
Forum kepemimpinan industri benih Indonesia tahun 2026 resmi dibuka dengan sesi Executive Leadership Panel: Talent and Technology for the Next Decade di The Grand Ballroom Eastparc Hotel. Diskusi strategis ini dipimpin oleh Dr. agr. Panjisakti Basunanda, S.P., M.P., yang menekankan pentingnya sinergi antara perguruan tinggi dan dunia industri dalam menyiapkan talenta serta teknologi untuk menghadapi tantangan lima hingga sepuluh tahun mendatang.

Dalam pengantarnya, Dr. Panjisakti menegaskan bahwa forum ini menjadi ruang kolaborasi yang jarang terjadi, di mana universitas dan industri dapat duduk bersama untuk merumuskan kurikulum dan kompetensi prioritas yang relevan dengan kebutuhan masa depan. Fokus diskusi mencakup eksplorasi sumber daya manusia, perkembangan teknologi seperti precision agriculture dan artificial intelligence (AI), serta tantangan yang dihadapi industri benih di Indonesia.

Sesi ini menghadirkan enam narasumber yang memberikan perspektif berharga, yaitu
- Muhammad Aris (Ikatan Produsen Benih Hortikultura) menekankan pentingnya kolaborasi universitas, industri dalam memperkuat fundamental breeding. Ia menyoroti peluang digital breeding dan penerapan Good Seed Production Practice (GSPP) sebagai standar mutu.
- Imam Sujono (PT Syngenta Indonesia) memaparkan fokus pada jagung bioteknologi, termasuk pemanfaatan double haploid dan AI untuk mempercepat pemuliaan. Ia menekankan perlunya regulasi genome editing agar Indonesia dapat bersaing secara global.
- Dr. Glenn Pardede (PT East West Seed Indonesia) menyoroti kebutuhan talenta yang mampu menjembatani sains dan praktik lapangan. Ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas lembaga untuk menghasilkan SDM unggul.
- Agustinus Budi (PT Sang Hyang Seri) menjelaskan transformasi SHS menuju perusahaan genetik, dengan fokus pada breeding, bioteknologi, data science, agribisnis, dan leadership. SHS telah bermitra dengan UGM untuk pengembangan varietas dan talenta.
- Dr. Cahyo Sri Wibowo (PT Astra Agro Lestari Tbk) menekankan kebutuhan benih legal dalam perkebunan kelapa sawit serta tantangan replanting. Ia menyoroti peran AI dan infrastruktur dalam mendukung produktivitas sawit.
- Ir. Dwi Asmono (PT Prime Agri Resources Tbk) memberikan peringatan tentang risiko penyakit pada hybrid sawit. Ia menekankan perlunya breeder berkompetensi dengan dukungan AI, data analyst, dan leadership yang kuat.
Kegiatan ini mendukung pencapaian beberapa Sustainable Development Goals (SDGs), yaitu SDG 2: Tanpa Kelaparan melalui penguatan inovasi benih untuk mendukung ketahanan pangan; SDG 4: Pendidikan Berkualitas melalui kolaborasi perguruan tinggi dan industri dalam pengembangan talenta; SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi dengan peningkatan kompetensi sumber daya manusia di sektor perbenihan; SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui penerapan bioteknologi, artificial intelligence (AI), dan precision agriculture; SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab melalui penerapan standar produksi benih yang baik serta penggunaan benih legal dan berkualitas; serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui penguatan sinergi antara perguruan tinggi, industri, dan pemerintah dalam mendorong inovasi sektor benih.
Penulis: Beny Nabila Happy Fauziah
Editor: Tantriani
Dokumentasi: Unit Media Faperta UGM