
Upaya mewujudkan sistem pangan nasional yang sehat, inklusif, dan tangguh terhadap perubahan iklim memerlukan integrasi antara riset akademis, inovasi teknologi digital, dan perumusan kebijakan yang inklusif. Gagasan inilah yang diusung program KONEKSI (Knowledge Partnership Platform), kerjasama Australia-Indonesia, di mana Universitas Gadjah Mada (UGM) menjadi bagian dari tim peneliti.
Riset kolaboratif pada program KONEKSI melibatkan sembilan lembaga dari kedua negara, yaitu The University of Queensland (UQ), Monash University, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), IPB University, Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Universitas Negeri Malang (UNM), Center of Indonesian Policy Studies (CIPS), serta Parti Gastronomi. Dari UGM, kolaborasi ini dijalankan oleh tim peneliti Departemen Sosial Ekonomi Pertanian yang diketuai oleh Ir. Any Suryantini, M.M., Ph.D. dengan anggota dosen Asih Kusumaningsih, S.P., M.Sc. dan Arif Wahyu Widada, S.P., M.Sc., serta didukung mahasiswa S1 dan S2 Departemen Sosial Ekonomi Pertanian yang terlibat sebagai asisten peneliti.

Melalui tim peneliti Departemen Sosial Ekonomi Pertanian, UGM berkontribusi aktif dalam menjalankan kajian di bidang sosial ekonomi dalam program KONEKSI. Kajian berfokus pada pemodelan dinamis produksi padi berkelanjutan di kawasan peri-urban untuk menemukan solusi terpadu yang menjaga kesejahteraan petani sekaligus kelestarian lingkungan serta menganalisis niat penggunaan aplikasi MyINDAH Diet pada wilayah urban dan peri-urban di Daerah Istimewa Yogyakarta dengan pendekatan UTAUT2, dengan perhatian pada pemberdayaan kelompok rentan melalui kesehatan digital.
Rangkaian riset kolaboratif tersebut mencapai puncaknya dalam kegiatan dua hari bertajuk “Akselerasi Sistem Pangan Sehat dan Resilien: Mengintegrasikan Kebijakan, Inisiatif Lokal, dan Inovasi Digital” yang berlangsung di Hotel Mercure, Jakarta (02/07). Kegiatan pada hari pertama berfokus pada “Paper-to-Submission Writing Workshop” bagi para peneliti dan akademisi. Workshop intensif ini dipimpin langsung oleh Prof. Ammar Abdul Aziz (UQ) dan berlangsung secara interaktif dan kolaboratif. Melalui masukan dari Prof. Ammar dan sesama peneliti, setiap draf dibedah secara mendalam, mulai dari kebaruan metodologi, argumentasi ilmiah, hingga ketajaman analisis kebijakan sosial ekonomi pertanian. Melalui kegiatan ini, program KONEKSI bersama UGM dan lembaga lainnya mendorong agar hasil penelitian dapat dipublikasikan secara luas, memperkaya khazanah keilmuan sosial ekonomi pertanian, dan menjadi landasan bagi perumusan kebijakan di sektor pertanian.

Memasuki hari kedua, Kamis (02/07), kegiatan berfokus pada dialog publik dan peluncuran resmi aplikasi MyINDAH Diet (INclusive DigitAl solutions for Healthy and Sustainable Diets and Food Security in Java’s Urban and Peri-Urban Food Systems). Dr. Risti Permani, Project Leader dari UQ, menyampaikan bahwa aplikasi ini lahir dari riset berpendekatan system thinking yang melibatkan lebih dari 1000 responden untuk memahami keterkaitan kompleks antara produksi pangan, pola konsumsi, kerentanan iklim, dan akses informasi. Pencapaian terbesar kolaborasi ini adalah terbangunnya kemitraan multipihak yang kokoh. Hal ini diapresiasi oleh Steward Norupt, Head of Planning, Performance, and Learning KONEKSI, yang menilai keterlibatan pemerintah dan masyarakat sejak awal riset memperbesar peluang agar temuan dapat langsung diimplementasikan dalam perencanaan pembangunan di lapangan.
Aplikasi MyINDAH Diet dirancang secara komprehensif dengan dua metode utama. Metode petani dikembangkan oleh tim Agribisnis UMY melalui pendekatan bottom-up. Fitur ini menyediakan data cuaca berbasis lokasi, panduan teknis budidaya, panduan pestisida presisi, dan catatan usaha tani. Adapun mode konsumen dikembangkan oleh BRIN untuk memperkuat literasi nutrisi masyarakat melalui kalkulator Indeks Massa Tubuh (BMI), informasi harga pangan, rekomendasi resep sehat, serta edukasi gizi seimbang. Peluncuran aplikasi tersebut dibawakan oleh Dr. Puspitasari dan Dr. M. Zaki dari UMY dengan semangat “Small decision, big impact” dan “Beyond harvest into home.”
Sesi dialog publik dan diskusi panel yang dipandu oleh Dr. Yanti N. Muflikh dari IPB University menghadirkan pandangan strategis dari kementerian dan lembaga terkait. Ir. Prayudi Syamsuri, Ph.D. dari Kemenko Pangan menyoroti stagnansi produktivitas dan keterbatasan lahan sehingga pertanian presisi berbasis digital diperlukan untuk memprediksi kebutuhan input spesifik daerah, di samping peningkatan peran perempuan yang memegang keputusan keuangan usaha tani. Di sisi lain, Yuni Zahraini, S.K.M., M.K.M. dari Kemenkes menjelaskan pentingnya keterjangkauan pangan lokal bergizi untuk mempercepat penurunan stunting (Perpres 72/2021). Sementara itu, Aang Sutrisna dari GAIN menekankan peran MyINDAH Diet sebagai sistem peringatan dini kewaspadaan gizi, upaya pengurangan food waste, dan promosi bahan pangan lokal bagi masyarakat.
Selain itu, keterlibatan ini menunjukkan kontribusi nyata Fakultas Pertanian UGM dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 2: Tanpa Kelaparan melalui penguatan ketahanan pangan, perbaikan gizi, dan pengembangan sistem pertanian berkelanjutan di kawasan urban dan peri-urban melalui pemodelan produksi padi serta peluncuran aplikasi MyINDAH Diet; SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui edukasi pola konsumsi pangan sehat dan bergizi seimbang, pemantauan status gizi, serta dukungan terhadap upaya pencegahan stunting melalui inovasi kesehatan digital; SDG 4: Pendidikan Berkualitas melalui peningkatan kapasitas peneliti dan mahasiswa dalam penulisan serta publikasi ilmiah, penguatan kompetensi riset, dan pertukaran pengetahuan melalui kolaborasi akademik internasional; SDG 5: Kesetaraan Gender melalui penguatan peran perempuan petani dalam pengambilan keputusan finansial usaha tani serta peningkatan akses terhadap teknologi digital pertanian; SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui pengembangan aplikasi MyINDAH Diet sebagai inovasi teknologi digital yang mendukung pertanian presisi, penyediaan informasi pangan, dan transformasi sistem pangan berkelanjutan; SDG 10: Berkurangnya Kesenjangan melalui pemberdayaan kelompok rentan dan perluasan akses yang inklusif terhadap informasi kesehatan, gizi, serta teknologi digital bagi masyarakat urban dan peri-urban; SDG 11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan melalui penguatan ketahanan sistem pangan kawasan perkotaan dan peri-urban, optimalisasi produksi pangan lokal, serta peningkatan akses masyarakat terhadap pangan sehat dan berkelanjutan; SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab melalui promosi konsumsi pangan lokal, pengurangan limbah pangan (food waste), serta penggunaan input pertanian secara efisien dan presisi; SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim melalui peningkatan ketahanan sistem pangan terhadap variabilitas dan perubahan iklim dengan pemanfaatan informasi cuaca berbasis lokasi serta pemodelan produksi pertanian berkelanjutan; dan SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui penguatan kolaborasi riset internasional dan kemitraan multipihak yang melibatkan sembilan institusi dari Indonesia dan Australia, termasuk perguruan tinggi, lembaga penelitian, organisasi masyarakat, serta pemangku kepentingan pemerintah.
Penulis: Asih Kusumaningsih
Editor: Tantriani
Dokumentasi: Departemen SOSEK UGM