
Sebagai penutup rangkaian Biotechnology Seminar di Fakultas Pertanian UGM, Dr. Mari Maeda-Yamamoto dari Institute of Food Research, National Agriculture and Food Research Organization (NARO), Jepang, memaparkan pengembangan teh hijau sebagai pangan fungsional melalui materi berjudul Development of Functional Green Tea Using Functional Food Labeling System in Japan.

Dr. Maeda-Yamamoto menjelaskan bahwa Jepang memiliki sistem klasifikasi produk pangan yang jelas dan ketat. Produk pangan secara umum tidak diperkenankan mencantumkan klaim kesehatan. Namun, terdapat kategori khusus seperti Foods for Special Dietary Uses yang diperuntukkan bagi pasien, ibu hamil, bayi, atau individu dengan kesulitan menelan, yang memerlukan pemeriksaan dari Consumer Affairs Agency (CAA).
Lebih lanjut, beliau menyoroti kategori Foods with Health Claims (FHC) yang terbagi menjadi tiga:
- FOSHU (Foods for Specified Health Uses): diberlakukan sejak 1991 dengan pemeriksaan ketat oleh CAA.
- FNFC (Foods with Nutrient Function Claims): diberlakukan sejak 2001 dengan standar yang sudah ditetapkan, tanpa perlu pemeriksaan atau registrasi.
- FFC (Foods with Function Claims): diberlakukan sejak 2015 dengan sistem notifikasi, di mana produsen dapat mencantumkan klaim fungsional dengan tanggung jawab penuh terhadap riset ilmiah yang mendasarinya.
Dalam konteks ini, teh hijau dikembangkan sebagai pangan fungsional dengan klaim kesehatan yang berbasis penelitian ilmiah. Sistem pelabelan ini memastikan bahwa konsumen memperoleh produk yang tidak hanya aman, tetapi juga terbukti memberikan manfaat kesehatan.
Selain membahas sistem pelabelan, Dr. Maeda-Yamamoto juga menyinggung arah riset masa depan yang dikembangkan oleh NARO. Konsep ini bertujuan membangun sistem yang mampu merancang diet personal optimal sesuai kondisi fisik, preferensi, dan kebiasaan individu. Melalui analisis pangan yang kaya, sistem ini akan memberikan informasi nutrisi dan bahan fungsional yang dikonsumsi sehari-hari, sehingga masyarakat dapat lebih sadar akan pola makan mereka.
Riset ini diharapkan melahirkan industri baru di bidang food healthcare dengan mengintegrasikan pangan, kesehatan, dan gaya hidup. Contoh aplikasinya mencakup perawatan kesehatan mental melalui agrowisata dan pangan optimal, peningkatan performa olahraga melalui diet personal, dukungan konsentrasi belajar dengan pangan fungsional di sekolah, dan perawatan kecantikan kulit melalui diet yang sesuai.
Fakultas Pertanian UGM menutup seminar dengan penegasan bahwa bioteknologi tidak hanya berperan dalam pengelolaan lingkungan dan energi, tetapi juga dalam peningkatan kualitas pangan dan kesehatan masyarakat. Seminar ini menjadi bukti nyata kontribusi UGM terhadap ilmu pengetahuan dan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 2: Tanpa Kelaparan, SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG 4: Pendidikan Berkualitas, SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.
Penulis: Beny Nabila Happy Fauziah
Editor: Tantriani
Dokumentasi: Unit Media Faperta UGM
.