
Fakultas Pertanian UGM berkolaborasi dengan Universitas Multimedia Nusantara telah merancang program “MySalak” yakni sistem pertanian cerdas (smart farming) berbasis digital untuk membantu petani salak di Turi, Sleman dalam melakukan pemantauan hama lalat buah yang menyebabkan penurunan kualitas buah salak. Sosialisasi program digital MySalak memperkenalkan alat perangkap lalat buah yang secara otomatis dapat menghitung jumlah hama lalat buah melalui sensor dan mengirimkan data secara real time, sehingga petani dapat memonitor kondisi lahan secara lebih akurat.

Kegiatan pengabdian masyarakat melibatkan peran tokoh akademisi yang berkolaborasi dibalik hadirnya program digital “MySalak” dengan diselenggarakannya sosialisasi digitalisasi pertanian pada Kamis, 23 April 2026 di kawasan perkebunan salak Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kegiatan sosialisasi dihadiri langsung oleh koordinator proyek MySalak Dr. Suputa, S.P., M.P. dari Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan (HPT) UGM, didampingi oleh Dr. Nabila Husna Shabrina, S.T., M.T. selaku koordinator proyek MySalak dari Teknologi Informasi Universitas Multimedia Nusantara (UNM).
Turut hadir juga sekaligus memberikan dukungan, Prof. Dr. Ir. Siwi Indarti, M.P., selaku Ketua Departemen HPT UGM serta jajaran pemangku kepentingan strategis Warastin Puji Mardiasih, S.P., M.Si. dari Direktorat Perlindungan Hortikultura, Kementerian Pertanian Republik Indonesia, perwakilan DPKP DIY, serta perwakilan Balai Karantina DIY. Kehadiran 28 ketua kelompok tani salak di wilayah Turi, petugas POPT dan PPL, serta tim mahasiswa UMN menjadi inti dari pertemuan kolaboratif untuk memastikan transformasi teknologi tepat guna dapat tersampaikan langsung ke pelaku utama di lapangan.

Kegiatan ini berfokus pada sosialisasi dan implementasi teknologi MySalak, sistem pertanian cerdas yang mengintegrasikan perangkat keras Smart Trap berbasis IoT dengan monitoring digital. Inovasi program teknologi ini dilakukan sebagai langkah untuk mengatasi hambatan ekspor buah salak pondoh madu ke pasar internasional, khususnya Australia, yang memperketat regulasi terkait organisme pengganggu tumbuhan (OPT) seperti lalat buah. Dengan memanfaatkan teknologi sensor otomatis yang dilengkapi fitur menghitung jumlah hama lalat buah, intensitas cahaya matahari, kelembaban, dan curah hujan secara real time, program ini dapat menunjukkan data valid yang diakui oleh Badan Karantina dan membantu petani dalam melakukan penanganan atau pencegahan terhadap ledakan populasi hama pada musim-musim tertentu.
“Tujuan utama kita adalah mengembalikan kepercayaan pasar internasional melalui data akurat dari Smart Trap ini. Kita ingin membuktikan bahwa salak pondoh madu Turi benar-benar dikelola dengan standar regulasi yang ada. Kita beralih dari cara konvensional seperti perangkap botol lem ke sistem digital yang lebih presisi. Dengan ini, petani tidak lagi meraba-raba, mereka punya data jelas untuk menentukan saat-saat harus waspada terhadap serangan hama.” Jelas Suputa.
Kegiatan sosialisasi teknologi MySalak menjadi jembatan dalam proses alih teknologi sebagaimana tim secara langsung mendampingi peserta untuk melakukan praktik penggunaan media digital. Secara teknis, teknologi MySalak bekerja dengan memasang perangkat keras Smart Trap yang dilengkapi sensor untuk keperluan pengumpulan data di beberapa titik lahan area strategis yang kemudian data ditransmisikan ke media digital yang dapat diakses oleh petani sehingga dapat diketahui kategori kondisi lahan dalam status aman, waspada, atau bahaya. Melalui gabungan inovasi Internet of Things dan edukasi, para petani kini tidak lagi mengandalkan teknik manual, tetapi beralih ke sistem pertanian berbasis teknologi presisi untuk menjamin kualitas buah salak layak ekspor.

Kegiatan ini mengimplementasikan nilai keberlanjutan yang mendukung beberapa poin Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), yaitu SDG 2: Tanpa Kelaparan, SDG 4: Pendidikan Berkualitas, SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9: Industri, Inovasi dan Infrastruktur, SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, dan SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.
Penulis: Salsabil Karima Swasono
Editor: Tantriani
Foto: Unit Media Faperta UGM