Sesi ketiga ACIAR HLB Symposium pada Senin, 20 April 2026 membahas terkait kajian terhadap sistem pertanian secara utuh mencakup dimensi ekonomi melalui pemodelan tumpang sari, dimensi teknis melalui prinsip kesehatan tanaman dan standarisasi pembibitan, serta dimensi komparatif melalui telaah pengalaman Vietnam, Cina, dan Laos yang secara bersama-sama membentuk kerangka pembangunan pertanian yang holistik. Sesi ini dimoderatori langsung oleh Steven Falivene, seorang citrus development officer dari New South Wales Department of Primary Industries and Regional Development (NSW DPIRD).

Narasumber pertama, Dr. Sri Peni Wastutiningsih dan Hariyani Dwi Anjani, S.P., M.Sc. (Departemen Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian UGM), menyampaikan hasil penelitian yang mencakup kondisi existing terkait layanan penyuluhan kepada petani mengenai budidaya jeruk dan secara khusus mengenai penyakit Huanglongbing. Tak hanya itu, Hariyani lebih lanjut memaparkan hasil survei ekonomi dan permodelan tumpang sari yang ditemukan di berbagai daerah sentra jeruk di Indonesia. Mereka menekankan terkait pentingnya penyaluran dan optimalisasi pemberian informasi layanan antar penyuluh atau langsung kepada petani.

Kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian materi oleh Dr. Nerida Donovan (NSW DPIRD, Australia) yang menjelaskan prinsip menanam pohon sehat, serta Dr. Jessica Lye (Citrus Australia) menyampaikan terkait standar pembibitan jeruk australia. Varietas yang umum digunakan di Australia merupakan jenis bibit yang memiliki standar karantina yang ketat. Australia telah memiliki sistem standarisasi pembibitan nasional yang terstruktur melalui NIASA, membuktikan bahwa kualitas bibit dapat dijaga secara sistemik melalui praktik terbaik, pendanaan riset, dan pengawasan berkala.

Pemaparan materi terakhir, berisi tentang pengalaman daerah di negara Vietnam, Cina, dan Laos yang dipaparkan secara daring. Keberlanjutan pertanian jeruk di Vietnam menuntut pergeseran paradigma dari pengelolaan individual menuju kolektif, dari pendekatan reaktif menuju preventif, dan dari input kimia menuju solusi biologis. Selanjutnya tanaman jeruk di Laos memiliki nilai ekonomi tinggi, namun menghadapi ancaman serius akibat penyakit HLB yang belum tertangani secara optimal, sehingga dibutuhkan riset mendalam dan kolaborasi antarnegara untuk menyelamatkan produktivitas jeruk di kawasan ini.
Kegiatan ini berkontribusi pada pencapaian beberapa tujuan pembangunan berkelanjutan, khususnya, SDG 2: Tanpa Kelaparan, SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG 4: Pendidikan Berkualitas, SDG 9: Industri, Inovasi dan Infrastruktur, SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim, SDG 15: Ekosistem Daratan, serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.
Penulis: Anin Dita Rahmadiyanti
Editor: Tantriani
Dokumentasi: Unit Media Faperta UGM