meminta jajarannya untuk menindaklanjuti kebutuhan kendaraan operasional yang disampaikan.
Sementara itu, Aisyah Heldawati, mahasiswa Program Magister Manajemen Agribisnis UGM asal Banjarmasin, menanyakan arah kebijakan pertanian, khususnya pengembangan food estate, serta dukungan pendanaan penelitian. Setelah mengetahui bahwa kebutuhan dana penelitian Aisyah mencapai sekitar Rp5 juta, Amran menginstruksikan jajarannya untuk menindaklanjuti permohonan dukungan tersebut.
Isu regenerasi petani turut mengemuka dalam pertanyaan yang disampaikan Najmi, mahasiswa Program Magister Manajemen Agribisnis UGM asal Pekalongan. Ia menyoroti tantangan dalam menarik minat generasi muda untuk menjadi wirausaha pertanian, terutama karena kebutuhan modal usaha.
Menanggapi hal tersebut, Amran menekankan pentingnya memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa melalui keterlibatan dalam proyek pertanian.
“Mahasiswa perlu diberi kesempatan untuk terlibat langsung dalam proyek pertanian sehingga mereka bisa belajar mengelola usaha, memahami risiko, dan membangun kemandirian,” demikian inti tanggapan Amran.
Peluang keterlibatan mahasiswa dalam proyek pertanian juga dibahas melalui pertanyaan dari seorang dosen UGM yang memimpin proyek pembukaan lahan sawah baru di Halmahera. Ia mengusulkan kelanjutan proyek tersebut sekaligus pelibatan mahasiswa program sarjana maupun magister. Amran menyambut usulan tersebut dan meminta jajarannya untuk menindaklanjuti rencana kerja sama lanjutan dengan UGM.
Selain membahas pengembangan sumber daya manusia dan proyek pertanian, diskusi turut menyoroti aspek lingkungan dalam pembangunan pertanian nasional. Rivaldi Pratama, mahasiswa Program Doktor Ilmu Hama Tanaman UGM asal Pangkep, menanyakan hubungan antara pembukaan lahan food estate dan kebakaran hutan serta lahan di Kalimantan dan Sumatra.
Menanggapi pertanyaan tersebut, Amran membantah adanya hubungan tersebut pada lahan yang ia jelaskan dalam paparannya. Ia menyebut bahwa lahan tersebut merupakan lahan terbengkalai dari proyek masa lalu. Dalam kesempatan yang sama, Amran turut menjelaskan langkah pemerintah dalam menangani perkebunan bermasalah.
Berbagai pertanyaan dan masukan yang disampaikan dalam diskusi tersebut mencerminkan beragam tantangan yang dihadapi sektor pertanian Indonesia, mulai dari keterbatasan sarana produksi dan dukungan penyuluhan hingga kebutuhan regenerasi petani, penguatan riset, dan pengelolaan lingkungan. Forum ini juga menjadi ruang dialog antara pemerintah dan sivitas akademika untuk membahas peluang penyelesaian persoalan pertanian melalui pendekatan kebijakan, pendidikan, dan penelitian.
Diskusi tersebut menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, penyuluh, peneliti, dan generasi muda dalam mendukung pembangunan pertanian nasional. Berbagai masukan dari peserta diharapkan dapat menjadi bahan tindak lanjut untuk memperkuat riset, meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, serta mendorong pengembangan sektor pertanian yang produktif dan berkelanjutan.
Kegiatan ini turut sejalan dengan komitmen Fakultas Pertanian UGM dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 2: Tanpa Kelaparan, melalui pembahasan ketahanan pangan dan pengembangan pertanian berkelanjutan; SDG 4: Pendidikan Berkualitas, melalui penguatan pembelajaran, penelitian, dan keterlibatan mahasiswa dalam proyek pertanian; SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, melalui dorongan regenerasi petani dan kewirausahaan pertanian; SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, melalui dukungan terhadap riset dan inovasi sektor pertanian; serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, melalui penguatan kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, penyuluh, dan peneliti.
Penulis: Arbi Darmawan
Editor: Tantriani
Dokumentasi: Media Faperta UGM