
Tim PPK Ormawa Klinik Agromina Bahari (KAB) Universitas Gadjah Mada kembali melaksanakan rangkaian kegiatan Program ASAGRI (Agents for Sustainable Agricultural-Practice) melalui Pembekalan untuk Sosialisasi Kedua Agen Pengendali Hayati (APH) pada Minggu (5/7) pukul 09.00–13.00 WIB di Laboratorium Klinik Tanaman, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh anggota Tim PPK Ormawa ASAGRI UGM beserta volunteer sebagai bentuk penguatan kapasitas internal sebelum pelaksanaan Sosialisasi Kedua kepada Kelompok Wanita Tani (KWT) di Dukuh Kepek, Kalurahan Timbulharjo, Kapanewon Sewon, Kabupaten Bantul. Pembekalan didampingi secara langsung oleh dosen pembimbing, Dr. Ady Bayu Prakoso, S.P., yang memberikan materi sekaligus pendampingan praktik mengenai Agen Pengendali Hayati (APH).
Program pengabdian ASAGRI merupakan salah satu bentuk implementasi Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) yang berfokus pada penguatan ketahanan pangan melalui pemanfaatan Agen Pengendali Hayati (APH). Program ini diinisiasi sebagai upaya untuk mengurangi ketergantungan terhadap pestisida kimia sekaligus meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai alternatif pengendalian organisme pengganggu tanaman yang lebih aman dan ramah lingkungan. Melalui berbagai rangkaian kegiatan, mulai dari pemetaan, sosialisasi, pembekalan, praktik laboratorium, hingga pendampingan kepada Kelompok Wanita Tani (KWT), Tim PPK Ormawa KAB Universitas Gadjah Mada berkomitmen menghadirkan inovasi yang dapat diterapkan secara berkelanjutan di Dukuh Kepek, Kalurahan Timbulharjo.

Pembekalan ini menjadi tahapan penting sebelum dilaksanakannya Sosialisasi Kedua kepada masyarakat. Berbeda dengan sosialisasi pertama yang berfokus pada pengenalan konsep Agen Pengendali Hayati, pemetaan titik tumbuh jamur alami, media tumbuh, dan isolasi, pembekalan kali ini menitikberatkan pada penguatan kemampuan teknis seluruh anggota tim. Hal ini dilakukan agar setiap anggota memiliki pemahaman yang sama mengenai prosedur pembuatan media tumbuh jamur, teknik sterilisasi, serta proses perbanyakan Agen Pengendali Hayati sehingga pelaksanaan demonstrasi kepada masyarakat nantinya dapat berlangsung secara optimal dan sesuai dengan standar laboratorium.
Pada sesi materi, peserta memperoleh penjelasan mengenai media Potato Dextrose Agar (PDA) sebagai media standar yang digunakan dalam proses isolasi, perbanyakan, dan pemeliharaan jamur. Dosen pembimbing menjelaskan fungsi masing-masing bahan penyusun media, mulai dari kentang sebagai sumber nutrisi alami, dextrose sebagai sumber karbon bagi pertumbuhan jamur, hingga agar sebagai bahan pemadat media. Selain itu, peserta juga diberikan pemahaman mengenai pentingnya teknik kerja aseptik untuk meminimalkan kontaminasi selama proses kultur jamur.
Setelah penyampaian materi, kegiatan dilanjutkan dengan praktik pembuatan media Potato Dextrose Agar (PDA). Praktik diawali dengan mengupas, mencuci, dan memotong kentang menjadi ukuran yang lebih kecil sebelum direbus hingga lunak. Air rebusan kentang kemudian disaring untuk memperoleh filtrat yang selanjutnya dicampurkan dengan dextrose dan agar. Seluruh peserta mengikuti setiap tahapan secara langsung sehingga memahami fungsi dari masing-masing proses dalam menghasilkan media tumbuh jamur yang sesuai standar.
Larutan media kemudian dipanaskan hingga seluruh bahan tercampur secara homogen sebelum volumenya disesuaikan menjadi satu liter. Setelah itu, media dituangkan ke dalam botol kultur untuk menjalani proses sterilisasi menggunakan autoklaf. Pada tahap ini, peserta memperoleh penjelasan mengenai pentingnya sterilisasi sebagai upaya menghilangkan mikroorganisme lain yang dapat menyebabkan kontaminasi pada media. Selain memahami prosedur penggunaan autoklaf, peserta juga diberikan pemahaman mengenai standar keselamatan kerja di laboratorium selama proses sterilisasi berlangsung.
Selain praktik pembuatan media, peserta juga diperkenalkan dengan salah satu jamur entomopatogen yang dimanfaatkan sebagai Agen Pengendali Hayati, yaitu Beauveria bassiana. Melalui pengamatan secara langsung terhadap kultur jamur, peserta dapat mengenali karakteristik pertumbuhan koloni pada media serta memahami mekanisme infeksi jamur terhadap serangga hama. Materi ini menjadi bekal penting bagi seluruh anggota tim karena nantinya akan disampaikan kembali kepada masyarakat pada saat pelaksanaan Sosialisasi Kedua sebagai bentuk edukasi mengenai pengendalian hama yang lebih ramah lingkungan.
Kegiatan pembekalan berlangsung secara interaktif. Peserta aktif berdiskusi mengenai teknik pembuatan media, proses kultur jamur, hingga penerapan Agen Pengendali Hayati pada budidaya tanaman. Berbagai pertanyaan yang muncul selama kegiatan dijawab secara langsung oleh dosen pembimbing sehingga peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga memperoleh pemahaman praktis berdasarkan pengalaman di laboratorium. Antusiasme peserta terlihat selama seluruh rangkaian kegiatan berlangsung, mulai dari penyampaian materi hingga sesi praktik.
Kelancaran kegiatan turut didukung oleh kesiapan fasilitas Laboratorium Klinik Tanaman Universitas Gadjah Mada. Seluruh alat dan bahan yang diperlukan, seperti autoklaf, peralatan gelas laboratorium, bahan pembuatan media, hingga kultur jamur yang digunakan sebagai media pembelajaran, telah dipersiapkan dengan baik sebelum kegiatan dimulai. Kesiapan tersebut memungkinkan setiap tahapan pembekalan berjalan sesuai prosedur sehingga peserta dapat mengikuti praktik dengan aman, tertib, dan optimal.
Pembekalan untuk Sosialisasi Kedua menjadi salah satu tahapan penting dalam rangkaian Program ASAGRI untuk memastikan seluruh anggota Tim PPK Ormawa KAB Universitas Gadjah Mada beserta volunteer memiliki bekal pengetahuan dan keterampilan yang memadai sebelum terjun ke masyarakat. Dengan pemahaman yang telah diperoleh melalui pembekalan ini, diharapkan pelaksanaan Sosialisasi Kedua kepada Kelompok Wanita Tani (KWT) di Dukuh Kepek, Kalurahan Timbulharjo dapat berjalan lebih efektif sehingga masyarakat tidak hanya memahami manfaat Agen Pengendali Hayati secara teoritis, tetapi juga mampu menerapkannya secara mandiri dalam mendukung sistem pertanian yang lebih sehat, produktif, dan berkelanjutan.
Bersamaan dengan kegiatan ini, Faperta UGM terus berkontribusi dalam pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Kegiatan pembekalan dan rangkaian Program ASAGRI mendukung SDG 2: Tanpa Kelaparan melalui penguatan kapasitas masyarakat dalam menerapkan perlindungan tanaman yang lebih efektif dan berkelanjutan untuk mendukung produktivitas serta ketahanan pangan; SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui upaya mengurangi ketergantungan dan potensi paparan pestisida kimia berbahaya bagi petani dengan mendorong pemanfaatan Agen Pengendali Hayati; SDG 4: Pendidikan Berkualitas melalui pembelajaran berbasis praktik laboratorium, transfer pengetahuan, dan peningkatan kompetensi teknis mahasiswa serta volunteer yang kemudian diteruskan kepada masyarakat; SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi melalui pengembangan kompetensi, keterampilan teknis, dan green skills mahasiswa serta masyarakat dalam mendukung praktik pertanian yang lebih inovatif dan berkelanjutan; SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab melalui penerapan alternatif pengendalian hama yang dapat mengurangi ketergantungan terhadap input kimia sintetis dan mendukung praktik budidaya yang lebih ramah lingkungan; SDG 15: Ekosistem Daratan melalui pemanfaatan agen hayati sebagai bagian dari pengelolaan organisme pengganggu tanaman yang lebih selaras dengan keseimbangan ekosistem dan keanekaragaman hayati; serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi antara mahasiswa, dosen pembimbing, volunteer, fasilitas laboratorium, dan Kelompok Wanita Tani (KWT) dalam proses transfer pengetahuan dan penerapan inovasi pertanian di tingkat masyarakat.
Penulis: Magdha Safitri
Editor: Tantriani
Dokumentasi: Tim Klinik Agromina Bahari